LOGIN"Informasi apa lagi yang kamu dapatkan?"
"Tuan. Saya sudah cek. Di akta kelahiran anak-anaknya, kolom ayah kosong. Tertulis 'tidak diketahui'."
Devan menutup matanya.
Tidak diketahui.
Dua anak dan Ayah tidak diketahui. Salah satu anak itu sangat mirip Devan.
"Raka," Devan membuka matanya, menatap asistennya. "Aku butuh kau melakukan satu hal."
"Tuan?"
"Cari tahu apakah Rara Anindya pernah hamil lima tahun yang lalu. Cek semua rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya. Cek semua klinik. Cek semua catatan medis yang bisa kamu akses, dan satu lagi. Cari tahu jadwal Rora Anindya selama dia di Jakarta. Ke mana dia pergi, dengan siapa dia bertemu, apa yang dia lakukan. Aku ingin tahu setiap langkahnya."
Raka menatap Devan, lalu mengangguk. "Baik, Tuan."
Raka keluar dari ruangan, menutup pintu di belakangnya.
Devan sendirian di kantornya yang besar dan sunyi. Ia berjalan kembali ke mejanya, duduk, dan menatap kedua foto di depannya.
"Siapa kamu sebenarnya, apa kamu benar-benar Rara."
Di lantai 30 gedung Alvero Group, Devan menunggu selama lima belas menit sambil duduk di kursinya, menatap kedua foto itu.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Raka.
"Tuan, saya sudah dapat jadwal Nona Rora hari ini. Jam 10 pagi, dia akan presentasi di salah satu hotel di Jakarta. Saya akan kesana untuk mengawasi."
Devan menatap pesan itu.
"Jadi Rora adalah desainer. Itu menjelaskan kenapa ia punya butik. Itu menjelaskan kenapa ia datang ke Jakarta. Tapi itu tidak menjelaskan kenapa ia memiliki gerakan khas yang sama dengan Rara."
Devan membalas pesan Raka.
"Aku ikut ke sana."
"Tuan, apakah itu..."
"Aku ikut, Raka. Aku ingin melihatnya secara langsung."
Devan meletakkan ponselnya, berdiri, dan mengambil jasnya.
Hanya butuh waktu beberapa menit untuk Devan sampai di hotel itu, dia berjalan tergesa-gesa dan tidak sengaja menabrak anak kecil.
Brak
"Kau tidak apa-apa?"
Devan langsung membantu anak kecil yang ditabrak tadi berdiri, dia menatap anak itu dan baru sadar anak yang ditabrak adalah Kai.
"Kau sendirian di sini?"
Suara itu. Rendah. Tegas.
Kai mendongak.
"Iya, aku bosan dan ingin jalan-jalan di sekitar sini."
Devan berdiri di sana, jas hitamnya terlihat sempurna, tapi ada sesuatu yang berbeda dari wajahnya. Matanya menatap Kai dengan cara yang aneh. Seolah ia sedang melihat sesuatu yang sangat penting.
"Apa tidak ada yang menjagamu di sini?"
"Tante Sari sedang menjaga adik saya di belakang."
"Tante Sari."
"Om antarkan kamu ke tante Sari, jangan berkeliaran di sini sendirian."
"Iya, Om."
***
Saat ini Rora berdiri di depan cermin, mengatur gaun yang akan ia kenakan nanti. Gaun itu sederhana tapi elegan, warna hitam dengan detail emas di bagian lengan. Gaun yang ia desain sendiri, representasi dari Butik Anindya.
"Ma, kau cantik!" Keyla berkata, duduk di tepi tempat tidur, kaki kecilnya bergoyang-goyang.
"Terima kasih, Sayang," Rora tersenyum.
“Mama,” ucap Kai yang baru saja datang sambil memeluk mamanya.
"Ma," Kai berkata dari meja, tempat ia sedang duduk dengan tabletnya. "Aku cek jadwal presentasi Mama. Jam sepuluh, kan?"
"Iya, Sayang. Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan."
Rora menatap Kai. Ada sesuatu di mata anak laki-laki itu yang membuatnya khawatir. Kai terlalu tenang. Terlalu waspada.
"Kai," Rora berkata pelan. "Ada yang ingin kau katakan?"
Kai menatap Rora, lalu menunduk menatap tabletnya. "Tidak, Ma. Tidak ada."
Rora ingin mendesak, tapi Keyla tiba-tiba berteriak, "Ma, aku lapar, kita sarapan yuk."
Rora tertawa kecil. "Baik, Sayang. Nanti kita sarapan."
Ia menyelesaikan dandanannya, lalu mengajak anak-anak turun ke restoran hotel untuk sarapan.
"Ma," Keyla berkata sambil mengunyah pancakenya. "Nanti setelah presentasi, kita bisa jalan-jalan tidak?"
"Tergantung, Sayang. Kalau Mama tidak terlalu capek."
"Yay. Aku mau lihat Monas dan aku mau naik mobil."
"Keyla," Kai berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari rotinya. "Monas jauh dari sini."
"Tapi aku mau."
"Nanti saja, Keyla. Kita masih lama di Jakarta," Rora menengahi.
Keyla cemberut, tapi cepat-cepat tersenyum lagi saat pelayan membawakan es krim vanilla sebagai penutup.
Rora menatap anak-anaknya, hatinya terasa hangat. Mereka begitu polos. Begitu bahagia.
Mereka tidak tahu bahwa ibu mereka sedang bersembunyi dari seseorang. Mereka tidak tahu bahwa ada pria yang mungkin sedang mencari mereka.
Rora berdiri di belakang panggung, memperhatikan model-modelnya berjalan di catwalk. Koleksinya indah, perpaduan warna hitam dan emas, dengan detail yang rumit.
Setiap desain menceritakan tentang kebangkitan dari abu, tentang kekuatan yang lahir dari kehancuran.
Penonton bertepuk tangan. Kamera berkedip. Rora tersenyum tapi senyum bahagia karena sekarang impiannya sudah terwujud.
Presentasi selesai. Penonton bertepuk tangan meriah. Rora naik ke panggung, tersenyum, membungkuk.
"Ma!" Keyla berlari ke arahnya, memeluk kakinya. "Mama keren banget."
Rora memeluk Keyla, tapi matanya masih menatap ke atas, ke balkon VIP.
****
Di balkon VIP, Devan masih berdiri di sana, menatap Rora yang sedang dipeluk anak-anaknya di bawah.
"Raka," Devan berkata pelan.
"Ya, Tuan?" Sambil jarinya masih sibuk di atas layar ponselnya.
"Batalkan semua jadwalku hari ini, besok dan minggu ini."
"Tuan? Tapi."
"Batalkan."
Devan berbalik, menatap Raka. "Aku harus menemui Rora Anindya atau Rara Sinta."
Raka terdiam. "Tuan... Tuan yakin?"
Devan menatap ke bawah lagi. Rora sedang mengangkat Keyla, tersenyum pada gadis kecil itu. Senyum yang Devan kenal. Senyum yang ia rindukan. Senyum yang ia kira telah hilang selamanya.
"Aku yakin." Devan berjalan menuju pintu keluar. "Aku harus tahu kebenarannya. Apa pun itu."
Raka tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa menuruti apa yang dikatakan oleh bosnya.
"Kita ikuti mereka dan bagaimana pun caranya hari ini aku harus bisa bertemu dengan Rora, aku butuh kejelasan yang pasti."
“Kita harus segera menemukan rahasia Rora sampai ke akarnya.”
“Saya sudah menemukan hotel tempat mereka menginap malam ini tuan.” Sambil menunjukkan ponselnya.
Rora berjalan cepat menyusuri lorong backstage, tangan kanan menggenggam Keyla, tangan kiri menarik koper roda berisi sampel koleksi. Kai berjalan di sebelahnya, tablet sudah masuk ke dalam tas, matanya waspada memindai sekitar."Ma, kenapa kita buru-buru?" Keyla bertanya, hampir berlari untuk mengimbangi langkah Rora."Tante Sari sudah menunggu di mobil," Rora menjawab tanpa menoleh. "Kita harus segera ke hotel.""Tapi Mama janji mau foto-foto.""Nanti, Sayang. Nanti ya."Mereka tiba di pintu keluar backstage. Rora mendorong pintu, dan langsung berhenti.Devan berdiri di sana.Pria itu bersandar di dinding, tangan bersilang di dada, jas hitamnya terlihat sempurna seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari wajahnya. Matanya menatap Rora dengan intensitas yang membuat Rora ingin berlari."Raka menunggu mobil di parkiran bawah," Devan berkata, suaranya datar. "Dia bisa membawa anak-anak ke hotel. Aku ingin berbicara denganmu. Berdua."Rora merasakan jantungnya berhenti sejenak. I
"Informasi apa lagi yang kamu dapatkan?""Tuan. Saya sudah cek. Di akta kelahiran anak-anaknya, kolom ayah kosong. Tertulis 'tidak diketahui'."Devan menutup matanya.Tidak diketahui.Dua anak dan Ayah tidak diketahui. Salah satu anak itu sangat mirip Devan."Raka," Devan membuka matanya, menatap asistennya. "Aku butuh kau melakukan satu hal.""Tuan?""Cari tahu apakah Rara Anindya pernah hamil lima tahun yang lalu. Cek semua rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya. Cek semua klinik. Cek semua catatan medis yang bisa kamu akses, dan satu lagi. Cari tahu jadwal Rora Anindya selama dia di Jakarta. Ke mana dia pergi, dengan siapa dia bertemu, apa yang dia lakukan. Aku ingin tahu setiap langkahnya."Raka menatap Devan, lalu mengangguk. "Baik, Tuan."Raka keluar dari ruangan, menutup pintu di belakangnya.Devan sendirian di kantornya yang besar dan sunyi. Ia berjalan kembali ke mejanya, duduk, dan menatap kedua foto di depannya."Siapa kamu sebenarnya, apa kamu benar-benar Rara."Di lantai 3
Lantai 30 gedung Alvero Group, Devan duduk di kursinya, menatap layar komputer.Di layar, ada laporan dari Raka. Laporan tentang Rora Anindya."Rora Anindya. Usia 28 tahun. Pemilik Butik Anindya di Paris. Tidak ada riwayat pendidikan formal yang tercatat. Tidak ada informasi tentang keluarga. jejak digital hampir tidak ada."Devan menatap laporan itu.Jejak digital hampir tidak ada."Itu mencurigakan, sangat mencurigakan."Devan membuka laci mejanya. Di dalamnya, ada selembar foto lama. Foto Rara. Foto yang disimpan selama lima tahun."Cara mereka tersenyum sama persis."Devan merasa napasnya terhenti.Dia mengambil ponselnya, menekan nomor Raka."Raka," Devan berkata, suaranya parau. "Cari tahu satu hal lagi tentang Rora Anindya.""Apa, Tuan?" Suara Raka terdengar dari seberang sana.Devan menatap kedua foto itu."Cari tahu apakah Rora Anindya punya sahabat bernama Sari."Hening di seberang sana."Tuan... kenapa?""Lakukan, Raka." Devan menutup telepon, menatap kedua foto itu. "Dan c
Rekaman itu hitam putih, tapi cukup jelas. Terlihat kerumunan orang berjalan di terminal kedatangan. Anak-anak berlarian."Percepat." Devan memerintahkan.Rekaman itu dipercepat, orang-orang bergerak seperti dalam film bisu."Berhenti di sana," Devan menunjuk layar. "Di dekat pagar."Rekaman itu berhenti. Terlihat seorang gadis kecil berlari ke arah toko mainan. Di belakangnya, seorang wanita dan seorang anak laki-laki mengejarnya."Perbesar." Devan memerintahkan.Layar memperbesar area itu. Sekarang mereka bisa melihat wajah Keyla dengan jelas.Devan menatap layar itu. Jantungnya berdebar lebih cepat.Gadis kecil itu. Kemiripannya..."Lanjutkan." Devan berkata.Rekaman dilanjutkan.Terlihat Keyla berhenti di dekat pagar, lalu Devan berjalan cepat dari arah berlawanan dan menabraknya. Gadis kecil itu hampir jatuh, tapi Devan menangkapnya."Berhenti di sana,” Devan memerintahkan.Rekaman berhenti.Devan menatap layar, melihat dirinya sendiri menggendong Keyla. Gadis kecil itu menatapny
Di dalam mobil yang membawa mereka keluar dari bandara, Rora duduk di kursi belakang, memeluk Keyla yang sudah mulai mengantuk. Kai duduk di sebelahnya."Ma," Kai berkata pelan. "Om itu... Om itu siapa?"Rora menatap keluar jendela. Gedung-gedung Jakarta mulai terlihat. Gedung-gedung yang lima tahun lalu ia tinggalkan."Mama juga tidak tahu," Rora mengulang."Tapi dia terlihat seperti mengenal mama."Rora tidak menjawab."Ma," Kai menekan. "Om itu... ayah kita?"Rora menoleh, menatap Kai. Mata anak laki-laki itu tajam. Terlalu tajam untuk anak berusia lima tahun."Kenapa kau bertanya itu?" Rora bertanya, suaranya pelan.Kai menatap Rora. "Karena... Om itu menatap Keyla seperti Papa menatap anak-anak di film."Rora merasa hatinya hancur. Ia memeluk Keyla lebih erat.Hatinya terasa hancur karena sejak lahir anaknya tidak pernah mengenal sosok ayahnya sama sekali, bahkan mereka tidak tahu siapa nama ayahnya, Rora sudah menutup semuanya dengan rapat. "Om itu bukan ayah kalian," Rora berk
Lima tahun telah berlalu, Rora memutuskan untuk kembali ke Jakarta karena urusan pekerjaan. kota yang lima tahun lalu ia tinggalkan dalam air mata dan keputusasaan."Ma, kita sudah sampai?" Keyla bertanya, wajahnya menempel di jendela sebelah Rora. Mata gadis kecil itu berbinar-binar. "Jakarta itu kota besar ya? Kayak di kartun?"Rora tersenyum, tapi senyumnya tidak mencapai matanya. "Iya, Sayang. Jakarta kota besar.""Apakah kita akan tinggal di sini?" Kai bertanya dari kursi di sebelahnya."Hanya beberapa minggu," Rora menjawab. "Kita kesini untuk kerja. Setelah selesai, kita pulang.""Tapi aku mau tinggal di sini!" Keyla merengek. "Aku mau lihat Monas.""Keyla," Kai berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet. "Kita tidak tinggal di sini. Mama sudah bilang.""Tapi Kakak nggak pernah mau main di luar.""Karena kamu berisik.""Kakak jahat.""Kalian berdua," Rora menegur pelan. "Jangan berantem. Kita sudah sampai."Pesawat mendarat dengan guncangan ringan. Penumpang mulai berdi







