LOGIN“Aaaaa!”
Kendaraan berat itu oleng ke kiri dan ke kanan, menghantam pembatas jalan sebelum akhirnya meluncur deras tepat ke arah halte tempat Hazel berada. Teriakan histeris terdengar dari beberapa pasang mata yang menyaksikan kengerian itu secara langsung. Beberapa orang berteriak lantang ke arahnya, “Menyingkirlah dari sana! Cepat lari!” Nyatanya, Hazel bukan wanita bodoh yang hanya akan diam mematung karena syok saat truk itu mel“Iya, aku ada di rumah sakit. Malam ini mungkin aku akan menginap di sini. Tidak, tidak, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir, Papa menyelamatkanku. Iya, benar. Sampaikan salamku untuk Mama, aku tidak pulang malam ini. Apa? Kau dan Mama akan ke sini? Apa kau tidak sibuk? Oh, baiklah, aku tunggu kalau begitu. Iya, bye.”Ketika Hazel berbicara melalui sambungan telepon di sudut kamar rawat VIP yang tenang, dada Denzel berdesir hebat. Kalimat ‘Papa menyelamatkanku’ yang diucapkan Hazel barusan dengan begitu lugas benar-benar memantik rasa bangga yang luar biasa di lubuk hatinya. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun berlalu, Denzel merasa dirinya akhirnya berguna. Ia merasa benar-benar telah menjadi sosok ayah yang melindungi putrinya—meski itu baru terjadi sekali seumur hidupnya.Saat Hazel menutup telepon dan berbalik badan, Denzel mengembangkan senyum tipis di wajahnya yang masih agak pucat. Ia bertanya dengan nada lembut, “Apa itu suamimu?”Hazel mengangguk tipis sebagai jawaban
“Aaaarggh!” Denzel menjerit keras. Saat ia berjalan cepat dengan perasaan lega, ia sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya masih mengancamnya dari belakang. Salah satu dari penjambret itu rupanya telah bangkit berdiri lagi dan dengan gerakan kilat mengeluarkan sebilah pisau lipat dari balik jaket kulitnya. Alhasil, pria paruh baya itu mengerang kesakitan lantaran punggung kanannya tertebas dan terluka. Hazel yang memperhatikan seluruh kejadian tragis itu dari dalam mobil langsung membuka pintu dan turun. Ia berteriak histeris, “Tolong! Tolong!” Sambil berteriak meminta bantuan warga sekitar, di dalam hati Hazel berharap cemas agar tidak ada pihak kepolisian yang datang ke lokasi. Hazel berjalan cepat menghampiri ayahnya, tepat setelah memastikan kedua orang suruhan suaminya pergi tunggang langgang melarikan diri dari tempat kejadian. “Papa! Apa kau terluka?” tanya Hazel dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan mendalam. Sikap protektif dan khawatir yang ditunjukkann
“Pria itu tidak sedang bekerja untuk Emma,” gumam Hexa perlahan, tatapannya mendadak menajam menatap Enrico. “Emma tidak menyewa Lance untuk menjaga ibu Hazel. Tapi mereka bersekutu karena memiliki kepentingan yang sama.” Hexa menyandarkan punggungnya ke sofa, menyilangkan kaki sembari melipat tangan di depan dada. “Emma ingin melenyapkan ibu Hazel dari hidup Denzel dan menyingkirkannya dari lingkaran River, sementara Lance ... menginginkan wanita itu secara pribadi. Emma yang memberi jalan dan memalsukan kematiannya, lalu menyerahkan fisik wanita itu pada Lance untuk dimiliki dan dikurung dalam realitas palsu.” Ia menatap layar laptop Enrico yang masih menampilkan grafik gelombang suara rekaman. “Itulah alasan kenapa data digitalnya bersih dan teman-teman Emma tidak mengenalnya. Lance mungkin bukan nama aslinya, atau dia adalah hantu dari masa lalu ibu Hazel sendiri yang memang menginginkan wanita itu sejak dulu,” lanjut Hexa, suaranya memberat. Ia memajukan tubuhnya, menumpukan
“Apa selama belasan tahun ini, ibu Hazel sengaja dicekoki obat-obatan tertentu secara konstan bukan untuk menyembuhkan, melainkan justru untuk mengikis, merusak, dan memanipulasi memorinya?”Enrico mengangguk, menduga sama seperti bosnya. “Mungkin iya. Tapi, kita belum tahu pasti. Aku sedang menyelidiki, siapa pemasok obat itu.”Hexa hanya mengangguk tanpa repot-repot menimpali. Ia tahu—terlalu tahu jika obat penekan saraf atau psikotropika dosis tertentu bisa dengan mudah membuat seseorang kebingungan, kehilangan orientasi waktu, bahkan melupakan jati diri mereka yang sebenarnya.Itulah alasan mengapa wanita itu tidak pernah mencoba melarikan diri atau mencari jalan pulang. Dia tidak tahu siapa dirinya, dan dia terus dibuat bergantung pada obat-obatan yang diklaim ‘menyembuhkannya’, padahal benda itulah yang menjadi penjara tak kasat mata bagi otaknya.Hexa melepas satu earphone-nya, menatap Enrico dengan pandangan yang mendadak sedingin es.“Kalau pria itu ditugaskan menjaga ibunya
“Menemukan benang merah?” Hazel menggigit bibir bawahnya. Ia agak sangsi melakukan hal itu mengingat hubungannya dengan sang ayah tidak pernah cukup dekat. Terlebih lagi, jika ia tiba-tiba datang mendekat dan sang ayah menaruh curiga lalu bertanya ada apa, situasinya pasti akan menjadi sangat rumit. Rencana mereka bisa gagal total sebelum dimulai. Melihat Hazel terdiam cukup lama dengan guratan ragu di wajahnya, Hexa melangkah mendekat. Ia menangkup kedua bahu istrinya, mencoba memberikan keyakinan seraya memaparkan analisisnya. “Ada hal yang janggal dari sikap papamu selama puluhan tahun ini. Bagaimana bisa dia begitu mudah percaya bahwa ibumu telah tewas di jurang tanpa adanya jasad yang jelas?” papar Hexa dipenuhi logika. Jemarinya yang kokoh menggenggam telapak tangan sang istri lebih erat, seolah sedang menyalurkan keyakinan dan kekuatan melalui gestur singkat itu. “Kita harus tahu apakah dia sekadar korban manipulasi Emma, atau justru dia tahu sesuatu yang selama ini disemb
“Jika Denzel tidak pernah berniat mencari atau mempertanyakan kematian istrinya yang janggal ... apakah itu artinya dia terlibat dalam tragedi pembunuhan itu itu?”Mata Hexa menatap kosong ke arah dinding. Spekulasi itu terasa mengerikan. Apakah Denzel sengaja membiarkan istrinya dikurung oleh Emma? Ataukah pria itu adalah bagian dari rencana besar untuk melenyapkan sosok ibu Hazel dari silsilah keluarga demi kepentingan tertentu?Hexa mengeratkan pelukannya pada Hazel. Ia tidak berani menyuarakan kecurigaannya sekarang. Hazel sudah cukup hancur mengetahui ibunya disekap; mengetahui bahwa ayahnya sendiri mungkin adalah dalangnya bisa membuat kewarasan istrinya benar-benar hilang.Ia harus menyelidikinya sendiri. Sebelum mereka melancarkan operasi penyelamatan, ia harus memastikan siapa lawan dan siapa kawan, termasuk pria yang selama ini dipanggil Hazel sebagai Ayah.Setelah tangisnya sedikit mereda, Hazel tiba-tiba melepaskan diri dari dekapan Hexa dengan gerakan menyentak. Napasnya
Cahaya neon fuchsia dan biru kobalt berpendar liar mengikuti dentuman bass yang menggetarkan tulang rusuk. Aroma alkohol mahal, cerutu, dan parfum bercampur menjadi satu, menyengat memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang memabukkan sekaligus liar. Di tengah hiruk-pikuk manusia yang kehilangan
Pukul delapan pagi, lobi River Regional Hospital terasa lebih gerah dari biasanya. Hazel melangkah menuju selasar rumah sakit dengan dagu terangkat dan ekspresi yang sulit dibaca. Di sepanjang koridor, rungunya menangkap bisik-bisik dari para perawat yang menyebut nama Hexa. Jelas pembicaraan itu
“Kurasa... skandal kita semalam sudah menyebar, Pak Jaksa terhormat,” ucap Hazel santai. Hexa menahan napas, hanya sepersekian detik sebelum ia menyeru kencang, terbata-bata penuh keterkejutan, “What? Kau gila? Kau menyebarkan … video kita yang …” Hazel mengangguk tipis seolah mengonfirmasi ucap
“I–itu darah perawan atau ... hanya pewarna makanan?” Ada amarah, tapi ada juga secercah rasa memiliki yang egois. Asumsi liar yang membakar mulai berkecamuk di benak Hexa. Hexa mulai bertanya-tanya. Benarkah ia pria pertama untuk Hazel malam tadi? Atau … Hazel justru sudah tidak perawan dan nod







