Início / Romansa / Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO / 4 - Bayangan Sang Penguasa Sejati

Compartilhar

4 - Bayangan Sang Penguasa Sejati

Autor: ARTHAIRA
last update Data de publicação: 2026-01-05 22:58:09

Lantai marmer yang dingin terasa menusuk telapak kaki Aruna saat ia berdiri mematung di depan pintu ruang kerja Dewa. Kata-kata Dewa di dalam telepon tadi masih terngiang jelas di telinganya, berputar-putar laksana kaset rusak yang menyiksa batinnya. 'Tembak di tempat'. Kalimat itu bukan sekadar ancaman kosong. Aruna mengenal nada suara itu, nada yang sama saat Dewa menghajar Baron hingga hampir tewas beberapa jam yang lalu.

'Siapa Bibi Martha? Dan kenapa Dewa begitu ketakutan sampai harus memerintahkan penjagaan tingkat satu?' tanya Aruna dalam hatinya yang dipenuhi kecemasan.

Aruna perlahan mundur, menjauh dari pintu jati yang kokoh itu. Ia tidak ingin Dewa tahu bahwa ia telah mencuri dengar percakapan rahasianya. Langkahnya gontai menuju kamar Elang, namun setiap bayangan di koridor mansion yang remang-remang kini tampak seperti sosok wanita berpakaian hitam yang ia lihat tadi. Mansion ini, yang seharusnya menjadi benteng perlindungan, kini terasa seperti labirin yang penuh dengan jebakan mematikan.

Begitu sampai di kamar, Aruna segera mengunci pintu dan memeriksa Elang. Putranya masih tertidur lelap, napasnya teratur meskipun ada bekas luka goresan merah di lehernya yang sudah ditutup perban kecil. Aruna duduk di tepi tempat tidur, membelai rambut halus Elang dengan tangan yang masih gemetar. Ia merasa seperti seorang ibu yang gagal karena telah membawa anaknya masuk ke dalam sarang serigala yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu kamar. Aruna tersentak, jantungnya hampir melompat keluar dari dadanya.

"Aruna, ini aku. Buka pintunya," suara Dewa terdengar rendah dari balik pintu.

Aruna menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum berdiri dan membuka kunci pintu. Dewa berdiri di sana, masih mengenakan kemeja putih yang ternoda darah di bagian lengannya. Wajahnya tampak sangat lelah, namun matanya tetap tajam, menyapu seluruh isi ruangan sebelum akhirnya tertuju pada Aruna.

"Kenapa kamu mengunci pintu? Aku sudah menempatkan lima pengawal di depan lorong ini," tanya Dewa sambil melangkah masuk tanpa menunggu izin.

"Aku... aku hanya merasa tidak aman, Dewa. Kejadian tadi... aku tidak bisa melupakannya," jawab Aruna berbohong. Ia tidak berani menanyakan soal Bibi Martha sekarang.

Dewa menatap Elang sebentar, lalu kembali menatap Aruna. "Aku sudah menyiapkan tim pengacara dan staf humas. Besok pagi, mereka akan merilis pernyataan resmi bahwa Elang adalah putra kandungku dan kamu adalah calon istriku. Kita tidak punya waktu untuk berdebat soal ini. Publik harus tahu bahwa kalian berada di bawah perlindungan mutlakku."

Aruna menelan ludah. "Dewa, apakah ini benar-benar perlu? Kita bisa saja bersembunyi. Publikasi hanya akan membuat kita menjadi sasaran."

Dewa mendekati Aruna, memangkas jarak di antara mereka hingga Aruna bisa mencium aroma wiski dan sisa asap rokok dari tubuh pria itu. "Bersembunyi tidak akan berhasil di keluarga ini, Aruna. Sofia sudah tumbang, tapi musuh-musuh Adiwangsa yang lain akan segera bermunculan seperti lalat yang mencium bau darah. Dengan meresmikan status kalian, aku memiliki alasan legal untuk menggunakan seluruh sumber daya perusahaan demi keamanan kalian."

Dewa kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah cincin berlian dengan potongan zamrud yang sangat mewah. Tanpa sepatah kata pun, Dewa menarik tangan kanan Aruna dan menyematkan cincin itu di jari manisnya.

Cincin itu terasa dingin dan sangat berat di jari Aruna. "Dewa, ini..."

"Pakai ini. Jangan pernah melepasnya di depan kamera atau staf mansion ini. Mulai besok, kamu bukan lagi asistenku. Kamu adalah nyonya di rumah ini. Apa pun yang kamu butuhkan, katakan pada Rey," ucap Dewa dengan nada yang lebih mirip perintah daripada tawaran.

Aruna menatap cincin itu dengan getir. 'Cincin ini bukan simbol cinta, tapi simbol kontrak untuk keselamatanku dan Elang.'

"Dewa, boleh aku bertanya satu hal?" ucap Aruna memberanikan diri.

Dewa menyipitkan matanya. "Apa?"

"Tadi... saat aku menuju ruang kerjamu, aku melihat seorang wanita di balkon. Dia bilang namanya bukan Sofia, tapi dia bagian dari masa lalu keluarga ini. Dia menyebut nama Martha," ucap Aruna sambil memperhatikan reaksi Dewa dengan saksama.

Rahang Dewa seketika mengeras. Kilat amarah dan sesuatu yang mirip dengan ketakutan melintas di matanya secepat kilat. Ia mencengkeram bahu Aruna sedikit lebih kuat dari biasanya. "Kamu melihatnya? Di mana? Kapan?"

"Di kamar ini, di sudut itu. Dia menghilang ke arah balkon. Dewa, siapa dia? Kenapa dia tampak begitu membenci keluarga ini?" tanya Aruna dengan nada mendesak.

Dewa melepaskan cengkeramannya dan berbalik, berjalan menuju jendela balkon yang tertutup rapat. Ia menatap kegelapan malam di luar dengan tatapan kosong. "Dia adalah kakak kandung Sofia. Wanita yang seharusnya mewarisi seluruh kekayaan Adiwangsa jika Sofia tidak menjebaknya masuk ke rumah sakit jiwa dua puluh tahun yang lalu. Martha lebih gila dan lebih haus darah dari Sofia. Jika dia benar-benar sudah kembali, maka mansion ini bukan lagi tempat yang sepenuhnya aman."

Aruna menutup mulutnya dengan tangan, merasa mual mendengar kenyataan itu. Ternyata kekejaman Sofia adalah warisan keluarga yang sudah mendarah daging.

"Lalu kenapa kita tetap di sini? Jika dia mengincar kita, kenapa kita tidak pergi?" tanya Aruna panik.

Dewa berbalik, wajahnya kini tampak sangat dingin, hampir tidak memiliki emosi. "Karena Martha ingin aku pergi. Dia ingin aku meninggalkan mansion ini agar dia bisa mengambil alih kendali perusahaan secara ilegal. Aku tidak akan membiarkan wanita gila itu menang. Kamu dan Elang akan tetap di sini, tapi mulai besok, kalian tidak boleh keluar dari kamar ini tanpa pengawalan Rey sendiri."

Dewa melangkah menuju pintu, namun ia berhenti sejenak sebelum keluar. "Satu lagi, Aruna. Jangan pernah mempercayai siapa pun di rumah ini selain aku dan Rey. Bahkan pelayan yang sudah bekerja belasan tahun pun bisa saja menjadi mata-mata Martha."

Dewa keluar dan menutup pintu dengan suara klik yang tegas. Aruna kembali terduduk di lantai, merasa dunianya semakin sempit. Ia menatap cincin di jarinya, berlian itu berkilau indah namun terasa seperti borgol yang sangat menyakitkan.

Malam itu, Aruna tidak bisa memejamkan mata. Ia mematikan semua lampu dan duduk di kursi di samping tempat tidur Elang, memegang sebuah pisau lipat kecil yang ia temukan di laci meja. Setiap suara derit kayu atau embusan angin membuatnya waspada.

Keesokan paginya, suasana mansion sudah berubah total. Puluhan pria berjas hitam dengan alat komunikasi di telinga mereka berjaga di setiap sudut koridor. Aruna diminta untuk bersiap-siap karena tim humas akan mengambil foto mereka untuk pengumuman resmi.

Seorang penata rias masuk ke kamar Aruna, namun Aruna menolaknya dengan tegas. Ia hanya mau menggunakan riasannya sendiri. Ia tidak mau ada orang asing yang menyentuh wajah atau rambutnya. Ketakutannya sudah mencapai tahap paranoid.

Saat Aruna sedang merapikan pakaian Elang, pintu kamar terbuka dan Rey masuk dengan wajah yang sangat pucat.

"Tuan Muda, Nona Aruna... ada sesuatu yang harus kalian lihat di lobi," ucap Rey dengan suara yang bergetar.

Aruna segera menggendong Elang dan mengikuti Rey menuju balkon lantai dua yang menghadap langsung ke lobi utama. Di bawah sana, Dewa berdiri mematung di tengah ruangan. Di atas meja marmer tempat Sofia biasa minum teh, terdapat sebuah bungkusan kain hitam yang mengeluarkan bau busuk yang menyengat.

Dewa perlahan membuka bungkusan itu dengan ujung pulpennya. Aruna dari atas bisa melihat isinya. Itu adalah kepala seekor serigala hitam yang sudah mati, dan di dalam mulut serigala itu terdapat sebuah foto keluarga kecil; Dewa, Aruna, dan Elang yang diambil secara diam-diam saat mereka berada di lobi kantor kemarin.

Di samping foto itu, ada sebuah tulisan yang ditulis dengan tinta merah pekat: 'Satu kepala untuk satu nyawa. Selamat datang di permainan baru, keponakanku tersayang.'

Aruna hampir terjatuh jika ia tidak berpegangan pada pagar balkon. Elang mulai menangis karena melihat ibunya yang tampak sangat ketakutan.

"Dewa!" teriak Aruna dari atas.

Dewa mendongak, wajahnya tampak sangat murka. Ia mengepalkan tangannya hingga gemetar. "Rey! Panggil tim forensik pribadi kita! Dan tingkatkan keamanan ke status merah! Jangan biarkan seekor lalat pun masuk tanpa pemeriksaan!"

Dewa kemudian menatap Aruna dan Elang dengan tatapan yang seolah meminta maaf, namun juga penuh dengan tekad untuk berperang. Ia sadar bahwa mengumumkan status Aruna dan Elang ke publik bukan lagi sekadar strategi bisnis, melainkan sebuah proklamasi perang terbuka terhadap Bibi Martha.

Tepat saat itu, ponsel Dewa berbunyi. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Dewa mengangkatnya dan menyalakan mode pengeras suara agar Rey juga bisa mendengar.

"Halo, Dewa. Suka dengan hadiah kecilku?" suara wanita yang serak dan penuh dengan nada sarkasme terdengar di seluruh lobi yang sunyi. "Sofia memang lemah, dia mencoba meracuni anak itu dengan cara yang halus. Tapi aku? Aku lebih suka melihat darah mengalir langsung dari pembuluh nadi. Nikmatilah waktu terakhirmu bersama keluarga kecilmu, karena sebelum bulan purnama tiba, kamu akan memohon padaku untuk membunuh mereka lebih cepat."

Panggilan terputus. Dewa membanting ponselnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Ia menoleh ke arah Aruna yang masih berdiri di balkon lantai dua.

"Bawa Elang masuk ke dalam kamar rahasia di balik lemari bukuku, sekarang!" perintah Dewa dengan suara yang menggelegar.

Aruna tidak banyak tanya. Ia segera berlari menuju ruang kerja Dewa, masuk ke dalam kamar rahasia yang tersembunyi dengan sangat rapi. Di dalam ruangan kedap suara itu, Aruna memeluk Elang dengan erat di kegelapan. Ia menyadari satu hal yang mengerikan; di dunia Adiwangsa, harta dan kekuasaan tidak mendatangkan kebahagiaan, melainkan kutukan yang menuntut tumbal nyawa orang-orang yang paling dicintai.

Tiba-tiba, lampu di dalam kamar rahasia itu berkedip-kedip dan mati total. Suara sistem udara yang berdesis pelan mendadak berhenti, digantikan oleh suara desis gas yang keluar dari ventilasi di langit-langit.

'Gas ini... baunya aneh,' batin Aruna mulai merasakan kepalanya pusing dan penglihatannya mengabur.

Aruna mencoba menggedor pintu rahasia itu, namun pintu itu tidak bisa dibuka dari dalam tanpa kode elektrik yang hanya diketahui oleh Dewa. Ia menoleh ke arah Elang yang sudah mulai terkulai lemas di pangkuannya.

"Dewa... tolong kami..." bisik Aruna sebelum pandangannya benar-benar menjadi gelap.

Di luar ruangan, Dewa sedang berteriak-teriak karena seluruh sistem kelistrikan mansion diretas dan terkunci. Ia tidak tahu bahwa orang yang ia coba lindungi sedang sekarat di dalam ruangan yang ia pikir paling aman di dunia ini.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   45 - Suara dari Arsy

    Lautan awan di bawah Labirin Tanpa Nama tampak bergejolak, seolah olah mencerminkan badai informasi yang sesaat lagi akan dilepaskan oleh Aruna ke seluruh penjuru bumi. Di dalam ruang kendali utama stasiun atmosfer itu, suasana terasa sangat dingin namun penuh dengan ketegangan yang terukur. Aruna duduk di tengah lingkaran monitor holografik yang memancarkan cahaya biru neon, jari jarinya bergerak dengan ritme yang hampir menyerupai melodi kematian bagi mereka yang mencoba menyembunyikan kebenaran. Di sampingnya, Julian berdiri kaku, tangannya terhubung ke sensor biometrik yang berfungsi sebagai antena penguat sinyal, menyalurkan algoritma uniknya untuk menembus dinding api militer yang paling kuat sekalipun.'Ini adalah kalimat terakhir yang akan aku tulis untuk dunia. Bukan sebagai fiksi yang menghibur, tapi sebagai kenyataan yang akan membebaskan atau justru menghancurkan mereka,' batin Aruna sambil menarik napas panjang,

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   44 - Garis di Balik Kabut

    Salju pertama di musim dingin mulai turun dengan lembut, menyelimuti lembah Alpen dalam keheningan yang serba putih. Rumah kayu keluarga Adiwangsa kini tidak lagi hanya menjadi tempat persembunyian, melainkan sebuah ruang rehabilitasi bagi jiwa yang telah lama mati rasa. Di sudut beranda, Julian duduk diam dengan selimut tebal melingkari bahunya. Matanya yang dulu sedingin es kini tampak kosong, namun sesekali menunjukkan kilatan kebingungan saat ia melihat kepingan salju yang mencair di telapak tangannya. Tanpa perangkat Iris dan tanpa klon digital Sofia yang membisikkan instruksi, Julian harus belajar kembali bagaimana menjadi manusia yang benar-benar merasakan sensasi fisik dan emosional yang murni.'Aku telah membangun menara kaca untuk menghindari kesepian, namun di sini, di tengah kesunyian pegunungan, aku baru menyadari bahwa selama ini aku hanya sedang berteriak di dalam ruangan hampa,' batin Julian sambil menghela na

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   43 - Cermin Retak di Menara Kaca

    Menara Harmoni Digital menjulang di pusat London seperti sebilah pedang perak yang menghujam awan mendung. Di puncaknya, lantai yang seluruhnya terbuat dari kaca memberikan ilusi bahwa siapa pun yang berdiri di sana sedang berpijak di atas dunia yang kian rapuh. Aruna melangkah keluar dari lift berkecepatan tinggi dengan langkah yang tetap tenang meskipun jantungnya berdentum keras di balik rusuknya. Di sampingnya, Dewa bersiaga dengan kewaspadaan seorang predator yang sedang memasuki wilayah lawan. Ia tidak membawa senapan panjang, namun tangannya selalu berada di dekat sabuk taktis yang menyembunyikan senjata jarak pendek yang mematikan.Di tengah ruangan yang luas dan minimalis itu, Julian Adiwangsa duduk di sebuah kursi ergonomis yang menghadap ke arah panorama kota. Ia tidak berbalik saat pintu lift terbuka, seolah-olah ia sudah menghitung frekuensi langkah kaki kakaknya sejak mereka memasuki lobi gedung. Di sekelilingny

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   42 - Bayang di Balik Cermin

    Angin musim gugur yang tajam menusuk melewati celah jaket tebal yang dikenakan Elang saat ia melangkah keluar dari stasiun kereta bawah tanah King's Cross di London. Kota ini tampak sangat berbeda dari keheningan pegunungan Alpen yang selama ini menjadi dunianya. Di setiap sudut jalan, layar LED raksasa memancarkan cahaya biru lembut yang menenangkan, menampilkan logo Harmoni Digital sebuah lingkaran sempurna yang saling bertautan. Orang-orang berjalan dengan langkah yang sangat teratur, hampir semuanya mengenakan perangkat ramping di pelipis mereka yang dikenal sebagai Iris. Perangkat itu memberikan antarmuka visual yang menyesuaikan warna dunia sesuai dengan suasana hati pemakainya, mengubah kelabu London menjadi pemandangan yang selalu tampak seperti matahari terbenam yang indah.'Bunda benar, ini bukan lagi tentang paksaan. Mereka secara sukarela menyerahkan kendali atas persepsi mereka hanya demi menghindari rasa sedih,'

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   41 - Benih di Padang Waktu

    Sepuluh tahun telah berlalu sejak kepulan asap terakhir di Samudera Pasifik menghilang ditelan cakrawala. Pegunungan Alpen masih berdiri dengan keangkuhan yang sama, namun rumah kayu di lereng lembah itu kini telah tampak lebih menyatu dengan alam, tertutup oleh tanaman merambat yang mulai menjalar ke arah atap. Aruna duduk di kursi kayu di beranda, jemarinya tidak lagi memegang mesin ketik tua, melainkan sebuah kuas kecil yang ia gunakan untuk membersihkan debu dari beberapa fosil kecil yang ditemukan Elang di sungai bawah. Waktu telah memberikan goresan tipis di sudut matanya, namun ketenangan yang ia miliki sekarang jauh lebih dalam daripada dekade sebelumnya.'Dunia mungkin sudah berubah menjadi lebih tenang di permukaan, tapi arus informasi selalu menemukan cara untuk menciptakan pusaran baru. Aku hanya berharap Elang cukup kuat untuk tidak terseret ke dalamnya,' batin Aruna sambil memandang sosok pemuda jangkung y

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   40 - Kebun Di Atas Awan

    Enam bulan telah berlalu sejak gema ledakan di dasar Palung Pasifik mereda. Dunia tidak lagi membicarakan tentang peretasan massal atau konspirasi global Cahaya Pagi. Berita besar itu terkubur oleh siklus informasi baru yang lebih segar, seolah-olah sejarah hampir saja melupakan bahwa kemanusiaan pernah berada di ambang perbudakan digital. Di sebuah lembah tersembunyi di lereng pegunungan Alpen yang selalu diselimuti kabut tipis, sebuah rumah kayu bergaya kontemporer berdiri kokoh, jauh dari jangkauan satelit mata-mata maupun radar militer. Di sinilah, di tempat yang tidak tercatat dalam peta publik mana pun, Aruna menemukan apa yang selama ini ia cari dalam ribuan baris kode: sebuah ketenangan yang nyata.Aruna berdiri di beranda rumah, menghirup udara pegunungan yang sangat bersih dan dingin hingga menusuk paru-paru. Ia tidak lagi mengenakan pakaian taktis yang berat atau membawa laptop modifikasi di tasnya. Kini, ia hanya

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   7 - Perangkap Suara Bayangan

    Raungan mesin mobil SUV yang dipacu Dewa membelah kesunyian jalanan pesisir menuju teluk barat dengan kecepatan yang mengerikan. Ban mobil berdecit tajam setiap kali melewati tikungan tajam yang berbatasan langsung dengan tebing karang. Di dalam kepalanya, suara tangisan Aruna yang memohon pertolong

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   6 - Sisa Napas di Kedalaman

    Dingin yang menusuk seketika menyergap seluruh pori-pori kulit Aruna saat air laut yang asin dan pekat menerjang masuk ke dalam kabin helikopter. Suara dentuman logam yang menghantam permukaan air masih berdenging hebat di telinganya, menciptakan rasa pening yang luar biasa. Cahaya lampu darurat di

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   5 - Oksigen yang Tercuri

    Dada Dewa terasa seperti dihantam godam raksasa saat ia menyadari lampu indikator keamanan di atas pintu ruang kerjanya padam total. Ruang rahasia di balik lemari buku itu seharusnya menjadi tempat paling aman di seluruh jagat raya, sebuah benteng kedap suara dan kedap udara yang hanya bisa diakses

  • Ahli Waris Tersembunyi, Jebakan Sang CEO   3 - Darah di Ujung Belati

    Suasana di lobi utama Mansion Adiwangsa seketika menjadi medan tempur yang mencekam. Bau besi dari darah yang mulai menetes dari leher Elang seolah memicu insting paling primitif di dalam dada Dewa. Pria itu berdiri kaku, matanya tidak berkedip menatap belati yang menempel di kulit halus putranya. D

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status