FAZER LOGINLantai 30 gedung Alvero Group, Devan duduk di kursinya, menatap layar komputer.
Di layar, ada laporan dari Raka. Laporan tentang Rora Anindya.
"Rora Anindya. Usia 28 tahun. Pemilik Butik Anindya di Paris. Tidak ada riwayat pendidikan formal yang tercatat. Tidak ada informasi tentang keluarga. jejak digital hampir tidak ada."
Devan menatap laporan itu.
Jejak digital hampir tidak ada.
"Itu mencurigakan, sangat mencurigakan."
Devan membuka laci mejanya. Di dalamnya, ada selembar foto lama. Foto Rara. Foto yang disimpan selama lima tahun.
"Cara mereka tersenyum sama persis."
Devan merasa napasnya terhenti.
Dia mengambil ponselnya, menekan nomor Raka.
"Raka," Devan berkata, suaranya parau. "Cari tahu satu hal lagi tentang Rora Anindya."
"Apa, Tuan?" Suara Raka terdengar dari seberang sana.
Devan menatap kedua foto itu.
"Cari tahu apakah Rora Anindya punya sahabat bernama Sari."
Hening di seberang sana.
"Tuan... kenapa?"
"Lakukan, Raka." Devan menutup telepon, menatap kedua foto itu. "Dan cepat."
Devan meletakkan ponselnya, menatap foto Rora.
Pagi itu, Devan sudah ada di kantornya jam enam.
Raka masuk dengan laptop di tangan, wajah tegang. Ia meletakkan laptop di meja Devan tanpa basa-basi.
"Tuan, saya sudah dapat rekaman CCTV dari bandara dan hotel."
Devan menatap layar. Rekaman itu menampilkan Rora berjalan di terminal kedatangan, membawa dua anak kecil dan seorang wanita paruh baya. Mereka berjalan menuju konter taksi.
"Putar lebih cepat," Devan memerintahkan.
"Lanjut ke hotel," Devan berkata.
Rekaman berganti. Sekarang menampilkan lobi Hotel Grand Menteng. Terlihat Rora dan anak-anaknya masuk, berjalan menuju resepsionis.
"Perbesar." Devan memerintahkan.
Layar memperbesar area resepsionis. Terlihat Rora berbicara dengan resepsionis, menyerahkan kartu identitas.
"Bisa diperjelas nama di kartu itu?" Devan bertanya.
Raka mengetik sesuatu, dan layar menampilkan gambar yang lebih jelas. Terlihat tulisan:
RORA ANINDYA
Kamar 1205
Devan menatap nama itu.
"Rora Anindya," ia mengulang pelan. "Tidak familiar."
"Tuan, saya sudah cek database kependudukan," Raka berkata. "Nama Rora Anindya terdaftar dua tahun yang lalu. Sebelumnya, tidak ada catatan tentang nama itu di mana pun."
Devan menatap Raka. "Dua tahun?"
"Ya, Tuan. Tepatnya, dua tahun tiga bulan yang lalu."
Devan terdiam. Ia menatap layar lagi, menatap wajah Rora yang sedang tersenyum pada resepsionis.
"Dan tidak ada catatan sebelumnya? Tidak ada sekolah, tidak ada pekerjaan, tidak ada apa-apa?"
"Tidak ada, Tuan. Identitas itu muncul begitu saja dua tahun yang lalu."
Devan menghela napas. Ia berdiri, berjalan menuju jendela kantornya yang besar, menatap langit Jakarta yang mulai terang.
"Raka," ia berkata tanpa menoleh. "Kau tahu apa yang mencurigakan dari ini?"
"Tuan?"
"Seseorang yang tiba-tiba muncul dengan identitas baru, tanpa riwayat sebelumnya. Itu biasanya berarti satu dari dua hal." Devan berbalik, menatap Raka. "Atau dia adalah orang yang sangat privat yang tidak peduli dengan jejak digital atau dia adalah orang yang sedang bersembunyi."
Raka terdiam. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Tuan, jangan bilang Tuan curiga Nona Rora..."
"Tapi kemiripan Keyla denganku, gerakan khas Rora dan identitas barunya yang mencurigakan itu terlalu banyak kebetulan."
Raka menelan ludah. "Tuan, mungkin saya terlalu jauh. Tapi ada satu hal lagi yang saya temukan."
"Apa?"
Raka membuka file lain di laptopnya. "Saya cek semua hotel yang pernah menerima tamu bernama Rora Anindya. Ternyata, dia sering menginap di hotel yang sama saat bepergian ke luar kota untuk bisnis. Dan setiap kali dia check-in, dia selalu menggunakan nama darurat yang sama."
"Nama darurat?"
"Ya, Tuan. Nama yang dihubungi jika terjadi sesuatu dengan tamu. Dan nama darurat yang selalu dia berikan..." Raka menatap Devan, wajahnya pucat.
"Adalah Sari Wulandari."
Devan membeku.
"Raka," Devan berkata pelan. "Cari tahu siapa Sari Wulandari."
"Saya sudah, Tuan." Raka membuka file lain. "Sari Wulandari. Usia tiga puluh tahun, Lulusan Universitas Indonesia, jurusan desain fashion. Dan..." Raka berhenti sejenak. "Teman sekamar Rara Sinta saat kuliah."
Hening.
Devan menatap Raka, matanya menyipit.
"Ulangi." Devan berkata, suaranya rendah.
"Sari Wulandari, Tuan. Teman sekamar Rara Sinta saat kuliah."
Devan menutup matanya sejenak. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar lebih cepat.
Rara Sinta.
Nama yang lima tahun lalu ia suruh orang untuk mencari. Nama yang tidak pernah berhasil ditemukan. Nama yang ia kira sudah menghilang dari Jakarta, mungkin bahkan dari Indonesia.
"Raka," Devan membuka matanya, menatap asistennya. "Kau tahu apa artinya ini?"
"Tuan... saya tidak yakin."
"Artinya, Rora Anindya dan Rara Sinta terhubung. Melalui Sari Wulandari."
Devan berdiri, berjalan mondar-mandir di depan mejanya. "Dan jika Rora terhubung dengan Rara, maka..."
Devan berhenti, menatap Raka.
"Maka Keyla mungkin..."
Raka terdiam. Ia tahu apa yang Devan pikirkan, tapi ia tidak berani mengucapkannya.
"Tuan," Raka akhirnya berkata hati-hati. "Mungkin saya terlalu jauh. Mungkin ini hanya kebetulan. Sari Wulandari nama yang cukup umum. Mungkin ada banyak Sari Wulandari di Indonesia."
"Tapi tidak banyak Sari Wulandari yang teman sekamarnya bernama Rara Sinta." Devan menatap Raka tajam. "Dan tidak banyak Rora Anindya yang bergerak dengan pola yang sama seperti Rara Sinta yang hilang."
Raka tidak menjawab.
"Raka," Devan berkata tanpa menoleh.
"Lima tahun lalu, saat aku menyuruh orang mencari Rara, apa yang mereka temukan?"
"Tuan, mereka tidak menemukan apa-apa. Nona Rara seolah menghilang. Tidak ada catatan perjalanan, tidak ada transaksi kartu kredit."
"Tapi sekarang, Rora Anindya muncul dengan identitas baru dan dia punya butik. Dia punya bisnis. Dia pasti punya transaksi keuangan."
"Ya, Tuan. Tapi semua transaksi itu menggunakan nama Rora Anindya. Tidak ada koneksi dengan Rara Sinta."
Devan terdiam. Ia menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung Jakarta yang mulai ramai dengan aktivitas pagi.
"Tuan, ada satu rahasia lagi yang saya temukan." ucap Raka dengan wajah serius.
Rora berjalan cepat menyusuri lorong backstage, tangan kanan menggenggam Keyla, tangan kiri menarik koper roda berisi sampel koleksi. Kai berjalan di sebelahnya, tablet sudah masuk ke dalam tas, matanya waspada memindai sekitar."Ma, kenapa kita buru-buru?" Keyla bertanya, hampir berlari untuk mengimbangi langkah Rora."Tante Sari sudah menunggu di mobil," Rora menjawab tanpa menoleh. "Kita harus segera ke hotel.""Tapi Mama janji mau foto-foto.""Nanti, Sayang. Nanti ya."Mereka tiba di pintu keluar backstage. Rora mendorong pintu, dan langsung berhenti.Devan berdiri di sana.Pria itu bersandar di dinding, tangan bersilang di dada, jas hitamnya terlihat sempurna seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari wajahnya. Matanya menatap Rora dengan intensitas yang membuat Rora ingin berlari."Raka menunggu mobil di parkiran bawah," Devan berkata, suaranya datar. "Dia bisa membawa anak-anak ke hotel. Aku ingin berbicara denganmu. Berdua."Rora merasakan jantungnya berhenti sejenak. I
"Informasi apa lagi yang kamu dapatkan?""Tuan. Saya sudah cek. Di akta kelahiran anak-anaknya, kolom ayah kosong. Tertulis 'tidak diketahui'."Devan menutup matanya.Tidak diketahui.Dua anak dan Ayah tidak diketahui. Salah satu anak itu sangat mirip Devan."Raka," Devan membuka matanya, menatap asistennya. "Aku butuh kau melakukan satu hal.""Tuan?""Cari tahu apakah Rara Anindya pernah hamil lima tahun yang lalu. Cek semua rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya. Cek semua klinik. Cek semua catatan medis yang bisa kamu akses, dan satu lagi. Cari tahu jadwal Rora Anindya selama dia di Jakarta. Ke mana dia pergi, dengan siapa dia bertemu, apa yang dia lakukan. Aku ingin tahu setiap langkahnya."Raka menatap Devan, lalu mengangguk. "Baik, Tuan."Raka keluar dari ruangan, menutup pintu di belakangnya.Devan sendirian di kantornya yang besar dan sunyi. Ia berjalan kembali ke mejanya, duduk, dan menatap kedua foto di depannya."Siapa kamu sebenarnya, apa kamu benar-benar Rara."Di lantai 3
Lantai 30 gedung Alvero Group, Devan duduk di kursinya, menatap layar komputer.Di layar, ada laporan dari Raka. Laporan tentang Rora Anindya."Rora Anindya. Usia 28 tahun. Pemilik Butik Anindya di Paris. Tidak ada riwayat pendidikan formal yang tercatat. Tidak ada informasi tentang keluarga. jejak digital hampir tidak ada."Devan menatap laporan itu.Jejak digital hampir tidak ada."Itu mencurigakan, sangat mencurigakan."Devan membuka laci mejanya. Di dalamnya, ada selembar foto lama. Foto Rara. Foto yang disimpan selama lima tahun."Cara mereka tersenyum sama persis."Devan merasa napasnya terhenti.Dia mengambil ponselnya, menekan nomor Raka."Raka," Devan berkata, suaranya parau. "Cari tahu satu hal lagi tentang Rora Anindya.""Apa, Tuan?" Suara Raka terdengar dari seberang sana.Devan menatap kedua foto itu."Cari tahu apakah Rora Anindya punya sahabat bernama Sari."Hening di seberang sana."Tuan... kenapa?""Lakukan, Raka." Devan menutup telepon, menatap kedua foto itu. "Dan c
Rekaman itu hitam putih, tapi cukup jelas. Terlihat kerumunan orang berjalan di terminal kedatangan. Anak-anak berlarian."Percepat." Devan memerintahkan.Rekaman itu dipercepat, orang-orang bergerak seperti dalam film bisu."Berhenti di sana," Devan menunjuk layar. "Di dekat pagar."Rekaman itu berhenti. Terlihat seorang gadis kecil berlari ke arah toko mainan. Di belakangnya, seorang wanita dan seorang anak laki-laki mengejarnya."Perbesar." Devan memerintahkan.Layar memperbesar area itu. Sekarang mereka bisa melihat wajah Keyla dengan jelas.Devan menatap layar itu. Jantungnya berdebar lebih cepat.Gadis kecil itu. Kemiripannya..."Lanjutkan." Devan berkata.Rekaman dilanjutkan.Terlihat Keyla berhenti di dekat pagar, lalu Devan berjalan cepat dari arah berlawanan dan menabraknya. Gadis kecil itu hampir jatuh, tapi Devan menangkapnya."Berhenti di sana,” Devan memerintahkan.Rekaman berhenti.Devan menatap layar, melihat dirinya sendiri menggendong Keyla. Gadis kecil itu menatapny
Di dalam mobil yang membawa mereka keluar dari bandara, Rora duduk di kursi belakang, memeluk Keyla yang sudah mulai mengantuk. Kai duduk di sebelahnya."Ma," Kai berkata pelan. "Om itu... Om itu siapa?"Rora menatap keluar jendela. Gedung-gedung Jakarta mulai terlihat. Gedung-gedung yang lima tahun lalu ia tinggalkan."Mama juga tidak tahu," Rora mengulang."Tapi dia terlihat seperti mengenal mama."Rora tidak menjawab."Ma," Kai menekan. "Om itu... ayah kita?"Rora menoleh, menatap Kai. Mata anak laki-laki itu tajam. Terlalu tajam untuk anak berusia lima tahun."Kenapa kau bertanya itu?" Rora bertanya, suaranya pelan.Kai menatap Rora. "Karena... Om itu menatap Keyla seperti Papa menatap anak-anak di film."Rora merasa hatinya hancur. Ia memeluk Keyla lebih erat.Hatinya terasa hancur karena sejak lahir anaknya tidak pernah mengenal sosok ayahnya sama sekali, bahkan mereka tidak tahu siapa nama ayahnya, Rora sudah menutup semuanya dengan rapat. "Om itu bukan ayah kalian," Rora berk
Lima tahun telah berlalu, Rora memutuskan untuk kembali ke Jakarta karena urusan pekerjaan. kota yang lima tahun lalu ia tinggalkan dalam air mata dan keputusasaan."Ma, kita sudah sampai?" Keyla bertanya, wajahnya menempel di jendela sebelah Rora. Mata gadis kecil itu berbinar-binar. "Jakarta itu kota besar ya? Kayak di kartun?"Rora tersenyum, tapi senyumnya tidak mencapai matanya. "Iya, Sayang. Jakarta kota besar.""Apakah kita akan tinggal di sini?" Kai bertanya dari kursi di sebelahnya."Hanya beberapa minggu," Rora menjawab. "Kita kesini untuk kerja. Setelah selesai, kita pulang.""Tapi aku mau tinggal di sini!" Keyla merengek. "Aku mau lihat Monas.""Keyla," Kai berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet. "Kita tidak tinggal di sini. Mama sudah bilang.""Tapi Kakak nggak pernah mau main di luar.""Karena kamu berisik.""Kakak jahat.""Kalian berdua," Rora menegur pelan. "Jangan berantem. Kita sudah sampai."Pesawat mendarat dengan guncangan ringan. Penumpang mulai berdi







