Share

2 - Rahasia yang Berdarah

Author: ARTHAIRA
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-05 04:40:47

Ketegangan di depan lift pribadi lantai teratas gedung Adiwangsa Group itu seolah membekukan aliran udara. Aruna merasa dunianya runtuh berkeping-keping hanya dalam hitungan detik. Pria asing berpakaian serba hitam itu berdiri dengan tenang, namun senyum miringnya laksana sembilu yang menyayat jantung Aruna. Di tangannya, selembar foto Elang yang sedang tertawa lebar seolah menjadi vonis mati bagi ketenangan yang selama lima tahun ini Aruna bangun dengan susah payah.

'Bagaimana dia bisa mendapatkan foto itu? Siapa pria ini?' jerit Aruna dalam hatinya yang berkecamuk hebat.

Dewa Adiwangsa tidak melepaskan cengkeramannya pada kerah jaket pria asing itu. Urat-urat di lengan Dewa menegang, menunjukkan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Matanya bergantian menatap foto bocah laki-laki itu dan wajah Aruna yang kini sepucat kertas mayat. Ada kemiripan yang begitu nyata, sesuatu yang tidak bisa dibantah oleh logika paling keras sekalipun. Bentuk mata itu, lengkungan alisnya, bahkan cara bocah itu tersenyum adalah salinan sempurna dari foto masa kecil Dewa yang tersimpan di ruang kerja pribadinya.

"Aku tanya sekali lagi, siapa anak ini dan kenapa dia memiliki mataku?" suara Dewa rendah, namun bergetar oleh kemarahan yang bisa meledak kapan saja.

Pria asing itu tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar sangat meremehkan di tengah suasana yang mencekam. "Tuan Adiwangsa yang terhormat, Anda terlalu sibuk mengejar dendam hingga buta terhadap apa yang ada di depan mata. Tanyakan pada wanita yang Anda seret ini. Dia yang paling tahu berapa harga yang harus ia bayar untuk menyembunyikan pewaris tunggal Adiwangsa di sebuah gang sempit yang kumuh."

Dewa melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membuat pria asing itu mundur selangkah. Dewa berbalik perlahan, menatap Aruna dengan tatapan yang seolah bisa menembus tulang rusuknya. Aruna hanya bisa bersandar pada dinding lift yang dingin, tubuhnya merosot perlahan karena lututnya tidak lagi sanggup menopang berat badannya. Air mata ketakutan mengalir deras, membasahi pipinya yang kuyu.

"Aruna... katakan padaku pria ini berbohong," desis Dewa. Suaranya kini terdengar sangat terluka, sebuah kontras dari keangkuhan yang ia tunjukkan beberapa menit lalu.

"Dewa, aku... aku bisa jelaskan. Tolong, jangan percaya padanya," rintih Aruna dengan suara yang hampir habis.

Namun, pria asing itu tidak membiarkan Aruna bernapas. Ia melemparkan foto itu ke lantai, tepat di depan sepatu mahal Dewa. "Namanya Elang. Dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang kelima. Dia tumbuh tanpa ayah karena ibunya lebih memilih melarikan diri daripada menghadapi murka ibumu, Sofia Adiwangsa. Dan sekarang, nyawa anak itu berada di ujung tanduk karena orang-orang yang tidak menginginkan kehadirannya sudah mulai bergerak."

Mendengar kata 'nyawa di ujung tanduk', Aruna langsung bangkit dan menerjang pria itu. "Apa yang kamu lakukan pada anakku? Di mana Elang? Di mana dia!" teriak Aruna histeris sambil memukul dada pria asing tersebut.

Dewa menarik bahu Aruna dengan kasar, menjauhkannya dari pria itu. Kekuatan tangan Dewa membuat Aruna meringis kesakitan, namun Dewa tidak peduli. Fokusnya kini beralih sepenuhnya pada fakta bahwa ia kemungkinan besar memiliki seorang putra yang selama ini disembunyikan darinya.

"Rey! Tangkap pria ini dan bawa ke ruang interogasi bawah tanah! Jangan biarkan dia lepas sedikit pun!" perintah Dewa kepada asistennya yang sejak tadi berdiri siaga di sudut koridor.

Rey segera bergerak maju bersama dua pengawal bertubuh besar. Namun, pria asing itu hanya tersenyum tipis sebelum menjatuhkan sebuah bom asap kecil ke lantai. Dalam sekejap, lorong itu dipenuhi asap putih yang menyesakkan. Aruna terbatuk-batuk, matanya perih, dan ia merasakan seseorang menyenggol bahunya dengan keras. Saat asap mulai menipis, pria asing itu sudah menghilang tanpa jejak melalui tangga darurat yang pintunya masih berayun.

"Sialan!" umpat Dewa. Ia menendang pintu lift dengan sangat keras hingga meninggalkan bekas penyok.

Dewa tidak membuang waktu untuk mengejar pria itu. Ia berbalik dan mencengkeram kedua bahu Aruna, mengguncangnya dengan keras hingga kepala Aruna terkulai lemas. "Di mana dia, Aruna? Di mana anak itu sekarang? Jika kamu tidak mengatakannya sekarang, aku bersumpah akan meratakan setiap jengkal kota ini untuk menemukannya, dan saat itu terjadi, kamu tidak akan pernah melihatnya lagi seumur hidupmu!"

Aruna hanya bisa menangis sesenggukan. Ketakutannya pada Dewa kini kalah besar oleh ketakutannya akan keselamatan Elang. Jika pria asing tadi benar, berarti Elang sedang dalam bahaya besar. Orang-orang suruhan Sofia Adiwangsa mungkin sudah berada di dekat kontrakan mereka.

"Jakarta Selatan... Gang Mawar nomor dua belas. Tolong, Dewa, selamatkan dia. Aku mohon," ucap Aruna dengan sisa kekuatannya.

Dewa melepaskan Aruna dan langsung berlari menuju lift, menyeret Aruna untuk ikut bersamanya. Sepanjang perjalanan turun di dalam lift yang terasa sangat lambat, Dewa tidak mengucapkan sepatah kata pun. Napasnya memburu, matanya merah karena perpaduan antara amarah dan harapan yang tidak pasti. Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap, lalu beralih pada Aruna yang meringkuk di sudut.

'Lima tahun. Dia menyembunyikan anakku selama lima tahun di tempat kumuh,' batin Dewa dengan tangan yang mengepal kuat hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri.

Begitu sampai di lobi, Dewa tidak memedulikan tatapan bingung para karyawannya. Ia berlari menuju mobil SUV hitamnya dan mendorong Aruna masuk ke kursi penumpang. Dewa mengambil alih kemudi sendiri, menginjak pedal gas hingga mesin mobil itu meraung keras dan melesat keluar dari area perkantoran dengan kecepatan gila.

Aruna terus memperhatikan jalanan dengan jantung yang berdebar kencang. Pikirannya melayang pada Elang yang mungkin sedang menunggu kepulangannya dengan membawa es krim seperti janji Aruna pagi tadi. Ia tidak bisa membayangkan jika wajah ceria itu harus berhadapan dengan kekejaman orang-orang berbaju hitam.

"Kenapa, Aruna? Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku saat itu?" tanya Dewa tiba-tiba. Suaranya kini tenang, namun ketenangan itu jauh lebih menakutkan daripada teriakannya.

"Ibumu mengancam akan membunuhnya, Dewa. Dia bilang darahku kotor. Dia bilang seorang Adiwangsa tidak boleh lahir dari rahim wanita sepertiku. Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya seorang mahasiswi miskin saat itu, aku tidak punya siapa-siapa untuk melindungiku," jawab Aruna dengan nada yang penuh keputusasaan.

Dewa tertawa getir, sebuah suara yang penuh dengan luka lama yang kembali terbuka. "Dan kamu pikir aku tidak akan melindungimu? Kamu pikir aku begitu lemah sampai membiarkan ibuku menyentuh anakku sendiri?"

"Kamu tidak tahu seberapa besar kekuasaan ibumu, Dewa. Kamu hanya melihat sisi yang dia tunjukkan padamu. Tapi aku? Aku melihat iblis di matanya malam itu," balas Aruna tajam.

Dewa terdiam. Ia tahu ibunya adalah wanita yang ambisius dan dingin, namun ia tidak pernah menyangka Sofia akan bertindak sejauh itu terhadap darah dagingnya sendiri. Amarah Dewa kini mulai bercabang; satu untuk Aruna yang membohonginya, dan satu lagi untuk ibunya yang telah memanipulasi seluruh hidupnya.

Mobil SUV itu meliuk-liuk di tengah kemacetan Jakarta dengan ugal-ugalan. Dewa berkali-kali membunyikan klakson dengan kasar, tidak memedulikan sumpah serapah dari pengendara lain. Setelah hampir empat puluh menit yang terasa seperti selamanya, mereka sampai di sebuah kawasan pemukiman padat penduduk yang jalannya sempit dan becek.

Dewa mengerem mendadak di depan sebuah gang yang hanya bisa dilewati satu motor. Ia keluar dari mobil tanpa mematikan mesin dan langsung berlari mengikuti Aruna yang sudah lebih dulu melesat masuk ke dalam gang. Aroma selokan yang tidak sedap dan jemuran warga yang bergelantungan rendah menyambut mereka. Dewa merasa dadanya sesak melihat lingkungan tempat putranya dibesarkan.

Aruna berhenti di depan sebuah pintu kayu yang catnya sudah mengelupas. Pintu itu terbuka sedikit, menunjukkan bekas congkelan paksa di bagian kuncinya. Jantung Aruna seolah berhenti berdetak. Ia menendang pintu itu hingga terbuka lebar.

"Elang! Bi Inah!" teriak Aruna histeris.

Ruangan kecil itu berantakan. Kursi plastik terguling, dan mainan mobil-mobilan kayu kesayangan Elang tergeletak hancur di lantai. Tidak ada siapa-siapa di sana. Aruna memeriksa kamar tidur yang hanya dipisahkan oleh selembar kain gorden, namun hasilnya nihil. Tempat tidur kecil yang biasanya rapi kini berantakan, menunjukkan tanda-tanda adanya perlawanan.

Aruna jatuh bersimpuh di lantai, meratapi kehancuran di depannya. "Mereka membawanya... Dewa, mereka membawa anakku!"

Dewa masuk ke dalam ruangan sempit itu, matanya menyapu setiap sudut dengan tatapan tajam seorang detektif. Ia memungut sebuah benda kecil yang tergeletak di dekat kaki meja. Itu adalah sebuah kancing jas berwarna emas dengan lambang keluarga Adiwangsa yang terukir sangat detail di permukaannya.

Dewa menggenggam kancing itu dengan kekuatan yang bisa menghancurkan logam. Matanya berkilat dengan kebencian yang murni. "Ibu..." desisnya pelan.

Dewa segera menarik Aruna untuk berdiri. "Bangun, Aruna! Menangis tidak akan membawanya kembali! Kita harus ke Mansion Adiwangsa sekarang juga."

"Apa? Jadi ibumu benar-benar melakukannya?" tanya Aruna dengan wajah yang sudah bersimbah air mata dan debu.

"Hanya ada satu orang yang memiliki kancing jas seperti ini di dunia ini, dan itu adalah kepala pengawal pribadi ibuku. Dia tidak sedang mencoba melindungi Elang, dia sedang mencoba menghapus bukti kesalahannya di masa lalu," jawab Dewa sambil menarik Aruna keluar dari rumah itu.

Mereka kembali ke mobil dengan langkah yang lebih cepat. Dewa langsung menghubungi Rey melalui sambungan nirkabel di mobilnya. "Rey, kerahkan semua tim keamanan rahasia. Tutup semua akses keluar masuk ke Mansion Adiwangsa. Jika aku melihat ada mobil yang keluar dari sana sebelum aku sampai, tabrak mereka! Aku tidak peduli siapa di dalamnya!"

Aruna hanya bisa terdiam, tangannya mencengkeram sabuk pengaman dengan sangat kuat. Ia merasa terjebak dalam perang antara ibu dan anak yang sangat mengerikan, dan Elang berada tepat di tengah-tengahnya sebagai sandera.

Sepanjang perjalanan menuju Mansion Adiwangsa yang terletak di kawasan elit Menteng, Dewa tidak berhenti mengumpat. Ia merasa dikhianati oleh semua orang dalam hidupnya. Wanita yang ia cintai membohonginya, dan ibu yang ia hormati mencoba membunuh putranya.

Begitu gerbang besar mansion itu terlihat, Dewa tidak menunggu penjaga membukanya. Ia menabrakkan bagian depan mobil SUV-nya ke gerbang besi itu hingga terbuka paksa dengan suara dentuman logam yang memekakkan telinga. Para penjaga rumah langsung berlarian keluar dengan wajah panik, namun mereka mundur saat melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut.

Dewa turun dengan aura kematian yang sangat kuat. Ia menyeret Aruna masuk ke dalam lobi mansion yang sangat mewah, tempat yang dulu pernah menjadi saksi bisu penghinaan Sofia terhadap Aruna. Di tengah ruangan, Sofia Adiwangsa sedang duduk dengan tenang sambil menyesap teh earl grey-nya, seolah-olah tidak terjadi kekacauan apa pun.

"Dewa, ada apa dengan keributan ini? Dan kenapa kamu membawa sampah ini lagi ke rumahku?" tanya Sofia dengan nada suara yang sangat tenang dan elegan.

Dewa melemparkan kancing emas itu ke atas meja marmer tepat di depan gelas teh ibunya. Suara dentingan logam itu menggema di seluruh ruangan yang sunyi.

"Di mana dia, Ibu? Berikan dia padaku sekarang juga sebelum aku melakukan sesuatu yang akan membuat Ibu menyesal telah melahirkanku!" teriak Dewa dengan suara yang menggelegar.

Sofia hanya melirik kancing itu sebentar, lalu tersenyum tipis. "Apa yang kamu bicarakan, Sayang? Ibu tidak tahu apa maksudmu."

Tepat saat itu, suara tangisan anak kecil terdengar dari arah lantai atas, diikuti oleh suara bentakan kasar seorang pria. Mata Aruna langsung membelalak. Itu suara Elang.

"Elang!" jerit Aruna. Ia hendak berlari menuju tangga, namun Sofia segera memberikan isyarat pada para pengawalnya untuk menahan Aruna.

Dewa tidak tinggal diam. Ia menerjang pengawal yang memegang Aruna dan memukulnya hingga jatuh. Namun, di atas balkon lantai dua, muncul kepala pengawal Sofia yang sedang memegang Elang. Pria itu menodongkan sebuah pisau kecil tepat ke leher Elang yang sedang menangis ketakutan.

"Satu langkah lagi, Tuan Dewa, dan bocah haram ini tidak akan pernah melihat hari esok," ancam pengawal itu dengan suara yang dingin.

Aruna jatuh tertelungkup di lantai, memohon dengan histeris. "Jangan! Tolong jangan sakiti dia! Dewa, lakukan sesuatu!"

Dewa mematung. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang selalu memiliki kendali penuh atas segala situasi itu merasa benar-benar tak berdaya. Ia menatap Elang yang wajahnya sudah memerah karena menangis, lalu menatap ibunya yang masih tersenyum tenang di hadapannya.

"Pilih, Dewa," ucap Sofia sambil meletakkan cangkir tehnya. "Wanita ini dan anak haramnya pergi dari hidupmu selamanya, atau kamu akan melihat mereka terkubur bersama di halaman belakang rumah ini."

Dewa menatap ibunya dengan tatapan yang sangat asing, sebuah tatapan yang menandakan bahwa ikatan darah di antara mereka baru saja putus secara permanen. Ia perlahan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah ponsel yang layarnya sedang menampilkan siaran langsung ke seluruh jaringan televisi miliknya.

"Ibu pikir aku datang ke sini tanpa persiapan?" tanya Dewa dengan nada yang sangat rendah dan mematikan. "Seluruh dunia baru saja mendengar ancaman Ibu, dan polisi sudah berada di depan gerbang. Sekarang, lepaskan putraku atau Ibu akan menghabiskan sisa hidup Ibu di dalam sel yang paling gelap."

Wajah Sofia yang tadinya tenang seketika berubah menjadi pucat pasi. Ia menatap ponsel Dewa dengan tatapan tidak percaya. Namun, tepat saat itu, pengawal di atas balkon bergerak gelisah. Ia melihat kilatan lampu sirene polisi yang mulai masuk ke halaman mansion.

"Tuan Dewa, jangan paksa aku!" teriak pengawal itu dengan panik, dan pisau di tangannya mulai menekan kulit leher Elang hingga setitik darah merah mulai muncul.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   45 - Suara dari Arsy

    Lautan awan di bawah Labirin Tanpa Nama tampak bergejolak, seolah olah mencerminkan badai informasi yang sesaat lagi akan dilepaskan oleh Aruna ke seluruh penjuru bumi. Di dalam ruang kendali utama stasiun atmosfer itu, suasana terasa sangat dingin namun penuh dengan ketegangan yang terukur. Aruna duduk di tengah lingkaran monitor holografik yang memancarkan cahaya biru neon, jari jarinya bergerak dengan ritme yang hampir menyerupai melodi kematian bagi mereka yang mencoba menyembunyikan kebenaran. Di sampingnya, Julian berdiri kaku, tangannya terhubung ke sensor biometrik yang berfungsi sebagai antena penguat sinyal, menyalurkan algoritma uniknya untuk menembus dinding api militer yang paling kuat sekalipun.'Ini adalah kalimat terakhir yang akan aku tulis untuk dunia. Bukan sebagai fiksi yang menghibur, tapi sebagai kenyataan yang akan membebaskan atau justru menghancurkan mereka,' batin Aruna sambil menarik napas panjang,

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   44 - Garis di Balik Kabut

    Salju pertama di musim dingin mulai turun dengan lembut, menyelimuti lembah Alpen dalam keheningan yang serba putih. Rumah kayu keluarga Adiwangsa kini tidak lagi hanya menjadi tempat persembunyian, melainkan sebuah ruang rehabilitasi bagi jiwa yang telah lama mati rasa. Di sudut beranda, Julian duduk diam dengan selimut tebal melingkari bahunya. Matanya yang dulu sedingin es kini tampak kosong, namun sesekali menunjukkan kilatan kebingungan saat ia melihat kepingan salju yang mencair di telapak tangannya. Tanpa perangkat Iris dan tanpa klon digital Sofia yang membisikkan instruksi, Julian harus belajar kembali bagaimana menjadi manusia yang benar-benar merasakan sensasi fisik dan emosional yang murni.'Aku telah membangun menara kaca untuk menghindari kesepian, namun di sini, di tengah kesunyian pegunungan, aku baru menyadari bahwa selama ini aku hanya sedang berteriak di dalam ruangan hampa,' batin Julian sambil menghela na

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   43 - Cermin Retak di Menara Kaca

    Menara Harmoni Digital menjulang di pusat London seperti sebilah pedang perak yang menghujam awan mendung. Di puncaknya, lantai yang seluruhnya terbuat dari kaca memberikan ilusi bahwa siapa pun yang berdiri di sana sedang berpijak di atas dunia yang kian rapuh. Aruna melangkah keluar dari lift berkecepatan tinggi dengan langkah yang tetap tenang meskipun jantungnya berdentum keras di balik rusuknya. Di sampingnya, Dewa bersiaga dengan kewaspadaan seorang predator yang sedang memasuki wilayah lawan. Ia tidak membawa senapan panjang, namun tangannya selalu berada di dekat sabuk taktis yang menyembunyikan senjata jarak pendek yang mematikan.Di tengah ruangan yang luas dan minimalis itu, Julian Adiwangsa duduk di sebuah kursi ergonomis yang menghadap ke arah panorama kota. Ia tidak berbalik saat pintu lift terbuka, seolah-olah ia sudah menghitung frekuensi langkah kaki kakaknya sejak mereka memasuki lobi gedung. Di sekelilingny

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   42 - Bayang di Balik Cermin

    Angin musim gugur yang tajam menusuk melewati celah jaket tebal yang dikenakan Elang saat ia melangkah keluar dari stasiun kereta bawah tanah King's Cross di London. Kota ini tampak sangat berbeda dari keheningan pegunungan Alpen yang selama ini menjadi dunianya. Di setiap sudut jalan, layar LED raksasa memancarkan cahaya biru lembut yang menenangkan, menampilkan logo Harmoni Digital sebuah lingkaran sempurna yang saling bertautan. Orang-orang berjalan dengan langkah yang sangat teratur, hampir semuanya mengenakan perangkat ramping di pelipis mereka yang dikenal sebagai Iris. Perangkat itu memberikan antarmuka visual yang menyesuaikan warna dunia sesuai dengan suasana hati pemakainya, mengubah kelabu London menjadi pemandangan yang selalu tampak seperti matahari terbenam yang indah.'Bunda benar, ini bukan lagi tentang paksaan. Mereka secara sukarela menyerahkan kendali atas persepsi mereka hanya demi menghindari rasa sedih,'

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   41 - Benih di Padang Waktu

    Sepuluh tahun telah berlalu sejak kepulan asap terakhir di Samudera Pasifik menghilang ditelan cakrawala. Pegunungan Alpen masih berdiri dengan keangkuhan yang sama, namun rumah kayu di lereng lembah itu kini telah tampak lebih menyatu dengan alam, tertutup oleh tanaman merambat yang mulai menjalar ke arah atap. Aruna duduk di kursi kayu di beranda, jemarinya tidak lagi memegang mesin ketik tua, melainkan sebuah kuas kecil yang ia gunakan untuk membersihkan debu dari beberapa fosil kecil yang ditemukan Elang di sungai bawah. Waktu telah memberikan goresan tipis di sudut matanya, namun ketenangan yang ia miliki sekarang jauh lebih dalam daripada dekade sebelumnya.'Dunia mungkin sudah berubah menjadi lebih tenang di permukaan, tapi arus informasi selalu menemukan cara untuk menciptakan pusaran baru. Aku hanya berharap Elang cukup kuat untuk tidak terseret ke dalamnya,' batin Aruna sambil memandang sosok pemuda jangkung y

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   40 - Kebun Di Atas Awan

    Enam bulan telah berlalu sejak gema ledakan di dasar Palung Pasifik mereda. Dunia tidak lagi membicarakan tentang peretasan massal atau konspirasi global Cahaya Pagi. Berita besar itu terkubur oleh siklus informasi baru yang lebih segar, seolah-olah sejarah hampir saja melupakan bahwa kemanusiaan pernah berada di ambang perbudakan digital. Di sebuah lembah tersembunyi di lereng pegunungan Alpen yang selalu diselimuti kabut tipis, sebuah rumah kayu bergaya kontemporer berdiri kokoh, jauh dari jangkauan satelit mata-mata maupun radar militer. Di sinilah, di tempat yang tidak tercatat dalam peta publik mana pun, Aruna menemukan apa yang selama ini ia cari dalam ribuan baris kode: sebuah ketenangan yang nyata.Aruna berdiri di beranda rumah, menghirup udara pegunungan yang sangat bersih dan dingin hingga menusuk paru-paru. Ia tidak lagi mengenakan pakaian taktis yang berat atau membawa laptop modifikasi di tasnya. Kini, ia hanya

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   7 - Perangkap Suara Bayangan

    Raungan mesin mobil SUV yang dipacu Dewa membelah kesunyian jalanan pesisir menuju teluk barat dengan kecepatan yang mengerikan. Ban mobil berdecit tajam setiap kali melewati tikungan tajam yang berbatasan langsung dengan tebing karang. Di dalam kepalanya, suara tangisan Aruna yang memohon pertolong

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   6 - Sisa Napas di Kedalaman

    Dingin yang menusuk seketika menyergap seluruh pori-pori kulit Aruna saat air laut yang asin dan pekat menerjang masuk ke dalam kabin helikopter. Suara dentuman logam yang menghantam permukaan air masih berdenging hebat di telinganya, menciptakan rasa pening yang luar biasa. Cahaya lampu darurat di

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   5 - Oksigen yang Tercuri

    Dada Dewa terasa seperti dihantam godam raksasa saat ia menyadari lampu indikator keamanan di atas pintu ruang kerjanya padam total. Ruang rahasia di balik lemari buku itu seharusnya menjadi tempat paling aman di seluruh jagat raya, sebuah benteng kedap suara dan kedap udara yang hanya bisa diakses

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   4 - Bayangan Sang Penguasa Sejati

    Lantai marmer yang dingin terasa menusuk telapak kaki Aruna saat ia berdiri mematung di depan pintu ruang kerja Dewa. Kata-kata Dewa di dalam telepon tadi masih terngiang jelas di telinganya, berputar-putar laksana kaset rusak yang menyiksa batinnya. 'Tembak di tempat'. Kalimat itu bukan sekadar anc

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status