LOGINCeline menatap Surya lama, lalu tersenyum kecil. Sebuah senyum tanpa kepanikan atau ketakutan.“Enggak,” katanya tegas.Surya mengerutkan kening. “Apa?”“Aku bilang enggak,” ulang Celine dengan suara mantap. “Aku nggak akan jual peninggalan Mama atau kebenaran ke orang serakah kayak Papa.”Senyum Surya langsung menghilang.“Aku akan cari tahu sendiri,” lanjut Celine, matanya menyala penuh tekad. “Siapa pun pelakunya… aku akan menemukannya tanpa harus mengorbankan aset Mama untuk orang yang bahkan nggak pantas nyebut namanya.”Dia melangkah mundur. Satu langkah. Dua langkah. Lalu berbalik dan berlari menuju pintu.“Berhenti!” teriak seorang anak buah.Dua tangan kasar langsung mencengkeram lengan Celine dari belakang. Tubuhnya tersentak keras.“Lepasin aku!” teriak Celine sambil meronta. “Lepasin!”Dia menendang, memberontak, berusaha melepaskan diri, tapi sia-sia.Surya hanya berdiri di tempat, menatap semuanya dengan wajah penuh kepuasan. Ia terkekeh pelan.“Kamu kira semudah itu per
Celine terdiam. Namun di dalam kepalanya, sesuatu runtuh perlahan, seperti bangunan yang selama ini ia yakini kokoh, ternyata sejak awal isinya kosong.“Aku... bukan anak kandung Papa?” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya sendiri.Surya menyandarkan punggung ke kursi, jari-jarinya saling bertaut santai, seolah baru saja membicarakan hal sepele.“Iya.” Satu kata. Ringan, tanpa rasa bersalah.Celine menelan ludah. Dadanya sesak. Potongan-potongan masa lalu berhamburan di kepalanya: wajah ibunya yang selalu berusaha tersenyum, Surya yang dulu hangat tapi kini berubah dingin, tatapan yang tak lagi lembut sejak hari pemakaman itu.“Pantas…” gumamnya lirih.Surya mengangkat alis. “Pantas apa?”Celine mendongak, matanya memerah tapi tak menangis.“Pantas Papa berubah,” ucapnya pelan, lalu suaranya semakin tegas. “Pantas Papa berhenti sayang sama aku setelah Mama meninggal.”Tangannya yang sejak tadi terikat, mengepal. Kukunya menekan telapak tangan, m
Ruang rapat tidak langsung pecah oleh suara. Justru sunyi yang jatuh berat dan penuh makna.Beberapa pasang mata saling bertemu. Evan menatap Aldean. Salah satu analis refleks menggeser kursinya lebih dekat ke meja. Tidak ada yang perlu bicara.Satu kesimpulan sudah terbentuk di kepala mereka semua.Aldean sendiri tidak bereaksi berlebihan. Tidak mengumpat atau membentak. Ia hanya mengangkat pandangannya, bertemu dengan mata Evan.Isyarat itu singkat, tapi cukup.Kepingan-kepingan itu tersusun rapi di kepala mereka: tempat penyengkapan Amira, persembunyian Surya, dan penculikan Celine.Semua itu berada dalam satu garis lurus, bertemu pada satu titik yang sama.Aldean kemudian mengalihkan fokusnya kembali ke ponsel yang tergeletak di atas meja.“Kay,” ucapnya rendah dan tenang, kontras dengan suara putrinya yang bergetar di seberang. “Tenang, Sayang. Tarik napas dulu.”“Pa, Mama disekap!” suara Kayra terdengar nyaris pecah. “Mama nelpon Kay barusan. Mama minta tolong. Mama bilang dia
Kayra membeku.Matanya membulat, napasnya tercekat, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. Suara itu, terlalu familiar untuk bisa disangkal.“K–kay...” suara itu terdengar lagi dari seberang, lebih jelas.“Ini Mama.”Deg.Tubuh Kayra menegang seketika. Jantungnya seperti terhantam dari dalam.“...Apa?” suaranya keluar tercekat. “Mama?”“Iya, Nak,” jawab suara itu. Terdengar bergetar, menahan tangis. “Ini Mama.”Kayra bangkit dari sofa tanpa sadar. Jemarinya mencengkeram ponsel hingga memutih.“Mama ke mana aja selama tiga tahun ini?” suaranya meninggi, pecah antara marah dan luka yang dipendam terlalu lama. “Kenapa Mama nggak pernah datang? Nggak pernah jengukin Kay? Bahkan satu kali pun?”Isakan tertahan terdengar dari seberang.“Maaf, Nak…” suara Amira pecah. “Mama nggak bisa.”“Kenapa nggak bisa, Ma?” Kayra nyaris berteriak. “Kenapa?!”Hening sejenak. Lalu suara Amira terdengar lirih, hampir berbisik.“Karena Mama disekap.”Dunia Kayra seolah berhenti.“...Disekap?” ulangnya pelan,
Aldean tidak langsung menjawab ucapan Kayra. Ponsel masih menempel di telinganya, tapi pandangannya kosong menembus dinding ruang rapat, seolah jarak, waktu, dan segala sesuatu di hadapannya sudah kehilangan makna. “Pa?” suara Kayra kembali terdengar dari seberang, kali ini dengan nada tidak sabar yang tertahan. “Papa masih di situ?” Aldean menarik napas dalam. “Iya, Sayang,” jawabnya akhirnya, suaranya tetap tenang seperti biasa. “Papa masih di sini.” Ada jeda singkat sebelum Aldean menambahkan, “Nanti Papa telepon lagi, ya.” Klik. Tanpa menunggu jawaban Kayra, Aldean langsung menutup panggilan. Sunyi menyelimuti ruangan. Udara seolah membeku, menekan paru-paru setiap orang di dalamnya. Beberapa detik lalu, wajah Aldean masih menyimpan sisa kelembutan—bayangan cincin, tentang sore yang ia kira akan menjadi awal baru, tentang hidup yang akhirnya berani ia pilih bersama Celine. Kini, semuanya lenyap. Rahangnya mengeras. Otot di lehernya menegang. Tatapan matanya turu
Mobil Aldean berhenti tepat di depan pintu utama sebuah bangunan abu-abu dengan arsitektur tua namun tegas, tempat di mana keputusan besar selalu diambil tanpa keraguan.Begitu ia turun, Evan sudah menunggu. Setelan hitamnya rapi, ekspresinya profesional seperti biasa.“Pagi, Tuan.”Aldean mengangguk singkat. “Pagi.”Mereka melangkah masuk berdampingan. Lorong panjang membentang di depan, langkah kaki mereka menggema pelan di lantai marmer.Tanpa menoleh, Aldean membuka suara.“Evan. Perintahku semalam,” katanya lugas. “Sudah kau urus?”“Sudah, Tuan,” jawab Evan mantap, selangkah di belakangnya. “Semuanya beres. Sore nanti Anda bisa datang bersama Nona Celine.”Langkah Aldean tidak terhenti, tapi bahunya sedikit mengendur.“Bagus,” ucapnya pelan. “Kamu selalu bisa diandalkan.”“Itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Tuan,” jawab Evan tenang.Mereka tiba di depan ruang rapat. Pintu dibuka.Beberapa orang sudah menunggu di dalam. Duduk rapi, layar presentasi menyala, berkas terbuka. Sem







