Home / Romansa / Ah! Sentuh Aku Lagi, Om / Kebenaran Tentang Malam Kelam Itu

Share

Kebenaran Tentang Malam Kelam Itu

last update Last Updated: 2026-01-03 23:11:07
Surya berdiri di balkon ruang tengah vila, menatap ke arah pantai.

Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma asin yang tak pernah benar-benar mampu menghapus bau darah dari ingatannya.

Ia terpaku, menatap lautan dengan sorot mata gelap dan dalam, persis seperti malam itu.

Bukan karena cinta. Bukan pula karena sisa perasaan. Selama ini Surya menjaga Amira bukan karena itu, melainkan karena satu alasan sederhana: dia tak ingin masuk penjara bersama wanita itu.

Ingatannya tentang kejadian itu masih terlalu jelas: wajah Amira yang pucat, tubuhnya yang gemetar, tangan yang berlumur darah, dan Sinta yang tergeletak tak bernyawa di lantai.

Malam itu, Amira menangis histeris, penuh ketakutan. Bukan karena kehilangan, melainkan karena sadar… satu pukulannya telah mengubah segalanya.

Surya menghembuskan napas pelan.

“Kamu yang memukul Sinta, Amira,” gumamnya lirih, seolah berbicara pada bayangan masa lalu. “Kamu penyebab semua kekacauan ini.”

Tangannya mengepal di sisi tubuh. I
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Celine diculik?

    Surya menatap Reymon dengan tatapan gelap penuh perhitungan. “Panggil tim,” lanjutnya. “Yang paling bersih. Paling cepat. Sekarang juga.” Reymon langsung memahami maksud itu. Ia mengangguk sekali, lalu mengaktifkan alat komunikasinya. Tak lama, dua pria berseragam hitam masuk ke ruangan. Postur mereka tegap, ekspresi datar. Tipe orang yang tidak bertanya terlalu banyak. Surya melangkah mendekat. “Kalian ke kota sekarang juga,” perintahnya. “Cari Celine. Pastikan keberadaannya.” “Dan setelah itu, Tuan?” tanya salah satu dari mereka singkat. Surya menatapnya tanpa ragu. “Bawa dia ke sini.” Reymon menoleh cepat. “Tuan, Apakah ini tidak terlalu berbahaya? Ini bisa—” “Tidak ada cara lain,” potong Surya dingin. “Celine tidak akan mau datang dengan sukarela. Dan aku tidak punya waktu untuk negosiasi.” Ia mendekat satu langkah lagi, suaranya menurun tapi tekanannya meningkat. “Lakukan dengan cepat. Tanpa suara. Tanpa jejak.” Kedua anak buah itu langsung mengangguk. “Sia

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Rencana Surya

    Maya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.“Aku… pernah dengar,” katanya pelan. “Bukan dari dia langsung. Tapi waktu itu Surya ngobrol sama orang kepercayaannya.”Evan tidak menyela. Tatapannya tenang, tapi menekan.“Dia nggak nyebut nama tempat,” lanjut Maya. “Cuma… sebuah pulau.”Alis Evan mengerut. “Pulau?”Maya mengangguk cepat. “Pulau yang katanya aman. Sepi. Jauh dari jalur kapal.”Ia menarik napas, berusaha mengingat. “Tempat yang nggak semua orang bisa datang.”“Di mana?” tanya Evan singat dan tajam.Maya menggeleng. “Aku nggak tahu tepatnya. Sungguh.”Ia mengepalkan tangan, suaranya mulai bergetar.“Tapi aku ingat satu kalimatnya,” katanya cepat, seolah takut pikirannya keburu kabur. “Surya bilang… dia butuh tempat yang nggak bisa dijangkau siapa pun kecuali orang-orang yang dia percaya.”Evan terdiam.“Dan satu hal lagi,” tambah Maya lirih. “Dia bilang… pulau itu bukan cuma tempat sembunyi.”Tatapan Evan mengeras. “Lalu?”Maya mengangkat wajahnya, tatapannya lurus. “I

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Aku Tahu...

    Aldean terdiam. Ia berdiri dan duduk di tepi ranjang Kayra, tidak mendekat terlalu jauh, menjaga jarak yang aman, seolah tahu satu sentuhan saja bisa meruntuhkan pertahanan putrinya. “Kay, Papa nggak pernah milih Celine buat nyakitin kamu,” kata Aldean akhirnya, suaranya rendah dan jujur. “Papa juga nggak pernah bangun pagi sambil mikir… siapa yang bisa Papa ambil dari hidup Kay hari ini.” Kayra menggigit bibirnya. “Tapi Papa tetap ngelakuinnya,” balasnya lirih. “Iya,” Aldean mengangguk pelan. “Dan itu kesalahan Papa yang nggak akan Papa bela.” Ia menatap putrinya lama, dengan tatapan seorang ayah yang sudah terlalu lama menahan banyak hal sendirian. “Tapi Papa juga manusia, Kay. Papa hidup sendirian bertahun-tahun. Ngejalanin peran ayah, ibu, kepala keluarga—semuanya sendirian.” Kayra menatap lantai. “Celine datang bukan buat ngisi kekosongan,” lanjut Aldean. “Tapi buat nemenin Papa berdiri di tengah hidup yang udah Papa bangun buat kamu.” Kayra tertawa kecil, ge

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kebenaran Tentang Malam Kelam Itu

    Surya berdiri di balkon ruang tengah vila, menatap ke arah pantai. Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma asin yang tak pernah benar-benar mampu menghapus bau darah dari ingatannya. Ia terpaku, menatap lautan dengan sorot mata gelap dan dalam, persis seperti malam itu. Bukan karena cinta. Bukan pula karena sisa perasaan. Selama ini Surya menjaga Amira bukan karena itu, melainkan karena satu alasan sederhana: dia tak ingin masuk penjara bersama wanita itu. Ingatannya tentang kejadian itu masih terlalu jelas: wajah Amira yang pucat, tubuhnya yang gemetar, tangan yang berlumur darah, dan Sinta yang tergeletak tak bernyawa di lantai. Malam itu, Amira menangis histeris, penuh ketakutan. Bukan karena kehilangan, melainkan karena sadar… satu pukulannya telah mengubah segalanya. Surya menghembuskan napas pelan. “Kamu yang memukul Sinta, Amira,” gumamnya lirih, seolah berbicara pada bayangan masa lalu. “Kamu penyebab semua kekacauan ini.” Tangannya mengepal di sisi tubuh. I

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kamu Bukan Korban, Kamu Pelaku...

    Plak.Suara tamparan itu memantul di dinding vila, memecah sunyi pulau yang selama ini menyimpan terlalu banyak rahasia.Tubuh wanita itu terhuyung sebelum akhirnya tersungkur ke lantai marmer. Rambutnya berantakan, menutupi separuh wajah yang memerah. Napasnya tersengal, antara sakit dan takut.Surya berdiri di hadapannya. Bathrobe masih melekat di tubuhnya, sisa air menetes dari ujung rambutnya. Dada pria itu naik-turun, bukan karena emosi meledak, melainkan karena amarah yang terlalu terkontrol.“Aku sudah bilang apa?” ucap Surya rendah. Dingin. “Jangan bikin ulah.”Ia menunduk, mencengkeram dagu wanita itu, memaksanya menatap lurus.“Aku sudah janji akan melepas ikatanmu selama kamu nurut,” katanya pelan. Jarinya mengencang.“Tapi baru aku tinggal mandi sebentar,” lanjutnya lirih, berbahaya, “kamu sudah berani ambil ponselku.”Wanita itu menggeleng cepat. Air mata mulai menggenang.Surya melirik layar ponsel di tangannya. Riwayat panggilan masih terbuka.Nomor tak dikenal.Tatapan

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Nomor Tak Dikenal

    Pelukan Aldean mengencang di tubuh Celine. Tangannya menahan punggung gadis itu, seolah jika ia melepasnya sedetik saja, semuanya akan runtuh bersamaan.Celine tak menangis keras, hanya bahunya yang naik turun pelan. Isak itu terperangkap di dadanya, terasa begitu menyakitkan karena tak menemukan jalan keluar.“Aku egois ya, Om?” ucap Celine akhirnya, lirih, hampir tak terdengar.“Enggak,” jawab Aldean pelan. “Kita cuma terjebak di situasi yang salah.”Celine menggeleng. Senyum tipis muncul di wajahnya, rapuh.“Aku baru aja… kehilangan sahabat aku, Om.”Kalimat itu keluar tanpa tangis. Dan justru karena itulah, rasanya lebih perih.Aldean melepaskan pelukannya dan menuntun Celine duduk di sofa. Ia kemudian berlutut di hadapannya, menangkup kedua tangan Celine yang terasa dingin di telapak tangannya.“Kayra lagi sakit,” ucapnya rendah. “Dan luka orang yang sakit… sering kali melukai orang yang paling dekat.”“Aku tahu,” bisik Celine. “Makanya aku nggak bisa marah.”Air mata Celine akhi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status