Se connecterRekaman itu hitam putih, tapi cukup jelas. Terlihat kerumunan orang berjalan di terminal kedatangan. Anak-anak berlarian.
"Percepat." Devan memerintahkan.
Rekaman itu dipercepat, orang-orang bergerak seperti dalam film bisu.
"Berhenti di sana," Devan menunjuk layar. "Di dekat pagar."
Rekaman itu berhenti. Terlihat seorang gadis kecil berlari ke arah toko mainan. Di belakangnya, seorang wanita dan seorang anak laki-laki mengejarnya.
"Perbesar." Devan memerintahkan.
Layar memperbesar area itu. Sekarang mereka bisa melihat wajah Keyla dengan jelas.
Devan menatap layar itu. Jantungnya berdebar lebih cepat.
Gadis kecil itu. Kemiripannya...
"Lanjutkan." Devan berkata.
Rekaman dilanjutkan.
Terlihat Keyla berhenti di dekat pagar, lalu Devan berjalan cepat dari arah berlawanan dan menabraknya. Gadis kecil itu hampir jatuh, tapi Devan menangkapnya.
"Berhenti di sana,” Devan memerintahkan.
Rekaman berhenti.
Devan menatap layar, melihat dirinya sendiri menggendong Keyla. Gadis kecil itu menatapnya dengan mata lebar, lalu tersenyum.
Dan di sudut layar, terlihat Rora yang berlari ke arah mereka, wajah panik.
"Perbesar wajah wanita itu," Devan memerintahkan.
Layar memperbesar wajah Rora. Wanita itu menatap Devan di layar dengan mata yang lebar, rambutnya berantakan karena berlari.
Devan menatap wajah itu dan merasa ada sesuatu yang familiar.
"Raka," Devan berkata pelan. "Kau lihat wanita itu?"
"Ya, Tuan. Nona Rora."
"Kau tidak merasa ada sesuatu yang familiar?"
Raka menatap layar, lalu menatap Devan. "Familiar bagaimana, Tuan?"
Devan tidak menjawab. Ia masih menatap wajah Rora di layar.
"Putar ulang dari awal," Devan memerintahkan. "Dari saat wanita itu mulai berlari."
Rekaman diputar ulang. Terlihat Rora berlari, rambutnya berkibar. Saat ia berlari, salah satu tangannya terangkat, dan ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Gerakan itu." Devan merasa napasnya terhenti.
Ia pernah melihat gerakan itu sebelumnya. Bertahun-tahun yang lalu.
"Raka," Devan berkata, suaranya parau.
"Cari tahu semua tentang Rora Anindya. Sekarang."
"Tuan, saya sudah..."
"Tidak, Raka. Cari tahu semua dari mana dia berasal, keluarganya, pekerjaannya, riwayat pendidikannya. Semuanya."
"Tapi Tuan, saya sudah mulai menyelidiki."
"Aku tidak mau penyelidikan biasa, Raka," Devan berbalik, menatap Raka dengan mata yang menyala. "Aku mau kau cari tahu apakah wanita itu pernah menggunakan nama lain sebelumnya."
Raka terdiam. Ia menatap Devan, lalu menatap layar, lalu kembali menatap Devan.
"Tuan... jangan bilang..."
"Lakukan, Raka." Devan berbalik kembali ke layar, menatap wajah Rora. "Dan satu lagi. Cari tahu apakah wanita itu punya hubungan dengan siapapun dari masa laluku."
Raka menelan ludah. "Baik, Tuan."
Devan masih menatap layar. Wajah Rora terpampang di sana, jelas dan tajam.
"Raka," Devan berkata tanpa membuka matanya. "Tambahkan satu lagi dalam penyelidikan."
"Apa, Tuan?"
Devan membuka matanya, menatap layar.
"Cari tahu apakah Rara pernah hamil lima tahun yang lalu."
Raka terdiam.
***
Rora kali ini tidak akan tinggal di tempat Sari karena sekarang dia tidak ingin menyeret Sari ke dalam masalahnya, dia akan memesan hotel untuk menginap beberapa hari.
"Ma, kenapa kita buru-buru?" Keyla bertanya, menjatuhkan diri di atas tempat tidur king size yang empuk. "Aku belum lihat kolam renangnya!"
Rora tidak menjawab. Ia berjalan langsung ke jendela, menarik tirai tebal hingga tertutup rapat. Ruangan itu menjadi remang-remang.
"Ma?" Keyla duduk, wajahnya bingung. "Kenapa gelap-gelapan?"
"Keyla," Kai berkata pelan, meletakkan tabletnya di meja. "Jangan tanya dulu."
Rora berbalik, menatap kedua anaknya. Jantungnya masih berdebar begitu kencang hingga ia bisa merasakannya di ujung jarinya.
"Ma, kau pucat, kau yakin kau baik-baik saja? Apa om tadi ada hubungannya sama papa?" tanya Kai dengan wajah polos.
"Kai," Rora akhirnya berkata, menatap anak laki-lakinya. "Om Devan bukan ayah kalian. Dengar Mama. Om itu kenalan Mama dulu. Lama sekali. Tapi itu sudah selesai. Sudah lama sekali."
"Tapi kenapa Mama takut?" Kai bertanya. Pertanyaan itu sederhana, tapi tajam seperti pisau.
Rora terdiam. Bagaimana ia menjelaskan pada anak laki-laki berusia lima tahun bahwa ayahnya yang tidak diketahui keberadaannya adalah pria yang baru saja mereka temui di bandara.
"Karena..." Rora menelan ludah. "Karena Mama tidak mau ada yang menyakiti kalian. Itu saja."
Kai menatap Rora lama. Lalu ia mengangguk pelan. "Baik, Ma. Tapi kalau Om itu datang lagi, aku akan berdiri di depan Mama."
Rora merasa air matanya hampir jatuh. Ia memeluk Kai erat-erat. "Terima kasih, Sayang."
"Ma, aku lapar, " Keyla tiba-tiba berteriak dari atas tempat tidur. "Kita makan yuk, Aku mau makan es krim."
"Iya sayang, nanti kita makan," ucap Rora sambil tersenyum.
Rora menyalakan keran, membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menatap cermin lagi.
"Kau Rora Anindya," ia berbisik pada pantulannya sendiri. "Kau bukan Rara Sinta. Rara Sinta sudah mati lima tahun lalu."
Ia mengulang kata-kata itu seperti mantra. Setiap pagi sebelum bercermin. Setiap kali ia merasa takut. Setiap kali ia melihat foto Devan di majalah bisnis yang dibelikan Sari.
Rora mendengar suara handphonenya berbunyi, dia bergegas keluar dari kamar mandi.
"Rora, sepertinya kalian dalam bahaya." Suara dari telepon itu.
Rora berjalan cepat menyusuri lorong backstage, tangan kanan menggenggam Keyla, tangan kiri menarik koper roda berisi sampel koleksi. Kai berjalan di sebelahnya, tablet sudah masuk ke dalam tas, matanya waspada memindai sekitar."Ma, kenapa kita buru-buru?" Keyla bertanya, hampir berlari untuk mengimbangi langkah Rora."Tante Sari sudah menunggu di mobil," Rora menjawab tanpa menoleh. "Kita harus segera ke hotel.""Tapi Mama janji mau foto-foto.""Nanti, Sayang. Nanti ya."Mereka tiba di pintu keluar backstage. Rora mendorong pintu, dan langsung berhenti.Devan berdiri di sana.Pria itu bersandar di dinding, tangan bersilang di dada, jas hitamnya terlihat sempurna seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari wajahnya. Matanya menatap Rora dengan intensitas yang membuat Rora ingin berlari."Raka menunggu mobil di parkiran bawah," Devan berkata, suaranya datar. "Dia bisa membawa anak-anak ke hotel. Aku ingin berbicara denganmu. Berdua."Rora merasakan jantungnya berhenti sejenak. I
"Informasi apa lagi yang kamu dapatkan?""Tuan. Saya sudah cek. Di akta kelahiran anak-anaknya, kolom ayah kosong. Tertulis 'tidak diketahui'."Devan menutup matanya.Tidak diketahui.Dua anak dan Ayah tidak diketahui. Salah satu anak itu sangat mirip Devan."Raka," Devan membuka matanya, menatap asistennya. "Aku butuh kau melakukan satu hal.""Tuan?""Cari tahu apakah Rara Anindya pernah hamil lima tahun yang lalu. Cek semua rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya. Cek semua klinik. Cek semua catatan medis yang bisa kamu akses, dan satu lagi. Cari tahu jadwal Rora Anindya selama dia di Jakarta. Ke mana dia pergi, dengan siapa dia bertemu, apa yang dia lakukan. Aku ingin tahu setiap langkahnya."Raka menatap Devan, lalu mengangguk. "Baik, Tuan."Raka keluar dari ruangan, menutup pintu di belakangnya.Devan sendirian di kantornya yang besar dan sunyi. Ia berjalan kembali ke mejanya, duduk, dan menatap kedua foto di depannya."Siapa kamu sebenarnya, apa kamu benar-benar Rara."Di lantai 3
Lantai 30 gedung Alvero Group, Devan duduk di kursinya, menatap layar komputer.Di layar, ada laporan dari Raka. Laporan tentang Rora Anindya."Rora Anindya. Usia 28 tahun. Pemilik Butik Anindya di Paris. Tidak ada riwayat pendidikan formal yang tercatat. Tidak ada informasi tentang keluarga. jejak digital hampir tidak ada."Devan menatap laporan itu.Jejak digital hampir tidak ada."Itu mencurigakan, sangat mencurigakan."Devan membuka laci mejanya. Di dalamnya, ada selembar foto lama. Foto Rara. Foto yang disimpan selama lima tahun."Cara mereka tersenyum sama persis."Devan merasa napasnya terhenti.Dia mengambil ponselnya, menekan nomor Raka."Raka," Devan berkata, suaranya parau. "Cari tahu satu hal lagi tentang Rora Anindya.""Apa, Tuan?" Suara Raka terdengar dari seberang sana.Devan menatap kedua foto itu."Cari tahu apakah Rora Anindya punya sahabat bernama Sari."Hening di seberang sana."Tuan... kenapa?""Lakukan, Raka." Devan menutup telepon, menatap kedua foto itu. "Dan c
Rekaman itu hitam putih, tapi cukup jelas. Terlihat kerumunan orang berjalan di terminal kedatangan. Anak-anak berlarian."Percepat." Devan memerintahkan.Rekaman itu dipercepat, orang-orang bergerak seperti dalam film bisu."Berhenti di sana," Devan menunjuk layar. "Di dekat pagar."Rekaman itu berhenti. Terlihat seorang gadis kecil berlari ke arah toko mainan. Di belakangnya, seorang wanita dan seorang anak laki-laki mengejarnya."Perbesar." Devan memerintahkan.Layar memperbesar area itu. Sekarang mereka bisa melihat wajah Keyla dengan jelas.Devan menatap layar itu. Jantungnya berdebar lebih cepat.Gadis kecil itu. Kemiripannya..."Lanjutkan." Devan berkata.Rekaman dilanjutkan.Terlihat Keyla berhenti di dekat pagar, lalu Devan berjalan cepat dari arah berlawanan dan menabraknya. Gadis kecil itu hampir jatuh, tapi Devan menangkapnya."Berhenti di sana,” Devan memerintahkan.Rekaman berhenti.Devan menatap layar, melihat dirinya sendiri menggendong Keyla. Gadis kecil itu menatapny
Di dalam mobil yang membawa mereka keluar dari bandara, Rora duduk di kursi belakang, memeluk Keyla yang sudah mulai mengantuk. Kai duduk di sebelahnya."Ma," Kai berkata pelan. "Om itu... Om itu siapa?"Rora menatap keluar jendela. Gedung-gedung Jakarta mulai terlihat. Gedung-gedung yang lima tahun lalu ia tinggalkan."Mama juga tidak tahu," Rora mengulang."Tapi dia terlihat seperti mengenal mama."Rora tidak menjawab."Ma," Kai menekan. "Om itu... ayah kita?"Rora menoleh, menatap Kai. Mata anak laki-laki itu tajam. Terlalu tajam untuk anak berusia lima tahun."Kenapa kau bertanya itu?" Rora bertanya, suaranya pelan.Kai menatap Rora. "Karena... Om itu menatap Keyla seperti Papa menatap anak-anak di film."Rora merasa hatinya hancur. Ia memeluk Keyla lebih erat.Hatinya terasa hancur karena sejak lahir anaknya tidak pernah mengenal sosok ayahnya sama sekali, bahkan mereka tidak tahu siapa nama ayahnya, Rora sudah menutup semuanya dengan rapat. "Om itu bukan ayah kalian," Rora berk
Lima tahun telah berlalu, Rora memutuskan untuk kembali ke Jakarta karena urusan pekerjaan. kota yang lima tahun lalu ia tinggalkan dalam air mata dan keputusasaan."Ma, kita sudah sampai?" Keyla bertanya, wajahnya menempel di jendela sebelah Rora. Mata gadis kecil itu berbinar-binar. "Jakarta itu kota besar ya? Kayak di kartun?"Rora tersenyum, tapi senyumnya tidak mencapai matanya. "Iya, Sayang. Jakarta kota besar.""Apakah kita akan tinggal di sini?" Kai bertanya dari kursi di sebelahnya."Hanya beberapa minggu," Rora menjawab. "Kita kesini untuk kerja. Setelah selesai, kita pulang.""Tapi aku mau tinggal di sini!" Keyla merengek. "Aku mau lihat Monas.""Keyla," Kai berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet. "Kita tidak tinggal di sini. Mama sudah bilang.""Tapi Kakak nggak pernah mau main di luar.""Karena kamu berisik.""Kakak jahat.""Kalian berdua," Rora menegur pelan. "Jangan berantem. Kita sudah sampai."Pesawat mendarat dengan guncangan ringan. Penumpang mulai berdi







