FAZER LOGIN"Kenapa, Karin? Kamu tampak gelisah. Aku belum memulainya, tetapi tubuhmu malah tegang." Damian terkekeh. Tangan Karin mengepal erat. Apa mau pria ini sebenarnya? Karin tidak akan membuka topengnya. Semakin Damian penasaran, maka ia bisa membuatnya mengeluarkan uang yang banyak. "Aku baik-baik saja." Karin bersikeras. Ternyata sentuhan Damian juga membuatnya terbakar oleh gairah. Bila ini teruskan, bisa saja ia menyerahkan dirinya. Tidak akan! Karin membuang pikiran itu. Godaan ini harus ia tahan.Damian menyadari betapa keras kepalanya Karin. Wanita ini pandai menahan diri dalam permainan. Ia tidak mudah jatuh hanya karena sentuhan maupun uang. Ini sangat menarik. Damian menyukainya. Malam ini cukup sampai di sini saja. Ia sudah haus dan saat menikmati hidangan utama. Tenggorokkannya bergerak seperti meneguk minuman. Karin menghela napas lega karena akhirnya pria ini menyerah juga. Bila Damian meneruskan sentuhan menggodanya, Karin pun akan senantiasa melebarkan kaki. Ia sudah dis
Karin tertawa sembari memandang Tasya yang bersikap congkak. Sikapnya ini membuat heran Lena dan rekan lainnya. Otak Karin mungkin sudah rusak karena baru saja ditampar oleh Tasya. Dia stress, bukan marah malah tertawa. "Apa kamu baik-baik saja, Karin?" Lena mencemaskannya. "Tentu saja, aku tertawa karena merasa lucu.""Perempuan gila!" Sorot mata tajam Tasya menusuk Karin. Ada kilatan kesal karena tanggapan yang wanita itu berikan tidak sesuai dugaannya. "Nona Tasya, apakah begini sambutanmu untuk junior?" Karin kembali tertawa. Lena menggeleng. Ia yakin jika Karin memang sudah gila karena baru saja ditampar oleh Tasya. Mungkin tamparan itu mengenai sarafnya. Lena prihatin, baru saja dua hari kerja sudah menderita. "Beraninya kamu mengambil klienku." Kata-katanya bernada ancaman. Karin bertepuk tangan. "Kamu menamparku karena aku mengambil pelangganmu? Oh, ternyata senior Tasya tidak ada apa-apanya. Apa kamu takut denganku?""Astaga! Apa yang dia katakan?" sahut salah satu memb
Perasaan Karin tidak karuan. Matahari sudah kembali ke peraduan, tetapi Teguh belum juga pulang. Apa peduli Karin setelah melihatnya secara terang-terangan berkhianat. Ternyata lebih sakit saat melihat suami menggandeng wanita lain. Karin juga menyadari tindakannya kepada Sinta. Mungkin ini yang dirasakan oleh wanita itu saat melihat suaminya bersama perempuan lain. Ceritanya juga hampir sama. Meski dalam persetujuan, tetap saja sakit hati bila seseorang yang disayang jatuh dalam pelukan orang lain. Karin sangat mengerti, dan ia telah merasakannya. Sekarang jangan lagi terikat pada pria. Hiduplah untuk diri sendiri. Sebab itulah Karin menerima pesanan online yang ditujukan kepadanya. Terlebih pelanggan ini berasal dari lantai empat. Malam ini ia bisa mendapat uang yang banyak dengan menyusui seorang pria. Dengan lembaran kertas bernilai tersebut, Karin bisa membeli apa pun, ia akan melupakan Teguh dan semuanya. Pukul setengah delapan malam, Karin keluar. Ia mengendarai sepeda moto
"Kamu memukulku?" Mata Miranda melotot penuh kebencian memandang Karin. "Ya, aku memukulmu," jawab Karin tidak kalah menantangnya. "Beraninya!" Miranda menarik rambut Karin sekuat tenaga dengan teriakan kebencian yang ia tujukan. Karin pun tidak mau kalah, ia membalas. Aksi tarik menarik dan mendorong ini menjadi tontonan pengunjung restoran mall. Teguh mematung, terlalu kaget hingga tubuhnya sulit digerakkan. Tira yang ada di sekitar mereka maju melerai, tetapi terdorong oleh keduanya. Jika tidak ada Ryan yang menyambutnya dari belakang, ia hampir saja jatuh. "Kenapa kamu diam saja, cepat lerai mereka," ucap Ryan, menyadarkan Teguh yang membisu di tempatnya. "Hei, Teguh!" Barulah pria itu sadar. Teguh maju melerai, ia menarik Miranda, lalu mendorong Karin hingga jatuh. Karin menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangan, dan di saat itulah ia melihat betapa protektifnya Teguh dalam melindungi selingkuhannya. Teguh memeluk, merapi rambut dan mengusap pipi Miranda dengan penuh k
Alasan Karin ingin bekerja di siang hari karena ia bosan sendirian di rumah. Terlebih di malam hari pun ia juga kesepian karena kasih sayang Teguh telah terbagi. Karin juga malas memikirkan soal rumah. Jika lapar, ia tinggal beli saja. Ya, buat apa lagi susah-susah memasak karena suaminya pun tidak akan makan di rumah. Menikmati kesendirian, begitulah pikiran Karin sekarang. Sudah memiliki uang, ia bisa membelanjakannya sesuka hati. Karin ingin tampil lebih cantik, membuat pria bertekuk lutut di bawah kakinya. Ia ingin mengatakan kepada mereka seolah-seolah mencampakkan wanita sepertinya sangatlah merugi. Bangun di pukul delapan pagi, mandi, lalu pergi ke mana pun ia mau. Untuk sesaat ia ingin melupakan segala permasalahan yang ada. Karin lebih banyak membaca hal-hal positif mengenai wanita yang bisa membuatnya naik glow up. Memperbaiki penampilan, belajar merias wajah, lalu bertutur kata. Karin tiba di pusat perbelanjaan. Ia membeli kosmetik yang cocok untuknya. Beberapa telah ia
Akhirnya selesai juga. Ini lewat setengah jam dari waktu yang biasanya dikatakan Lena. Rekan Karin yang baru itu bilang jika pelanggan biasanya menghabiskan satu jam untuk menyusu, tetapi Damian melewatkannya hingga 30 menit. Karin meringis melihat buah cherrynya yang gepeng, ia memandang pria itu. Damian merasakan tatapan pendonornya dan mengangkat bahu. "Tips untukmu. Belilah salep untuk mengobatinya." Damian tersenyum canggung. "Harusnya kamu bilang jika aku menyakitimu." "Tidak masalah asal uang tipsnya besar." Karin menerima uang tips senilai 2 juta secara cash. Ia berjalan ke kamar mandi karena pakaiannya masih ada di sana, dan tak lama keluar. Damian masih duduk di sofa. "Sudah selesai?" tanyanya. "Ya, aku boleh keluar?" "Setelah ini, apa kamu akan menyusui orang lain lagi?" tanya Damian. "Apa aku harus menjawab pertanyaanmu itu?" Karin malah mengirim balik pertanyaan. "Aku hanya tanya saja." Karin mengedikan bahu. "Jika ada pria yang lebih tampan dan kaya darimu,







