INICIAR SESIÓN"Apa kamu akan terus curiga pada setiap pemberian orang? Tentu saja karena Karin membantunya menemukan arloji kesayangan kakek tua itu," ucap Damian. "Aku tidak membantu apa pun," sergah Karin. "Tetap saja niatmu sangat baik, Sayang. Di zaman sekarang ini sulit menemukan orang baik yang menolong tanpa pamrih. Apalagi seorang kakek tua." "Aku setuju dengan ucapan Damian, tapi aku juga curiga," sahut Leo. "Yang jelas kartu anggota ini sudah menjadi milik Karin." Damian mengecup kartu itu, lalu menyimpannya baik-baik. "Apa alasannya?" tanya Dewa. "Bukankah pemilik restoran itu sangat royal? Dia memberi hadiah mewah kepada kita, lalu sekarang Karin menerima kartu anggota restoran Evernight yang kita tahu sangat sulit mendapatkannya." Dewa mengangguk, ia setuju pada analisis Leonard. Memang teman satu ini bisa diharapkan. Berbeda dari Damian yang tergila-gila dengan kartu anggota sebuah restoran. Dewa curiga keluarga Sinclair akan hancur di tangannya. "Aku tahu alasannya," s
Ruangan mendadak hening lantaran ada seorang wanita yang tidak bisa berpaling dari Eden Voss. Matanya tak berkedip, merasa takjub pada figur di depan mata. "Sadarlah, Lena," ucap Karin, ia menepuk kening."Di-Dia Eden Voss, si aktor terkenal itu kan?" tanya Lena."Kamu benar," jawab Mia."Cubit aku, Karin. Sepertinya aku masih bermimpi." Lena menyodorkan tangan, dan Karin mencubitnya. "Akhhh! Kamu mencubitku terlalu kuat."Karin tertawa. "Kamu bilang ingin dicubit.""Itu karena aku masih tidak percaya bisa bertatapan langsung dengan aktor terkenal.""Kamu bekerja di Starmoon, bukankah bakal ada artis-artis yang datang?" tanya Karin. "Ya, aku datang selain ingin menjengukmu, aku juga mau bergosip.""Hei, Karin. Temanmu ini wartawan?" tanya Eden Voss."Dia bisa diandalkan." Karin terkikik geli."Aku sangat penasaran dengan gosip itu." Mia sangat antusias, siapa tahu ada rahasia perusahaan yang dibongkar."Aku tidak akan membocorkan soal perusahaan kepada kalian, kecuali Karin.""Cih!
"Di mana kamu menghilangkannya?" tanya Karin, ia mencoba bangkit dari duduknya. "Nona, apa kamu baik-baik saja?" Alaric lekas menghampiri Karin, ia ingin menyentuhnya, tetapi ragu. Sekarang keduanya bagai orang asing, meski Alaric ingin sekali memeluk cucunya. Dari dekat begini, wajah Karin sangat mirip dengan mendiang istrinya. "Nak, kamu sedang sakit. Jangan bangkit dari kursi rodamu." "Kedua kakiku baik-baik saja. Aku masih bisa berjalan. Ayo, kita cari arlojimu." "Kita baru saja bertemu, tapi kamu mau membantu kakek tua ini." Karin tersenyum. "Apa arloji itu sangat penting bagi Kakek?" "Ya, itu peninggalkan istriku." "Kalau begitu, kita harus mencarinya." "Ya, Nak. Kita memang harus mencarinya." Karin melihat ke sekeliling, di bagian reremputan yang ia pijak, tidak ditemukan benda apa pun. Satu sampah pun nihil. "Ke mana saja Kakek berjalan? Pasti arlojinya ada di sekitar area itu." "Tadi aku berjalan ke taman ini, lalu duduk di bangku. Ketika ingin kembali ke k
Pagi ketika rumah sakit telah memberi izin atas kunjungan keluarga pasien, Dewa serta Damian muncul dengan membawa sarapan. Karin sudah menikmati makanan rumah sakit yang anehnya terasa sangat enak. Katanya makanan rumah sakit itu hambar dan tidak enak. Namun, yang Karin rasakan malah ia sangat menyukainya. Leonard sempat mengatakan jika pelayanan tergantung dari kamar mana yang ditempati. Sekarang Karin mengerti mengapa makanannya begitu enak.Padahal semua ini atas pengaturan dari keluarga Alaric yang sengaja memperkerjakan seorang koki dari restoran Evernight selama Karin berada di rumah sakit. Semua makanan berasal dari bahan kualitas terbaik, penuh gizi agar kondisi tubuh Karin cepat membaik.“Siapa yang tahu kalau kamu sangat menyukai makanan rumah sakit,” ucap Dewa.“Rasanya memang enak. Apalagi sup serta makanan penutup. Cake lemonnya sangat lembut, tidak begitu manis, sangat enak.”“Pelayanan rumah sakit ini memang terbaik. Aku juga sempat mencicipi makanan penutupnya. Benar-
Sore hari, Dewa dan Damian memutuskan pulang. Keduanya menitipkan Karin pada Leonard untuk malam ini. Segala sesuatunya telah dibeli, termasuk makanan, air mineral, dan tisu. Bahkan Leonard bisa berbaring di atas sofa empuk di ruang rawat bertanda super. Beberapa rumah sakit ternama memang kadang memberi fasilitas kepada satu anggota keluarga yang ditugaskan berjaga. Luka Karin berangsur membaik, meski kadang ia masih merasakan sakit ketika bergerak secara berlebihan. Lukanya tidak boleh terkena air. Meski sudah memakai plester anti air, ia tetap tidak berani mandi sendiri. Karin memerlukan bantuan Leonard, lebih tepatnya ia ingin bermanja-manja. Kapan lagi melihat bos mafia merawat seorang pasien. "Sayang, aku mau makan buah," pinta Karin. Leonard meninggalkan ponselnya, lalu menghampiri Karin. Ia memotong apel dengan kecepatan tangan yang membuat siapa pun tercengang."Apa semua mafia sangat ahli menggunakan pisau?" Karin mengambil potongan apel yang presisi, bersih, ini menakjub
Leonard dan Dewa bertepuk tangan atas aksi Shanaya yang membuat Sinta tersiksa. Luka-luka ditubuhnya itu tentu saja memerlukan waktu untuk disembuhkan. Namun, yang lebih menyakitkan tentu saja soal hati. Dendam yang membara.“Bebaskan mereka,” ucap Leonard.“Baik, Bos.”Leonard tertawa. “Kerja bagus, Nona Shanaya. Karena aksimu ini, kamu bebas. Lain kali jangan berani melakukan hal yang merugikan ke depannya. Meski hanya niat. Ini peringatan untukmu.”“Ba-Baik.” Shanaya melepaskan cambuk di tangannya, lalu bergegas mengikuti bawahan Leonard. Sementara Sinta dibawa oleh dua orang anggota klan langsung ke rumah sakit. Wanita itu masih belum boleh mati.“Kamu melepaskannya,” ucap Dewa.“Setelah ini perhatian Sinta akan teralih pada Shanaya, Paula dan mungkin Agnes. Kita tidak perlu khawatir soal Karin untuk sementara waktu. Bila dilihat dari sifat Sinta, dia akan membuat perhitungan.”Dewa terkekeh. “Pantas saja kamu berhasil merebut wilayah barat.”“Kita hanya tinggal melihat aksi pemba







