Share

Bab 42

Author: Renita April
last update publish date: 2026-07-14 22:01:48

Mendapatkan 20 juta dalam semalam memang menggiurkan. Karin pun berminat dengan tawaran tersebut. Hanya saja ia tidak mau lagi berjualan asi kepada para pria dewasa. Ia merasa pekerjaan tersebut tidak baik. Lebih kepada menjual diri. Di sana pasti ia harus membuka pakaian atas, lalu menyusui pria hidung belang. Lalu Teguh ingin istrinya melakukan itu lagi.

"Kenapa kamu terus ingin aku bekerja sebagai pendonor asi? Teguh, aku ini istrimu," ucap Karin, ia bahkan memelas saat mengatakannya.

"Pik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 59

    Uang datang dan pergi dalam sekejap. Tadi malam uang itu masih ada dan sekarang lenyap. Lalu Karin menderita luka serta rasa sakit. Karin berusaha berdiri, ia menolak dibantu ketika seorang tetangga menghampiri ingin menggotongnya. Ia berjalan terhuyung masuk rumah, lalu menutup pintu rapat. Sakit di tubuh, lebih sakit lagi hati. Mendengar ucapan dari dua rentenir itu yang mengatakan jika Teguh menyuruh mereka mengambil uang darinya. Teguh tahu ia tak lagi bekerja, lalu di mana uang itu berasal? Andai uang hasil dari kerja semalam tidak ada, apa yang bakal rentenir itu lakukan padanya? Saat ini Karin hanya bisa menangis menahan dera. Ia terbaring di lantai, menatap langit-langit rumah yang di makan jamur. Kuning kehitaman, sedangkan seseorang tengah berada di rumah bagus karena kondisinya berbadan dua. Karin bukan tidak bisa hamil, ia subur, tetapi Teguh memilih wanita lain. Ya, Karin akui ia salah lebih dulu karena tidur bersama Dewa, lalu apa pantas ia diperlakukan begini. Karin

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 58

    Malam ini, 10 juta telah di tangan. Karin membawa pulang uang tersebut tanpa perasaan apa-apa. Ia mudah mendapatkannya dengan kelebihan ini. Namun, hati yang sakit masih terasa hingga ke ubun-ubun ketika melihat Teguh telah berada dalam rumah. Karin tidak mengatakan apa pun saat ia masuk. Sudah beberapa hari ini ia tahu Teguh selingkuh, lalu fakta lainnya selingkuhannya hamil, hutang dengan rentenir. Karin terlalu lelah untuk membahasnya. "Dari mana saja kamu?" tanya Teguh. "Menghibur hati," jawab Karin sekenanya. "Kita perlu bicara, Karin. Aku dan Miranda secara tidak sengaja bertemu di tempat karaoke. Waktu itu aku mabuk, dia membawaku ke rumah dan terjadilah kejadian itu. Miranda hamil, aku harus bertanggung jawab.""Oh, dalaman merah itu miliknya?" "Aku kesepian saat kamu pergi berlibur bersama Tuan Dewa. Aku hanya pergi untuk menghibur diri. Ini sama sekali bukan keinginanku, tapi kecelakaan.""Lalu uangku?" Lagi-lagi soal itu. Teguh malas membahasnya karena ia malu telah m

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 57

    "Kenapa, Karin? Kamu tampak gelisah. Aku belum memulainya, tetapi tubuhmu malah tegang." Damian terkekeh. Tangan Karin mengepal erat. Apa mau pria ini sebenarnya? Karin tidak akan membuka topengnya. Semakin Damian penasaran, maka ia bisa membuatnya mengeluarkan uang yang banyak. "Aku baik-baik saja." Karin bersikeras. Ternyata sentuhan Damian juga membuatnya terbakar oleh gairah. Bila ini diteruskan, bisa saja ia menyerahkan dirinya. Tidak akan! Karin membuang pikiran itu. Godaan ini harus ia tahan. Damian menyadari betapa keras kepalanya Karin. Wanita ini pandai menahan diri dalam permainan. Ia tidak mudah jatuh hanya karena sentuhan maupun uang. Ini sangat menarik. Damian menyukainya. Malam ini cukup sampai di sini saja. Ia sudah haus dan saatnya menikmati hidangan utama. Tenggorokkannya bergerak seperti meneguk minuman. Karin menghela napas lega karena akhirnya pria ini menyerah juga. Bila Damian meneruskan sentuhan menggodanya, Karin pun akan senantiasa melebarkan kaki.

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 56

    Karin tertawa sembari memandang Tasya yang bersikap congkak. Sikapnya ini membuat heran Lena dan rekan lainnya. Otak Karin mungkin sudah rusak karena baru saja ditampar oleh Tasya. Dia stress, bukan marah malah tertawa. "Apa kamu baik-baik saja, Karin?" Lena mencemaskannya. "Tentu saja, aku tertawa karena merasa lucu.""Perempuan gila!" Sorot mata tajam Tasya menusuk Karin. Ada kilatan kesal karena tanggapan yang wanita itu berikan tidak sesuai dugaannya. "Nona Tasya, apakah begini sambutanmu untuk junior?" Karin kembali tertawa. Lena menggeleng. Ia yakin jika Karin memang sudah gila karena baru saja ditampar oleh Tasya. Mungkin tamparan itu mengenai sarafnya. Lena prihatin, baru saja dua hari kerja sudah menderita. "Beraninya kamu mengambil klienku." Kata-katanya bernada ancaman. Karin bertepuk tangan. "Kamu menamparku karena aku mengambil pelangganmu? Oh, ternyata senior Tasya tidak ada apa-apanya. Apa kamu takut denganku?""Astaga! Apa yang dia katakan?" sahut salah satu memb

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 55

    Perasaan Karin tidak karuan. Matahari sudah kembali ke peraduan, tetapi Teguh belum juga pulang. Apa peduli Karin setelah melihatnya secara terang-terangan berkhianat. Ternyata lebih sakit saat melihat suami menggandeng wanita lain. Karin juga menyadari tindakannya kepada Sinta. Mungkin ini yang dirasakan oleh wanita itu saat melihat suaminya bersama perempuan lain. Ceritanya juga hampir sama. Meski dalam persetujuan, tetap saja sakit hati bila seseorang yang disayang jatuh dalam pelukan orang lain. Karin sangat mengerti, dan ia telah merasakannya. Sekarang jangan lagi terikat pada pria. Hiduplah untuk diri sendiri. Sebab itulah Karin menerima pesanan online yang ditujukan kepadanya. Terlebih pelanggan ini berasal dari lantai empat. Malam ini ia bisa mendapat uang yang banyak dengan menyusui seorang pria. Dengan lembaran kertas bernilai tersebut, Karin bisa membeli apa pun, ia akan melupakan Teguh dan semuanya. Pukul setengah delapan malam, Karin keluar. Ia mengendarai sepeda moto

  • Ahh, Pelan-Pelan, Boss.    Bab 54

    "Kamu memukulku?" Mata Miranda melotot penuh kebencian memandang Karin. "Ya, aku memukulmu," jawab Karin tidak kalah menantangnya. "Beraninya!" Miranda menarik rambut Karin sekuat tenaga dengan teriakan kebencian yang ia tujukan. Karin pun tidak mau kalah, ia membalas. Aksi tarik menarik dan mendorong ini menjadi tontonan pengunjung restoran mall. Teguh mematung, terlalu kaget hingga tubuhnya sulit digerakkan. Tira yang ada di sekitar mereka maju melerai, tetapi terdorong oleh keduanya. Jika tidak ada Ryan yang menyambutnya dari belakang, ia hampir saja jatuh. "Kenapa kamu diam saja, cepat lerai mereka," ucap Ryan, menyadarkan Teguh yang membisu di tempatnya. "Hei, Teguh!" Barulah pria itu sadar. Teguh maju melerai, ia menarik Miranda, lalu mendorong Karin hingga jatuh. Karin menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangan, dan di saat itulah ia melihat betapa protektifnya Teguh dalam melindungi selingkuhannya. Teguh memeluk, merapi rambut dan mengusap pipi Miranda dengan penuh k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status