Share

BAB. 262

last update publish date: 2026-09-05 23:59:44

Tangan kanan Kayra meremas ujung roknya sendiri, matanya menatap kosong ke lantai dingin ruang sidang. Bayangan Amira yang terseret keluar dengan kursi roda dan terisak histeris mendadak berputar di kepalanya.

"Seumur hidup" Kata itu terus bergema memekakkan telinganya. Bagaimanapun jahatnya racun yang pernah disebar wanita itu, ada bagian kecil di hati Kayra yang meringis membayangkan ibu kandungnya harus membusuk di dalam bui sampai akhir hayat, tanpa pernah menghirup udara bebas lagi.

Meliha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 262

    Tangan kanan Kayra meremas ujung roknya sendiri, matanya menatap kosong ke lantai dingin ruang sidang. Bayangan Amira yang terseret keluar dengan kursi roda dan terisak histeris mendadak berputar di kepalanya."Seumur hidup" Kata itu terus bergema memekakkan telinganya. Bagaimanapun jahatnya racun yang pernah disebar wanita itu, ada bagian kecil di hati Kayra yang meringis membayangkan ibu kandungnya harus membusuk di dalam bui sampai akhir hayat, tanpa pernah menghirup udara bebas lagi.Melihat perubahan raut wajah putrinya yang mendadak muram, Aldean yang sejak tadi fokus pada Celine langsung menoleh. Sepasang mata elangnya meneliti wajah Kayra dengan penuh kecemasan.“Kay?” panggil Aldean rendah, memecah lamunan anak gadisnya.Kayra tersentak kecil, mendongak kaget saat mendapati Papanya sedang menatapnya dengan intens. Celine pun ikut memiringkan tubuh, menyapu raut wajah Kayra dengan tatapan lembut yang berbalut rasa khawatir.“Kamu kenapa, Nak? Ada yang sakit?” tanya Aldean memp

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 261

    “Maaf?”Celine terkekeh sumbang—sebuah tawa hambar berbalut air mata yang akhirnya menetes di pipinya.“Kata maaf dari Papa nggak akan pernah bisa mengembalikan Mama. Kata maaf dari Papa nggak bisa menghapus setiap luka dan rasa sakit yang harus aku tanggung selama bertahun-tahun gara-gara kebejatan Papa!”Celine menyapu air matanya dengan kasar, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Surya dengan tatapan paling tegas yang pernah ia miliki.​“Pintu maafku terlalu mahal untuk pria yang sudah menghancurkan hidupku dan merenggut Mamaku,” ucap Celine dingin, tanpa setitik pun keraguan.Mendengar itu, Surya seketika terkulai lemas di kursinya. Kepala pria paruh baya itu tertunduk makin dalam, bahunya bergetar hebat diiringi isakan penyesalan yang tertahan.Celine segera membalikkan badan dengan anggun, memunggungi pria tua yang kini hancur oleh dosanya sendiri. Ia melangkah mantap menuju pintu keluar, tidak sudi membuang waktunya walau hanya satu detik lagi di ruangan dingin tersebut

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 260

    Langkah kaki Celine bergema anggun di sepanjang koridor Pengadilan Negeri. Evan berjalan satu langkah di depannya, berperan sebagai pemandu jalan sekaligus perisai pembuka pintu. Di belakang Celine, Aldean dan Kayra mengiringi dengan jarak yang cukup menjaga ketenangan Celine, namun tetap memberikan kehangatan perlindungan dari balik punggungnya.​Begitu tiba di depan pintu kayu cokelat gelap dengan papan bertuliskan Ruang Tunggu Khusus 2, Evan menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah Celine, mengangguk sopan, lalu mengetuk pintu dua kali sebelum mendorongnya terbuka.​“Silakan, Nona Celine,” ucap Evan tenang.​Celine menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan lewat bibir. Ia membetulkan letak blazer-nya, menegakkan bahu, lalu melangkah melewati ambang pintu dengan kepala tegak dan pandangan tertengadah.BAM.​Pintu kayu di belakangnya tertutup rapat, menyisakan keheningan mencekam yang mendadak menyelimuti ruangan bersuhu dingin tersebut.​Di sudut ruangan, seorang

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 259

    Di dalam ruangan yang tertutup rapat itu, Amira masih meraung dan terisak-isak sendirian. Wanita berrompi oranye itu sama sekali tidak menyangka bahwa rencananya gagal total. Ia yang awalnya begitu percaya diri ingin bertemu Kayra demi meracuni kembali pikiran sang anak—memanfaatkannya agar membelanya di persidangan—kini hanya bisa menelan kepahitan.Alih-alih mendapatkan simpati, kebohongan dan rahasia berdarah yang ia sembunyikan justru terkuliti habis oleh anaknya sendiri. Pertemuan yang ia kira bakal jadi kartu as-nya justru mendorong Amira makin dalam ke dasar jurang kehancuran yang paling kelam.Sementara itu, di luar ruangan, atmosfer terasa jauh lebih lega. Udara dingin koridor pengadilan seolah menyapu bersih hawa beracun yang baru saja mereka tinggalkan di dalam.Celine mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Sepasang matanya masih berkaca-kaca, namun ada kelegaan luar biasa yang terpancar di paras cantiknya.Aldean memiringkan tubuhnya, pertama-tama

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 258

    Kayra menyunggingkan senyuman paling dingin yang pernah ia miliki, puas menyaksikan kehancuran mental wanita di hadapannya.“Kenapa? Kaget aku tahu rahasia busukmu itu?” bisik Kayra pelan namun penuh intimidasi. “Dan soal Celine... dia bukan perempuan jahat. Dia justru jauh lebih pantas disebut mama buat aku daripada wanita sepertimu.”Amira menggeleng frustrasi, tangannya yang terborgol gemetar hebat menahan gelombang ketakutan yang merayapi seluruh tubuhnya.“Enggak... Kay, enggak! Itu... itu nggak benar, Nak! Kamu sudah dibohongi sama Papamu dan Cel—”​“Papa maupun Celine nggak ada yang bohongin aku. Justru kamulah yang pembohong, Nyonya Amira,” sela Kayra tajam, memotong rintihan Amira tanpa ampun. “Mulai detik ini, detik di mana kamu melangkah ke ruang sidang untuk mempertanggungjawabkan nyawa yang sudah kamu hilangkan... aku nggak mau punya hubungan apa pun lagi sama wanita seperti kamu.”​Mendengar ucapan dingin sang anak, Amira terbelalak, shock bukan main. Ia terisak pelan, l

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 257

    Melihat Amira yang histeris dengan wajah sok nelangsa dari atas kursi roda, Kayra melangkah perlahan mendekati ibu kandungnya. Celine dan Aldean tidak menahannya justru mereka memberikan kepercayaan penuh pada Kayra.​Begitu Kayra berdiri tepat di hadapannya, Amira cepat-cepat meraih tangan kiri Kayra dengan jemarinya yang terborgol. Wajahnya yang kusam sengaja dipasang selayaknya seorang ibu yang teramat menderita.​Namun, saat pandangan Amira jatuh pada lengan kanan Kayra yang tergantung lemas dan terbungkus rapat di balik arm sling, matanya seketika membelalak.“Ya Tuhan... Kay! Tanganmu... kenapa tanganmu bisa seperti ini, Nak?!” tanya Amira dengan nada suara yang sengaja dibikin bergetar panik, memegang arm sling itu dengan wajah sok terkejut.​Kayra menarik pelan tangan kirinya dari genggaman Amira. Wajahnya tetap tenang, tanpa ada sedikit pun raut kesedihan atau kerapuhan di sana.​“Cuma luka kecil pas kecelakaan kemarin,” jawab Kayra santai, begitu ringan seolah bukan masalah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status