Share

Bab 2

Author: Ellow_dikata
last update publish date: 2025-12-10 11:53:06

Satu minggu kemudian, aku akhirnya memutuskan untuk pulang ke kediaman keluarga.

Bukan karena aku ingin, tetapi karena rasa bersalah yang bukan milikku, rasa bersalah milik Andri, terus mendesak dari dalam tubuh ini, seolah menempel di setiap ruas tulang.

“Putraku, kamu pasti lelah. Istirahatlah dulu. Pestanya baru dimulai nanti malam. Sepupumu sudah beristirahat di kamar sebelah,” ujar Livia sambil membantu melepas jaketku.

Aku hanya mengangguk.

Yang kuinginkan hanyalah kesendirian, sebuah ruang sunyi untuk bersembunyi dari kehidupan yang bahkan bukan milikku.

Baru ketika malam tiba, aku keluar dari kamar.

Pesta keluarga itu persis seperti yang ada di ingatan ku beberapa tahun lalu, pesta tahunan keluarga Tanoshi, tempat para bangsawan Kota Soro memamerkan gelar, kekuasaan, dan kesempurnaan palsu mereka.

Semua ini tidak pernah berguna.

Tidak bagi Andri. Tidak juga untukku.

Aku menjauh dari kerumunan putra-putri bangsawan yang tersenyum dengan cara yang sama, terlalu anggun, terlalu terkendali, penuh perhitungan di balik setiap sapaan. Sementara aku… bahkan tidak yakin peran apa yang seharusnya kujalani dalam kehidupan baru ini.

Aku memilih duduk di sofa paling ujung, menyesap anggur yang rasanya hambar, jauh dari kualitas anggur yang biasa kuminum di dunia lamaku. Bukan karena buruk, tetapi karena kosong. Seperti segala hal yang kutemui sejak menempati tubuh ini.

Keheningan yang kutemukan di tengah keramaian justru terasa paling bising.

Tak lama kemudian, Maxwell muncul sambil membawa laptop. Ia duduk tepat di sampingku, seolah sofa itu tidak memiliki batas pribadi. Sulit menilai apakah ia benar-benar tak peka atau sengaja mengabaikannya, yang jelas, ia memecah ketenangan yang susah payah kupertahankan.

“Sepupu… besok kau masih tinggal di kediaman, kan? Temani aku urus pindah sekolah. Kamu lulusan SMA 1 Soro, bukan? Bantu aku,” katanya ceria.

Aku menatapnya dingin.

“Aku hanya sepupumu, bukan orang tuamu. Urus sendiri urusanmu. Aku sibuk dengan bisnisku.”

Maxwell hanya tertawa kecil, sama sekali tidak tersentuh oleh nadaku.

“Sepupu, kau tahu tidak kenapa aku pindah ke SMA 1 Kota Soro?”

Aku tetap diam.

Dalam pantulan mataku, wajah Maxwell sejenak berubah menjadi bayangan dua anak kembarku, anak-anak yang mungkin kini hidup lebih ringan tanpaku. Dunia mereka pasti lebih damai tanpa ayah yang… membunuh ibu mereka dengan tangannya sendiri.

Raiya.

Nama itu kembali menghantamku, menikam lebih dalam daripada pedang mana pun.

Aku menghela napas pelan.

“Apa aku perlu tahu?” gumamku tanpa menoleh.

Maxwell tidak memedulikannya. Ia membuka laptopnya, matanya berbinar penuh antusiasme kekanak-kanakan.

“Aku pindah ke sekolah itu karena melihat foto seorang gadis yang tinggal di kota ini,” katanya, suaranya naik satu oktaf. “Sangat cantik. Padahal fotonya blur. Tapi entah kenapa… aku langsung terpikat. Rasanya konyol, tapi aku benar-benar terpesona.”

Ia menoleh padaku, penuh harap.

“Sepupu, kau mau lihat fotonya?”

Aku berdiri tanpa menjawab, meninggalkannya dengan laptop terbuka.

Maxwell sempat memanggilku, namun ketika ia menoleh, aku sudah menghilang di antara kerumunan.

Ia hanya menghela napas, bukan kecewa, hanya… menerima.

Sepupunya memang selalu seperti itu. Dingin. Tidak tertarik pada apa pun. Dirinya benar benar berubah sejak usia dua belas tahun, seolah sebagian dirinya menghilang dan tidak pernah kembali.

---

Keesokan Paginya

Livia mengetuk pintu kamarku berkali-kali, memanggil, memohon, lalu akhirnya memaksa agar aku membantu Maxwell. Ketika aku tetap tidak membuka pintu, ia memerintahkan kepala pelayan mengambil kunci cadangan.

Tidak ada pilihan.

Akhirnya aku ikut mengantar sepupu bodohku itu ke sekolah lamaku.

Setibanya di sana, aku langsung menangani bagian administrasi, cepat dan efisien, lalu kembali ke mobil. Sisanya kubiarkan Maxwell urus sendiri.

---

Di Ruang Guru

Ruangan itu sunyi. Maxwell sedang mengerjakan ujian penentuan kelas, sementara Guru Weni mengawasi dari meja.

Beberapa menit kemudian, pintu diketuk perlahan.

“Masuk,” ucap Guru Weni.

Seorang siswi masuk. Langkahnya tenang, map tebal di tangannya.

“Raiya, ada perlu apa?” tanya Guru Weni.

“Saya mau mengumpulkan tugas teman-teman, Bu,” jawabnya sopan.

Maxwell langsung menoleh. Mata bocah itu membelalak.

“K-kamu… kamu gadis yang viral itu, kan?” katanya terbata.

Raiya menatapnya bingung.

“Viral apa? Kamu kenal aku?”

Guru Weni mendesah, memijit pelipis.

“Jangan-jangan kamu pindah ke sekolah ini gara-gara Raiya juga? Sama seperti beberapa anak sebelumnya?”

Maxwell mengangguk tanpa malu.

Guru Weni mendongak pasrah.

“Kalian ini… anak-anak kaya memang aneh.”

Ia menatap Raiya. “Kamu fokus saja mengejar beasiswa universitas. Jangan hiraukan anak laki-laki yang terus mengikutimu. Kalau kamu sudah sukses nanti, kamu bisa dapat yang lebih baik.”

Raiya tersenyum tipis.

“Baik, Bu.”

Ia keluar tanpa menoleh sedikit pun pada Maxwell.

Begitu pintu menutup, Maxwell bertanya lirih, “Bu… dia kelas berapa?”

“Raiya murid berprestasi. Kelas dua A1. Dan kelas itu sudah penuh,” jawab Guru Weni. “Kamu tidak bisa masuk.”

“Tidak ada cara lain?” Maxwell memohon.

“Tidak. Tapi kalau hanya ingin sering melihatnya, kelas dua A2 masih bisa. Itu kelas khusus untuk anak-anak bangsawan. Tapi tetap… untuk masuk, nilaimu harus minimal 90.”

Mendengar itu, Maxwell langsung menunduk, mengerjakan soal dengan keseriusan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.

---

Siang Hari

Setelah bel terakhir berbunyi, Raiya membereskan mejanya dan keluar lebih cepat dari siapa pun. Sudah menjadi kebiasaan. Ia harus bekerja paruh waktu di minimarket sekitar satu kilometer dari sekolah.

Para guru mengerti.

Mereka membiarkannya pergi dengan campuran rasa hormat dan kekhawatiran yang tak pernah mereka ucapkan.

Beberapa menit setelah Raiya menghilang di balik gerbang, hasil ujian Maxwell keluar.

93.

Angka tinggi yang jarang muncul dalam riwayat akademiknya.

Guru Weni mengangguk puas.

“Nilaimu cukup tinggi. Kamu bisa masuk kelas dua A2.”

Bagi kebanyakan siswa, kelas dua A2 hanyalah kelas bangsawan.

Tapi bagi Maxwell, itu berarti satu hal, ia akan berada tidak terlalu jauh dari gadis yang membuatnya pindah kota.

Wajahnya bersinar penuh kemenangan, seolah ia baru saja meraih sesuatu yang jauh lebih besar daripada nilai.

Di depan gerbang sekolah, sebuah mobil hitam terparkir rapi. Andri duduk di kursi belakang dengan laptop di pangkuan, fokus pada pekerjaannya hingga sesuatu di sisi kiri jendela menarik perhatiannya.

Sosok itu.

Begitu melihat gadis tersebut, tubuh Andri membeku. Napasnya tercekat seolah ditarik keluar dari paru-paru. Laptop di pangkuannya jatuh ke kursi tanpa suara, namun ia sama sekali tidak menyadarinya.

“Tuan muda, ada apa?” tanya sopir keluarga itu, menoleh melalui kaca spion dengan raut heran.

Andri tidak menjawab. Tatapannya terpaku pada gadis itu, Raiya, yang berjalan cepat melewati gerbang sekolah.

Ada kelelahan di wajahnya, tapi juga keteguhan yang sulit dijelaskan. Sesuatu dalam diri Andri merespons, bukan dengan pikiran… melainkan dengan naluri yang mengguncang.

“Tuan muda…?” panggil sang sopir sekali lagi, kini terdengar khawatir.

Andri tersentak, seolah baru saja ditarik kembali dari kedalaman pikirannya sendiri. Tanpa satu kata pun, ia membuka pintu mobil dan turun dengan tergesa.

Angin sore menyapu wajahnya, membuat matanya sedikit memerah. Namun bukan hanya angin yang membuatnya demikian.

Ada sesuatu yang pecah dalam dirinya, sesuatu yang selama ini ia kira telah mati.

Ia berjalan cepat, hampir berlari, mengikuti arah gadis itu pergi, seolah sedang mengejar sesuatu yang sangat berharga… sesuatu yang ia takut hilang sekali lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 48

    “Jalankan semuanya sesuai perintahku semalam,” ucap Andri dingin.“Baik, Tuan.”Kurang dari sepuluh menit kemudian, berita besar langsung memenuhi media sosial. Beberapa perusahaan milik keluarga siswa elit di sekolah itu mendadak diperiksa aparat pajak secara bersamaan. Nama-nama besar yang selama ini dikenal bersih mulai muncul dalam berita investigasi keuangan.Satu per satu pelanggaran pajak mereka dibongkar. Jumlah uang yang disembunyikan bahkan mencapai miliaran rupiah.Mereka adalah keluarga Shani dan beberapa siswa lain yang semalam ikut mengunci Raiya di kamar mandi sekolah.Saat bel masuk berbunyi, suasana kelas terasa aneh.Beberapa siswa duduk dengan wajah pucat sambil terus menatap ponsel. Ada yang menerima telepon berkali-kali dari rumah, ada pula yang langsung dipanggil wali kelas menuju ruang kepala sekolah bahkan sebelum ujian dimulai.Shani berdiri di dekat mejanya dengan tangan gemetar.“Ayah aku bilang perusahaan lagi diperiksa kantor pajak...” bisik salah satu tem

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 47

    Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Raiya keluar dengan rambut yang masih sedikit lembap dan seragam sekolah yang sudah rapi menempel di tubuhnya. Langkahnya melambat ketika aroma makanan memenuhi rumah yang sejak tadi terasa sunyi.Andri berdiri di dapur sambil mematikan kompor. Tangannya bergerak mengambil mangkuk dan piring dengan gerakan terbiasa, seperti rumah itu memang tempat tinggalnya sendiri sejak lama. Di atas meja makan sudah tersedia bubur jagung hangat, roti panggang, dan segelas susu yang masih mengepulkan uap tipis.Tadi pagi, setelah menjelaskan secara singkat tentang kejadian dirinya dan Raiya kepada ayah Raiya, Andri akhirnya mendapat izin untuk memasak di rumah itu. Setelah meminta sekretarisnya mengirim bahan makanan, Andri langsung masuk ke dapur tanpa menunggu bantuan siapa pun.Gerakannya berhenti saat melihat Raiya berdiri di depan pintu kamar mandi.“Raiya, sudah selesai?”Raiya mengangguk pelan.“Apa peru

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 46

    Ayah Raiya sudah menunggu di depan pintu rumah. Begitu melihat mobil Andri berhenti, ia langsung menggerakkan kursi rodanya mendekat dengan tergesa.Andri yang melihatnya segera membuka pintu mobil dengan hati-hati agar tidak membangunkan Raiya.“Paman...”“Andri, di mana Raiya? Bagaimana keadaannya?” tanya ayah Raiya tanpa menahan kekhawatirannya.Kaca mobil Andri yang gelap membuat bagian dalam tidak terlihat sama sekali dari luar. Ayah Raiya tidak bisa memastikan apa pun, selain berharap apa yang ia dengar nanti bukan kabar buruk.Andri mendekat. “Paman, Raiya ada di dalam. Dia sedang tidur. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, tapi yang pasti dia aman. Paman bisa tenang.”Ayah Raiya masih mencoba melihat ke dalam mobil, memastikan dengan matanya sendiri. Setelah beberapa detik, ia kembali menatap Andri dan mengangguk pelan."Aku akan membawanya masuk ke kamarnya, apa boleh? Dia sepertinya tidak tidur sejak sore hari, aku khawatir dia akan tidak nyaman jika dibangunkan sekarang."“

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 45

    Usai mengucapkan kalimat itu, Andri keluar dari ruang pemantauan CCTV. Ia bergerak menyusuri ruangan yang tidak masuk ke dalam pemantauan. Bawahannya segera mengikuti dan membantu Andri mencari.Gudang sekolah, kantin, dapur, tempat istirahat, halaman, tempat apa pun, Andri terus memanggil nama Raiya.“Raiya...” “Raiya...” “Kamu di mana...”SMA Kota Soro memiliki area yang sangat luas. Itu adalah SMA negeri yang menampung banyak anak keluarga bangsawan. Banyak sumbangan dari keluarga-keluarga besar, sehingga hampir setiap tahun selalu ada perluasan wilayah dan pembangunan gedung baru.Karena itu, untuk menemukan keberadaan Raiya, Andri dan orang-orangnya merasa cukup kesulitan.Saat jam menunjukkan pukul dua pagi, Andri selesai menyusuri semua tempat yang tidak masuk kedalam pemantauan CCTV. Namun, ia masih belum menemukan keberadaan Raiya.“Raiya...” panggilnya lagi.Tetap tidak ada jawaban.Setelah beberapa saat, Andri kembali melangkah menuju halaman terpencil di sekolah. Halaman i

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 44

    Tanpa bersantai, Andri langsung bergerak membuka laptopnya. Ia menyalin kode id ponsel Raiya yang baru. Di masa lalu ia sudah mencuri kode id ponselnya saat Raiya tak sadar.Layar menampilkan rangkaian proses yang berjalan cepat, baris demi baris data muncul dan berganti tanpa henti, sementara pandangannya tetap tertuju pada satu titik yang ia tunggu. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, karena sejak awal ia sudah tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana arah yang harus ia tuju. Dalam hitungan menit, hasil yang ia cari akhirnya muncul, sebuah titik lokasi yang seharusnya memberi jawaban, tetapi justru membuat keningnya mengeras.Ponsel itu terakhir aktif tujuh jam yang lalu.Andri tidak mengatakan apa pun, ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi bawahan miliknya yang pasti akan bergerak tanpa banyak bertanya.“Kirim orang ke sekolah. Cari Raiya. Sekarang.”“Baik, Tuan.”Di sisi lain di seberang telepon, Erwin yang baru saja terbangun langsung duduk tegak, matanya bahkan belum se

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 43

    Tengah malam tidak pernah terasa sepanjang ini sebelumnya.Di depan rumah kecil yang lampunya masih menyala redup, seorang pria paruh baya duduk di atas kursi rodanya, menghadap ke jalanan yang sudah lama sepi. Angin malam berhembus pelan, membawa udara dingin yang menusuk, tapi ia tidak bergeser sedikit pun dari posisinya. Tatapannya terus tertuju ke arah jalan, seolah setiap bayangan yang bergerak di kejauhan bisa berubah menjadi sosok yang ia tunggu.Wajahnya tidak lagi menyimpan ketenangan, kekhawatiran itu terpampang jelas di sana, tidak tersisa sedikit pun usaha untuk menyembunyikannya. Garis-garis di wajahnya terlihat lebih dalam malam ini.Ia sudah mencari, juga sudah mencoba semua cara yang dapat ia pikirkan. Toko tempat mereka bekerja sudah ia datangi lebih dulu, berharap Raiya masih ada di sana, mungkin tertahan pekerjaan atau sekadar lupa waktu. Namun yang ia temukan hanya pintu yang sudah terkunci dan lampu yang padam.Pria itu tidak menyerah, ia tidak berhenti bergerak

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 7

    Hari-hari berlalu dalam pola yang sama. Menjemput Maxwel… lalu sekalian melihat Raiya.Atau melihat Raiya… lalu sekalian menjemput Maxwel.Pada akhirnya, keduanya sama bagiku.Cuti kuliahku hampir berakhir. Sebentar lagi aku harus kembali ke Kota Adel untuk menyelesaikan proses pemindahan perusaha

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 6

    Aku bergerak lebih cepat daripada niatnya untuk menyerang.Tinju pertamaku menghantam rahangnya dengan suara berat, membuat kepala pria itu terpuntir kasar. Tubuhnya terhuyung, hampir jatuh, namun ia masih mencoba menebasku dengan belati. Gerakan refleks yang lebih didorong panik daripada teknik.A

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 5

    Kalau begitu…” ia menarik napas perlahan, “kasih nomor WeChat-mu saja. Nanti jika aku punya uang, akan aku transfer ke sana.”Permintaan itu terdengar biasa, tapi cara ia mengatakannya membuat udara di antara kami berubah. Nada suaranya datar, rapi, dingin, namun justru karena itu terasa lebih mem

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 4

    Setelah antrean mereda, aku mendekat.“Raiya,” panggilku pelan.Ia mengangkat wajah, terkejut sesaat. Namun seketika raut itu tertutup oleh sikap sopan santun seorang pegawai.“Tuan… ada yang bisa saya bantu?”Aku menatapnya lama, terlalu lama, mungkin.Ada ribuan kata yang berputar di kepala, teta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status