Share

5 - Oksigen yang Tercuri

Author: ARTHAIRA
last update publish date: 2026-01-06 01:40:42

Dada Dewa terasa seperti dihantam godam raksasa saat ia menyadari lampu indikator keamanan di atas pintu ruang kerjanya padam total. Ruang rahasia di balik lemari buku itu seharusnya menjadi tempat paling aman di seluruh jagat raya, sebuah benteng kedap suara dan kedap udara yang hanya bisa diakses dengan kode biometrik miliknya. Namun sekarang, sistem itu membisu. Ia mencoba menempelkan telapak tangannya pada panel pemindai, namun benda itu terasa dingin dan mati, tidak memberikan respons apa pun selain pantulan wajahnya yang mulai dirayapi kepanikan luar biasa.

'Brengsek! Bagaimana mereka bisa menembus firewall tingkat militer ini dalam hitungan detik?' umpat Dewa dalam hatinya yang berkecamuk.

Di dalam ruangan gelap itu, Aruna sudah tidak lagi mampu berteriak. Paru-parunya terasa seperti terbakar, menolak gas berbau sulfur yang terus merayap masuk melalui celah ventilasi. Ia mendekap Elang sekuat tenaga, berusaha menutupi hidung dan mulut putranya dengan kain syal sutra yang ia kenakan. Namun, ia bisa merasakan tubuh kecil Elang semakin lemas, napasnya pendek-pendek dan tersedat.

"Elang... bertahanlah, Sayang. Ayah pasti datang," bisik Aruna dengan suara yang hampir hilang. Penglihatannya mulai berbayang, bintik-bintik hitam menari-nari di depan matanya sebelum akhirnya kesadarannya tersedot ke dalam kegelapan yang pekat.

Di luar, Dewa mengamuk laksana singa yang kehilangan anaknya. Ia mengambil sebuah patung perunggu berat dari meja kerjanya dan menghantamkannya ke panel kontrol, namun benda itu terlalu kokoh. Rey berlari masuk ke ruangan dengan wajah yang bersimbah keringat, memegang sebuah tablet yang layarnya penuh dengan kode-kode merah yang berkedip.

"Tuan! Sistem kita diretas dari dalam! Seseorang memasukkan trojan melalui terminal di ruang pelayan! Mereka mengunci semua pintu darurat dan membalikkan sistem sirkulasi udara menjadi penyedot oksigen!" teriak Rey dengan nada yang sangat gentar.

Dewa mencengkeram kerah baju Rey hingga asistennya itu kesulitan bernapas. "Berapa lama waktu yang mereka punya sebelum kehabisan napas di dalam sana?"

Rey menelan ludah dengan susah payah. "Maksimal... tiga menit, Tuan. Jika sirkulasinya tidak segera dibalik, mereka akan mati karena asfiksia."

Dewa melepaskan Rey dan berbalik menuju lemari buku jati yang sangat besar itu. Ia tidak punya waktu lagi untuk mencari teknisi atau menunggu tim IT meretas balik. Ia merogoh laci mejanya, mengeluarkan sebuah pistol Glock hitam, dan tanpa ragu menembakkan pelurunya ke arah engsel rahasia lemari tersebut. Suara ledakan peluru bergema di dalam ruangan, namun lemari itu hanya bergetar sedikit.

"Bantu aku mendorongnya, Rey! Cepat!" perintah Dewa.

Kedua pria itu mengerahkan seluruh tenaga mereka, otot-otot di lengan Dewa menegang hingga uratnya menonjol keluar. Ia tidak peduli jika bahunya cedera atau tangannya berdarah karena serpihan kayu. Di kepalanya hanya ada wajah Elang dan Aruna. Ia tidak akan membiarkan Martha mengambil mereka darinya, tidak setelah ia baru saja menemukan kembali potongan jiwanya yang hilang selama lima tahun.

Dengan satu dorongan terakhir yang disertai raungan kemarahan, lemari buku itu bergeser beberapa inci, cukup untuk memperlihatkan pintu baja di baliknya. Dewa segera memasukkan kode darurat manual melalui lubang kunci fisik yang tersembunyi. Pintu itu mendesis terbuka, mengeluarkan kepulan gas pucat yang berbau menyengat.

Dewa menerjang masuk ke dalam kegelapan. Ia menemukan Aruna tergeletak di lantai dengan posisi melindungi Elang di bawah tubuhnya. Dewa segera menyambar tubuh kecil putranya terlebih dahulu, menyerahkannya pada Rey yang menunggu di pintu.

"Bawa dia ke balkon! Berikan oksigen sekarang juga!" perintah Dewa.

Ia kemudian berbalik dan mengangkat Aruna ke dalam gendongannya. Wajah wanita itu sangat pucat, bibirnya membiru, namun Dewa masih bisa merasakan denyut nadi yang lemah di lehernya. Ia membawa Aruna keluar menuju balkon, menghirup udara segar malam hari yang terasa seperti anugerah paling mewah saat itu.

Tim medis pribadi yang sudah siaga sejak tadi langsung memberikan masker oksigen kepada Elang dan Aruna. Dewa berdiri di samping mereka, memegang tangan Aruna yang dingin sambil menatap wajah putranya yang mulai mendapatkan kembali rona merahnya.

'Aku bersumpah, Martha. Kamu akan memohon kematian setelah ini,' desis Dewa dalam batinnya yang penuh dengan api pembalasan.

Setelah sepuluh menit yang sangat tegang, Aruna akhirnya membuka matanya. Ia terbatuk-batuk hebat, mencoba meraih udara sebanyak mungkin. Hal pertama yang ia cari adalah Elang. Begitu melihat putranya sedang ditangani dokter di kursi sebelah, ia menangis sesenggukan dan mencoba bangun, namun Dewa menahan bahunya.

"Dia selamat, Aruna. Elang aman. Tenanglah," ucap Dewa dengan suara yang mendadak lembut.

Aruna menatap Dewa dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan dan luka. "Dia hampir membunuh kami, Dewa. Di dalam rumahmu sendiri! Kamu bilang ini tempat paling aman!"

Dewa tidak bisa membantah. Keangkuhannya hancur berkeping-keping. Ia menyadari bahwa kekuasaannya tidak berarti apa-apa jika ada pengkhianat di dalam barisannya sendiri. Ia menoleh ke arah Rey yang sedang berbicara dengan tim keamanan melalui walkie-talkie.

"Siapa yang melakukannya, Rey?" tanya Dewa dengan nada yang sangat dingin.

Rey mendekat, wajahnya tampak sangat menyesal. "Kami baru saja menangkap pelayan senior bernama Siti di ruang bawah tanah. Dia tertangkap tangan mencoba menghancurkan server pusat. Dia... dia mengaku sudah bekerja untuk Bibi Martha selama tiga tahun terakhir."

Dewa tertawa getir. Tiga tahun. Berarti musuhnya sudah menanam mata-mata di jantung pertahanannya bahkan sebelum ia tahu Elang ada. Martha sudah merencanakan kehancurannya jauh-jauh hari.

Tiba-tiba, suara tawa yang sangat akrab terdengar dari arah pengeras suara mansion yang masih berada di bawah kendali peretas. Suara Martha kembali menggema, memenuhi lobi dan balkon tempat mereka berada.

"Sayang sekali, Dewa. Sedikit lagi saja, dan mereka akan tertidur selamanya dengan sangat cantik. Tapi jangan khawatir, aku punya hadiah lain untukmu. Lihat ke arah gerbang depan."

Dewa segera berdiri dan melihat ke arah jalan raya di depan gerbang mansion. Di sana, sebuah truk besar mendadak berhenti dan melepaskan muatannya tepat di depan gerbang. Puluhan peti kayu jatuh berserakan, dan saat peti itu pecah, isinya adalah ribuan lembar dokumen yang terbang tertiup angin.

"Apa itu?" tanya Aruna sambil merapatkan pelukannya pada selimut medis.

Dewa menyipitkan matanya. Ia melihat salah satu lembar dokumen yang terbang ke arah balkon. Ia menangkapnya dan membacanya. Wajah Dewa berubah menjadi sangat merah karena amarah. Dokumen itu adalah laporan manipulasi pajak dan pencucian uang yang dilakukan oleh perusahaan Adiwangsa selama sepuluh tahun terakhir, data rahasia yang bahkan Sofia tidak berani menyentuhnya.

"Dia menyebarkan rahasia perusahaan ke publik," ucap Dewa dengan suara bergetar. "Dia ingin menghancurkan harga saham Adiwangsa malam ini juga."

Rey memeriksa tabletnya dan panik. "Tuan! Berita ini sudah tersebar di media sosial dan portal berita bisnis. Saham kita terjun bebas di bursa internasional yang sedang buka malam ini. Kita kehilangan triliunan rupiah dalam hitungan menit!"

Dewa menatap dokumen di tangannya, lalu menatap Aruna dan Elang. Ia sadar Martha sedang memberikan pilihan yang sangat kejam. Dewa bisa fokus menyelamatkan perusahaannya dengan pergi ke kantor sekarang juga dan membiarkan mansion ini dalam kondisi rentan, atau ia tetap tinggal melindungi keluarganya dan membiarkan kekaisarannya hancur.

"Pergilah, Dewa," ucap Aruna tiba-tiba.

Dewa menoleh, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Apa?"

"Pergilah selamatkan perusahaanmu. Jika kamu hancur secara finansial, kamu tidak akan punya kekuatan lagi untuk melindungi Elang. Tapi berjanjilah padaku satu hal, kirim kami ke tempat yang benar-benar rahasia. Jangan biarkan kami di sini sebagai umpan," ucap Aruna dengan ketegasan yang baru.

Dewa menatap Aruna cukup lama. Ia melihat kekuatan di mata wanita itu, kekuatan yang ia miliki selama lima tahun bertahan hidup sendirian. Dewa mengangguk pelan. Ia mencium kening Elang yang masih tertidur, lalu menatap Aruna dengan dalam.

"Rey, siapkan helikopter di atap. Bawa mereka ke vila rahasia di pulau pribadi. Jangan gunakan jalur darat, Martha pasti sudah memasang mata-mata di sepanjang jalan. Aku akan pergi ke kantor pusat untuk menghadapi dewan direksi," perintah Dewa.

Dewa berbalik dan berlari menuju atap mansion, sementara Aruna dan Elang segera dipindahkan ke helikopter dengan pengawalan ekstra ketat. Saat helikopter mulai lepas landas, Aruna menatap mansion yang semakin mengecil di bawah sana. Ia melihat Dewa yang berdiri di atap, sosoknya yang tegak tampak begitu kesepian di tengah badai yang melanda keluarganya.

Helikopter terbang membelah kegelapan malam menuju arah laut. Aruna mencoba mengatur napasnya yang masih terasa sesak. Ia memegang tangan Elang, berusaha memberikan kenyamanan meskipun hatinya sendiri sangat ketakutan.

Namun, di tengah perjalanan, pilot helikopter mendadak melakukan manuver tajam yang membuat Aruna terlempar ke samping.

"Ada apa? Kenapa kita berguncang?" teriak Aruna panik.

"Nona, ada dua helikopter lain di belakang kita! Mereka tidak memiliki tanda registrasi! Mereka mencoba mengunci posisi kita!" teriak pilot dari balik kokpit.

Aruna melihat ke luar jendela. Dua lampu helikopter hitam tampak mengejar mereka dengan kecepatan tinggi. Salah satu helikopter itu mendekat dan mulai menembakkan peluru ke arah baling-baling helikopter mereka. Suara rentetan peluru yang mengenai badan helikopter terdengar seperti hujan batu yang mematikan.

'Martha tidak akan membiarkan kami pergi semudah itu,' batin Aruna sambil memeluk Elang di lantai helikopter.

Tiba-tiba, suara ledakan keras terdengar dari bagian mesin helikopter. Alarm merah menyala di seluruh kabin, dan helikopter mulai berputar-putar tidak terkendali, jatuh bebas menuju permukaan laut yang gelap di bawah sana.

Aruna berteriak sekuat tenaga saat helikopter itu menghantam air dengan benturan yang sangat keras. Air dingin mulai merembes masuk ke dalam kabin dengan sangat cepat.

"Elang! Pegang tangan Bunda!" teriak Aruna di tengah kekacauan air yang mulai menenggelamkan mereka.

Di saat yang sama, di kantor pusat Adiwangsa, Dewa sedang berdiri di depan dewan direksi yang sangat marah. Namun, perhatiannya teralih saat ponselnya bergetar. Sebuah video masuk dari nomor asing. Di video itu, ia melihat helikopternya terbakar dan tenggelam di tengah laut.

"Tidak..." bisik Dewa, ponselnya jatuh dari tangannya dan hancur di lantai ruang rapat yang sunyi.

Dewa menatap ke arah jendela besar yang menghadap ke laut, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan segalanya dalam satu malam yang terkutuk ini. Tepat saat itu, pintu ruang rapat terbuka, dan seorang wanita dengan langkah yang sangat anggun masuk. Itu bukan Martha, melainkan seseorang yang selama ini dianggap Dewa sebagai sekutu paling setianya.

"Selamat malam, Dewa. Sepertinya kursimu sudah mulai terasa panas," ucap wanita itu dengan senyum yang sangat manis namun penuh dengan racun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   45 - Suara dari Arsy

    Lautan awan di bawah Labirin Tanpa Nama tampak bergejolak, seolah olah mencerminkan badai informasi yang sesaat lagi akan dilepaskan oleh Aruna ke seluruh penjuru bumi. Di dalam ruang kendali utama stasiun atmosfer itu, suasana terasa sangat dingin namun penuh dengan ketegangan yang terukur. Aruna duduk di tengah lingkaran monitor holografik yang memancarkan cahaya biru neon, jari jarinya bergerak dengan ritme yang hampir menyerupai melodi kematian bagi mereka yang mencoba menyembunyikan kebenaran. Di sampingnya, Julian berdiri kaku, tangannya terhubung ke sensor biometrik yang berfungsi sebagai antena penguat sinyal, menyalurkan algoritma uniknya untuk menembus dinding api militer yang paling kuat sekalipun.'Ini adalah kalimat terakhir yang akan aku tulis untuk dunia. Bukan sebagai fiksi yang menghibur, tapi sebagai kenyataan yang akan membebaskan atau justru menghancurkan mereka,' batin Aruna sambil menarik napas panjang,

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   44 - Garis di Balik Kabut

    Salju pertama di musim dingin mulai turun dengan lembut, menyelimuti lembah Alpen dalam keheningan yang serba putih. Rumah kayu keluarga Adiwangsa kini tidak lagi hanya menjadi tempat persembunyian, melainkan sebuah ruang rehabilitasi bagi jiwa yang telah lama mati rasa. Di sudut beranda, Julian duduk diam dengan selimut tebal melingkari bahunya. Matanya yang dulu sedingin es kini tampak kosong, namun sesekali menunjukkan kilatan kebingungan saat ia melihat kepingan salju yang mencair di telapak tangannya. Tanpa perangkat Iris dan tanpa klon digital Sofia yang membisikkan instruksi, Julian harus belajar kembali bagaimana menjadi manusia yang benar-benar merasakan sensasi fisik dan emosional yang murni.'Aku telah membangun menara kaca untuk menghindari kesepian, namun di sini, di tengah kesunyian pegunungan, aku baru menyadari bahwa selama ini aku hanya sedang berteriak di dalam ruangan hampa,' batin Julian sambil menghela na

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   43 - Cermin Retak di Menara Kaca

    Menara Harmoni Digital menjulang di pusat London seperti sebilah pedang perak yang menghujam awan mendung. Di puncaknya, lantai yang seluruhnya terbuat dari kaca memberikan ilusi bahwa siapa pun yang berdiri di sana sedang berpijak di atas dunia yang kian rapuh. Aruna melangkah keluar dari lift berkecepatan tinggi dengan langkah yang tetap tenang meskipun jantungnya berdentum keras di balik rusuknya. Di sampingnya, Dewa bersiaga dengan kewaspadaan seorang predator yang sedang memasuki wilayah lawan. Ia tidak membawa senapan panjang, namun tangannya selalu berada di dekat sabuk taktis yang menyembunyikan senjata jarak pendek yang mematikan.Di tengah ruangan yang luas dan minimalis itu, Julian Adiwangsa duduk di sebuah kursi ergonomis yang menghadap ke arah panorama kota. Ia tidak berbalik saat pintu lift terbuka, seolah-olah ia sudah menghitung frekuensi langkah kaki kakaknya sejak mereka memasuki lobi gedung. Di sekelilingny

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   42 - Bayang di Balik Cermin

    Angin musim gugur yang tajam menusuk melewati celah jaket tebal yang dikenakan Elang saat ia melangkah keluar dari stasiun kereta bawah tanah King's Cross di London. Kota ini tampak sangat berbeda dari keheningan pegunungan Alpen yang selama ini menjadi dunianya. Di setiap sudut jalan, layar LED raksasa memancarkan cahaya biru lembut yang menenangkan, menampilkan logo Harmoni Digital sebuah lingkaran sempurna yang saling bertautan. Orang-orang berjalan dengan langkah yang sangat teratur, hampir semuanya mengenakan perangkat ramping di pelipis mereka yang dikenal sebagai Iris. Perangkat itu memberikan antarmuka visual yang menyesuaikan warna dunia sesuai dengan suasana hati pemakainya, mengubah kelabu London menjadi pemandangan yang selalu tampak seperti matahari terbenam yang indah.'Bunda benar, ini bukan lagi tentang paksaan. Mereka secara sukarela menyerahkan kendali atas persepsi mereka hanya demi menghindari rasa sedih,'

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   41 - Benih di Padang Waktu

    Sepuluh tahun telah berlalu sejak kepulan asap terakhir di Samudera Pasifik menghilang ditelan cakrawala. Pegunungan Alpen masih berdiri dengan keangkuhan yang sama, namun rumah kayu di lereng lembah itu kini telah tampak lebih menyatu dengan alam, tertutup oleh tanaman merambat yang mulai menjalar ke arah atap. Aruna duduk di kursi kayu di beranda, jemarinya tidak lagi memegang mesin ketik tua, melainkan sebuah kuas kecil yang ia gunakan untuk membersihkan debu dari beberapa fosil kecil yang ditemukan Elang di sungai bawah. Waktu telah memberikan goresan tipis di sudut matanya, namun ketenangan yang ia miliki sekarang jauh lebih dalam daripada dekade sebelumnya.'Dunia mungkin sudah berubah menjadi lebih tenang di permukaan, tapi arus informasi selalu menemukan cara untuk menciptakan pusaran baru. Aku hanya berharap Elang cukup kuat untuk tidak terseret ke dalamnya,' batin Aruna sambil memandang sosok pemuda jangkung y

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   40 - Kebun Di Atas Awan

    Enam bulan telah berlalu sejak gema ledakan di dasar Palung Pasifik mereda. Dunia tidak lagi membicarakan tentang peretasan massal atau konspirasi global Cahaya Pagi. Berita besar itu terkubur oleh siklus informasi baru yang lebih segar, seolah-olah sejarah hampir saja melupakan bahwa kemanusiaan pernah berada di ambang perbudakan digital. Di sebuah lembah tersembunyi di lereng pegunungan Alpen yang selalu diselimuti kabut tipis, sebuah rumah kayu bergaya kontemporer berdiri kokoh, jauh dari jangkauan satelit mata-mata maupun radar militer. Di sinilah, di tempat yang tidak tercatat dalam peta publik mana pun, Aruna menemukan apa yang selama ini ia cari dalam ribuan baris kode: sebuah ketenangan yang nyata.Aruna berdiri di beranda rumah, menghirup udara pegunungan yang sangat bersih dan dingin hingga menusuk paru-paru. Ia tidak lagi mengenakan pakaian taktis yang berat atau membawa laptop modifikasi di tasnya. Kini, ia hanya

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   7 - Perangkap Suara Bayangan

    Raungan mesin mobil SUV yang dipacu Dewa membelah kesunyian jalanan pesisir menuju teluk barat dengan kecepatan yang mengerikan. Ban mobil berdecit tajam setiap kali melewati tikungan tajam yang berbatasan langsung dengan tebing karang. Di dalam kepalanya, suara tangisan Aruna yang memohon pertolong

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   6 - Sisa Napas di Kedalaman

    Dingin yang menusuk seketika menyergap seluruh pori-pori kulit Aruna saat air laut yang asin dan pekat menerjang masuk ke dalam kabin helikopter. Suara dentuman logam yang menghantam permukaan air masih berdenging hebat di telinganya, menciptakan rasa pening yang luar biasa. Cahaya lampu darurat di

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   4 - Bayangan Sang Penguasa Sejati

    Lantai marmer yang dingin terasa menusuk telapak kaki Aruna saat ia berdiri mematung di depan pintu ruang kerja Dewa. Kata-kata Dewa di dalam telepon tadi masih terngiang jelas di telinganya, berputar-putar laksana kaset rusak yang menyiksa batinnya. 'Tembak di tempat'. Kalimat itu bukan sekadar anc

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   3 - Darah di Ujung Belati

    Suasana di lobi utama Mansion Adiwangsa seketika menjadi medan tempur yang mencekam. Bau besi dari darah yang mulai menetes dari leher Elang seolah memicu insting paling primitif di dalam dada Dewa. Pria itu berdiri kaku, matanya tidak berkedip menatap belati yang menempel di kulit halus putranya. D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status