Partager

Bab 23

Auteur: Renita April
last update Date de publication: 2026-07-06 20:20:51

Seumur hidup, Karin belum pernah mendapat uang begitu besar seperti ini. Bila uang ini digunakan untuk membayar hutang, maka sisanya tinggal setengah saja. Dewa menyelamatkannya dari situasi terburuk. Hanya saja uang ini tidak bisa dibayarkan karena Dewa telah mengisyaratkan untuk membeli segala keperluan liburan.

"Ini kebanyakan," ucap Karin.

"Hanya sedikit. Kita akan pergi liburan selama seminggu. Belilah barang yang kau perlukan. Aku juga mau kamu membeli gaun tidur."

Karin tersipu malu me
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 24

    "Belanjaanmu banyak banget. Habis berapa duit ini, Karin?" Teguh terbelalak melihat tas belanjaan istrinya. "Kamu tahu kan kita harus bayar hutang bulan depan?""Cicil pokok serta bunganya untuk bulan depan." Karin mengeluarkan uang dari tasnya. Ia memberikan uang senilai 20 juta untuk Teguh. "Besok kamu harus bayar. Kita cicil biar cepat selesai." Teguh mengambil uang itu dengan senang hati. "Itu sudah pasti, Sayang. Tapi belanjaan ini, kamu dapat uang banyak dari mana?" "Tentu saja dari Tuan Dewa. Aku juga ada belikan baju dan beberapa dalaman buat kamu." Dengan senang hati Teguh menerima hadiah dari istrinya. Baju yang Karin belikan juga bagus, sesuai dengan seleranya. "Kamu sudah naik jabatan?" tanya Karin."Iya, Sayang. Ini semua berkat dirimu. Oh, hampir saja lupa. Tadi Nyonya Sinta datang menemuiku. Dugaanmu benar. Dia sepertinya cemburu.""Dia bilang apa?" tanya Karin, ia sedikit panik mendengarnya. "Dia bilang kamu punya hubungan dengan Tuan Dewa. Bukankah itu sudah jela

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 23

    Seumur hidup, Karin belum pernah mendapat uang begitu besar seperti ini. Bila uang ini digunakan untuk membayar hutang, maka sisanya tinggal setengah saja. Dewa menyelamatkannya dari situasi terburuk. Hanya saja uang ini tidak bisa dibayarkan karena Dewa telah mengisyaratkan untuk membeli segala keperluan liburan. "Ini kebanyakan," ucap Karin."Hanya sedikit. Kita akan pergi liburan selama seminggu. Belilah barang yang kau perlukan. Aku juga mau kamu membeli gaun tidur." Karin tersipu malu mendengarnya. Ia tahu maksud ucapan Dewa tentang gaun tidur tipis yang seksi. Karin juga bisa membayangkan selama liburan nanti ia akan terus berada di sisi Dewa dan menikmati banyak sekali hal yang belum pernah dicoba. Karin mau mengikuti pria ini. Hanya saja ia kepikiran Teguh. "Aku harus izin pada suamiku." "Dia pasti mengizinkanmu. Aku sudah memberinya syarat dan dia harus mau. Bila ingkar, aku akan membuatnya kembali ke tempat seharusnya." "I-Iya, Tuan." Karin kaget mendengar jawaban dari

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 22

    "Teguh, ada yang mencarimu!" teriak seorang pria yang bergegas menemui Teguh di kantornya. Sekarang pria itu telah mendapat ruangan sendiri. Jabatan yang mendadak diberikan memang membuat rekan-rekan Teguh yang lain terkejut. "Siapa?" tanya Teguh dengan gayanya. Merasa hebat karena baru saja naik jabatan. Namun, Teguh tidak memberitahu jika gajinya sama dengan gaji kepala proyek. Hanya memerhatikan pekerjaan kuli bangunan saja, Teguh mendapat uang banyak. Rekannya ini mengedikan bahu. "Aku tidak tahu. Tapi, kepala proyek sangat menghormatinya. Dia juga cantik.""Jangan-jangan istriku," ucap Teguh."Kamu punya istri cantik?" Temannya kagum. Teguh baru saja naik jabatan dan istrinya pun sangat cantik."Tidak mungkin Karin datang ke sini. Lebih tidak mungkin lagi kepala proyek sampai menyambutnya dengan baik. Siapa dia?" Teguh tampak berpikir. "Daripada terus menduga-duga seperti itu, lebih baik lekas temui beliau. Jangan sampai membuat wanita cantik itu menunggu terlalu lama.""Benar

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 21

    Tidak pernah sekalipun pintu ruangan kantor Dewa diketuk dalam keadaan yang terburu-buru. Sudah pasti ada tamu tak diundang yang sedang berkunjung, dan bila tamu tersebut mengetuk dengan gelisah itu berarti orang tersebut punya hubungan dekat dengan pemilik ruangan ini. Dewa yang tengah menyusu menghentikan kegiatan sementaranya, lalu Karin bergegas memakai pakaiannya kembali. "Siapa di sana?" tanya Karin. Timbul perasaan takut dalam benaknya. "Tenang saja. Biar aku yang mengurusnya," ucap Dewa. Pria ini berjalan ke depan, lalu memutar kunci. Pintu langsung terbuka, membuat Dewa mundur selangkah karena kaget tiba-tiba pintu didorong begitu saja. Ia berdecak ketika mendapati istrinya yang datang. "Apa-apaan ini, Sinta? Kamu mau membuatku jatuh?"Namun, Sinta tidak memedulikan ucapan Dewa. Ia berjalan masuk dan mendapati Karin di dalam. Tatapannya tajam penuh intimidasi. Meski Karin mencoba kuat menghadapinya, tetap saja ia kalah. Dewa menutup pintu rapat agar karyawan di luar tida

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 20

    Siapa yang mengira jika Karin bisa mengucapkan kata demikian. Ini sedikit membuat Sinta kaget. Wanita yang tampak lemah, rupanya punya nyali juga. "Wanita miskin sepertimu tidak layak bersanding denganku," ucap Sinta. "Itu artinya Nyonya tidak perlu takut. Bukankah Nyonya sendiri yang menyetujui Tuan Dewa menyentuhku.""Kamu hanya bekerja!" Pandangan Sinta tajam menatap Karin seolah ia ingin lagi menamparnya. "Tentu saja aku bekerja." Karin sama sekali tidak mau mundur. Ia memang miskin, tetapi tidak mau orang lain meremehkannya. "Tamparan ini suatu saat nanti akan aku balas.""Apa maksudmu?" Ini membuat Sinta terkejut. Wanita ini sangat pandai menyembunyikan dirinya. Dia polos, tetapi berbisa. "Saat ini aku sedang menantikan makan siangku. Aku tidak keberatan jika Nyonya bersedia duduk bersama.""Tidak sudi. Duduk bersamamu hanya membuat tubuhku gatal." "Aku tidak akan memaksa." Karin duduk kembali di kursinya. Sinta mengepalkan tangan, ia berbalik, lalu berjalan keluar. Ia yan

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 19

    Begitu bangun, Karin tidak lagi menemukan Teguh berada di sampingnya. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ah, ia kesiangan. Mungkin karena semalam tidur terlalu larut. Padahal pagi ini Karin harus pergi ke bank. Bergegas ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sebelum itu, langkah Karin terhenti. Ia melihat makanan di atas meja. Ini pasti Teguh yang menyiapkan. Karin senang mendapati perhatian dari suaminya. Ia makan lebih dulu, barulah pergi mandi. Di dalam bilik mandi, Karin merasakan kedua buah ranumnya terisi penuh dan berat. Bahkan menetes ketika ia sentuh. Jika ditekan, maka terus tumpah. "Kenapa semakin hari isinya makin banyak?" gumam Karin. Padahal yang ia beri asi adalah pria dewasa. Karin tidak mengerti soal ini. "Aku harus siap-siap." Hampir saja lupa jika Karin harus pergi. Ia mempercepat mandinya, lalu bersiap. Karin juga membawa pakaian ganti karena sepertinya air asinya akan terus keluar. "Ah, aku keluarkan saja dulu." Karin mengambil gelas, meleta

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status