Share

Bab 44

Penulis: Renita April
last update Tanggal publikasi: 2026-07-15 22:43:29

"Dengarkan penjelasanku dulu, Karin. Aku salah karena terjebak dalam judi online. Aku memakai uangmu untuk membayar hutang kepada rentenir lain," aku Teguh.

"Judi online?" Karin menatap tidak percaya. Semua uang yang ia kumpulkan dipakai untuk judi online. "Apa uang untuk membeli rumah juga tak bersisa?" tanya Karin.

Teguh mengangguk. "Ya, aku kecanduan judi online. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Sayang, aku sudah berhenti. Aku tak akan mengulangi perbuatan yang menghabiskan uang ki
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 220

    Kelima pria yang bertarung tadi, berhenti bertengkar ketika mendengar suara wanita cantik itu. Kepala mereka tertunduk karena merasa bersalah. Wanita di atas singgasana itu pun sepertinya sudah muak dengan kejadian barusan.“Kamu milikku, Dewi.”Perkataan itu membuat Karin kaget. Karena bukan hanya satu pria yang mengucapkan hal tersebut, tetapi semuanya. Mereka menginginkan wanita yang sama. Lima pria itu ingin menikahi wanita cantik itu.“Aku akan menikahi kalian berlima.”Semua orang setuju dengan keputusan dari wanita tersebut, lalu kejadian beralih. Karin tiba-tiba telah berada di pesta pernikahan. Di mana satu wanita menikahi lima pria sekaligus. Lalu berlanjut ke malam pengantin. Yang membuat Karin kaget adalah kelima laki-laki itu sama-sama menikmati peran sebagai suami, dan wanita itu memiliki air susu yang banyak.“Apa yang terjadi?” gumam Karin, lalu ia ditarik ke setiap kejadian demi kejadian. Wanita cantik itu diburu. Kelima suaminya telah mati. Lalu Karin berada di tahun

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 219

    Damian menggeleng keras. “Aku tidak mau. Sudah cukup berbagi dengan dua pria lainnya.”“Lalu anakmu akan minum susu apa? Kamu akan jadi ayah yang sangat tega bila menyuruh anak sendiri minum susu formula.” Karin terkikik.“Kita pikirkan nanti saja. Yang penting persetujuanmu.”“Seperti yang kamu katakan. Jika ada ibu pengganti, aku bersedia.”“Terima kasih, Sayang.” Damian memeluk Karin, kemudian mengajaknya pergi dari club tersebut. Berlama-lama di sana hanya membuat pikiran kalut lantaran mengingat aksi Shanaya yang kejam.Malam ini, Karin bersedia menginap di kediaman Damian. Hubungan yang sempat tegang, kini mulai terajut kembali. Siapa pun boleh mencoba untuk menghancurkan ikatan Karin dan tiga kekasihnya. Namun, cinta di antara mereka terjalin begitu kuat. Tidak semudah itu diruntuhkan.Begitu tiba di kediaman, Damian mengajak Karin langsung ke kamar. Sedetik pun ia tidak mau melepas. Sejak pulang dari tugas, hubungan keduanya renggang. Mengingat kejadian itu, Damian ingin mengu

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 218

    Mendengar Shanaya mendorong pengasuhnya ke jurang saja sudah membuat Karin kaget, dan tidak habis pikir apa yang ada di otak Shanaya. Sekarang, melihat wanita itu menyiksa beberapa pria di depan mata, membuatnya yakin jika wanita itu memang sudah gila. Shanaya menikmati jeritan para pria di depannya, dan tertawa keras. Sementara temannya yang lain juga ikut mendukung dengan menyerukan nama Shanaya sebagai pemain utama. “Tidakkah kita menghentikan mereka?” Karin berlari menuju depan, lalu memukul kaca dengan keras. Ia bisa melihat, bahkan mendengar suara Shanaya serta teman-temannya. Namun, mereka tidak melihat adanya Karin maupun Damian. “Lepaskan mereka!” teriak Karin. “Sayang, apa yang kamu lakukan?” Damian lekas menjauhkan Karin dari kaca. “Percuma saja. Mereka tidak bisa mendengar suara kita.” “Pemuda itu akan mati. Kita harus menolongnya.” “Mereka dibayar untuk itu. Mati atau hidup, itu sudah pilihan.” Karin terdiam mendengar ucapan Damian, dan merasa apa yang dilakukan oleh

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 217

    Mobil melaju menuju jalan yang cukup familiar bagi Karin. Ia tahu ke mana pria ini akan membawanya pergi. Ya, segala sesuatunya harus dibicarakan, dan Karin pun ingin mendengar dengan jelas kenapa Damian tiba-tiba memutuskan untuk menikah. Ia masih tidak percaya bila mengingat betapa kekasihnya sangat mengharapkannya.Namun, Karin pun merasa bersalah karena ia sendiri tidak bisa memberikan apa yang Damian inginkan. Ia tidak bisa karena dua pria lain akan tersakiti. Karin pun masih terjebak dalam kegagalan pernikahan di masa lalu.“Damian … .” Karin mencoba mengajaknya bicara.“Sebentar lagi kita tiba di rumah.”Karin mengangguk. Apa pun yang akan dibahas memang sebaiknya setelah tiba di kediaman. Melihat Damian yang tidak ceria seperti biasanya, membuat Karin khawatir kepadanya. Ia tahu segala sesuatu yang dipaksakan itu memang tidak baik. Namun, Damian juga dihadapkan dengan sebuah dilema.Kendaraan sport ini tiba di kediaman pribadi Damian. Rumah yang membuat Karin betah tinggal di

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 216

    “Siapa kamu?” tanya Eden.Karin menahan tawa. Ia bahkan menggigit lidah supaya tidak tertawa lantaran sapaan Shanaya tadi terdengar sangat akrab. Siapa sangka Eden Voss bahkan tak memberinya muka.“Eden Voss, aku Shanaya Shaw. Kita pernah satu sekolah. Hanya saja kamu itu juniorku.”Eden Voss menatap Shanaya dengan pandangan yang sulit diartikan. Jantung Karin berdegup kencang. Ia ingat jika pria ini juga sama gilanya dengan Shanaya Shaw. Dia tidak suka dengan wanita yang sok akrab. Jangan bilang Eden Voss bakal menghabisi Shanaya Shaw sekarang juga.“Heh! Aku tidak kenal denganmu.”“Pfft.” Karin langsung terdiam ketika Shanaya menatapnya tajam.“Oh, Nona Karin juga di sini rupanya.” Shanaya tersenyum. “Sungguh kebetulan. Aku juga datang ke sini bersama Damian.”Karin bingung mau menjawab apa. Ia malas mau meladeni wanita ini bila teringat kejadian tempo lalu. Shanaya ini wanita yang sangat gila karena bisa melakukan apa saja, dan Karin sedikit takut. Jika satu lawan satu ia masih ber

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 215

    “Kamu tahu kan kalau pergi bersamaku memang sangat beresiko,” ucap Eden.“Tarik berita itu, aku tidak mau sampai melebar ke mana-mana.”“Tunggu! Kenapa kita tidak memanfaatkan ini saja demi sebuah film? Kamu ingin jadi artis, kan? Aku bisa membuat skandal untuk kita.” Eden tersenyum puas. Dengan begitu ia bisa membuat Karin lebih banyak menghabiskan waktu bersama.“Kamu ingin memanfaatkanku ya?” Karin tertawa. “Jangan harap! Jika aku ingin menjadi artis, haruslah artis dengan kualitas yang baik.”“Cih! Industri hiburan tidak seperti yang kamu kira.”“Ya, sudah. Tarik beritanya.”“Kamu pikir semudah menarik alas tempat tidur? Perlu waktu, apalagi beritanya telah tersebar luas. Pasti banyak pihak yang bakal menyimpan artikel berita ini, lalu suatu saat kembali menampilkannya. Jika kamu tidak keberatan, aku bisa membuat kesepakatan dengan uang.”“Kekasihku tidak akan setuju soal itu. Sudahlah, antar aku pulang biar segera menyimpan bahan belanjaan ini. Besok, jadwal seperti biasa, kan?”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status