เข้าสู่ระบบ"Astagfirullahaladzim." Kulihat Mas Fariz putar balik ke kamar mandi sembari mengalihkan pandangan saat melihatku telentang di atas ranjang dengan pakaian kekurangan bahan.
"Kenapa, Mas? Bukannya ini yang tiap lelaki inginkan setelah pernikahan disahkan." Aku beranjak, duduk bersandar di kepala ranjang, menatapnya dengan nyalang."I-ya nggak salah, sih. Ta-tapi ... duh, Ci, please pake baju lu sekarang! Daripada masuk angin entar." Dia melirik sesekali. Curi-curi pandang walaupun aku tak yakin hal itu cukup mampu untuk menyembunyikan wajahnya yang telah berubah merah padam."Saya udah pake baju, Mas." Aku bangkit berdiri, lalu perlahan menghampiri."Itu bukan baju, Ci. Tapi, saringan tahu!" pekiknya panik sembari berlari melewati. Dia menyambar selembar selimut, lalu melingkarkannya di tubuhku.Mendengar itu, ada semacam perasaan geli. Tanpa sadar kedua sudut bibirku terangkat. Padahal suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja kini. Namun, entah kenapa sejak mengenalnya dua pekan lalu, kemudian pihak keluarga menyanggupi pernikahan digelar di satu waktu akad dan resepsi dari pagi sampai malam tadi-- baru kusadari kalau tingkah lelaki ini seolah membawa mood tersendiri.Memang terlalu dini untuk menyimpulkan, tapi dia tak terlalu buruk sebagai pilihan yang teman-temanku anggap gagal."Lain kali jangan kayak gini, ya! Kita mulai pelan-pelan," sambungnya kemudian sembari menuntunku ke tepi ranjang."Pelan-pelan itu yang kayak gimana, Mas?" tanyaku sengaja mempertanyakan, padahal sebenarnya paham apa yang dimaksudkan."Ya, umm ... mulai dari ngobrol, misal. Terus awali dengan bismillah, doa, habis itu solat berjamaah. Baru--""Hahaha ...." Tanpa sadar tawaku meledak, memotong penjelasannya. Tak menyangka kalimat semacam itu bisa keluar dari mulut seorang Fariz Darmawan. Entah kapan terakhir kali aku bisa tertawa seperti ini. Terasa tak masuk akal, tapi ada semacam perasaan menyenangkan yang sulit digambarkan.Tak menyangka dibalik tampangnya yang berang ada sisi lembut dan polos yang tidak orang lain ketahui."Lah, kok tawa," celetuknya heran."Belajar dari mana?" tanyaku setelah dirasa tawa mulai mereda, "Nggak mungkin dari temen-temen setongkrongan yang resepsi tadi datang, kan?" tambahku dengan tawa yang tersisa.Dia mengusap tengkuk, lalu membasahi bibir sebelum menatapku dalam."Ali."Deg!Aku tertegun mendengar nama itu disebut. Sisa tawa tadi tiba-tiba lenyap entah hinggap di mana."Dia yang ajarin gue adab-abab sebelum menunaikan kewajiban sebagai suami--""Mas!" potongku cepat. "Nggak perlu berusaha menjadi sempurna kalau memang hal itu di luar kuasamu. Jadilah diri sendiri, dan bimbinglah saya dengan caramu. Cara yang menurut kamu benar, bukan yang menurut orang lain benar. Tiap individu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita sama-sama memperbaiki diri, saya juga nggak sempurna."Mas Fariz terdiam, dia menatapku lekat sembari sesekali menyisir rambut panjang sebahunya ke belakang."Gue pikir yang dinikahi itu ukhy, ternyata lu naughty, Ci. Nggak nyangka gue bisa dapet partner hidup yang sefrekuensi." Mas Fariz tiba-tiba mendekat."Mau ngapain?" Kukernyitkan dahi sembari menarik diri."Meluk," jawab dia dengan polosnya."Katanya kita mulai pelan-pelan," sanggahku dengan tangan terulur menahan dadanya yang kekar."Kan, ini juga pelan," sahutnya antara gemas dan tak sabar."Tadi urutannya gimana coba? Pertama ngobrol, terus Bismillah. Harusnya doa tidur dulu, baru yang lain." Kugigit bibir menahan tawa melihat muka Mas Fariz yang berubah kesal."Yaelah. Nyesel gue pake basa-basi, padahal mending langsung hajar aja tadi."Aku hanya bisa tersenyum tipis saat berbalik memunggungi....Bersambung.Langit Jakarta masih berwarna pucat ketika rumah keluarga Salsa sudah dipenuhi orang. Suara langkah kaki, sapaan, dan arahan dari panitia keluarga bercampur menjadi satu. Aroma bunga melati dan mawar putih memenuhi ruangan, menguar lembut dari rangkaian dekorasi yang tersusun rapi di setiap sudut. Acara akad diselenggarakan di rumah dengan tamu terbatas, sementara puncak acara resepsi akan diadakan di hotel berbintang nanti. Semua tampak sempurna. Tapi tidak dengan hati seseorang yang berdiri di depan cermin. Salsa menatap pantulan dirinya. Gaun pengantin syar’i berwarna putih membalut tubuhnya dengan anggun. Renda-renda halus menjuntai dari lengan hingga ke ujung rok. Kerudung panjangnya terpasang rapi, dihiasi mahkota kecil yang sederhana namun elegan. Wajahnya dipoles tipis, cukup untuk mempertegas kecantikannya tanpa menghilangkan kesan lembut yang selama ini melekat. Dia tampak seperti pengantin yang sempurna. Tapi matanya ... tidak bisa berbohong. Ada gelisah yang bersemb
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir sebelum hidupnya berubah.Di dalam kamar hotel yang cukup luas, lampu kuning redup menyinari satu set jas pengantin yang sudah tergelar rapi di atas kasur. Warna hitamnya terlihat elegan, lengkap dengan kemeja putih dan dasi yang sudah disiapkan dengan presisi. Sepatu mengilap tersusun di bawahnya, menunggu untuk dipakai. Semua tampak sempurna. Tapi lelaki yang berdiri di hadapannya justru tidak bergerak sedikit pun. Furqon berdiri dengan kedua tangan di saku celana. Pandangannya tertuju pada jas itu, tapi matanya seperti tidak benar-benar melihat. Kosong. "Saya sudah siapkan semuanya, Mas," ucap seorang pria di belakangnya dengan nada hati-hati. "Kalau mau dicoba dulu .…" Furqon tidak menjawab. Dia hanya menghela napas pelan. Lalu menggeleng. "Nanti aja, Ren." Jawabannya singkat. Asistennya itu terdiam sejenak, tidak berani memaksa. Dia tahu, hari ini bukan hari yang mudah bagi lelaki di depannya. Di luar sana, orang-orang mungki
Siang itu terasa panjang. Terlalu panjang untuk ditanggung oleh seseorang yang sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini adalah pilihan yang benar. Rumah keluarga Salsa dipenuhi kesibukan. Di ruang tengah, beberapa wanita sibuk menghitung souvenir satu per satu. Plastik transparan berisi gantungan kunci, kotak kecil berlapis pita, dan kartu ucapan tersebar di meja besar. Di sudut lain, ada yang sedang mencatat daftar kebutuhan, mencocokkan jumlah dengan pesanan. Suara mereka saling bertumpuk, sesekali diselingi tawa ringan yang terdengar wajar. Tapi bagi Salsa, semua itu terasa jauh. Dia duduk di kursi dekat jendela, tubuhnya sedikit menyandar, tangan bertumpu di pangkuan. Pandangannya kosong, menatap ke arah orang-orang yang bergerak tanpa benar-benar melihat. Pikirannya tidak di sana. Sejak kembali ke Jakarta, sejak kata "percepat" itu keluar dari mulutnya sendiri, sejak semua orang mulai bergerak lebih cepat dari biasanya, ada sesuatu di dalam dirinya yang jus
Pintu rumah terbuka cukup keras. Langkah Salsa terdengar cepat memasuki ruang tengah. Wajahnya tegang, napasnya sedikit tersengal seolah dia baru saja menahan sesuatu yang berat sepanjang perjalanan. Bobby yang sedang duduk santai langsung menoleh. "Percepat pernikahannya!" Kalimat itu meluncur tanpa basa-basi dari mulut gadis itu. Bobby mengangkat alis. Sedikit terkejut, tapi lebih penasaran. "Wah, wah, wah. Ada apa nih tiba-tiba?" Salsa berdiri di hadapannya. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. "Nggak usah banyak tanya, Pa. Percepatan aja. Furqon juga pasti bersedia." Nada suaranya tegas. Hampir seperti perintah. Bobby menghela napas. Dia bersandar di sofa, menatap putrinya lebih dalam. "Bukan masalah itunya, anak muda, tapi .…" Salsa memotong cepat. "Selama dua puluh lima tahun ini Salsa nggak pernah minta apa-apa ...." Matanya mulai berkaca-kaca, tapi dia tahan. "Please." Satu kata itu terdengar lirih. Tapi cukup membuat suasana berubah. Bobby terdiam. Dia me
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah yang sedikit lembap. Lampu kuning di teras rumah menyala temaram, menciptakan bayangan samar di lantai. Fariz duduk santai di kursi kayu, satu tangannya memegang gelas teh hangat. Uapnya masih mengepul tipis. Suci duduk di sampingnya, membawa sepiring gorengan yang baru saja diangkat dari dapur. "Cape juga ngadepin anak yang telat puber, ya, Bu," celetuk Fariz sambil meniup tehnya pelan. "Udah seminggu, irit banget ngomongnya. Mana keluar cuma buat beol, salat sama mandi. Suram banget keliatannya." Suci tersenyum tipis. Dia menggigit gorengan, lalu mengunyah perlahan sebelum menjawab. "Nggak apa-apa, Pak. Lama-lama juga berlalu. Setiap orang butuh waktu," ucapnya lembut. "Mudah-mudahan aja patah hatinya nggak berlarut-larut." Fariz menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Menurutmu Faqih beneran nggak punya kesempatan?" Suci mengernyit. "Maksudnya?" "Ya itu. Bukannya sebelum janur melengku
Ketukan pintu terdengar pelan, tapi cukup untuk memaksa Salsa membuka mata. Cahaya matahari sore menembus tirai tipis, jatuh tepat di wajahnya. Hangat, tapi tidak nyaman. Dia terbangun dalam keadaan masih mengenakan mukena. Tubuhnya bersandar di lantai, beralaskan sajadah yang sedikit kusut. Entah sejak kapan dia tertidur di situ. Yang jelas, air mata yang sempat mengalir semalam masih meninggalkan jejak di pipinya. Tok. Tok. Ketukan itu terdengar lagi. Salsa menghela napas pelan, lalu bangkit. Kepalanya terasa berat. Matanya sembab. Tapi dia tetap berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, dia langsung membeku. "Mama?" Di hadapannya berdiri Sherly. Dengan penampilan rapi, wajah yang tenang, tapi sorot mata yang penuh perhatian. Salsa sedikit tertegun, lalu menyingkir memberi jalan. "Masuk, Ma." Sherly melangkah masuk. Pandangannya menyapu ruangan kecil itu. Rapi, tapi terasa dingin. Dia berhenti sejenak, lalu menoleh pada putrinya. Salsa berdiri kaku. Senyumn
Sejak sore, Faqih sudah berdiri di depan cermin. Kemeja hitam polos diganti dengan cokelat muda yang dipatukan dengan angle pants berwarna cream. Jam tangan dipoles ulang. Rambut dirapikan untuk ketiga kalinya.Ia bahkan membuka kembali koper kecilnya dan mengeluarkan parfum yang jarang ia pakai, a
Mesin meraung pelan, lampu kabin meredup, dan bayangan wajah-wajah yang ia tinggalkan masih berkelebat di kepalanya.Ia mencoba tidur.Tapi yang muncul justru kabar itu.Ainun sudah dilamar oleh lelaki yang dulu datang ke tahlilan kakeknya. Lelaki yang berdiri di samping Ainun dengan sikap tenang,
Bandara pagi itu lebih ramai dari biasanya. Troli berlalu-lalang, pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan, dan aroma kopi bercampur parfum mahal memenuhi udara. Di salah satu sudut ruang tunggu, empat anak muda berdiri berjejer. Masing-masing dengan koper, ransel, dan wajah yang berusaha terl
Hari wisuda akhirnya tiba.Pesantren Al-Huda dipenuhi wajah-wajah tegang bercampur bahagia. Spanduk besar terbentang di gerbang, suara pengeras mengalun dengan nada formal, dan para santri akhir berdiri rapi menunggu giliran dipanggil.Faqih berdiri di barisan tengah. Kokonya bersih, pecinya lurus,







