Partager

Akan Selalu Menjadi Milikku
Akan Selalu Menjadi Milikku
Auteur: Ellow_dikata

Bab 1

Auteur: Ellow_dikata
last update Date de publication: 2025-12-10 11:52:36

Aku berdiri memandang lautan gedung yang membentang di bawah sana lewat jendela kantor, perusahaan yang kudirikan diam-diam selama dua tahun terakhir. Kota ini terang, bising, dan hidup, tetapi bagiku semua itu tak lebih dari latar kosong yang terus saja kutatap dengan harapan yang sama, menemukan jejak Raiya, pasangan jiwaku di kehidupan sebelumnya.

Setiap kali menatap pemandangan ini, pikiranku selalu kembali pada titik yang sama, delapan tahun lalu, saat aku membuka mata bukan sebagai Tria, bangsa veromon berusia tujuh puluh lima tahun, melainkan sebagai seorang anak manusia bernama Andri Ardiyansah.

Tidak ada yang tahu bahwa pemilik tubuh ini telah tiada.

Tidak ada yang menyadari bahwa yang tinggal di dalam tubuh kecil ini adalah diriku, jiwa asing dari dunia yang jauh berbeda.

Hari itu, langit-langit putih pucat menyambutku. Bukan langit rumahku, bukan ruang tempatku seharusnya beristirahat setelah kematianku.

Dan yang membuatku benar-benar terguncang adalah tubuh yang kutinggali, kecil, ringan, dan rapuh. Jari-jari pendek, detak jantung cepat, detak seorang anak kecil, bukan pria dewasa yang telah melewati puluhan tahun hidup sebagai bangsa veromon.

Butuh waktu lama bagiku untuk dapat menerima bahwa aku terlahir kembali sebagai manusia.

Anak tunggal keluarga Tanoshi, keluarga kaya dan terpandang di Kota Soro.

Mereka memanggilku Andri.

Tapi aku tetaplah Tria.

Kehidupan lamaku masih membekas begitu jelas, kejayaanku sebagai pebisnis ulung, strategi-strategi yang kujalankan, dan terutama… Raiya.

Raiya.

Senyumnya yang hangat, polos, dan jujur, sesuatu yang tak pernah kutemukan di tengah banyaknya senyuman palsu dunia bisnis maupun klan veromon. Dialah satu-satunya tempat bagiku untuk pulang. Dialah yang membuat dunia keras itu terasa layak dijalani.

Dan aku ingat hari ketika aku kehilangan dirinya.

Saat ia melahirkan anak-anak kami, dengan senyum yang masih mencoba menenangkanku meski rasa sakit menyiksanya.

Saat tangis terakhirnya berubah menjadi permintaan yang mengikatku seumur hidup, "untuk menjaga anak-anak kami".

Ingatan itu selalu menghantam seperti badai yang tak kunjung reda.

Aku membesarkan mereka hingga dewasa, lalu memilih mati di samping makamnya, berharap dapat menyusulnya.

Namun dunia memberi lelucon kejam untukku.

Aku justru terbangun di tubuh manusia ini, di tempat yang bahkan aku tidak mengenal namanya.

Tahun-tahun awal setelah reinkarnasi itu berjalan gelap.

Setiap pagi aku bangun dengan harapan sederhana, semoga hari itu menjadi hari terakhirku.

Tapi tubuh ini terlalu muda. Terlalu sehat, dan keluarga Tanoshi terlalu mencintai anak ini tanpa syarat, tanpa mengetahui siapa yang sebenarnya mereka peluk.

Mereka memanggil psikolog, mengatur jadwal, menemaniku makan, bahkan hanya duduk tanpa berkata apa-apa. Semuanya mereka lakukan demi anak mereka, yang sebenarnya sudah tiada.

Aku menolak semuanya, karena dalam diriku hanya ada satu keinginan, mati, agar bisa memohon maaf pada Raiya.

Tapi setiap usahaku selalu digagalkan.

Hingga akhirnya mereka memasangkan kalung anti-kematian itu, alat kecil yang membuat pemakainya pingsan begitu memiliki niat menyakiti diri sendiri.

Saat pertama kali kalung itu menekan leherku, rasanya seperti kepala dihantam keras. Dunia gelap seketika. Dan ketika aku sadar, wajah-wajah penuh cemas itu kembali mengurungku.

Aku ingin berteriak, tetapi setiap kali berbicara, suara Andri yang keluar, lembut, rapuh.

Hingga akhirnya aku menyerah.

Aku terjebak hidup.

Namun di tengah keputusasaan itu, keajaiban kecil muncul.

Aku mulai memimpikan Raiya.

Awalnya hanya bayangan kabur.

Lalu wajah.

Lalu suara.

“Tria…”

Dia terus memanggil namaku, meski hanya satu kata, namun cukup untuk membuatku terbangun dengan air mata mengalir.

Sejak saat itu, aku percaya bahwa ia juga terlahir kembali. Bahwa ia ada di dunia ini. Bahwa aku hanya perlu menemukannya.

Untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi ini, aku ingin hidup.

Dan karena itulah saat ini aku berada di sini, di gedung yang kubangun dengan modal pengalamanku sebagai bangsa veromon di kehidupanku sebelumnya. Bisnis seperti ini bukan tantangan, hanya permainan kecil bagiku.

“Tuan…”

Suara Wamen memecah lamunanku, dia memanggilku dengan hati-hati.

Aku menoleh dan duduk kembali di kursi kerja milikku.

“Bagaimana hasilnya?” tanyaku datar.

Wamen menunduk, seperti menahan rasa bersalah.

“Tidak ada yang cocok dengan sketsanya, Tuan. Kami sudah menyisir semua kota besar, tapi belum ada satu pun wanita yang memenuhi ciri-ciri yang Anda berikan.”

Kata-katanya jatuh berat di dadaku.

“Cari lagi,” ujarku pelan namun tegas. “Kali ini lebih teliti.”

“Baik, Tuan.”

Ia keluar.

Ruangan kembali sunyi, menyisakan kehadiranku sendiri dan pikiran yang menghantamku tanpa ampun.

“Raiya…” bisikku pelan. “Jika kau ada di dunia ini, kenapa aku belum juga menemukanmu? Jangan bersembunyi terlalu jauh. Aku… merindukanmu.”

Tidak ada jawaban.

Hanya ada kesunyian yang sengaja aku ciptakan.

Setelah beberapa saat, ponselku bergetar, memutus keheningan itu. Nama yang muncul membuatku terdiam.

Livia.

Ibu dari tubuh ini.

Aku mengangkat panggilannya.

“Ada apa?”

Suara lembut terdengar, penuh rindu yang tak pernah kuminta.

“Sayang… minggu depan pulang, ya? Sudah dua tahun kamu tidak pulang. Kami semua merindukanmu.”

Ada jeda kecil sebelum ia melanjutkan, ragu namun berharap.

“Kami akan mengadakan pesta keluarga. Dan… Maxwell keponakan ibu yang sering menghabiskan waktu denganmu waktu kecil, akan pindah dari Kota Derrik ke Kota Soro. Dia akan tinggal bersama kami selama masa SMA-nya. Kamu masih ingat dia, kan?”

“Bisnisku sedang sibuk,” jawabku datar. “Aku tidak punya waktu mengurus anak kecil.”

Di seberang, Livia terdiam sejenak sebelum menarik napas panjang.

“Sayang… kamu sudah punya bisnis keluarga. Keluarga Tanoshi akan menjadi milikmu nanti. Kamu tidak perlu membuat bisnis baru. Saat kamu memperoleh gelar doktoralmu, semuanya akan otomatis berpindah ke tanganmu.”

Nada suaranya melembut, tapi ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Bukan sekadar soal Maxwell. Ada hal lain yang sejak tadi mengganggunya.

Aku tidak langsung menanggapi. Aku tahu kekhawatiran itu bukan hal baru.

Livia memang tidak pernah benar-benar dekat dengan Andri. Sejak kecil, Andri lebih banyak diasuh oleh pengasuh keluarga, sementara Livia masih meraba-raba perannya sebagai ibu.

Andri tumbuh menjadi anak yang pendiam, terlalu pendiam, hingga membuat siapa pun di rumah, termasuk ayahnya sendiri, segan untuk mendekatinya.

Meski begitu, Livia tetap mencoba, betapa pun canggung atau keras usahanya kadang terdengar. Aku tahu… di balik semua itu, ada ketakutan besar yang ia sembunyikan.

“Pokoknya ibu tidak mau tahu,” katanya akhirnya. Suaranya berusaha tegas, tetapi getaran halus di ujung mengkhianati hasilnya. “Minggu depan kamu pulang. Kalau tidak, ibu akan datang sendiri ke universitasmu dan mencarimu sambil meneriakkan namamu.”

Ancaman itu terdengar kekanak-kanakan, namun di baliknya tersimpan kecemasan yang sangat nyata, kecemasan seorang ibu yang sudah lama tidak melihat anaknya.

Aku tidak menjawab. Tidak ada kalimat yang perlu diucapkan.

Tanpa suara, kuusap layar ponsel, ku akhiri panggilan itu. Setelahnya, perangkat itu kupadamkan sepenuhnya, aku tidak ingin mendengar apa pun lagi hari ini.

Keheningan turun perlahan, menyelimuti ruangan seperti selimut dingin. Menekan dadaku lebih berat daripada sebelumnya, seolah seluruh dunia menunggu aku mengambil napas… tapi aku tidak ingin melakukannya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Melia Ruzana
semangat up ceritanya kakk
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 48

    “Jalankan semuanya sesuai perintahku semalam,” ucap Andri dingin.“Baik, Tuan.”Kurang dari sepuluh menit kemudian, berita besar langsung memenuhi media sosial. Beberapa perusahaan milik keluarga siswa elit di sekolah itu mendadak diperiksa aparat pajak secara bersamaan. Nama-nama besar yang selama ini dikenal bersih mulai muncul dalam berita investigasi keuangan.Satu per satu pelanggaran pajak mereka dibongkar. Jumlah uang yang disembunyikan bahkan mencapai miliaran rupiah.Mereka adalah keluarga Shani dan beberapa siswa lain yang semalam ikut mengunci Raiya di kamar mandi sekolah.Saat bel masuk berbunyi, suasana kelas terasa aneh.Beberapa siswa duduk dengan wajah pucat sambil terus menatap ponsel. Ada yang menerima telepon berkali-kali dari rumah, ada pula yang langsung dipanggil wali kelas menuju ruang kepala sekolah bahkan sebelum ujian dimulai.Shani berdiri di dekat mejanya dengan tangan gemetar.“Ayah aku bilang perusahaan lagi diperiksa kantor pajak...” bisik salah satu tem

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 47

    Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Raiya keluar dengan rambut yang masih sedikit lembap dan seragam sekolah yang sudah rapi menempel di tubuhnya. Langkahnya melambat ketika aroma makanan memenuhi rumah yang sejak tadi terasa sunyi.Andri berdiri di dapur sambil mematikan kompor. Tangannya bergerak mengambil mangkuk dan piring dengan gerakan terbiasa, seperti rumah itu memang tempat tinggalnya sendiri sejak lama. Di atas meja makan sudah tersedia bubur jagung hangat, roti panggang, dan segelas susu yang masih mengepulkan uap tipis.Tadi pagi, setelah menjelaskan secara singkat tentang kejadian dirinya dan Raiya kepada ayah Raiya, Andri akhirnya mendapat izin untuk memasak di rumah itu. Setelah meminta sekretarisnya mengirim bahan makanan, Andri langsung masuk ke dapur tanpa menunggu bantuan siapa pun.Gerakannya berhenti saat melihat Raiya berdiri di depan pintu kamar mandi.“Raiya, sudah selesai?”Raiya mengangguk pelan.“Apa peru

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 46

    Ayah Raiya sudah menunggu di depan pintu rumah. Begitu melihat mobil Andri berhenti, ia langsung menggerakkan kursi rodanya mendekat dengan tergesa.Andri yang melihatnya segera membuka pintu mobil dengan hati-hati agar tidak membangunkan Raiya.“Paman...”“Andri, di mana Raiya? Bagaimana keadaannya?” tanya ayah Raiya tanpa menahan kekhawatirannya.Kaca mobil Andri yang gelap membuat bagian dalam tidak terlihat sama sekali dari luar. Ayah Raiya tidak bisa memastikan apa pun, selain berharap apa yang ia dengar nanti bukan kabar buruk.Andri mendekat. “Paman, Raiya ada di dalam. Dia sedang tidur. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, tapi yang pasti dia aman. Paman bisa tenang.”Ayah Raiya masih mencoba melihat ke dalam mobil, memastikan dengan matanya sendiri. Setelah beberapa detik, ia kembali menatap Andri dan mengangguk pelan."Aku akan membawanya masuk ke kamarnya, apa boleh? Dia sepertinya tidak tidur sejak sore hari, aku khawatir dia akan tidak nyaman jika dibangunkan sekarang."“

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 45

    Usai mengucapkan kalimat itu, Andri keluar dari ruang pemantauan CCTV. Ia bergerak menyusuri ruangan yang tidak masuk ke dalam pemantauan. Bawahannya segera mengikuti dan membantu Andri mencari.Gudang sekolah, kantin, dapur, tempat istirahat, halaman, tempat apa pun, Andri terus memanggil nama Raiya.“Raiya...” “Raiya...” “Kamu di mana...”SMA Kota Soro memiliki area yang sangat luas. Itu adalah SMA negeri yang menampung banyak anak keluarga bangsawan. Banyak sumbangan dari keluarga-keluarga besar, sehingga hampir setiap tahun selalu ada perluasan wilayah dan pembangunan gedung baru.Karena itu, untuk menemukan keberadaan Raiya, Andri dan orang-orangnya merasa cukup kesulitan.Saat jam menunjukkan pukul dua pagi, Andri selesai menyusuri semua tempat yang tidak masuk kedalam pemantauan CCTV. Namun, ia masih belum menemukan keberadaan Raiya.“Raiya...” panggilnya lagi.Tetap tidak ada jawaban.Setelah beberapa saat, Andri kembali melangkah menuju halaman terpencil di sekolah. Halaman i

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 44

    Tanpa bersantai, Andri langsung bergerak membuka laptopnya. Ia menyalin kode id ponsel Raiya yang baru. Di masa lalu ia sudah mencuri kode id ponselnya saat Raiya tak sadar.Layar menampilkan rangkaian proses yang berjalan cepat, baris demi baris data muncul dan berganti tanpa henti, sementara pandangannya tetap tertuju pada satu titik yang ia tunggu. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, karena sejak awal ia sudah tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana arah yang harus ia tuju. Dalam hitungan menit, hasil yang ia cari akhirnya muncul, sebuah titik lokasi yang seharusnya memberi jawaban, tetapi justru membuat keningnya mengeras.Ponsel itu terakhir aktif tujuh jam yang lalu.Andri tidak mengatakan apa pun, ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi bawahan miliknya yang pasti akan bergerak tanpa banyak bertanya.“Kirim orang ke sekolah. Cari Raiya. Sekarang.”“Baik, Tuan.”Di sisi lain di seberang telepon, Erwin yang baru saja terbangun langsung duduk tegak, matanya bahkan belum se

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 43

    Tengah malam tidak pernah terasa sepanjang ini sebelumnya.Di depan rumah kecil yang lampunya masih menyala redup, seorang pria paruh baya duduk di atas kursi rodanya, menghadap ke jalanan yang sudah lama sepi. Angin malam berhembus pelan, membawa udara dingin yang menusuk, tapi ia tidak bergeser sedikit pun dari posisinya. Tatapannya terus tertuju ke arah jalan, seolah setiap bayangan yang bergerak di kejauhan bisa berubah menjadi sosok yang ia tunggu.Wajahnya tidak lagi menyimpan ketenangan, kekhawatiran itu terpampang jelas di sana, tidak tersisa sedikit pun usaha untuk menyembunyikannya. Garis-garis di wajahnya terlihat lebih dalam malam ini.Ia sudah mencari, juga sudah mencoba semua cara yang dapat ia pikirkan. Toko tempat mereka bekerja sudah ia datangi lebih dulu, berharap Raiya masih ada di sana, mungkin tertahan pekerjaan atau sekadar lupa waktu. Namun yang ia temukan hanya pintu yang sudah terkunci dan lampu yang padam.Pria itu tidak menyerah, ia tidak berhenti bergerak

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 7

    Hari-hari berlalu dalam pola yang sama. Menjemput Maxwel… lalu sekalian melihat Raiya.Atau melihat Raiya… lalu sekalian menjemput Maxwel.Pada akhirnya, keduanya sama bagiku.Cuti kuliahku hampir berakhir. Sebentar lagi aku harus kembali ke Kota Adel untuk menyelesaikan proses pemindahan perusaha

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 6

    Aku bergerak lebih cepat daripada niatnya untuk menyerang.Tinju pertamaku menghantam rahangnya dengan suara berat, membuat kepala pria itu terpuntir kasar. Tubuhnya terhuyung, hampir jatuh, namun ia masih mencoba menebasku dengan belati. Gerakan refleks yang lebih didorong panik daripada teknik.A

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 5

    Kalau begitu…” ia menarik napas perlahan, “kasih nomor WeChat-mu saja. Nanti jika aku punya uang, akan aku transfer ke sana.”Permintaan itu terdengar biasa, tapi cara ia mengatakannya membuat udara di antara kami berubah. Nada suaranya datar, rapi, dingin, namun justru karena itu terasa lebih mem

  • Akan Selalu Menjadi Milikku   Bab 4

    Setelah antrean mereda, aku mendekat.“Raiya,” panggilku pelan.Ia mengangkat wajah, terkejut sesaat. Namun seketika raut itu tertutup oleh sikap sopan santun seorang pegawai.“Tuan… ada yang bisa saya bantu?”Aku menatapnya lama, terlalu lama, mungkin.Ada ribuan kata yang berputar di kepala, teta

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status