INICIAR SESIÓNPergumulan panas antara Amelia dan ketiga pengawalnya terus berlanjut. Bahkan mereka mencapai puncak klimaks hingga berkali-kali malam itu. Gatot, Wanto dan Rusdi berhenti menggumul tubuh Amelia setelah bos mereka itu benar-benar terkulai lemas. "A-a-aku udah nggak kuat lagi, rasanya vaginaku perih dan badanku lemes banget. Ngeh...."Amelia yang terkulai lemas di atas sofa itu berbicara dengan nada suaranya yang pelan dan tersengal-sengal. Wajahnya terlihat lesu, serta matanya menatap sayu. "Kita udahan sekarang, Bos? Nggak mau dilanjut lagi?" tanya Gatot seraya mengurut penisnya yang sudah lima kali crot di mulut serta tubuh Amelia. Crot terbanyak dalam hidupnya hanya dalam waktu semalam. Sejak tadi, penis itu dibuat bangun tidur, bangun dan tidur lagi. Tetapi ternyata, Gatot benar-benar tak kenal puas. Bahkan, jika Amelia masih ingin di genjot, batang kemaluan Gatot masih sanggup bekerja. Namun tampaknya, Amelia sudah benar-benar tidak berdaya lantaran energinya terkuras habis.
"Cepet isep punyaku sampe bersih!" Gatot berbicara sembari menempelkan batangan tegangnya yang berkedut kencang ke bibir Amelia dan memaksa wanita itu untuk membuka mulutnya. Amelia yang duduk di sofa dengan tubuh agak lemas dan kedua paha terbuka lebar itu hanya bisa pasrah saat Gatot menempelkan batang kemaluan itu ke bibirnya. Terpaksa, Amelia membuka mulutnya, membiarkan penis Gatot masuk dan menyemburkan benihnya yang hangat dan kental di sana. "Huek, huek...."Begitu Gatot menjejalkan batang kemaluannya dan menyemprotkan spermanya, mata Amelia seketika mendelik lebar. Bahkan wanita itu langsung merasakan mual, terbatuk-batuk dan memuntahkan cairan kental tersebut. "Telen semuanya, jangan di buang," kata Gatot masih dengan penisnya di mulut Amelia. Pria berbadan kekar itu tak memberikan jeda dan juga ampun. Meskipun Amelia sudah muntah-muntah, tetapi dia tetap tak menarik penisnya dan tetap memaksa bosnya itu untuk menelan semuanya. "Pelan-pelan aja, pastiin semuanya habis
"Astaga... help, jangan robek lubangku, Gatot!" Amelia yang belum pernah dimasuki oleh penis sebesar itu selain milik mantan suaminya yang ukurannya tidak memuaskan, spontan menjerit keras. Matanya membelalak, sedangkan mulutnya terbuka lebar. Dada wanita itu seketika bergemuruh hebat, membuat payudaranya yang besar ikut naik turun. Saat ini miliknya terasa begitu sesak dan amat penuh, bahkan agak sedikit sakit. "Duh... rasanya agak sakit, Tot. Punyaku rasanya sesak banget sekarang!" kata Amelia lagi. Tangannya yang semula menggenggam penis Rusdi dan Wanto, perlahan melemas lantaran sensasi sakit, sesak dan penuh akibat tusukan Gatot. "Saya diemin dulu di dalem biar Bu Bos rilex dan tenang. Nanti kalau udah tenang, bakal saya genjot pelan-pelan," kata Gatot. Menimpali perkataan Amelia dengan suara tertahan dan deru napas memburu. Amelia menggigit bibir, sedangkan kepalanya mengangguk pelan. Wajahnya memang terlihat agak sedikit lemas, tetapi tangannya kembali bergerak, meraih pen
"Buruan maju sini, Wanto. Biar aku isepin punyamu duluan kayak punya Gatot tadi. Setelah itu baru punya Rusdi!" Diminta untuk maju, cepat-cepat Wanto yang duduk di atas sofa sambil meremas-remas bongkahan payudara Amelia yang besar dan kenyal. Ia berdiri di atas sofa dengan posisi kaki sedikit ditekuk dan tubuh agak condong, menyejajarkan penisnya dengan kepala Wulan. "Beneran mau ngisep punya saya, Bos? I-i-ini seriusan?" tanya Wanto sambil mengurut-urut batang kemaluannya sendiri. Sedangkan wajahnya meringis menahan gejolak hasratnya yang justru membuat penisnya terasa lumayan nyeri. Tanpa menimpali perkataan Wanto yang sedikit gemetar dan tergagap, Amelia memalingkan wajahnya, menghadap pada batangan tegang pemuda sembilan belas tahun tersebut. Lalu, Amelia membuka mulutnya dan melahap batangan tumpul tersebut. Tangan kanannya berpegangan pada paha kurus Wanto, sedangkan yang kiri menggenggam batangan milik Rusdi. Plok, plok!Suara kocokan tangan Amelia dan juga decakan bibirn
Malam itu, Arga memulai kembali pekerjaannya sebagai bartender. Kehadirannya yang dinantikan para tante-tante kesepian nyatanya mengguncang klub malam milik Mira.Melihat banyaknya para tante-tante kesepian yang datang untuk sekadar minum-minum ataupun mencari berondong untuk memanjakan mereka yang datang, Arga meneguk ludah.Batin pemuda itu, ternyata koneksi hiburan malam itu cepat sekali kerjanya. Semula hanya ada beberapa wanita kesepian di sana. Tetapi semakin larut, para tante-tante sosialita semakin banyak dan memenuhi klub tersebut."Abang ganteng dari mana? Kok lama nggak kelihatan? Kita-kita selalu nungguin, lho!"Salah seorang wanita yang dulunya selalu datang saat Arga bekerja dan kerap memberikan tip, bertanya sembari menyodorkan gelasnya yang sudah kosong."Ada job di luar, Tante. Baru beres kemarin, makanya baru balik kerja di sini lagi!" jawab Arga dengan suaranya yang keras.Mendengar jawaban Arga dan juga senyuman manisnya, wanita itu ikut tersenyum. Lalu beranjak da
"Astaga, Gatot. Bisa-bisanya lu nyuruh Bu Bos nyepong batangan lu kayak gitu. Lu cari mati?!" Rusdi yang syok, langsung melontarkan perkataan pada temannya yang mengerang keenakan di depan sofa. Sedangkan Wanto yang paling muda di antara mereka, hanya bisa melongo dan menatap cengo. Bagian depan celananya langsung mengeras dan menonjol hanya dalam waktu yang kurang dari tiga puluh detik. Pemuda itu meringis, lalu meneguk ludahnya secara kasar berulang kali. "Buset, badannya Bu Bos mulus banget. Jadi kepingin nyobain gimana rasanya ngewong kayak Bang Gatot," kata Wanto dalam hati. Sebagai perjaka ting-ting, Wanto begitu penasaran ingin mencoba melakukan hubungan seks dan merasakan seperti ape sensasinya. Mendengar seruan Rusdi, Amelia dan Gatot sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Sepasang mata Gatot seketika mendelik lebar saat melihat keberadaan temannya. Rasa panik bercampur kaget seketika menguasai dirinya. Tetapi tidak dengan Amelia yang justru terlihat bias







