Share

Bab 47

Author: Renita April
last update publish date: 2026-07-17 20:23:06

Teguh tidak memerhatikan ada kendaraan yang berhenti di tepi jalan karena terbatasnya lampu penerangan. Itu sebabnya, ia terus melanjutkan perjalanan hingga berhenti di sebuah rumah baru.

Pintu rumah terbuka, seorang wanita memakai piama keluar menyambut Teguh. Ia merentangkan kedua tangan, lalu Teguh datang memeluknya.

"Kamu agak malam. Mampir ke rumahmu dulu?" tanya Miranda.

"Kerjaan memang banyak. Aku langsung mampir ke sini karena kangen sama kamu." Teguh membawa wanita itu masuk, lalu m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 224

    “Ka-Kalian.” Karin ingin melepas benda yang melekat di hidungnya saat ini, tetapi Damian lekas mencegahnya. Karin perlu diperiksa lebih dulu. Leonard lekas memanggil dokter. Ketiga pria ini bekerja sama dalam merawat kekasihnya.Dokter dan suster tiba, lalu melakukan pemeriksaan serta pengamatan. Keadaan Karin menunjukan proses membaik. Barulah benda yang tidak disukai Karin dilepas. Namun, jarum infus tetap dipertahankan karena ada obat yang nantikan bakal dimasukkan lewat sana.Karin juga masih merasakan sakit di perutnya, dan rasa tebal dari perban. Dokter telah melakukan yang terbaik untuk membuatnya tetap hidup. Ia masih diberi kesempatan bernapas, dan melihat orang-orang yang disayangi.“Sayang, bagaimana perasaanmu?” tanya Dewa.“Sedikit sakit.”“Itu akan membaik dengan segera. Aku janji akan membuatmu sembuh seperti sedia kala.” Dewa memberikan air minum kepada kekasihnya, dan Karin menerima. Hanya sedikit yang ia teguk.Karin menolak meminum air lagi, matanya terpejam saat De

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 223

    Dewa mondar-mandir di depan ruang tindakan, ia gelisah karena Karin masih ditangani. Begitu juga Damian serta Leonard. Saat Leonard menelepon Karin untuk bertanya mengenai keberadaannya, seorang pria tidak dikenal mengangkat panggilan tersebut, dan mengatakan kejadian yang menimpa Karin. Itulah di mana ia lekas menuju lokasi serta memberitahu yang lainnya. "Dokter!" Dewa menghampiri pria yang baru saja keluar dan masih mengenakan masker tutup mulut. "Bagaimana keadaan kekasihku?" "Kami membutuhkan darah.""Ambil saja darahku.""Aku juga," sahut Damian."Kami semua siap." Leonard pun sama. Dokter itu memandang ketiganya, lalu mengangguk. "Silakan ikuti suster yang menangani. Kalian perlu di tes dulu." Suster yang menangani masalah ini lekas membawa Dewa serta lainnya ke ruang khusus. Ketika dokter itu ingin masuk ke ruang tindakan, dokter senior muncul. "Kalian sudah menangani wanita yang tertusuk benda tajam itu?" tanyanya yang membuat dokter yang menangani Karin, heran. Dari man

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 222

    Untuk hari ini, Karin sangat berterima kasih kepada Eden karena diizinkan pulang lebih awal. Pukul tujuh malam, Karin sudah keluar dari kediaman mewah itu. Dengan mengendarai sepeda motornya, ia menyusuri jalan raya besar menuju restoran steak. Karin perlu mengisi perutnya lebih dulu sebelum Leonard menjemputnya di rumah sewa. Malam ini, memang jatah pria itu. Karin juga perlu mendengar penjelasan dari bibir kekasih ketiganya itu mengenai hubungan dengan teman masa kecilnya. Apakah dia masih dekat dengan Agnes atau hubungan mereka berakhir? Semua harus jelas. Melihat Karin datang, pelayan segera melayani dengan sangat ramah. Ini karena Karin mendatangi restoran biasa, di mana ia bisa makan gratis. Semua tagihan Dewa yang bayar. Karin bahkan memesan dua steak sekaligus, dan salah satunya dibungkus. Karin mengirim lokasinya di grup obrolan chat agar kekasihnya tidak khawatir mengenai keberadaannya sekarang. Setelahnya ia mengalihkan pandangan ke sekitar. Memandang setiap pengunjung ya

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 221

    Semua yang Karin lakukan selalu salah di mata Eden Voss. Makanan serta minuman yang ia berikan dibilang tidak enak dan membuat tenggorokkan pria itu terbakar. Mana ada alasan seperti itu. Jika tahu Eden suka bertingkah seperti ini, sebaiknya ia meracuninya saja.“Kamu ini marah karena apa? Katakan saja, aku siap mendengarkan,” ucap Karin.“Tadi malam aku mengkhawatirkanmu, tetapi kamu malah tidak membalas pesan dariku.”“Bukankah sudah kukatakan kalau aku baik-baik saja?”“Setidaknya katakan dengan jelas. Sebagai atasanmu, aku harus memastikan kamu baik-baik saja.”“Ya, ya, aku sangat berterima kasih karena kamu mengkhawatirkanku. Sekarang makanlah dulu. Aku membuat makanan ini secara khusus hanya untuk Tuan Eden Voss yang tampan.” Karin tersenyum.“Huh!”“Kalau tidak mau, aku bisa memberikannya kepada asisten Natan.”“Jangan sekali kamu berani mengambilnya.” Eden Voss merebut piring dari tangan Karin, lalu memakan makanan yang wanita itu buat.“Apa rasanya?” tanya Karin penuh harap.

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 220

    Kelima pria yang bertarung tadi, berhenti bertengkar ketika mendengar suara wanita cantik itu. Kepala mereka tertunduk karena merasa bersalah. Wanita di atas singgasana itu pun sepertinya sudah muak dengan kejadian barusan.“Kamu milikku, Dewi.”Perkataan itu membuat Karin kaget. Karena bukan hanya satu pria yang mengucapkan hal tersebut, tetapi semuanya. Mereka menginginkan wanita yang sama. Lima pria itu ingin menikahi wanita cantik itu.“Aku akan menikahi kalian berlima.”Semua orang setuju dengan keputusan dari wanita tersebut, lalu kejadian beralih. Karin tiba-tiba telah berada di pesta pernikahan. Di mana satu wanita menikahi lima pria sekaligus. Lalu berlanjut ke malam pengantin. Yang membuat Karin kaget adalah kelima laki-laki itu sama-sama menikmati peran sebagai suami, dan wanita itu memiliki air susu yang banyak.“Apa yang terjadi?” gumam Karin, lalu ia ditarik ke setiap kejadian demi kejadian. Wanita cantik itu diburu. Kelima suaminya telah mati. Lalu Karin berada di tahun

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 219

    Damian menggeleng keras. “Aku tidak mau. Sudah cukup berbagi dengan dua pria lainnya.”“Lalu anakmu akan minum susu apa? Kamu akan jadi ayah yang sangat tega bila menyuruh anak sendiri minum susu formula.” Karin terkikik.“Kita pikirkan nanti saja. Yang penting persetujuanmu.”“Seperti yang kamu katakan. Jika ada ibu pengganti, aku bersedia.”“Terima kasih, Sayang.” Damian memeluk Karin, kemudian mengajaknya pergi dari club tersebut. Berlama-lama di sana hanya membuat pikiran kalut lantaran mengingat aksi Shanaya yang kejam.Malam ini, Karin bersedia menginap di kediaman Damian. Hubungan yang sempat tegang, kini mulai terajut kembali. Siapa pun boleh mencoba untuk menghancurkan ikatan Karin dan tiga kekasihnya. Namun, cinta di antara mereka terjalin begitu kuat. Tidak semudah itu diruntuhkan.Begitu tiba di kediaman, Damian mengajak Karin langsung ke kamar. Sedetik pun ia tidak mau melepas. Sejak pulang dari tugas, hubungan keduanya renggang. Mengingat kejadian itu, Damian ingin mengu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status