LOGINNirmala yang selama ini selalu menerima suaminya apa adanya harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang selama ini dianggap adik ipar ternyata selingkuhan suaminya. Di saat Nirmala mati-matian membuat dapur agar tetap mengebul, masalah demi masalah menghampiri kehidupan rumah tangganya, hingga membuat Nirmala tidak tahan dan mengusir Arga dari rumahnya. Duka pun menyelimuti Nirmala ketika dia harus kehilangan bayi yang sudah dinantikannya. Apakah Nirmala bisa lepas dari Arga suaminya dan bertemu dengan laki-laki yang tepat? Ikuti terus kisahnya!
View MoreBrooklyn's pov
"Teacher f***er." I heard it the second I walked through the doors of Westfield Academy. Nobody said it to my face. They never did. Just loud enough for me to catch it, quiet enough for them to deny it. I kept walking. Two weeks. That's how long this rumour had been following me around like a bad smell. Two weeks since someone decided that the only reason Brooklyn Lawson could possibly make valedictorian was if she got on her knees for Mr. Collins. Nobody stopped to think that maybe — just maybe — I studied while the rest of them were at parties. Nobody cared about that part. I pushed into homeroom and dropped into my seat. That's when I saw it. A folded piece of paper sat on my desk. I already knew who it was from before I even opened it. I unfolded it slowly. It was a drawing — a girl with messy hair, a torn shoe, and the word SLUT written underneath in big capital letters. I tore it in half. Then in half again. "Like my art project?" Emerson Weston leaned against the desk beside mine, arms crossed, smirking like he'd just said the funniest thing in the world. The whole row of seats around him erupted. I looked up at him. "I'd call it ugly inside, ugly outside. Pretty accurate self-portrait, Emerson." The laughter shifted. A few people snickered in his direction instead. His smirk didn't move but his eyes went flat. He tapped the torn pieces of paper with one finger. "You know everyone's talking, Brooklyn." "Let them talk." "Valedictorian." He tilted his head, dragging the word out slowly. "I get that you needed the scholarship and everything. But the whole sleeping-with-the-teacher thing?" He clicked his tongue. "A bit played out now, don't you think?" I felt my jaw tighten. "I didn't sleep with anyone." "Sure." "You probably started that rumour yourself." I stood up, because sitting down while he loomed over me wasn't happening. "Because you couldn't keep up with me academically and it was the only move you had left." Something flickered across his face. Just for a second. Then he smiled. "You're so cute when you're angry." He pointed at my shoe. The sole was peeling at the front, flapping slightly when I walked. I'd been holding it together with a strip of tape since Monday. The whole class saw it. The laughter came back, louder this time. My face burned. "And Emerson?" I said, keeping my voice steady even though my hands were not. "You're so ugly it's practically a personality." His smile dropped. He stepped closer, close enough that I could see the irritation he was trying to hide behind that easy confidence. He pressed one hand flat against the wall beside my head, not touching me, just crowding my space. Everyone went quiet. "You think you can beat me." His voice was low now, almost bored. "But this is my school, Brooklyn. My father owns this school. You'd do well to remember that." I held his stare. "Kiss my a**, Emerson." A few people gasped. Someone laughed nervously. "Oh, Brooklyn." He stepped back and shook his head slowly, that horrible smirk sliding back into place. "I thought you only let the teachers do that." The room erupted. I grabbed my bag off the chair. "Get out of my way. I'm late for my new job." I didn't wait for his response. I walked straight out of homeroom, down the hall, and out the front doors without looking back. Let them laugh. I had somewhere to be. --- The walk home took twenty minutes. I needed every single one of them to cool down. By the time I hit the residential streets near our apartment, my hands had stopped shaking. I focused on the sound of my shoes on the pavement, the afternoon air, anything that wasn't Emerson Weston's face. That's when I almost tripped over her. A little girl, couldn't have been older than seven, was sitting on the edge of the sidewalk crying. She'd fallen near the curb, both palms scraped, one knee bleeding through her leggings. I stopped immediately and crouched down beside her. "Hey. Hey, it's okay." She looked up at me with wide, wet eyes but didn't say anything. "Can I see your knee?" I asked gently. She stared at me for a moment, then nodded. I unzipped the front pocket of my bag and pulled out the small first aid kit I carried — a habit from years of being clumsy myself. I peeled open a plaster and pressed it carefully over the cut on her knee. She flinched but didn't pull away. "There." I sat back. "All done." She looked down at the plaster, then back up at me. Still no words. But the crying had stopped. I was about to ask if she knew where she lived when I heard it — a sharp mechanical whirring from somewhere above and to my left. I looked up. A branch. Thick, heavy, already split from the trunk. The lawnmower on the slope above the embankment had clipped the base of a small tree, and the branch was falling — fast — directly toward us.Fano mengutarakan niatnya mempersunting Ana lebih cepat. Dia merasa tidak baik menunda hal baik. Apalagi hampir setiap hari Fano dan Ana bertemu. "Apa mama dan Mas Zaki tidak keberatan? Mengingat kita belum lama kehilangan Mbak Nirmala," ungkap Fano yang masih memikirkan perasaan Zaki. "Alhamdulillah!" Mama Zoya dan Zaki secara bersamaan mengucap syukur. "Tentu saja tidak, Fan. Mas malah bahagia jika kamu sudah menemukan tambatan hati. Niat baik itu memang harus disegerakan. Menikahlah! Kapan rencana kalian?" balas Zaki. "Kalau memang semuanya setuju, rencananya akhir bulan di bulan depan, Ma, Mas. Iya, kan, An?" Ana menunduk karena tersipu malu. Kini dia dan Nirmala punya nasib yang sama. Tanpa orang tua, dia harus merencanakan pernikahannya sendiri bersama keluarga calon suaminya. Dulu, Ana memang kagum pada Zaki karena pandangan pertama. Tapi lambat-laun saat dia bekerja di rumah Mama Zoya, hatinya tertarik pada Fano. Gayung pun bersambut. Ternyata Fano juga men
Sudah empat bulan kepergian Nirmala. Dan selama itu pula Zaki masih belum bisa menerima kepergiannya. "Ki, kamu gak mau lihat anakmu? Dia sudah empat bulan dan kamu belum memberinya nama," ucap Mama Zoya suatu hari. Zaki menjadi sangat g*la bekerja. Tak jarang dia tidur di rumah sakit karena enggan untuk pulang ke rumah. Rumahnya terlalu menyimpan banyak kenangan bersama Nirmala. Selama empat bulan itu pula, Mama Zoya bekerjasama dengan Ana menjadi dan merawat bayi yang belum diberi nama itu. Mereka berdua sangat telaten dan satu sama lain saling membantu. Kehadiran bayi itu sedikit banyak mengobati rasa kehilangan Mama Zoya. Apalagi bayi itu semakin hari semakin mirip dengan Nirmala. "Ti, apa sebaiknya dipikirkan lagi soal menjual usaha Mbak Nirmala?" kata Ana. Ya, Ana memanggil Mama Zoya dengan sebutan uti untuk membahasakan anak Nirmala. Sekarang prioritas Mama Zoya adalah membesarkan anak Nirmala. Sehingga dirinya sudah jarang sekali ke tempat usaha Nirmala yang sebelumnya d
Situasi di dalam ruang ICU sangat tegang. Semua tenaga medis yang ada di dalam berusaha untuk memberikan pertolongan kepada istri dari pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja. Tak ada berada di luar ruangan, Zaki ikut masuk ke dalam ICU. Tak ada yang menghalangi Zaki kali ini. Dengan memegang tangan Nirmala, Zaki berkata, "Aku tunggu kamu pulang, Sayang. Anak kita sangat tampan dan dia sehat. Ayo pulang, Yang!" Setelah Zaki bicara seperti itu, mata Nirmala terbuka dan melotot. Tapi, setelah itu bunyi alat yang terpasang di tubuh Nirmala menjadi datar. Zaki terkejut dan melihat ke arah dokter dan perawat. Mereka semua menggelengkan kepala. Air mata Zaki sudah tak bisa dibendung lagi. "Gak! Gak mungkin! Bangun, Sayang! Ayo kamu bangun! Anak kita sudah menunggu, La. Kamu harus lihat wajah anak kita. Aku mohon, Sayang!"Suasana ICU menjadi haru. Nirmala menghembuskan nafas terakhir dengan didampingi oleh Zaki. Wajah Nirmala tampak cantik dan bibirnya tersenyum. Seolah-olah mengisya
Air mata Zaki terus saja mengalir kala melihat sang istri terbaring dengan berbagai macam alat yang menempel di tubuh Nirmala. Saat ini Nirmala ada di ruang ICU. Pendarahan Nirmala memang sudah bisa diatasi. Tapi, kondisi Nirmala tak lantas membaik. Dia koma. Lengkap sudah kesedihan Zaki saat ini. Istri dan anaknya tengah berjuang di ruangan yang sangat ditakuti itu. "Ya Allah, tolong izinkan aku untuk bisa membahagiakan istriku! Tolong!" rintihnya dalam hati. "Ki ... jangan patah semangat dan terus berdoa, ya. Mama akan selalu mendoakan untuk kesembuhan Nirmala dan cucu mama. Mama ingin kita berkumpul lagi bersama-sama." Mama Zoya menguatkan. Zaki mengangguk walaupun ragu. "Mas, Fano bawa mama pulang dulu, ya. Nanti Fano akan kembali lagi ke sini. Mas Zaki mau nitip apa?"Hari memang sudah terlalu larut. Mama Zoya terlihat kelelahan dan memang seharusnya istirahat di rumah. Fano tak mau jika nantinya Mama Zoya ikut sakit. "Iya. Mama memang harus istirahat. Tolong bawakan saja p
Setelah beberapa lama mengobrol, Nirmala pamit pada Arga. Tak enak juga rasanya jika berlama-lama di sana. Apalagi Nirmala tahu jika sudah ada Farhan yang siap membantu Arga."Kalau begitu Nirmala pamit, ya, Mas. Sampai ketemu di sidang putusan Minggu depan. Semoga cepat pulih dan bisa beraktivitas s
Rasanya sungkan untuk meminta bantuan lagi kepada Zaki. Zaki sudah banyak membantunya. Dia pun memutuskan untuk mencari cara agar bisa menyewa satu kamar kos agar bayi Intan tidak hidup di jalanan.Dia pun teringat lagi kalau Intan memberinya sebuah dompet yang Cindi sendiri tidak tahu isinya."Isinya
Zaki melewati hari-hari selanjutnya penuh kebahagiaan lagi. Hubungannya dengan Mama Zoya semakin harmonis, sehingga dia memutuskan untuk kembali lagi ke rumah.Suatu hari, Zaki bertemu dengan Nirmala di rumah sakit. Dia pun berjanji untuk datang ke rumah Nirmala karena hendak membicarakan sesuatu.Sor
Nirmala tidak begitu menanggapi ucapan Zaki yang mau datang ke rumahnya kalau sudah pulang kerja. Dia menganggap hal itu biasa saja karena memang sekarang Zaki lebih sering ke rumahnya untuk mengantar cucian.Nirmala sempat mengatakan pada Zaki untuk langsung mengantar ke outlet barunya. Tapi dia sel






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.