Share

Perjalanan Pulang

Author: Dwrite
last update publish date: 2023-01-20 09:36:02

"Yang pertama Candra, anaknya Pak Hilman, orangnya santun, S2 jurusan perguruan. Kalau yang kedua Damar, anaknya temen mancing Bapak, orangnya juga gampang bergaul, murah senyum dan taat juga agamanya. Kalau yang terakhir--" Terdapat jeda cukup panjang. Ibu memeriksa dengan saksama catatan yang ada di tangan, sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Kalau yang ini nggak, deh. Kayaknya kamu juga nggak bakalan suka. Katanya orangnya selengean, pernah masuk bui, langganan diuber polisi karena sering balapan liar, rambutnya gondrong dan brewokan, pokoknya beran--"

"Siapa tadi, Bu?" Interupsiku, memotong penjelasan Ibu, saat mendengar tentang tiga kandidat yang akhir-akhir ini datang melamar.

"Yang mana?" Ibu mengulang pertanyaan. "Candra atau Damar?"

Kini giliran aku yang menggeleng, karena dua nama yang dimaksud bukan orang yang membuatku penasaran.

"Yang terakhir, yang katanya slengean, rambut gondong dan brewokan. Siapa namanya?" ulangku meng-copy semua penjelasan ibu tentang kandidat terakhir. "Dia yang datang terakhir, kan?" Aku menambahkan.

"Nduk, kamu yakin?" Ibu mengulurkan tangan, lalu meremas pundakku.

"Suci udah janji sama diri sendiri, Bu. Kalau dalam kurun waktu setahun dia nggak datang, Suci bakal nerima siapa pun yang datang melamar."

"Tapi ibu nggak yakin Fariz--"

"Oh, jadi namanya Fariz."

Ibu menghela napas gusar, sebelum mengangguk pelan. "Ya, dia anaknya H. Jamal. Dulu beliau sekeluarga tinggal di daerah kita sebelum hijrah ke Jakarta, karena bisnis sawitnya sukses besar di Palembang."

"Bukannya anak Pak Jamal perempuan? Cuma itu yang pernah Suci denger. Sempet mau masuk ke pesantren sini juga, kan? Kalau nggak salah Bapak pernah cerita kita cuma selisih setahun."

Entah cuma perasaanku saja, atau tatapan Ibu memang berubah redup.

"Ya, namanya Farah, dia udah nikah dan punya anak sekarang. Dulu banget, kalian sering main bareng di kebun belakang."

Aku tersenyum getir. Lalu mengeluarkan ponsel yang tergeletak di sisi lain ranjang, membuka galeri dan menunjukkan pada Ibu potret keluarga yang kutemukan di sosial media setelah menyelam berkian lama untuk mencari petunjuk akan keberadaannya.

"Orangnya ini, kan? Keluarga H. Jamal dan Hj. Nurul. Farah, Mas Fariz, juga menantunya Mas Ali!"

Bola mata Ibu melebar.

"Nduk, dari mana kamu tahu?" Hati-hati pertanyaan itu terlontar.

"Dunia itu sempit, Buk. Keliatannya aja lebar. Serapat apa pun nyembunyiin bangkai, suatu saat pasti bakal kecium juga." Suaraku melemah, berubah parau. Entah sejak bayangan wajah Ibu bahkan sudah memburam oleh air mata yang menggenang.

"Suci ...." Ibu seolah tak bisa melanjutkan, dia tergugu sembari menarikku dalam dekapan erat.

"Sebenarnya dari lima tahun lalu Ibu dan Bapak udah tahu, kan? Tega banget kalian nyembunyiin fakta sebesar itu dan biarin anak kalian nunggu dalam ketidakpastian."

"Nduk. Saat itu Ibu sama Bapak cuma mau yang terbaik buat kamu. Lagian waktu itu kondisimu masih belum cukup untuk mengetahui kebenaran. Kita cuma takut kamu--"

"Nggak kuat iman," potongku cepat. "Kembali tenggelam, terus cari pelarian dengan menanggalkan akidah dan norma-norma agama yang tujuh tahun terakhir kalian cekokkan dengan iming-iming calon imam idaman."

"Astagfirullah, Nduk." Ibu merapatkan pelukan, sesekali mengelus kepalaku yang terlapisi jilbab instan.

"Nggak apa-apa. Ibu sama Bapak nggak salah. Suci yang salah karena menggantungkan harapan sebesar gunung pada manusia, bukannya pada Tuhan. Suci tahu, hijrah karena seseorang itu salah. Jadi, inilah konsekuensinya." Kulerai pelukan Ibu, lalu menyeka air mata dan tersenyum kecil ke arahnya. "Kasih tahu Bapak, suruh hubungi keluarga H. Jamal, bilang kalau Suci nerima lamaran Mas Fariz."

.

.

.

"Ci, hei, lu masih idup, kan?" Lambaian tangan yang berayun di hadapan sontak menarikku dari lamunan. "Eh, lu nangis, ya?" Mas Fariz menangkup wajahku, lalu menyeka cairan hangat yang entah sejak kapan lolos dari pelupuk mata.

Refleks aku menarik diri, lalu menggeleng pelan, sembari menurunkan kedua tangan besarnya. "Nggak apa-apa, Mas. Saya cuma agak sedih karena sebentar lagi bakal ninggalin Bapak, Ibu, juga tempat di mana saya dilahirkan," terangku tak sepenuhnya bohong.

"Oh, kirain. Tadinya mau gue cium biar sadar, tapi takutnya kena tampol." Dia menegakkan tubuhnya. Berdiri menjulang di hadapan yang membuatku harus mendongak tinggi saat menatapnya. Hal itu kulakukan bukan tanpa alasan, mengingat perbedaan tinggi kami yang bisa dibilang cukup jauh membentang. Bayangkan saja, dengan tinggi 162 sentimeter aku harus bersanding dengan Mas Fariz yang memiliki tinggi nyaris 190-an. Tinggi tubuh yang jelas sangat jarang bagi orang Indonesia kebanyakan. Tak heran memang, kebetulan H. Jamal dan Hj. Nurul juga memiliki tinggi di atas rata-rata. Apalagi mereka memiliki darah Pakistan.

Aku hanya tersenyum tipis untuk menanggapi.

"Oh, iya untuk sementara nanti kita tinggal sama Bokap-Nyokap gue, ya! Katanya sebelum gue bener-bener sadar mereka nggak ngizinin kita cuma tinggal berdua di salah satu rumah mereka yang lainnya. Agak ngeselin emang, beda sama Si Farah dan Si Ali yang udah dapet jatah rumah sebagai kado pernikahan."

Saat ini kami memang sedang packing untuk pindah ke kediaman keluarga Mas Fariz yang ada di Jakarta setelah kurang lebih dua hari tinggal di salah satu kontrakan milik Bapak, di daerah kami, Lumajang Jawa Timur.

Dengan kesepakatan bersama, akad dan resepsi memang diadakan di sini. Tak banyak kerabat dan keluarga Mas Fariz dari Jakarta maupun Palembang yang datang. Farah dan ... dia juga bahkan berhalangan hadir karena satu dan lain hal. Jujur, aku mensyukurinya. Jadi, di hari yang kata orang spesial tak ada alasan yang merusak mental.

Akhirnya, untuk pertama kalinya aku meninggalkan tempat di mana aku lahir dan dibesarkan, lalu tinggal di Pusat kota dengan status menikah.

"Iya, nggak apa-apa, Mas."

"Cakep. Sekarang mending pamitan dulu sama Ibu dan Bapak. Kangen-kangenan. Soalnya kita masih belum tahu kapan balik ke Lumanjang."

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Saat hendak beranjak dari ranjang tiba-tiba tubuhku limbung dan kembali terjatuh di sisi pembaringan.

"Kenapa?" Dengan panik Mas Fariz memeriksa keadaanku.

"Nggak apa-apa, kayaknya cuma efek belum sarapan."

"Kirain. Jangan bikin Mak-Bapak lu salah paham. Orang dua hari ini kita nggak ngapa-ngapain. Entar gue yang disalahin."

Aku terkekeh pelan, lalu kembali bangkit dibantunya perlahan.

***

Setelah menempuh 11 jam 15 menit perjalanan menggunakan Travel Bus. Akhirnya kami sampai di Jantung Kota Metropolitan. Kepadatan, panas, dan polusi udara menyambut kala Bus sampai di tempat pemberhentian terakhir.

Jdug!

"Aw."

Aku menoleh ke belakang saat melihat Mas Fariz mengaduh kesakitan sembari memegang kepalanya yang sekali lagi terbentur pintu keluar Bus.

"Bang, udah gue bilang pintunya kudu dilebarin. Kekecilan. Udah dua kali pala gue kepentok, nih," protesnya sembari melongokkan kepala ke dalam.

"Bukan pintunya yang kekecilan. Tapi, badan lo yang kegedean, Jamal," sahut sang sopir dengan santai.

"Jamal nama bapak gue, ya. Nggak usah sok akrab. Kita nggak kenal."

"Dih, dasar bocah prik. Dah, ah. Minggir sana! Jangan lupa digandeng adeknya. Entar ilang!"

"Ini bini gue, Setan!"

"Mas!" Kutarik tangan Mas Fariz sebelum sempat dia melompat kembali ke dalam, dan menghadang sopir Bus yang sejak tadi memang seolah sengaja menyulut emosinya. Sepanjang perjalanan pria paruh baya itu bahkan tak henti melontarkan berbagai pertanyaan yang menurutku tak etis. Mulai dari size sepatu, celana, sampai dalaman.

Mas Fariz menoleh padaku sejenak. Lalu menghela napas panjang.

"Lu selamet karena ada bini gue sekarang, Bang. Kalau enggak dah abis tuh muka gue hajar."

"Sialan. Gue kira mantan binaragawan, ternyata Kang Jagal!" gumam sang sopir dengan wajah pias.

"Apa lu bilang?"

"Nggak jadi." Bus itu pun tancap gas, masuk ke terminal. Meninggalkan kami dengan asap mengepul pekat yang tepat mengenai wajah Mas Fariz.

"Kampret ... inilah alasan gue benci naik kendaraan umum. Membago--" Ucapan Mas Fariz tiba-tiba terhenti. Dia mengusap tengkuk salah tingkah, padahal aku hanya menatap datar, sembari mencengkeram pergelangan tangannya.

"Canda, Ci. Lu nggak salah milih travel, kok. Gue yang salah. Iya, gue. Harusnya gue lempar aja tuh sopir sialan di jalan Tol Salatiga."

.

.

.

Bersambung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Ticha Sagita
assalamualaikum baru mulai baca semoga ceritanya nyaman sampe ahir
goodnovel comment avatar
dianrahmat
wkwkwkwk ...... smg asik terus sampe bab akhir ......
goodnovel comment avatar
Agus Seputarindo
mantap nih, Faris koplak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Hari Pernikahan

    Langit Jakarta masih berwarna pucat ketika rumah keluarga Salsa sudah dipenuhi orang. Suara langkah kaki, sapaan, dan arahan dari panitia keluarga bercampur menjadi satu. Aroma bunga melati dan mawar putih memenuhi ruangan, menguar lembut dari rangkaian dekorasi yang tersusun rapi di setiap sudut. Acara akad diselenggarakan di rumah dengan tamu terbatas, sementara puncak acara resepsi akan diadakan di hotel berbintang nanti. Semua tampak sempurna. Tapi tidak dengan hati seseorang yang berdiri di depan cermin. Salsa menatap pantulan dirinya. Gaun pengantin syar’i berwarna putih membalut tubuhnya dengan anggun. Renda-renda halus menjuntai dari lengan hingga ke ujung rok. Kerudung panjangnya terpasang rapi, dihiasi mahkota kecil yang sederhana namun elegan. Wajahnya dipoles tipis, cukup untuk mempertegas kecantikannya tanpa menghilangkan kesan lembut yang selama ini melekat. Dia tampak seperti pengantin yang sempurna. Tapi matanya ... tidak bisa berbohong. Ada gelisah yang bersemb

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Ego

    Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir sebelum hidupnya berubah.Di dalam kamar hotel yang cukup luas, lampu kuning redup menyinari satu set jas pengantin yang sudah tergelar rapi di atas kasur. Warna hitamnya terlihat elegan, lengkap dengan kemeja putih dan dasi yang sudah disiapkan dengan presisi. Sepatu mengilap tersusun di bawahnya, menunggu untuk dipakai. Semua tampak sempurna. Tapi lelaki yang berdiri di hadapannya justru tidak bergerak sedikit pun. Furqon berdiri dengan kedua tangan di saku celana. Pandangannya tertuju pada jas itu, tapi matanya seperti tidak benar-benar melihat. Kosong. "Saya sudah siapkan semuanya, Mas," ucap seorang pria di belakangnya dengan nada hati-hati. "Kalau mau dicoba dulu .…" Furqon tidak menjawab. Dia hanya menghela napas pelan. Lalu menggeleng. "Nanti aja, Ren." Jawabannya singkat. Asistennya itu terdiam sejenak, tidak berani memaksa. Dia tahu, hari ini bukan hari yang mudah bagi lelaki di depannya. Di luar sana, orang-orang mungki

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Berusaha

    Siang itu terasa panjang. Terlalu panjang untuk ditanggung oleh seseorang yang sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini adalah pilihan yang benar. Rumah keluarga Salsa dipenuhi kesibukan. Di ruang tengah, beberapa wanita sibuk menghitung souvenir satu per satu. Plastik transparan berisi gantungan kunci, kotak kecil berlapis pita, dan kartu ucapan tersebar di meja besar. Di sudut lain, ada yang sedang mencatat daftar kebutuhan, mencocokkan jumlah dengan pesanan. Suara mereka saling bertumpuk, sesekali diselingi tawa ringan yang terdengar wajar. Tapi bagi Salsa, semua itu terasa jauh. Dia duduk di kursi dekat jendela, tubuhnya sedikit menyandar, tangan bertumpu di pangkuan. Pandangannya kosong, menatap ke arah orang-orang yang bergerak tanpa benar-benar melihat. Pikirannya tidak di sana. Sejak kembali ke Jakarta, sejak kata "percepat" itu keluar dari mulutnya sendiri, sejak semua orang mulai bergerak lebih cepat dari biasanya, ada sesuatu di dalam dirinya yang jus

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Berubah

    Pintu rumah terbuka cukup keras. Langkah Salsa terdengar cepat memasuki ruang tengah. Wajahnya tegang, napasnya sedikit tersengal seolah dia baru saja menahan sesuatu yang berat sepanjang perjalanan. Bobby yang sedang duduk santai langsung menoleh. "Percepat pernikahannya!" Kalimat itu meluncur tanpa basa-basi dari mulut gadis itu. Bobby mengangkat alis. Sedikit terkejut, tapi lebih penasaran. "Wah, wah, wah. Ada apa nih tiba-tiba?" Salsa berdiri di hadapannya. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. "Nggak usah banyak tanya, Pa. Percepatan aja. Furqon juga pasti bersedia." Nada suaranya tegas. Hampir seperti perintah. Bobby menghela napas. Dia bersandar di sofa, menatap putrinya lebih dalam. "Bukan masalah itunya, anak muda, tapi .…" Salsa memotong cepat. "Selama dua puluh lima tahun ini Salsa nggak pernah minta apa-apa ...." Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia tahan. "Please." Satu kata itu terdengar lirih. Tapi cukup membuat suasana berubah. Bobby terdiam. Dia me

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Menyerah?

    Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah yang sedikit lembap. Lampu kuning di teras rumah menyala temaram, menciptakan bayangan samar di lantai. Fariz duduk santai di kursi kayu, satu tangannya memegang gelas teh hangat. Uapnya masih mengepul tipis. Suci duduk di sampingnya, membawa sepiring gorengan yang baru saja diangkat dari dapur. "Cape juga ngadepin anak yang telat puber, ya, Bu," celetuk Fariz sambil meniup tehnya pelan. "Udah seminggu, irit banget ngomongnya. Mana keluar cuma buat beol, salat sama mandi. Suram banget keliatannya." Suci tersenyum tipis. Dia menggigit gorengan, lalu mengunyah perlahan sebelum menjawab. "Nggak apa-apa, Pak. Lama-lama juga berlalu. Setiap orang butuh waktu," ucapnya lembut. "Mudah-mudahan aja patah hatinya nggak berlarut-larut." Fariz menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Menurutmu Faqih beneran nggak punya kesempatan?" Suci mengernyit. "Maksudnya?" "Ya itu. Bukannya sebelum janur melengku

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Risiko

    Ketukan pintu terdengar pelan, tapi cukup untuk memaksa Salsa membuka mata. Cahaya matahari sore menembus tirai tipis, jatuh tepat di wajahnya. Hangat, tapi tidak nyaman. Dia terbangun dalam keadaan masih mengenakan mukena. Tubuhnya bersandar di lantai, beralaskan sajadah yang sedikit kusut. Entah sejak kapan dia tertidur di situ. Yang jelas, air mata yang sempat mengalir semalam masih meninggalkan jejak di pipinya. Tok. Tok. Ketukan itu terdengar lagi. Salsa menghela napas pelan, lalu bangkit. Kepalanya terasa berat. Matanya sembab. Tapi dia tetap berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, dia langsung membeku. "Mama?" Di hadapannya berdiri Sherly. Dengan penampilan rapi, wajah yang tenang, tapi sorot mata yang penuh perhatian. Salsa sedikit tertegun, lalu menyingkir memberi jalan. "Masuk, Ma." Sherly melangkah masuk. Pandangannya menyapu ruangan kecil itu. Rapi, tapi terasa dingin. Dia berhenti sejenak, lalu menoleh pada putrinya. Salsa berdiri kaku. Senyumn

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Rumah yang Kehilangan

    Hujan turun tipis di pemakaman. Tidak deras, tidak pula benar-benar reda. Seperti duka yang menggantung di dada semua orang. Payung-payung hitam berjejer, langkah kaki tertahan lumpur, dan doa-doa mengalir pelan dari bibir para pelayat. Pak Ahmad dimakamkan dengan cara paling sederhana, tapi diha

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Touring berakhir Pusing

    “Meidei, meidei!”Suara Fariz menggema di HT kecil yang ia jepit di jaket riding-nya. Angin pegunungan menusuk sampai ke tulang, tapi gaya sok gagahnya tetap dipertahankan. Motor sewaan yang ia pakai meraung-raung kecil, seolah ikut protes kenapa harus dipaksa nanjak.Di ujung sana, suara Bobby ter

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Doa yang Menyertai

    "Assalamualaikum.""Waalaikumsallam."Faqih menyambut kedua sepupunya yang baru saja datang berkunjung. Dengan kaki yang tak lagi pincang, dia menuntun Akmal dan Hafiz masuk, lalu menjamu mereka seadanya karena kebetulan Suci memang ada jadwal mengisi materi akhir pekan ini."Om Fariz ke mana, Qih?" ta

  • Akibat Sumpah Sebelum Menikah   Pensiun Dini

    DiaperDynamo : Bangke! Ngetik begitu doang ampe setengah jam.SleepyRingleader : Sebenernya gue nggak sanggup melakukan ini (emot nangis)Winni Tiny Bunny : Dah, bubar-bubar! Susah kalau berhubungan sama Bavak-bavak bucin dan laperanSleepyRingleader : Diem lu, Terong! Makanya kawin, biar tahu enaknya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status