LOGINMalam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah yang sedikit lembap. Lampu kuning di teras rumah menyala temaram, menciptakan bayangan samar di lantai. Fariz duduk santai di kursi kayu, satu tangannya memegang gelas teh hangat. Uapnya masih mengepul tipis. Suci duduk di sampingnya, membawa sepiring gorengan yang baru saja diangkat dari dapur. "Cape juga ngadepin anak yang telat puber, ya, Bu," celetuk Fariz sambil meniup tehnya pelan. "Udah seminggu, irit banget ngomongnya. Mana keluar cuma buat beol, salat sama mandi. Suram banget keliatannya." Suci tersenyum tipis. Dia menggigit gorengan, lalu mengunyah perlahan sebelum menjawab. "Nggak apa-apa, Pak. Lama-lama juga berlalu. Setiap orang butuh waktu," ucapnya lembut. "Mudah-mudahan aja patah hatinya nggak berlarut-larut." Fariz menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Menurutmu Faqih beneran nggak punya kesempatan?" Suci mengernyit. "Maksudnya?" "Ya itu. Bukannya sebelum janur melengku
Ketukan pintu terdengar pelan, tapi cukup untuk memaksa Salsa membuka mata. Cahaya matahari sore menembus tirai tipis, jatuh tepat di wajahnya. Hangat, tapi tidak nyaman. Dia terbangun dalam keadaan masih mengenakan mukena. Tubuhnya bersandar di lantai, beralaskan sajadah yang sedikit kusut. Entah sejak kapan dia tertidur di situ. Yang jelas, air mata yang sempat mengalir semalam masih meninggalkan jejak di pipinya. Tok. Tok. Ketukan itu terdengar lagi. Salsa menghela napas pelan, lalu bangkit. Kepalanya terasa berat. Matanya sembab. Tapi dia tetap berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, dia langsung membeku. "Mama?" Di hadapannya berdiri Sherly. Dengan penampilan rapi, wajah yang tenang, tapi sorot mata yang penuh perhatian. Salsa sedikit tertegun, lalu menyingkir memberi jalan. "Masuk, Ma." Sherly melangkah masuk. Pandangannya menyapu ruangan kecil itu. Rapi, tapi terasa dingin. Dia berhenti sejenak, lalu menoleh pada putrinya. Salsa berdiri kaku. Senyumn
Pintu kamar tertutup cukup keras.Faqih tidak benar-benar membantingnya, tapi cukup untuk membuat suara itu memantul di dalam ruangan yang sepi. Dia melangkah masuk tanpa menyalakan lampu, hanya mengandalkan cahaya temaram dari luar yang masuk lewat celah jendela.Tas selempangnya dilempar begitu saja ke sudut ruangan. Bunyi jatuhnya terdengar kasar. Tanpa melepas jaket, tanpa membuka sepatu, Faqih langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.Plafon kamar menjadi satu-satunya yang dia lihat. Putih, datar, dan kosong. Sama seperti kepalanya yang sekarang terasa penuh tapi tidak bisa dipahami. Napasnya berat. Dadanya naik turun tidak beraturan.Semua kejadian tadi berputar ulang tanpa jeda. Percakapan di masjid. Tawa yang terasa biasa. Kalimat sederhana yang tiba-tiba berubah jadi sesuatu yang menusuk. Lalu wajah Furqon. Lalu … Salsa.Nama itu seperti sengaja muncul di setiap sudut pikirannya."Dia sohib gue."Kalimat itu terngiang lagi. Ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri dengan begi
Sore itu halaman masjid dipenuhi aroma tanah basah. Hujan yang turun sejak siang baru saja reda, menyisakan genangan kecil di beberapa sudut. Langit masih mendung, berwarna abu-abu pucat, seolah menahan sisa air yang belum sempat jatuh.Faqih dan Furqon berdiri berdampingan di dekat tempat wudu, masing-masing memegang sapu lidi. Suara gesekan sapu dengan lantai yang masih lembap terdengar ritmis, berpadu dengan suara burung yang kembali keluar setelah hujan berhenti. "Udah berapa lama lo temenan sama Salsa, Qih?" Pertanyaan itu keluar begitu saja, ringan, seperti obrolan mereka biasanya. Faqih yang sedang menyapu berhenti. Dia menoleh pelan, matanya menyipit menatap Furqon. "Yakin lu nanya itu?" Dia menyeringai tipis. "Kok gue mencium bau-bau naksir dan minta dicomblangin." Furqon tertawa kecil. Bahunya naik turun. "Tumben lo peka." "Keliatan banget soalnya," sahut Faqih santai. Dia melempar sapu ke sudut tembok, lalu menepuk kedua tangannya. "Udah lah. Sini, duduk!" Merek
Sejak sore, Faqih sudah berdiri di depan cermin. Kemeja hitam polos diganti dengan cokelat muda yang dipatukan dengan angle pants berwarna cream. Jam tangan dipoles ulang. Rambut dirapikan untuk ketiga kalinya.Ia bahkan membuka kembali koper kecilnya dan mengeluarkan parfum yang jarang ia pakai, aroma maskulin lembut yang dulu sempat dipuji salah satu teman kampusnya.Beberapa semprotan. Lalu satu lagi. Sampai semerbak aromanya memenuhi kamar.Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Fariz berdiri di sana, bersandar santai sambil memerhatikan putra semata wayangnya dari ujung kepala sampai kaki.“Lu mau dateng ke acara keluarga atau ngapel, sih? Rapi bener kayak mau kondangan,” tanyanya.Faqih menoleh, lalu cekikikan. “Ah, biasanya aja ini mah, Pak."Fariz mendekat, mengendus udara dramatis. “Busyet ... Wangi amat lagi. Ini acara keluarga, Tong. Bukan interview calon mertua.”Faqih memutar mata. “Kayak yang nggak pernah muda aja. Pasti bapak juga kalau ke kondangan pakai poma
Pagi pertama Faqih kembali ke Lumajang terasa aneh. Udara masih sama. Jalanan menuju pesantren masih dilewati pedagang sayur dan anak-anak berseragam putih. Bahkan gerbang pesantren pun tidak banyak berubah.Namun, Faqih yang melangkah masuk bukan lagi remaja yang dulu berdiri petantang-petenteng di barisan wisuda.Ia datang sebagai alumni. Sebagai lelaki 26 tahun yang sudah melihat dunia yang lebih luas. Tentu saja ia lebih dewasa dan berwibawa.Beberapa santri perempuan yang kebetulan melintas melirik dua kali. Ada yang berbisik. Ada yang tersenyum malu-malu.Faqih pura-pura tidak sadar.Ia berjalan menuju kantor administrasi, berniat menemui salah satu ustaz lama. Hatinya sebenarnya tidak sepenuhnya tenang. Ada sesuatu yang membuatnya ingin datang hari itu—bukan sekadar silaturahmi.Saat melewati koridor dekat ruang kelas baru, ia mendengar suara yang membuat langkahnya berhenti.Suara itu tidak berubah. Tenang. Tegas. Dengan intonasi khas yang dulu sering memotong ucapannya.“Kala
Mesin meraung pelan, lampu kabin meredup, dan bayangan wajah-wajah yang ia tinggalkan masih berkelebat di kepalanya.Ia mencoba tidur.Tapi yang muncul justru kabar itu.Ainun sudah dilamar oleh lelaki yang dulu datang ke tahlilan kakeknya. Lelaki yang berdiri di samping Ainun dengan sikap tenang,
Bandara pagi itu lebih ramai dari biasanya. Troli berlalu-lalang, pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan, dan aroma kopi bercampur parfum mahal memenuhi udara. Di salah satu sudut ruang tunggu, empat anak muda berdiri berjejer. Masing-masing dengan koper, ransel, dan wajah yang berusaha terl
Hari wisuda akhirnya tiba.Pesantren Al-Huda dipenuhi wajah-wajah tegang bercampur bahagia. Spanduk besar terbentang di gerbang, suara pengeras mengalun dengan nada formal, dan para santri akhir berdiri rapi menunggu giliran dipanggil.Faqih berdiri di barisan tengah. Kokonya bersih, pecinya lurus,
Lumajang tidak lagi terasa seperti tempat singgah. Sejak Pak Ahmad jatuh sakit, rumah tua itu pelan-pelan kembali hidup. Fariz dan Suci memang pindah sementara—itu yang mereka katakan pada banyak orang. Tapi semakin hari, kata sementara mulai kehilangan maknanya. Ada kebiasaan yang tumbuh. Ada rut







