ログインHari pertama setelah terlahir kembali, aku langsung menyelinap ke kamar sang ketua mafia, Kevin, lalu melepaskan pakaianku. Karena di kehidupan sebelumnya, aku dan putranya, Nico, adalah pasangan pernikahan politik tanpa cinta yang sangat terkenal di kalangan mafia Grimora. Nico menganggap akulah penyebab hancurnya hubungan dengan cinta pertamanya. Ia yakin bahwa saat dirinya terkena obat perangsang, akulah yang sengaja masuk ke kamarnya. Karena itu, selama delapan tahun pernikahan, setiap malam ia pergi mabuk-mabukan dan tak pernah pulang. Bahkan ketika aku mengalami persalinan sulit dan nyawaku hampir melayang, ia tak menunjukkan kepedulian sedikit pun. Hingga suatu hari badai besar melanda. Grimora diterjang gelombang badai, dan tanggul pelabuhan jebol. Hanya tersisa satu kursi di kapal evakuasi. Semua orang mengira ia akan menyelamatkan dirinya sendiri. Namun Nico justru mendorongku ke atas kapal. “Pergilah!!” “Nadine, kuserahkan kesempatan hidup ini padamu … di kehidupan selanjutnya, aku tak ingin kamu menyelamatkanku lagi. Aku hanya ingin bersama Marry.” Detik berikutnya, tubuhnya terseret ke dalam laut yang gelap. Sementara aku yang berhasil selamat, akhirnya dibunuh oleh keluarga musuh. Ia tak pernah tahu .... malam itu, yang terkena bius bukan hanya dirinya. Ayahnya, Kevin sang ketua mafia juga dibius. Saat aku melangkah masuk ke kamar, efek obatnya sudah mulai bekerja. Sang ketua mafia menekan hasrat yang menyiksa tubuhnya dengan susah payah. Kali ini, aku mendekat dan berbisik pelan, “Ketua, aku datang untuk membantumu menetralkan racunnya.”
もっと見る“Raya, kamu pikir aku menikahimu karena mencintaimu?”
Dahiku sontak berkerut.Tadi, Mas Arman-calon suamiku-memang mengajak untuk melihat rumah yang akan kami tempati nanti.
Semua tampak berjalan lancar. Bapak dan Ibuk juga terlihat lega melihat anak gadis satu-satunya di tangan yang “tepat”. Calon mantu berpenghasilan dan sudah mempunyai tempat tinggal. Apa lagi yang kurang?
Namun, pertanyaannya barusan membuatku seketika waspada.
“Kita memang dijodohkan, Mas. Aku pun demikian. Tidak mengerti apakah aku cinta atau tidak. Kata orang-orang tua, cinta akan timbul saat sering bersama dalam ikatan pernikahan,” jawabku berusaha berpikiran positif.
Selama ini, kami tidak pernah bertemu berdua untuk bicara secara pribadi. Selalu ada bapak ibuku atau orang tuanya. Aku pikir, hari ini menjadi kesempatan untuk saling menyatukan hati, tapi kenyataannya justru aku mendapati dia yang sebenarnya.
“Aku tidak mau membeli kucing dalam karung. Sudah menikah dengan biaya yang tidak sedikit, ternyata aku mendapatkan zonk.”
“Maksudnya, Mas? Raya tidak mengerti.”
Mas Arman yang duduk sofa sebelah sana, tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Raya. Aku ini bukan laki-laki yang lugu. Aku tahu persis kehidupan mahasiswa di kota. Gaya pacaran mereka bagaimana.”
Tetap saja, aku tidak mengerti apa yang dimaksud.
Aku beringsut saat dia berpindah tempat duduk. Sekarang dia mensejajarkan diri di dekatku. “Aku tidak yakin kalau kamu masih perawan.”
“Mas Arman! Kamu keterlaluan. Kamu ….” teriakku tidak sanggup melanjutkan kata-kata.
Ucapannya begitu menggores hati ini. Aku merasa dilecehkan.Bapak memberiku nama Nayaka Raya. Katanya, itu berarti pemimpin besar. Harapan yang tersemat senada dengan usaha Bapak yang menyekolahkan aku sampai lulus sarjana.
Jadi … saat sekolah ataupun kuliah, aku tidak pernah pacaran. Mempunyai teman laki-laki pun hanya sebatas rekan kuliah, atau kegiatan di kampus. Tujuanku hanya bertumpu untuk menjadi kebanggaan Bapak. Meraih gelar sarjana tanpa direcoki dengan hubungan asmara yang tidak perlu.
Aku pun menurut saat Bapak memperkenalkan Arman-putra teman masa sekolah Bapak-untuk dijodohkan denganku. Penampilannya lumayan dan terlihat sopan saat itu. Aku tidak masalah kalau nantinya aku tidak bisa menggunakan high hell lagi, karena calon suamiku tidak terlalu tinggi. Melupakan impianku seperti di novel roman, saat si gadis menjinjitkan kaki saat mencium sang pangeran. Tapi, siapa sangka ia akan berbuat seperti ini?
Genggaman tangan ini semakin terkepal erat saat dia mendekatkan wajah sambil berbisik, “Kalau begitu buktikan.”
Aku masih dalam keterkejutan. Dia mengutip paksa napas ini tanpa memberiku kesempatan untuk mengelak. Sofa panjang meleluasakan niatnya. Berusaha aku untuk memberontak, dan berakhir dengan kancing-kancing bajuku yang berhambur di lantai.
“Mas Arman! Hentikan!” teriakku saat dia menjeda.
Begidik diri ini melihat matanya yang mulai berkabut dan senyuman yang nyaris seperti seringai. Tindak tanduk sopan yang biasanya aku dapati, sekarang tidak tersisa.
“Jangan jual mahallah, Raya. Kita bersenang-senang. Toh aku ini calon suamimu, kan.”
“Ja-jangan, Mas. Tolong, ini tidak benar.” Aku mencoba beringsut menjauh sambil memegangi kemeja yang sudah tidak berkancing.
Alih-alih melepaskan aku, dia justru membisikkan kata-kata yang memaksaku bersiap untuk bertindak kasar.
“Ciumanmu payah. Aku jadi penasaran ingin membuktikan kalau kamu benar-benar perawan.”
DEG!
Kala itu, aku terdiam tidak percaya. Seseorang yang harus melimpahi aku dengan kasih sayang, justru menebar kengerian. Laki-laki yang mempunyai kewajiban menjaga wanitanya, malah kini dia bersiap merusak hidupku.
Musnah sudah bayangan merajut keindahan bersama lelaki ini. Seketika rasa mual dan ingin muntah mendera. Badanku gemetar menahan amarah yang mulai membuncah.
Calon suami seperti inikah yang akan aku nikahi? Laki-laki inikah yang akan kujadikan sandaran hidup sampai akhir hayat? Tidak! Detik ini juga, aku membuang manusia bejat ini.
“Kulit kamu mulus dan tubuhmu walaupun kurus, tapi berisi,” ucapnya dengan mata berkedip kurang ajar.
Seperti binatang kelaparan, dia merenggut bajuku, menarik paksa tanpa menghiraukan penolakan. Dia tetap meringsek dengan satu tangan membekap mulut ini. Aku tidak bisa menolak dengan kata-kata. Mau tidak mau aku melakukan pilihan terakhir. Melemaskan diri untuk mencari kesempatan.
Bibirnya tersenyum miring, mungkin merasa di atas angin karena aku mulai pasrah. Mendapat kesempatan, satu kali gerakan kaki ini berhasil menendang selangkangannya.
“Aduh!” Dia menangkup aset pribadi andalan laki-laki.
Aku bergegas beringsut berniat menjauh, tetapi gerakan tangannya lebih cepat. Ternyata, tendanganku kurang cukup kuat untuk melumpuhkannya. Gerakanku masih ragu.
PLAK!
Tubuhku terhuyun. Belum sempat menegakkan diri, satu tendangan menghantam tubuh ini dan aku pun tersungkur di atas meja kayu.
“Dasar jalang jual mahal!” teriaknya dengan menyeringai.
Tanpa menoleh pun, aku tahu dia berada di belakangku.
Napas tersenggal jelas tertangkap di pendengaranku. Keadaan terjepit, mataku menangkap asbak kaca tidak jauh dari tangan ini.
“Minimal beri aku alasan untuk menikahimu. Karena bertanggung jawab sudah mengambil keperawananmu. Iya, kan, Raya Sayang.”
Suaranya seperti lolongan serigala yang siap memangsa. Aku semakin bergidik saat dia mengusap tengkuk. “Ayo Sayang. Kita coba ranjang baru kita,” ucapnya sambil menunjuk ruangan tempat tidur.
Seperti takut kehabisan waktu, tanganku diseretnya.
Aku berontak, hingga membuatnya mencengkramku semakin kuat.
“Tidak akan!” teriakku sambil mengayun asbak kaca tepat di kepalanya.
Bugh!
***
Waktu berlalu dengan cepat. Perutku semakin membesar dan aku pun memasuki masa akhir kehamilan.Selama periode ini, Kevin hampir selalu merawatku sendiri. Ia tidak membiarkan siapa pun menggantikan perannya, yaitu setiap hari menemaniku berjalan-jalan dan bahkan sering menyiapkan hadiah kecil untukku.“Nadine, ini untukmu.”Di dalam kotak itu terdapat sebuah kalung mutiara yang berkilau indah.Aku hanya meliriknya dalam diam.“Ini adalah mutiara terbesar di Asia.” Ia menjepit kalung itu dengan sedikit gugup, lalu tersenyum santai dan memasukkan tangannya kembali ke saku jasnya.“Kalau kamu punya selera tertentu, di lelang berikutnya aku akan menyuruh orang langsung mengantarkannya.”Ia menyisir rambutku perlahan. Gerakannya begitu hati-hati, seolah takut melukaiku.Saat aku hendak menjawab, ponselku tiba-tiba bergetar dan ada pesan baru di Whatsapp.Lagi-lagi dari Nico. [Nadine, apa kamu baik-baik saja?]Aku menutup pesan itu dan melempar ponsel ke samping tanpa ragu.Dia memang selal
Hanya karena Nico menarikku sedikit, perutku langsung mengalami kontraksi.Tanpa banyak bicara, Kevin sendiri yang menerbangkan pesawat dan membawaku ke pusat medis swasta di Pulau Sisilian. Sepanjang perjalanan, wajahnya dingin dan hanya terdiam.Dokter penanggung jawabnya adalah konsultan kebidanan khusus keluarga dan sangat berpengalaman.Setelah pemeriksaan selesai, dokter keluar dari ruang istirahat sambil membawa hasil USG 4D dan wajahnya tersenyum.“Selamat, Tuan. Sepasang bayi ... laki-laki dan perempuan.”Kevin tertegun selama beberapa detik sebelum akhirnya bereaksi. Ia menerima hasil pemeriksaan itu, membaca setiap kata dengan sangat saksama.“Anak laki-laki dan perempuan … sepasang kembar?”Ia tiba-tiba menunduk dan tersenyum. Detik berikutnya, ia memelukku erat dan suaranya sedikit bergetar.“Nadine, kamu adalah kebanggaan Keluarga Dunn.”Aku tersenyum dan bersandar di pelukannya lalu bercanda pelan, “Kalau begitu, apakah 'kebanggan' ini juga berhak mendapatkan hadiah?”Ke
Di kertasnya tertulis dengan jelas, kembar berusia enam minggu.Tangan Kevin yang sedang memegang gelas anggur sedikit terhenti. Pandangannya tertuju pada kertas itu sangat lama.“Ini sungguhan?”“Ini anak kita? Ya Tuhan! Sayang … aku benar-benar terkejut dan bahagia!”Sorot mata yang biasanya begitu serius tiba-tiba melembut. Terpancar jelas senyum di wajahnya.Detik berikutnya, ia mengambil ponselnya dan langsung menulis sebuah cuitan di Twitter:[Keluarga Dunn akan menyambut ... dua orang generasi penerus baru.]Tak lama kemudian, pintu ruang tamu terbuka dan Nico masuk.Pandangannya langsung tertuju padaku. Tatapannya menyapu perutku, wajahnya hampir tak bisa menyembunyikan keterkejutan dan kemarahan.Aku tersenyum sambil berdiri dan mengangkat gelas sampanye di tanganku. “Nico, kamu datang tepat waktu. Ayo, bersulang untuk anggota baru keluarga kita?”Matanya terpaku pada perutku, rahangnya mengeras menahan amarah.“Nadine!”Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Kevin sudah me
Hanya dalam waktu sehari, para pelayan di kediaman yang dulu terang-terangan mengejek dan menyindirku, semuanya diusir. Posisi mereka digantikan oleh sekelompok orang baru yang dikirim langsung oleh Kevin.Di ruang VIP sebuah butik perhiasan, aku menatap bayanganku di cermin yang berkilauan dari kepala sampai kaki.Satu set perhiasan itu bernilai lebih dari satu triliun, dengan sebuah berlian merah muda langka tersemat di tengahnya. Batu itu dilelang di balai lelang kelas atas Napoles, dan Kevin yang menawarnya sendiri.Di kehidupan sebelumnya, aku menikah dengan Nico. Jangankan perhiasan mahal, bahkan dia tidak rela membelikanku kalung perak murahan yang dijual pedagang kaki lima.Ketika aku akan tenggelam dalam kenangan, Nico tiba-tiba muncul dan menatapku tajam.“Kamu benar-benar hina. Demi masuk ke Keluarga Dunn, kamu bahkan sampai rela menelanjangi orang tua itu?”Aku mengusap bekas sayatan di wajahku yang belum sepenuhnya mengering, lalu tersenyum kecil padanya. “Dia memang lebih
Pelayan wanita di lantai bawah menjerit berlari keluar dari serambi, disusul suara langkah kaki Nico.“Marry!” Ia menghampiri dan mengangkat Marry dari lantai, lalu berteriak meminta memanggil dokter keluarga.Marry setengah bersandar dalam pelukannya, suaranya bergetar menahan tangis. “Ini salahku
Racun jantung itu terlalu kuat. Demi membersihkan sisa racunnya, Kevin bersembunyi dan diam-diam pergi ke cabang keluarga di Napoles untuk menjalani pemulihan.Sebelum berangkat, ia sudah menyelidiki semuanya dan memastikan bahwa semua ini adalah ulah keluarga musuh. Ia berjanji padaku, “Tunggu aku
Keesokan siangnya, aku mengenakan jubah mandi sutra yang robek dan keluar dari lantai bawah tanah.Di ujung koridor, Marry sedang membawa semangkuk sup panas sambil mendorong pintu kamar Nico. Riasannya tak mampu menyembunyikan jejak semalam. Ia berjalan dengan kaku, jelas bahwa Nico tidak bersikap
“Bu Nadine, Tuan Muda dalam masalah!”Aku belum sepenuhnya sadar dari rasa sakit yang parah dan melihat sang kepala pelayan menerobos masuk ke kamarku dengan wajah pucat pasi.Aku menunduk. Di kepalaku hanya ada bayangan dua anak kecil dan wajah mereka berlumuran darah, memelukku sambil menjerit.“K












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー