LOGIN"Wah, wah... lihat ini! Sugar dady-mu ternyata emosian juga ya, An!" cemooh Doni dengan suara sengaja dibesarkan agar menarik perhatian orang-orang di sekitar. "Kenapa? tersinggung karena aku bilang kalau wanitamu itu bekas pakai? Asal kamu tahu saja, bos besar, dia itu aslinya—"Bugh!Suara hantaman tinju yang keras memecah keheningan pagi, menghentikan kalimat—yang aku yakini kotor—yang hendak meluncur dari bibir Doni. Mahardika tidak lagi menahan diri. Kepalan tangan pria kepala empat itu mendarat telak di rahang Doni, membuat tubuh mantan suamiku tersebut terhuyung ke belakang dan tersungkur jatuh ke atas aspal jalanan. "Jangan pernah berani menyebut namanya dengan mulut kotormu itu!" desis Mahardika tajam, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. Pria itu melangkah maju, siap melayangkan pukulan kedua, sementara Doni meringis kesakitan sambil memegangi pipinya. Suasana pagi di depang warung mendadak riuh oleh beberapa orang yang lewat dan berhenti untuk menonton. Bu
Layar ponsel mendadak memamerkan sederetan pesan dari nomor tak dikenal. "Wah, wah, wah... ternyata apa yang dikatakan oleh ibuku ternyata benar ya! Hidupmu jadi enak bukan karena kesuksesan warung makanmu. Tapi karena kamu berhasil menguras harta bos travel itu.""Pakai dukun di mana kamu, An? Bagilah infonya! Jangan disimpan sendiri. Yang ingin kaya dengan cara instan kan bukan cuma kamu saja. Siapa tahu aku bisa menggaet adik perempun bos travel itu. Kan jadi saudara ipar kita! Memangnya kamu tidak merindukanku? Kalau iparan, kita jadi mudah bertemu.""Besok aku mampir ke warung ya. Beritahu aku siapa dukunnya. Pelet apa yang kamu gunakan. Tapi janji, kamu jangan melaporkanku ke polisi. Aku mampir cuma butuh tahu nama dukunnya saja kok."Aku hanya sanggup tertawa miris membaca semua pesan itu. Setelah sekian lama, dan aku yakin dia berhasil mendapatkan hati anak si pemilik bengkel—adik Maya—tapi kenapa dia masih saja perduli dengan kehidupan pribadiku?Sebagai penyintas yang pern
"Sekarang kamu mau ke mana? Urusanku sudah selesai. Sekarang waktunya untukmu. Pilihlah, kemana pun yang kamu mau, selagi bisa dijangkau, akan kuturuti," ucapnya penuh percaya diri. "Kemana ya, Pak. Saya nggak punya tujuan," ucapku jujur. Aku sudah lama sekali tidak pernahh mendatangi pusat perbelanjaan. Dulu, saat menjadi istrinya Doni, aku tidak diizinkan belanja baju di mall. Doni selalu mengingatkanku; "Semua baju yang kita beli nanti harus dipertanggung jawabkan di akhirat, An. Jadi janganlah kamu menumpuk pakaian di almari. Secukupnya saja. Jika ada yang tak layak, baru beli, dengan jumlah yang sama seperti yang tak layak pakai."Namun, jika kupikir-pikir lagi, hampir setiap minggu Doni selalu pulang dengan baju baru. Entah itu kemeja kerja, atau kaos untuk sehari-hari. "Ah, masa kegelapan itu, memang tak layak untuk diingat lagi," batinku.Mahardika sepertinya menyadari keheningan diriku. Pria itu menghentikan langkah, menoleh ke arahku dengan tatapan yang lembut. "Kalau begi
"Halo, Dik? di mana? ada kabar baru ini dari anak-anak. Bajingan itu berulah lagi. Rumah ibunya Rinjani diiklankan di market place, tapi nomor yang terpasang sebagai nara hubung nomornya si bajingan itu!" cicit Pak Surya dari ujung panggilan. "Kamu jual rumah ibumu, Rin?" tanya Mahardika, meminggirkan mobilnya ke salah satu minimarket yang sepertinya buka dua puluh empat jam. "Kamu sama Rinjani, Dik?" sahur Pak Surya dari ujung panggilan. "Malam, Pak," sapaku. "Kamu memang berniat menjual rumah ibumu, Rin?" tanya Pak Surya. "Enggak, Pak. Terakhir kali datang ke desa juga saya nggak ada ngomong apa-apa kok. Lagian, rumah ibuku itu dekat dengan sawah, di belakang rumah orang, kalau dijual paling harganya dibawah sepuluh juta, Pak," jawabku tegas. "Jadi sudah pasti kalau ini scam yang coba dilakukan oleh Doni itu ya? kamu mengizinkan aku untuk mengambil tindakan atau gimana?" tanya Pak Surya. Saat aku melihat ke arah ke Mahardika, laki-laki itu juga nampak sedang menungguku memberi
"Silakan. Waktu itu saya mungkin sudah pensiun jadi juragan warung.""Ya pasti. Kan nanti kamu jadi juragan travel! Iya, kan?""Kok bisa? siapa tahu saya malah sudah punya gelar almarhumah.""Hush! Bicaranya. No no ya. Tidak boleh begitu," ucap Mahardika. Jari telunjuknya digoyangkan ke kiri-kanan, seolah sedang mendidik balita. Obrolan-obrolan ringan, konyol, dan sesekali menggelitik semacam itu menjadi rutinitas baru yang mengisi hari-hariku. Mahardika tidak pernah menuntut lebih. Dia datang, duduk di kursi plastik sederhana, menemani dan melemparkan celetukan-celetukan khas bapak-bapak yang sukses membuat benteng pertahananku perlahan runtuh tanpa sisa.Dua hari kemudian, suasananya sedikit berbeda. Warung sedang ramai-ramainya didatangi pelanggan jam makan siang. Dua pekerja baru yang lolos seleksi berkat bantuan Mahardika tampak cekatan mengantar pesanan ke meja-meja.Aku sendiri sibuk mengetik pesanan di tablet kasir ketika Mahardika datang bersama dua orang pekerjanya—aku tahu
"Pak Dika? kok malam-malam ke sini? Ada barang yang ketinggalan?" tanyaku terkejut seraya berdiri dari kursi kayu. Mahardika melipat payungnya, menyandarkannya di sudut dinding teras. Pria itu mengenakan celana kain santai dan kaos berkerah warna abu-abu. Wajahnya tampak sedikit lelah, bisa jadi karena seharian bekerja, tetapi matanya memancarkan kehangatan."Kamu kan yang ketinggalan," jawabnya santai. "Bahaya perempuan cantik begini jalan sendirian di tengah hujan, malam-malam lagi.""Bahaya apa sih, Pak? lagian saya belum ingin pulang. Nunggu hujannya reda sedikit. Lagipula kontrakan saya dekat, tinggal jalan kaki lima belas menit. Kalau nggak memungkinkan, saya juga bisa menginap di warung, kan. Ada kamar di belakang."Mahardika mengernyitkan alisnya. "Terus kenapa sekarang malah duduk di teras begini? Nanti kalau masuk angin bagaimana? Otot pinggang saya saja yang tua ini langsung protes kalau kena gerimis sedikit, apalagi kamu."Aku tertawa kecil. "Saya masih dua puluh lima tah







