Home / Romansa Pria / Ajari Aku, Mbak Ipar! / 218. Ajari Aku, Mbak!

Share

218. Ajari Aku, Mbak!

Author: MoonCake
last update publish date: 2026-10-23 08:24:50
"Astaga, Gatot. Bisa-bisanya lu nyuruh Bu Bos nyepong batangan lu kayak gitu. Lu cari mati?!"

Rusdi yang syok, langsung melontarkan perkataan pada temannya yang mengerang keenakan di depan sofa.

Sedangkan Wanto yang paling muda di antara mereka, hanya bisa melongo dan menatap cengo. Bagian depan celananya langsung mengeras dan menonjol hanya dalam waktu yang kurang dari tiga puluh detik.

Pemuda itu meringis, lalu meneguk ludahnya secara kasar berulang kali.

"Buset, badannya Bu Bos mu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   218. Ajari Aku, Mbak!

    "Astaga, Gatot. Bisa-bisanya lu nyuruh Bu Bos nyepong batangan lu kayak gitu. Lu cari mati?!" Rusdi yang syok, langsung melontarkan perkataan pada temannya yang mengerang keenakan di depan sofa. Sedangkan Wanto yang paling muda di antara mereka, hanya bisa melongo dan menatap cengo. Bagian depan celananya langsung mengeras dan menonjol hanya dalam waktu yang kurang dari tiga puluh detik. Pemuda itu meringis, lalu meneguk ludahnya secara kasar berulang kali. "Buset, badannya Bu Bos mulus banget. Jadi kepingin nyobain gimana rasanya ngewong kayak Bang Gatot," kata Wanto dalam hati. Sebagai perjaka ting-ting, Wanto begitu penasaran ingin mencoba melakukan hubungan seks dan merasakan seperti ape sensasinya. Mendengar seruan Rusdi, Amelia dan Gatot sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Sepasang mata Gatot seketika mendelik lebar saat melihat keberadaan temannya. Rasa panik bercampur kaget seketika menguasai dirinya. Tetapi tidak dengan Amelia yang justru terlihat bias

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   217. Ajari Aku, Mbak!

    "Buka aja, sekalian aku mau lihat segede apa punya kamu!"Amelia yang kini nyaris telanjang bulat di atas sofa terlihat begitu penasaran dengan batangan berurat milik Gatot. Begitu pria berbadan kekar itu meminta izin untuk menanggalkan celananya, Amelia langsung setuju begitu saja.Bahkan, wanita bertubuh seksi dan berwajah cantik itu mengangkat kepalanya dan menatap Gatot yang berdiri sambil mengusap-usap tonjolan keras di balik celana jinsnya."Kalau gitu, saya nggak akan sungkan-sungkan, Bos!" kata Gatot yang sudah bernafsu sejak tadi.Pria berbadan kekar itu lantas membuka ikat pinggangnya dan membuka kancing serta menurunkan resleting celana jinsnya hingga lolos dari kedua kaki. Lalu disusul dengan celana dalam berwarna cokelat yang menjadi pembungkus terakhir batangan tegang Gatot.Begitu celana dalam tersebut dilepaskan, batang kemaluannya yang seketika menyembul dan tegang menantang di depan mata.Amelia menggigit ujung bibirnya. Sedangkan matanya menatap batang kemaluan Gato

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   216. Ajari Aku, Mbak!

    "Gatot, ayo dong jangan berhenti jilatnya. Basahin, bikin aku basah."Gatot yang duduk di lantai bawah sofa, tepat di depan selangkangan Amelia, tersenyum geli melihat majikannya menggila. Amelia yang biasanya sangat galak dan judes, kini justru memohon minta dipuaskan olehnya."Hajar, hajar selagi masih bisa, Tot. Anggap aja balas dendam karena dia udah sering bentak-bentak lu selama ini," kata Gatot dalam hati.Lalu tangannya yang menelusup ke paha bagian dalam Amelia, menarik celana dalam putih berenda yang dipakai oleh wanita itu.Srek!Dengan sekali tarikan yang lumayan kasar, celana dalam milik Amelia melorot hingga ke pangkal paha. Lalu, Gatot mengangkat kedua kaki wanita itu agak tinggi, hingga tampaklah vaginanya yang gundul tanpa bulu sedikit pun.Sepertinya, Amelia memang baru saja mencukur habis bulu kemaluannya.Gluk!Gatot meneguk ludah dengan amat kasar kala matanya melihat onggokan daging kecil yang diapit bibir apem tembemnya. Merah muda, sangat bersih, dan aroma khas

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   215. Ajari Aku, Mbak!

    "Nggak lihat kenapa? Payudaraku nggak menggoda dan nggak bikin kamu sange? Atau ... aku nggak cantik dan nggak menarik?!"Amelia yang duduk di atas sofa mengusap-usap payudara besarnya yang menyembul. Sedangkan matanya memindai penampilan anak buahnya dari ujung kaki hingga ke wajah. Lalu turun lagi dan berhenti tepat di area selangkangan yang ditutupi menggunakan dua tangan.Gluk!Diperhatikan oleh Amelia, pria berbadan kekar pemilik nama lengkap Gatot Subroto itu meneguk ludah. Tengkuknya terasa dingin, tetapi keringat jagung justru membasahi keningnya."Saya nggak menarik di mata kamu? Hmm!" Amelia kembali buka suara, membuat Gatot semakin gugup dibuatnya.Batin Gatot, apa yang harus ia katakan sekarang? Haruskah mengatakan jika ia tertarik pada tubuh bosnya itu? Tapi bagaimana jika ia malah dianggap cabul dan kurang ajar?Mengatakan tidak tertarik, itu artinya ia berbohong. Lalu, apa jadinya jika Amelia malah merasa tersinggung karena dianggap tak memiliki daya tarik?Kini Gatot b

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   214. Ajari Aku, Mbak!

    Di bagian dalam klub, tepatnya di ruangan pribadi Mira, di sanalah kini ia dan Arga berada.Arga tampak duduk santai di kursi seberang meja kerja Mira. Sedangkan Mira sendiri membuka sebotol minuman dan menuangnya ke dalam gelas. Lalu memberikannya pada Arga."Saya nggak mau minum!" kata Arga begitu Mira menyodorkan gelas berisi minuman beralkohol itu padanya.Pemuda itu langsung menolak dengan tegas. Tak ingin meneguk minuman beralkohol tersebut.Ditolak oleh Arga, Mira tersenyum kecil dan angguk-angguk kepala. Lalu duduk di kursinya, menikmati isi gelasnya seorang diri.Setelah apa yang terjadi, Mira benar-benar tak mau lagi mengusik Arga. Baginya, pemuda itu mau memaafkannya dan kembali bekerja di klubnya saja sudah menjadi sebuah keberuntungan yang besar."Oke, oke. Aku nggak bakal paksa kamu minum lagi," kata Mira. "Sekarang gini, aku ngajak kamu ke sini karena mau bahas soal gaji. Gajinya aku naikin dua juta dari gaji awal. Dan, di luar gaji, tip yang kamu dapat dari pelanggan a

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   213. Ajari Aku, Mbak!

    Setelah mendapat izin dari Wulan, Arga pun benar-benar mencoba kembali bekerja di klub malam milik Mira.Di sore menjelang malam hari tersebut, tepatnya pada pukul enam, Arga yang baru saja selesai mandi dan berpakaian rapi, bersiap untuk berangkat ke klub. Ia berpamitan pada Wulan yang sedang melipat pakaian di atas kasur."Aku berangkat sekarang ya, biar nggak kemaleman sampai klub. Tinggal di rumah tidurnya jangan malam-malam, dan kalau ada yang ketuk pintu jangan dibukain. Satu lagi, kalau ada apa-apa langsung telepon aku atau kabarin Dion, soalnya aku udah bilang ke dia kalau mulai malam ini aku bakalan kerja di klub!"Wulan yang dipamiti oleh Arga, mengangkat wajahnya dan mengangguk. Sedangkan bibirnya tersenyum kecil pada sang suami."Eum, iya. Kamu kerja aja yang tenang, aku bisa jaga diri kok!" kata Wulan dengan suaranya yang terdengar santai dan tenang."Aku bawa kunci cadangan biar nggak bangunin kamu. Jadi tidur aja yang nyenyak," lanjut Arga dan kembali direspons anggukan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status