Share

Chapter 4

Keira terbangun dengan kepala yang berdenyut-denyut. Sepertinya kemarin malam ia menangis sampai ketiduran. Hanya memejamkan mata beberapa jam, tidak heran kalau sekarang kepalanya seperti dipasangi kitiran. Harap-harap cemas, Keira melirik ke samping kanan tempat tidurnya. Masih serapi semula. Itu artinya sampai pagi ini, Panji belum juga kembali ke rumah. Keira beringsut dari ranjang menuju kamar mandi. Sudah waktunya untuk membersihkan diri. Saat mencuci muka dan menggosok gigi, ia memandangi cermin. Dan penampakannya di sana sangat mengenaskan. Pantulan cermin memperlihatkan seorang gadis kurus dengan kantong mata menghitam. Dengan cepat ia membersihkan diri dan siap-siap bekerja. Ia tidak ingin terlalu lama mengasihani diri sendiri. Apapun yang terjadi, hidup ini memang harus terus berjalan. Siap tidak siap, suka tidak suka, semua harus dijalaninya.

Saat ia melangkahkan kaki ke dapur untuk sarapan, suasana terasa begitu sepi. Biasanya pagi hari seperti inilah ia bisa bertegur sapa dengan suaminya secara wajar. Panji memang sangat berhati-hati dalam bersikap jikalau ada orang tuanya di sekitar mereka. Walaupun ia tahu bahwa sikap manis Panji itu hanyalah pencitraan semata, tetapi jujur, terselip rasa bahagia juga di hatinya.

"Silahkan dicicipi nasi gorengnya, Neng Keira. Ini ada ayam suwir, telur dadar dan kerupuk juga," Mbak Surti meletakkan menu-menu sarapan saat melihat nyonya mudanya datang. Ketika menatap mata sembab sang nyonya muda, Surti menjadi kasihan. Pasti nyonya mudanya ini menangis semalaman karena suaminya tidak pulang. Sebagai salah seorang penghuni rumah, sedikit banyak ia mengetahui permasalahan suami istri muda ini. Ia tahu bahwa tuan mudanya itu hanya bersikap baik pada nyonya mudanya jikalau di hadapan kedua orang tuanya. Apalagi dia lah yang selalu membereskan kamar tidur mereka. Dia pernah mendapati keteledoran nyonya mudanya beberapa kali. Ada guling yang sepertinya membatasi ranjang mereka berdua. Hanya saja, ia memilih untuk tutup mulut. Bagaimana pun ia hanyalah seorang pembantu.

"Mbak, Mas Panji belum pulang ya? Atau Mas Panji sudah pulang, tapi pergi lagi?" tanya Keira penuh harap. Surti menghela napas panjang. Dadanya sesak saat menatap sekeping harapan dari kedua bola mata nyonya mudanya. Ia tidak tega menghancurkan secuil harapan yang terbias dari wajah nyonya mudanya ini.

"Belum, Neng. Mas Panji belum kembali lagi ke rumah sejak kemarin pagi. Mbak permisi ke dapur dulu ya, Neng?" Surti buru-buru kembali ke dapur. Ia tidak tega melihat wajah kecewa bercampur kesedihan yang terlihat di raut wajah nyonya mudanya. Ia juga seorang istri. Ia sangat memahami perasaan nyonya mudanya saat ini.

"Eh Neng, Mbak lupa bilang kalau di depan ada tamu. Mau menemui Neng Keira katanya," ucap Mbak Surti. Keira menjinjitkan alis. Tamu? Siapa tamu yang berkunjung pagi-pagi seperti ini? Namun tak urung ia menganggukkan kepala. Ia mengatakan akan menemui tamunya setelah ia selesai sarapan. Keira melanjutkan sarapan paginya tanpa semangat. Ini adalah kali pertama suaminya tidak pulang sampai keesokan harinya. Biasanya jika tidak pulang pun, pagi harinya Panji pasti sudah muncul di kala sarapan pagi. Sepertinya kali ini suaminya mempunyai kegiatan yang lebih menarik semalaman. Setelah menghabiskan sarapan pagi, Keira menemui tamunya di ruang tamu. Sebelum berangkat kerja, sebaiknya ia menemui tamunya terlebih dahulu.

Saat melewati ruang tamu pandangannya tertumbuk pada seorang pria muda berjaket jeans sedang duduk di sofa. Si pemuda seketika berdiri saat melihat kehadirannya.

"Selamat pagi, Bu. Kenalkan, saya Robyn Yudistira, supir pribadi Ibu," si pemuda menyalami Keira sembari membungkukkan sedikit bahu lebarnya. "Tadi pagi Pak Panji telah menelepon saya dan meminta agar saya mengantar jemput Ibu, mulai hari ini. Bapak sedang sibuk dan banyak pekerjaan, katanya. Ibu mau berangkat bekerja sekarang?" tanya si pemuda sopan.

Lihatlah? Panji lebih memilih menghubungi supir pribadinya daripada istrinya sendiri. Sia-sia saja ia melirik ponselnya setiap detik semalaman dan sepagian. Berharap-harap cemas semoga suaminya menghubungi. Seseorang memang cenderung bodoh kalau sudah dibutakan oleh cinta. Ia adalah salah seorang contoh soalnya. Sudah tahu kalau suaminya itu tidak pernah menganggap keberadaannya, tapi ia masih terus berharap juga.

"Iya. Kita berangkat sekarang saja, Robyn. Tunggu sebentar ya? Saya akan mengambil tas saya di kamar dulu," Keira melanjutkan langkah menuju kamarnya. Si pemuda mengangguk dan bergegas berdiri saat melihatnya keluar dari kamar. Tanpa banyak bicara lagi mereka berdua berjalan ke arah ke garasi.

Di sepanjang perjalanan, suara hati Keira terus berperang. Antara ingin mempertahankan biduk rumah tangga atau melepaskan Panji dari ikatan yang tidak diinginkannya. Keira merasa kali ini Panji pasti tidak akan menolak permohonan perceraiannya. Tentu saja, mengingat ia telah mempunyai wanita lain yang menjadi sumber kebahagiaannya.

Jikalau melihat bahasa tubuh keduanya kemarin, sepertinya mereka sudah saling kenal cukup lama. Keira sangat mengenali karakter Panji. Panji itu tidak mudah dekat dengan orang-orang baru. Ia cenderung kaku dan rikuh. Melihat kedekatan keduanya kemarin, ia bisa menarik satu kesimpulan. Sepertinya Panji sudah berhubungan cukup lama dengan perempuan ini. Kenyamanan mereka satu sama lain, adalah buktinya. Sepertinya keputusannya kali ini sudah benar. Tekadnya semakin bulat saja. Ia akan mengutarakan niat yang sudah semalaman dipikirkannya pada ibunya sepulang bekerja nanti. Semoga saja ibunya bisa memahami keputusannya.

"Kita sudah sampai di rumah sakit, Bu," suara Robyn memutus lamunannya. Keira meraih tas dan bermaksud untuk membuka pintu mobil. Tapi ia keduluan oleh Robyn yang mengitari mobil dengan cepat, dan membukakan pintu mobilnya.

"Terima kasih ya, Robyn." Keira menyunggingkan seulas senyum pada supir barunya ini. "Sama-sama, Bu." Robyn balas tersenyum. Gigi putih bersihnya tersembul seperti iklan pasta gigi. Keira baru menyadari kalau supir barunya ini ternyata tampan sekali. Gaya berpakaian dan rambutnya juga sangat kekinian. Khas anak muda zaman sekarang. Robyn bahkan memakai subang di kedua telinganya. Ia lebih cocok menjadi bintang K-Pop daripada seorang supir.

"Maaf, Ibu nanti mau saya jemput jam berapa, ya?" tanya Robyn sopan.

"Tidak usah, Robyn. Nanti saya pulang sendiri saja. Saya ada sedikit keperluan." Robyn menggelengkan kepala. "Tidak bisa, Bu. Pak Panji berpesan kalau saya harus mengantar Ibu ke mana pun. Karena saya 'kan memang supir pribadi, Ibu," imbuhnya lagi.

"Baiklah. Kamu boleh menjemput saya, pukul empat sore nanti."

"Baik, Bu." Setelah Robin berlalu, Keira melanjutkan langkah ke loker. Kali ini ia tidak perlu terburu-buru. Masih ada waktu sekitar dua puluh menit lagi sebelum pergantian shift dimulai. Sepuluh menit kemudian ia telah menggunakan seragam perawatnya dengan rapi dan siap untuk bertugas. Ia berkaca sekali lagi untuk memastikan kalau penampilannya telah benar-benar sempurna.

Ia selalu bangga dengan seragam dan juga profesinya. Seragam yang ia pakai mungkin tidak semenarik seragam pramugari atau sekeren seragam POLWAN. Tapi, pakaiannya ini telah disumpah untuk melayani sesama tanpa membeda-bedakan garis keturunan maupun pangkat mereka. Jerih payahnya terbayar lunas saat melihat senyuman pasien kala mereka sembuh dan mengucapkan terima kasih. Pekerjaannya bukan hanya masalah uang. Tapi juga pengabdian.

"Ra, tebak deh, ada keajaiban dunia apa hari ini?" Marini masuk ke ruang ganti pakaian sembari menari dan berputar-putar dengan gembira. Sejurus kemudian ia mengeluarkan lipgloss dari saku dan memulaskannya berulang-ulang pada bibirnya. Padahal bibirnya masih merah dan berkilat-kilat seperti orang yang baru saja makan mie ayam.

"Ya mana gue tau, Rin. 'Kan gue juga baru dateng," Keira memasang satu jepit rambut lagi, saat ia merasa cepolan rambutnya sedikit longgar.

"Lo minggir dikit dong, Ra. Gue mau nambah bedak dikit lagi. Kurang kinclong muka gue, kayaknya." Marini kembali merogoh saku. Mengeluarkan sebuah bedak padat kemasan praktis.

"Nih ambil semua kacanya buat lo. Tumben banget lo ganjen bener hari ini, Rin?" Keira menyingkir dan memberikan cermin besar itu dipakai oleh Marini seorang. Marini menjentikkan jarinya hingga bersuara. Ia sungguh-sungguh terlihat gembira.

"Ini nih yang mau gue bilang sama lo soal keajaiban dunia," sahut Marini masih dengan senyum lebarnya. " Lo inget kan sama pasien lo yang kena begal beberapa hari lalu?" tukas Marini semangat. Keira mengangguk.

"Terus?" tanya Keira penasaran.

"Terus pelakunya baru aja ketangkep. Dan sekarang ada polisi nguanteng yang lagi nanya-nanya sama ibu korban begal itu di ruangannya. Lo tahu nggak Ra, ternyata polisi ganteng itu temennya Pak Rasya. Namanya Demitrio Atmanegara. Gantengnya nggak ketulungan, Ra. Gue sama anak-anak sampai panas dingin tadi." Marini mengibas-ngibaskan tangannya meniru kipas seolah-olah ia sedang kepanasan hebat. Berbanding terbalik dengan Marini yang begitu gembira karena bertemu dengan Demitrio, Keira malah gelisah setengah mati. Ia kenal dengan si Demitrio yang biasa di panggil dengan sebutan Rio ini. Kenal banget malahan. Semoga saja si Rio ini bisa secepatnya menyelesaikan tugasnya. Dengan begitu ia tidak perlu bertatap muka dengan salah satu pembullynya di masa lalu ini. Semoga.

"Ya udah lo nikmatin sono keajaiban dunia lo sebelum orangnya pada pulang. Siapa tahu jodoh lo sedang on the way menjemput tulang rusuknya," goda Keira yang seketika diamini berkali-kali oleh Marini.

"Semoga aja ya, Ra? Pasangan polisi dan perawat itu kan memang cucok meong banget. Siapa tahu kisah cinta kami nantinya kayak film lawas Pearl Harbour atau drakor Descendent Of The Sun?" Keira hanya tertawa saja. Setiap orang boleh punya harapan bukan? Masalah terkabul atau tidak, itu sih lain cerita.

Ya kurang lebih sama denganmu lah, Ra. Sudah tahu kenyataannya seperti apa, tapi kamu masih saja mengharap yang sebalikny. Kamu hidup, tapi bukan di hidupnya. Kamu bernafas tapi juga bukan dalam hembusannya. Itu pun kamu masih membodohi diri sendiri dan bilang, sabar ini ujian. Ngapain juga kamu ikut ujian kalau kamu tahu tidak akan pernah lulus? Orang bodoh memang cenderung nekad ya? Dan dirinyalah orang nekad dan bodoh itu.

***

Bell pasien di ruangan 301 menyala. Itu artinya pasien tersebut membutuhkan bantuan. Keira bergegas menghampiri ruangan pasien. Langkahnya terhenti saat berada tepat di pintu ruangan 301. Ia baru teringat bahwa ruangan itu adalah ruangan pasien wanita korban begal yang baru saja diceritakan oleh Marini tadi. Suara-suara beberapa orang yang berbicara dalam waktu yang bersamaan membuatnya semakin yakin bahwa ada Rio dan Rasya di dalam sana. Langkahnya makin berat saja saat harus memasuki ruangan yang sama dengan Rio.

Ia mempunyai cerita masa kecil yang buruk dengan Rio ini. Di sekolah mereka dulu, Rio kerap mengejeknya sebagai anak mantan napi. Di masa lalu, ibunya memang pernah di penjara karena mencelakai Tante Ochi. Ibunya bekerjasama dengan Tante Gina dan juga Tante Tari. Jauh sebelum itu, ibunya juga pernah mencelakai Tante Senja. Istri Pak Sabda, pemilik rumah sakit ini. Karena reputasi ibunya yang selalu bersinggungan dengan perbuatan yang melawan hukum, Rio selalu mengejeknya dengan sebutan anak napi. Belum lagi julukan pelakor yang kerap disematkan dengan nama ibunya. Rio makin menjadi-jadi saja mengejeknya. Rio selalu mengatakan bahwa darah yang mengalir di tubuhnya itu tidak ada bagus-bagusnya. Sudahlah anak pelakor eh, mantan napi pula. Darah kriminil pasti mengalir deras di setiap tetesnya.

Pikiran Keira kini bercabang. Antara ingin masuk dan melaksanakan tugasnya, atau meminta salah satu perawat lain untuk menggantikannya? Hanya saja kok rasa-rasanya ia jadi seperti anak kecil yang takut dengan momok masa kecilnya? Jika ia terus menghindar seperti ini, kapan ia bisa mendewasa dan melupakan semua kepahitan-kepahitannya? Menurut salah satu buku yang ia baca, cara terbaik melupakan kepahitan masa lalu adalah dengan dihadapi dan berani menerima kenyataan. Untuk itu mulai hati ini, ia akan belajar menerima kenyataan dan berkompromi dengan keadaan. Setelah cukup lama berkutat dengan pikirannya sendiri, Keira memegang handle pintu. Baiklah, ia akan belajar membantai naganya sendiri. Bismillahirrohmannirrohim. Keira dengan mantap membuka pintu bernomor 301. Benar saja. Ada Rio dan Rasya di sana.

Jangan gugup, Ra. Santai saja. Kamu bukan anak kecil lagi. Rio tidak akan bisa mengintimidasimu lagi. Tarik napas. Buang napas. Semuanya akan baik-baik saja, Ra.

"Selamat pagi, Bu. Tadi ibu menekan bell ya? Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Keira pada Bu Erna, si pasien korban begal.

"Bukan Ibu Erna yang menekan bell pasien tadi. Tapi saya," sebuah suara dalam menyahuti pertanyaannya.

"Woi, ada anak napi mendekat! Hati-hati ya teman-teman? Simpan kotak pensil dan barang-barang berharga kalian dengan baik. Silap mata, bisa hilang barang-barang kalian semua!"

Ingatan Keira melayang pada saat ia masih berseragam putih merah.

"Wuihhh... anak pelakor lewat euy! Bagi para cewek yang sudah jadian, atau baru saja mulai jadian, harap menjaga pasangan kalian masing-masing. Ada titisan pelakor yang lagi nyatronin mangsa kayaknya ini!"

Bayangan setiap ia akan ke kantin kala seragamnya sudah berganti putih biru, kini berseliweran di benaknya. Ia selalu ketakutan kalau ingin mengisi perut laparnya di kantin sekolah. Ada Rio dan teman-teman satu ganknya di sana. Mereka gemar mengejeknya tanpa jeda dalam seragam putih abu-abu mereka. Ternyata tidak mudah memang menghadapi trauma masa lalu. Saat ini saja, ia merasa seperti ada suara-suara tak kasat mata dan tangan-tangan yang menunjuk-nunjuk wajahnya. Ia sampai berkeringat dingin karenanya.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak polisi?" tanya Keira singkat. Telinganya terus berdenging. Situasi seperti ini membuatnya makin gelisah.

"Menurut kepala Unit Gawat Darurat, Andalah yang pertama sekali memberikan pertolongan pertama kepada pasien. Bisa Anda jelaskan mengenai luka-luka yang dialami oleh Ibu Erna saat pertama sekali Anda menanganinya?" Keira berusaha menenangkan debaran dadanya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Rio. Rio berbicara dalam bahasa formal. Berarti ia harus mengimbanginya dengan sikap formal juga.

Kamu sekarang sedang tugas, Ra. Tunjukkan profesionalitas dirimu.

"Ibu Erna mengalami beberapa luka sabetan akibat sajam di punggungnya. Ada daging tangan yang terkoyak juga. Kemungkinan besar Bu Erna berusaha menangkis sajam dengan cara menggenggamnya. Ada beberapa luka sayatan di lengan dan juga kepalanya," jawab Keira lancar sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

"Apakah dari luka-luka itu ada yang usianya lebih dari beberapa hari? Soalnya kami menerima laporan dari keluarganya, kalau Bu Erna ini juga mengalami KDRT dan laporannya sedang diproses," imbuh Rio lagi.

Ini rupanya penyebab lebam-lebam di tubuh pasien yang sudah berubah warna menjadi ungu kekuningan.

"Ada Pak Polisi. Di sebagian besar punggung dan dada Bu Erna, ada luka lebam yang usianya kira-kira lima atau paling lama seminggu yang lalu. Lebamnya sudah berubah warna menjadi ungu kekuningan."

"Baik. Terima kasih atas keterangan Anda. Saya tidak menyangka kalau anak mantan--"

"Cukup, Yo." Rasya yang sedari tadi diam, memotong kata-kata Rio. Tapi Keira sudah tahu kalau Rio ini ingin membullynya lagi. Beginilah nasib anak-anak yang orang tuanya bermasalah. Mereka yang tidak tahu apa-apa selalu dikait-kaitkan dengan dosa orang tuanya. Dosa warisan istilahnya.

"Elah, gue cuma bercanda kali, Sya."

"Tapi gue nggak ngeliat dia ketawa dengan candaan lo, Yo. It is not joke, Man. But a bully! Kata-kata lo itu bukan candaan, tapi penghinaan. Ada pasal-pasal yang mengatur tentang masalah perudungan. Gue dan lo tau banget tentang hal itu," tegas Rasya lagi. Keira melihat Rio terdiam. Ada keterkejutan di wajahnya. Keira mundur selangkah saat Rio mendekatinya.

"Oke, saya salah. Saya minta maaf. Melihat wajahmu, saya jadi terbawa suasana masa lalu yang menyenangkan."

"Tapi bagi saya masa-masa itu tidak menyenangkan. Sangat menyakitkan rasanya disalahkan atas sesuatu yang tidak pernah saya lakukan. Kalian semua menghancurkan saya pelan-pelan," bisik Keira sendu. Ia seperti masih bisa merasakan saat-saat penuh lukanya lagi. Meresapi semua kesedihan yang menggulungnya dari semua sisi. Dan ketika ia berkedip, air matanya jatuh membasahi kedua pipi.

Kedua pria gagah di depannya terdiam. Mereka seperti tidak tahu harus melakukan apa untuk menghapus wajah merana wanita yang berdiri tepat di hadapan mereka. Akan halnya Rio, ia sungguh menyesali kata-katanya tadi. Padahal ia hanya ingin menggoda Keira. Ia ingin mengatakan bahwa anak mantan napi bisa sesukses ini sekarang. Tapi saat melihat air bening yang terus membasahi pipi mulus Keira, hatinya tertohok. Rasya benar, kata-kata itu bukan candaan, tapi penghinaan.

"Saya minta maaf, Keira. Saya sungguh-sungguh minta maaf."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status