Share

Bab 7: Istriku

Penulis: Duvessa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-03 02:44:31

“Pak Al manggil saya?” tanya Jerfi, sang asisten, sambil menyeimbangkan tablet di tangannya.

Alvano tidak segera menjawab. Fokusnya masih pada sosok Isvara yang tak jauh dari tempatnya berdiri, tapi dia segera tersadar. Dengan cepat, dia mengalihkan pandangannya ke Jerfi dan menggelengkan kepala.

“Lupakan,” jawab Alvano singkat, datar. Seolah baru saja menepis pikiran yang tidak seharusnya mengganggu.

Tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, Alvano kembali melangkah, kali ini menuju pusat acara.

Di sana, Dylan sudah berdiri, tampak santai sambil berbicara dengan beberapa tamu. Pria itu adalah pemilik acara sekaligus orang yang sampai beberapa waktu lalu, nyaris menjadi kakak iparnya.

Begitu melihat kedatangannya, Dylan tersenyum lebar dan menyambut dengan antusias.

“Akhirnya, calon adik iparku datang juga,” ujar Dylan sembari merentangkan tangan, seolah tak terjadi apa-apa.

Alvano hanya mengulas senyum tipis. Dingin. Tidak ada sapaan balik.

Mungkin Dylan belum tahu, tentang apa yang sudah adiknya perbuat.

Ketika akhirnya mereka larut dalam obrolan, Livia tiba-tiba datang. Dia langsung berdiri di hadapan Alvano dan Dylan, wajahnya dihiasi senyum cerah yang dibuat-buat.

“Kak, maaf aku telat. Tadi ada sedikit masalah sama gaunku, jadi aku harus ganti yang baru,” ucap Livia dengan nada manja. Bibirnya sedikit manyun, matanya sekilas melirik ke arah Alvano, mencari celah dan berharap sesuatu.

Alvano hanya menatap sekilas, sebelum kembali mengalihkan pandangan ke arah minuman di tangannya. Sikapnya dingin, tenang, terlalu terlatih untuk tidak meledak di depan umum.

“Gak telat kok,” jawab Dylan riang. “Oh iya, kalian ngobrol aja dulu. Aku harus cek booth sebelah, ada vendor yang baru datang. Liv, temenin dulu ya.”

“Dengan senang hati,” balas Livia cepat, suaranya naik setengah oktaf. Dia sudah mengambil alih situasi.

Begitu Dylan pergi, keheningan sempat tercipta. Livia melirik Alvano dari ujung mata, lalu berdehem pelan.

“Kamu marah sama aku?” tanya Livia, suara lirih, tetapi cukup terdengar.

Alvano meneguk sedikit minumannya, lalu menjawab datar, “Kenapa harus marah?”

“Al … soal yang kemarin itu …” Livia bergeser lebih dekat, jaraknya nyaris menyentuh lengan jas Alvano. “Itu semua gak bener. Aku sama sekali gak ada hubungan sama laki-laki itu, jadi mana mungkin aku sampai hamil.”

Alvano menatapnya sebentar. Matanya tajam, tetapi tak mengandung amarah, hanya dingin seperti permukaan kaca. “Aku gak peduli.”

Belum sempat Livia membalas, seorang waitress lewat membawa tray berisi gelas minuman. Salah satu gelas oleng saat seseorang tak sengaja menabrak pelan, dan….

PRANK!

Cairan berwarna bening langsung menyiram sebagian dada Livia.

“Astaga!” pekik Livia refleks.

Bagian atas gaunnya yang berpotongan open-shoulder dan berbahan satin kini tampak jelas basah. Kainnya melekat, memperlihatkan lebih dari seharusnya. Beberapa tamu melirik penasaran. Livia refleks memeluk tubuhnya sendiri, panik.

Beberapa orang yang ada di sekitar sana langsung menoleh terkejut.

Alvano mendesah pendek, lalu melepas jasnya dengan gerakan cepat. Tanpa bicara, ia menyampirkannya ke bahu Livia dan menariknya pelan agar menutup bagian depan tubuhnya.

“Pakai ini,” ucap Alvano pendek.

Livia menunduk, menerima jas itu dengan tangan gemetar. Ada rona malu sekaligus kemenangan samar di matanya. Ia bisa mencium aroma parfum Alvano dari jas itu.

“Terima kasih,” kata Livia pelan.

Pandangan semua orang seketika tampak berbinar, seolah sedang memperhatikan pasangan kebanggan mereka sedang bermesraan. Selama ini, publik memang tidak tahu pasti soal hubungan Alvano dan Livia, tetapi melihat kedekatan dan latar belakang keluarga mereka, banyak orang mendukung mereka untuk bersatu.

“Kamu harus ganti,” sahut Alvano tegas.

Livia menggigit bibirnya, lalu mengangguk kecil. “Kamu mau nemenin aku?”

Alvano menatapnya datar. “Tidak.”

Sementara itu, di sudut keramaian, sepasang mata Isvara menangkap pasangan tersebut. Telinganya jelas mendengar bisik-bisik para tamu yang mayoritas mengatakan bahwa apa yang dilakukan Alvano sangat manis, sangat mencerminkan pasangan sejati.

Mendengar itu, entah kenapa rasanya Isvara seolah merasa tak terima. Jika bisa, dia ingin berteriak, “Alvano itu suamiku! Lagipula Livia sedang hamil anak mantan pacarku!”

Namun, Isvara buru-buru menghapus perasaan aneh itu. Dia menggelengkan kepalanya cepat, seolah mengusir pikiran kecil itu.

Untuk apa juga dia melakukan itu?

Dia ‘kan hanya istri kontrak. Kenal dengan Alvano saja baru beberapa hari.

__

Beberapa jam kemudian, acara akhirnya usai. Isvara yang sejak tadi tak banyak bicara kini melangkah keluar dari hotel, menggenggam ponselnya sambil membuka aplikasi jadwal bus.

Isvara menghela napas kecil saat melihat jadwal berikutnya masih cukup lama. Namun, tidak masalah. Dia lebih memilih pulang naik kendaraan umum daripada ikut mobil kantor. Apalagi, dia kini tinggal di rumah Alvano. Akan terlalu mencolok, dan tidak nyaman, jika rekan-rekannya tahu dia pulang ke sebuah rumah mewah.

Langkahnya pelan, kepala menunduk, jemarinya sibuk menggulir layar ponsel. Dia menyeberangi area drop-off hotel menuju halte di seberang jalan, tanpa benar-benar memperhatikan sekitar.

Hingga … suara klakson melengking. Disusul seruan panik dari salah satu satpam hotel.

Kepalanya terangkat cepat. Matanya membelalak saat mendapati sebuah mobil hitam meluncur dari arah parkiran, terlalu cepat, terlalu dekat.

Tubuhnya menegang. Namun, sebelum dia sempat bergerak, sebuah tangan mencengkeram lengannya dan menariknya kuat ke sisi trotoar.

Isvara nyaris menabrak dada seseorang. Nafasnya tercekat. Aroma parfum maskulin langsung memenuhi inderanya.

Alvano.

"Aku ..." Suara Isvara nyaris tak keluar. "Aku nggak lihat jalan."

Alvano tidak langsung menjawab . Mata pria itu menatap wanita di hadapannya tenang tapi tajam, seolah sedang menilai kerusakan yang mungkin saja terjadi.

“Lain kali, simpan ponselmu saat berjalan,” ucap Alvano datar. Lalu, pelan, pria itu melepas genggaman tangannya.

Isvara menunduk, menggigit bibir bawahnya. Entah harus merasa bersalah, tersinggung, atau ... malu.

Pria itu kemudian menoleh sekilas ke arah parkiran.

“Kita pulang bersama saja.”

Belum sempat Isvara membalas, Alvano sudah lebih dulu melangkah, memberi isyarat agar dia mengikutinya.

__

Suasana dalam sedan hitam itu sunyi. Hanya terdengar deru mesin dan suara lalu lintas malam yang tembus samar dari luar.

Isvara duduk di kursi belakang, menyandar setengah hati, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Jaraknya dengan Alvano cukup lebar—sengaja diciptakan. Entah untuk menjaga sopan santun, atau sekadar refleks alami dari hubungan mereka yang tidak biasa.

Di kursi depan, Jefri menolehkan kepala melalui kaca spion tengah. Pandangannya menyapu kursi belakang dengan cepat, lalu kembali fokus ke jalan. Namun tak lama, matanya kembali naik ke spion, memandangi pantulan sosok wanita yang duduk di samping bosnya.

Jefri sudah lama bekerja bersama Alvano. Bukan sekadar asisten pribadi, dia adalah teman masa kecil Alvano, juga putra dari sopir keluarga Narendra yang dulu mengabdi bertahun-tahun pada ayah Alvano.

Jefri mengenal betul karakter pria itu: dingin, profesional, dan selalu menjaga jarak dari siapa pun. Selama ini, satu-satunya wanita yang pernah terlihat dekat dengannya hanyalah Livia.

Namun kini, seorang wanita asing duduk di kursi belakang bersama Alvano. Jelas bukan tamu biasa. Apalagi, ketika tadi Jerfi bertanya mereka akan ke mana, Alvano hanya menjawab satu kata, pulang.

Aneh, bukan? Memangnya wanita ini siapa, sampai-sampai Alvano membawanya pulang?

Dengan hati-hati, Jerfi memberanikan diri bertanya, “Maaf, Pak Al … ini siapa?”

Alvano tak langsung menjawab. Namun, tak butuh lama baginya untuk mengucapkan kata itu, tanpa sedikit pun intonasi.

“Istriku.”

Isvara terbelalak mendengar ucapan singkat Alvano.

‘Dia mengakuiku?’

Namun, belum sempat pikiran itu berkelana lebih jauh, tiba-tiba–

CIIIITT!!

Mobil mendadak berhenti. Alvano refleks mengulurkan tangan untuk menahan tubuh Isvara agar tidak terdorong ke depan. Gerakan itu spontan, cepat, tapi cukup kuat untuk menarik tubuh Isvara lebih dekat ke arahnya.

Dalam sekejap, mereka nyaris seperti orang yang saling berpelukan. Jarak di antara wajah mereka begitu tipis, hanya beberapa sentimeter.

Isvara sontak menatap ke atas dan langsung bertemu dengan mata Alvano. Tatapan dingin yang biasanya membuat orang segan, kini justru terasa membungkusnya dalam sesuatu yang aneh.

Deg!

Isvara tidak bergerak. Tidak juga menjauh. Seolah-olah waktu membeku hanya untuk mereka berdua.

Isvara bisa merasakan degup jantungnya menjadi lebih cepat, apalagi saat tatapannya turun ke bibir Alvano yang hanya sejengkal darinya—garis tegas dan tenang, tapi entah kenapa terlihat sangat menggoda dalam jarak sedekat ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
jangan terpesona duluan ah
goodnovel comment avatar
Mbak Nana
untung saja ketemu alvano kalau tidak tertabrak mobil lah isvana
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Akad Dadakan: Suami Penggantiku Ternyata Sultan   For my readers

    Akhirnya, ya … kata ‘tamat’ benar-benar sampai juga di kisah Alvano dan Isvara.Nggak nyangka perjalanan mereka sejauh ini, dari rasa asing, pernikahan mendadak, luka, sampai akhirnya mereka belajar lagi tentang arti pulang dan cinta yang nggak selalu manis tapi tetap nyata.Aku nulis kisah ini sambil ikut jatuh cinta, ikut marah, ikut nangis bareng mereka.Dan jujur, nggak akan sampai di titik ini tanpa kalian yang sabar ngikutin tiap babnya, yang ngasih semangat, lempar teori-teori seru, bahkan yang ikut gemas kalau Alvano kebablasan atau kesel sama keras kepalanya Isvara.Kalian bukan cuma pembaca, tapi juga bagian dari perjalanan mereka.Maaf kalau selama nulis masih banyak kekurangan. Entah di alur, di penulisan, atau hal-hal kecil yang mungkin terlewat. Aku masih belajar, dan setiap komentar, tawa, dan emosi kalian jadi bahan belajar paling berharga buat aku.Semoga setelah ini, setiap kali kalian dengar nama Isvara dan Alvano, yang kalian ingat bukan cuma kisah cinta dua orang d

  • Akad Dadakan: Suami Penggantiku Ternyata Sultan   Flashback

    Dua puluh lima tahun yang lalu.Lorong rumah sakit yang dingin. Lampu putih menyilaukan di atas kepala, suara roda ranjang dorong bergesekan di lantai, bercampur dengan bau antiseptik yang tajam.Di sudut lorong itu, seorang anak perempuan kecil duduk memeluk lututnya. Rok sekolahnya sobek, lututnya berdarah, tangannya gemetar.Isvara kecil menunduk, menahan isak. Dia baru saja jatuh ketika berlari menuju kantin, ingin membelikan teh untuk sang kakek yang sedang dirawat. Namun sekarang, tak ada yang tahu dia di sini. Sampai sepasang sepatu menghadapnya.Anak laki-laki sedikit lebih tua, rambutnya rapi, kemeja putihnya disetrika sempurna. Wajahnya bersih, tapi tatapannya tegas seperti orang dewasa kecil.“Ini buat nutup lukanya,” ucapnya pelan, sambil berjongkok dan mengeluarkan saputangan biru muda dari saku.Isvara tidak menjawab. Namun, anak itu tidak menyerah, dia menunduk, mengikatkan saputangan itu di lututnya, gerakannya hati-hati seperti takut menyakiti.“Udah, gini dulu. Nanti

  • Akad Dadakan: Suami Penggantiku Ternyata Sultan   Bab 350: Akhir Kisah

    Hari ini ulang tahun si kembar yang kedelapan. Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, rumah mereka tidak lagi dipenuhi balon, kue bertingkat, atau tawa tamu undangan. Tidak ada pesta besar, tidak ada dekorasi megah. Hanya pagi yang hangat, aroma roti panggang dari dapur, dan rencana kecil yang terasa jauh lebih bermakna.Isvara dan Alvano sepakat merayakannya dengan cara sederhana, yaitu mengunjungi panti asuhan yang selama ini rutin mereka bantu.Bukan untuk pamer kebahagiaan, bukan pula pamer kebaikan. Alvano hanya ingin anak-anaknya belajar satu hal yang tak bisa diajarkan di ruang kelas: rasa syukur.Di kursi belakang mobil, Avanil dan Avanira saling bersahutan menyanyikan lagu ulang tahun dengan versi mereka sendiri, sementara seorang bayi kecil berusia setahun duduk di pangkuan Isvara, yaitu Devantara, dengan pipi bulat dan rambut hitam tebal yang selalu berdiri di ubun-ubun.Sesekali Devantara menepuk-nepuk kursi depannya sambil berseru riang, “Daa-ddy!” membuat seluruh mob

  • Akad Dadakan: Suami Penggantiku Ternyata Sultan   Bab 349: Pemimpin Agung

    Devantara Lakshvara Narendra. Pemimpin agung yang berhati luhur, unggul dalam mencapai tujuan, dan membawa kejayaan bagi banyak orang.Nama itu sudah dipilih jauh sebelum hari ini, tapi baru terasa bermakna ketika tangisan pertama bayi itu pecah memenuhi ruang bersalin.Bayi laki-laki itu akhirnya lahir ke dunia pada pukul tiga dini hari, dalam pelukan hangat para perawat dan tatapan mata yang basah oleh air mata bahagia.Isvara masih terkulai lemah di ranjang rawat. Prosesnya memang melalui operasi sesar, tapi rasa sakit itu kalah jauh dibanding perasaan lega yang menggenang di dadanya saat mendengar tangisan anaknya sendiri untuk pertama kali.Di sisi lain ruangan, Alvano berdiri di dekat inkubator, ditemani si kembar yang masih memakai piyama. Keduanya tampak terpukau, menatap makhluk kecil yang baru beberapa jam hadir ke dunia mereka.“Lucu banget,” puji Avanira sambil menatap adiknya dari balik kaca. Tangannya sudah terangkat, ingin menyentuh.“Hei, jangan sembarangan pegang,” teg

  • Akad Dadakan: Suami Penggantiku Ternyata Sultan   Bab 348: Mangga Muda

    Jam hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Rumah sudah sunyi. Hanya satu lampu kamar yang masih menyala redup di sudut, menebar cahaya hangat di dinding.Isvara belum tidur. Dia menggeliat gelisah di tempat tidur, lalu duduk sambil memegangi perutnya yang kini memasuki minggu ke-lima belas.“Mas …,” panggilnya pelan.“Hm?” Dari sisi tempat tidur, terdengar suara bergumam setengah sadar. “Mas, aku mau mangga muda.”“Mangga?” Alvano masih separuh bermimpi. “Besok pagi aja, ya?”Isvara menggeleng, pelan tapi tegas. “Nggak mau. Maunya sekarang. Yang dari rumah Ibu. Yang masih di pohon belakang.”Mata Alvano langsung terbuka penuh. Dia menatap jam di nakas, lalu menatap istrinya yang duduk dengan ekspresi serius, terlalu serius untuk urusan mangga.“Sekarang? Tengah malam gini?” tanya Alvano memastikan.“Iya,” jawab Isvara ringan, seolah hal itu masuk akal sepenuhnya.“Ra, rumah Ibu itu tiga puluh menit dari sini.”“Tapi mangga yang di rumah Ibu rasanya beda, Mas,” rengek Isvara pelan s

  • Akad Dadakan: Suami Penggantiku Ternyata Sultan   Bab 347: Klarifikasi

    “Pak Alvano, saya bawa–”Suara Fajar langsung terputus. Wajahnya menegang, matanya membulat, dan tangannya masih menggenggam obat semprot serta perban. Untuk beberapa detik, tak ada yang bergerak, kecuali kelopak mata Fajar yang tampak ingin menutup sendiri.Isvara yang lebih dulu sadar langsung panik, menepuk-nepuk punggung Alvano. “Mas! Mas, cukup!”Alvano yang masih separuh menunduk, hanya bergumam pelan. “Kenapa, Cantik?”“Mas …” Isvara hampir tak bersuara. “Ada Fajar.”“Pak Al …,” suara Fajar kini serak, antara kaget dan berusaha tetap profesional. “Saya … ini obatnya …”Barulah Alvano menoleh. Seketika wajahnya memucat sebelum beralih menjadi senyum paling canggung yang bisa dia keluarkan.“Taruh aja di meja,” kata Alvano santai, seolah tidak terjadi apa-apa barusan.“Baik, Pak,” sahut Fajar cepat. Dia menaruh obat di meja kerja, menunduk dalam-dalam, lalu melangkah mundur dengan kecepatan nyaris lari.Dan sebelum pintu menutup, sempat terdengar desis pelan dari luar, “Astaga, ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status