Se connecterNirmala yang selama ini selalu menerima suaminya apa adanya harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang selama ini dianggap adik ipar ternyata selingkuhan suaminya. Di saat Nirmala mati-matian membuat dapur agar tetap mengebul, masalah demi masalah menghampiri kehidupan rumah tangganya, hingga membuat Nirmala tidak tahan dan mengusir Arga dari rumahnya. Duka pun menyelimuti Nirmala ketika dia harus kehilangan bayi yang sudah dinantikannya. Apakah Nirmala bisa lepas dari Arga suaminya dan bertemu dengan laki-laki yang tepat? Ikuti terus kisahnya!
Voir plus"Lepaskan aku, Tuan!"
Bella meronta dan menangis pada pria yang menariknya mendadak. Namun, suara penuh emosi justru terdengar, "Kau tidak akan mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri dariku lagi Maudy." Maudy? Tampaknya pria ini salah mengenali orang. "Anda salah, Tuan. Aku bukan kekasih Anda, tapi cleaning service di hotel ini," ucap Bella sembari berusaha menarik tangannya. Sayang, pria yang tampaknya mabuk itu, tidak peduli. Dengan langkah yang sempoyongan, ia langsung mengunci ruangan presiden suite itu, lalu membuang kuncinya ke bawah tempat tidur. Bella gemetar. Ia berusaha mencari kunci itu dengan meraba-raba lantai bawah tempat tidur, tapi tubuhnya justru diangkat dan diletakkan ke ranjang oleh pria itu. "Mulai saat ini, aku tak akan melepaskanmu Maudy. Sudah cukup kau berkali-kali membuatku sakit hati. Kau bahkan pergi dengan Andre." Bella terkesiap. Ia sontak berlari ketika pria itu membuka jasnya, tetapi dengan sigapnya pria itu menarik pinggang Bella dengan satu tangannya, hingga akhirnya Bella gagal melarikan diri. "Aku sangat mencintaimu, Maudy," bisik pria itu ditelinga Bella, “jika kau ingin melakukannya sebelum pernikahan, aku juga bisa memberikannya. Tak perlu kau minta ke Andre” Deg! Dengan penuh deraian air mata, Bella merasakan pria itu menindihnya dengan kuat dan langsung melumat bibirnya yang mungil itu. Ia mulai meraba bagian dada Bella dengan lembut. Bella tidak bisa lagi berbuat apa-apa karena tubuhnya telah ditindih oleh pria gila yang menganggapnya sebagai Maudy. Pakaiannya bahkan dilepas dan dibuang ke sembarang tempat. "Tidak—" Air mata tumpah di pipi Bella dengan sangat deras. Samar-samar, ia mendengar pria itu terkekeh. "Tidak? Bukankah kau menginginkan ini, Maudy?” Lagi, nama Maudy selalu terucap di bibir pria itu. Bella bisa merasakan amarah dan kebencian pria itu pada Maudy. Tapi, mengapa harus ia yang terkena getahnya? “Arrgh….” Mendadak rasa perih dan sakit seperti ada sesuatu yang melukainya, tapi pria itu justru semakin menggila. "Aku akan membalas sakit hati yang kau berikan padaku Maudy, aku sangat membencimu," gumamnya sembari merenggut sesuatu yang berharga dari Bella. Memacu hasrat pada tubuh Bella dan memasukkan benihnya ke dalam rahimnya. Begitu gelombang kenikmatan didapat, pria itu pun menghela napas, lalu tertidur–meninggalkan Bella yang menangis, menahan pedih atas kemalangan yang baru terjadi itu. Entah kekuatan dari mana, Bella bangkit untuk kembali ke kostan–tidak menghiraukan orang-orang yang memandangnya, bingung. Gadis itu langsung membersihkan dirinya–menyirami seluruh tubuhnya dengan air, berharap jejak-jejak pria tadi menghilang. "Apa salahku Tuhan? Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa nasibku begini?" isak Bella. Tubuhnya lelah dan sakit kala mengingat semua kejadian pahit yang telah menimpa dirinya. Dijambaknya rambut frustasi. Ia melihat masa depannya hancur. Tidak ada lagi harapan untuk dirinya…. Tak tahan akan tekanan yang tak pernah ia alami, Bella merasa semua gelap dan terjatuh di lantai kamarnya yang dingin. Sementara itu, pria yang merenggut masa depan Bella, tak menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Arland justru terlelap meski ponselnya terus berdering berkali-kali akibat telepon sang asisten. Kira-kira pukul 3 pagi, Arland baru tersadar saat membalikkan tubuhnya yang hanya seorang diri di kamar itu. “Maudy?” Pria itu mencari keberadaan sang kekasih. Hanya saja, alisnya perlahan naik kala melihat bercak darah di sprei. Samar-samar, ia mengingat kejadian tadi malam. “Perawan?” Pikiran Arland sontak dipenuhi banyak pertanyaan. Teringat saat dirinya merasakan ketegangan dari wanita semalam–wanita yang ia kira Maudy. Padahal, bukan! Kekasihnya itu sudah tidak suci lagi sejak mereka masih di bangku SMA. Bukan Arland pelakunya, tetapi kekasih pertama Maudy. Meski demikian, cintanya pada perempuan itu membuat Arland mengabaikannya. Bahkan, ia tak peduli jika Maudy bertemu dengan pria lain karena Arland sadar diri akan kesibukannya. Sampai kemarin, ia menemukan fakta bahwa kekasihnya itu, ternyata tidur dengan saingan bisnis Arland dan meminta untuk berpisah. “Sial!” lirih Arland kala menyadari semuanya. Mengapa ia bisa seceroboh ini? Apakah dia begitu terguncang setelah mengetahui perselingkuhan Maudy? Hanya saja, rasa bersalah pada gadis tadi malam ternyata lebih besar dalam diri Arland. Dia telah merenggut yang bukan haknya. Bagaimana jika gadis itu hamil? Arland, bahkan tidak mengenal gadis yang sudah kabur itu! "Aku harus mencari gadis itu,” tekadnya. Segera, Arland meraih ponsel untuk menghubungi asistennya. Namun, pewaris tunggal Mars Group itu membatalkannya kala mengingat sesuatu. Kay–asisten yang juga sahabatnya itu–sangat benci pria yang menyentuh wanita dalam keadaan mabuk. Hal ini mengingatkannya pada insiden adik sepupunya beberapa tahun silam! Arland lantas meremas rambutnya kasar. Dia sekarang harus mencari gadis itu tanpa bantuan siapapun. Kay mengenal “orang-orang” miliknya dan bisa mengetahui jika Arland mencari seseorang. Bisa-bisa, Arland berakhir di rumah sakit sebelum menemukan gadis itu. Hanya saja, kalimat gadis itu semalam, tak sengaja menarik perhatian Arland. “Tunggu, cleaning service?” gumamnya.Fano mengutarakan niatnya mempersunting Ana lebih cepat. Dia merasa tidak baik menunda hal baik. Apalagi hampir setiap hari Fano dan Ana bertemu. "Apa mama dan Mas Zaki tidak keberatan? Mengingat kita belum lama kehilangan Mbak Nirmala," ungkap Fano yang masih memikirkan perasaan Zaki. "Alhamdulillah!" Mama Zoya dan Zaki secara bersamaan mengucap syukur. "Tentu saja tidak, Fan. Mas malah bahagia jika kamu sudah menemukan tambatan hati. Niat baik itu memang harus disegerakan. Menikahlah! Kapan rencana kalian?" balas Zaki. "Kalau memang semuanya setuju, rencananya akhir bulan di bulan depan, Ma, Mas. Iya, kan, An?" Ana menunduk karena tersipu malu. Kini dia dan Nirmala punya nasib yang sama. Tanpa orang tua, dia harus merencanakan pernikahannya sendiri bersama keluarga calon suaminya. Dulu, Ana memang kagum pada Zaki karena pandangan pertama. Tapi lambat-laun saat dia bekerja di rumah Mama Zoya, hatinya tertarik pada Fano. Gayung pun bersambut. Ternyata Fano juga men
Sudah empat bulan kepergian Nirmala. Dan selama itu pula Zaki masih belum bisa menerima kepergiannya. "Ki, kamu gak mau lihat anakmu? Dia sudah empat bulan dan kamu belum memberinya nama," ucap Mama Zoya suatu hari. Zaki menjadi sangat g*la bekerja. Tak jarang dia tidur di rumah sakit karena enggan untuk pulang ke rumah. Rumahnya terlalu menyimpan banyak kenangan bersama Nirmala. Selama empat bulan itu pula, Mama Zoya bekerjasama dengan Ana menjadi dan merawat bayi yang belum diberi nama itu. Mereka berdua sangat telaten dan satu sama lain saling membantu. Kehadiran bayi itu sedikit banyak mengobati rasa kehilangan Mama Zoya. Apalagi bayi itu semakin hari semakin mirip dengan Nirmala. "Ti, apa sebaiknya dipikirkan lagi soal menjual usaha Mbak Nirmala?" kata Ana. Ya, Ana memanggil Mama Zoya dengan sebutan uti untuk membahasakan anak Nirmala. Sekarang prioritas Mama Zoya adalah membesarkan anak Nirmala. Sehingga dirinya sudah jarang sekali ke tempat usaha Nirmala yang sebelumnya d
Situasi di dalam ruang ICU sangat tegang. Semua tenaga medis yang ada di dalam berusaha untuk memberikan pertolongan kepada istri dari pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja. Tak ada berada di luar ruangan, Zaki ikut masuk ke dalam ICU. Tak ada yang menghalangi Zaki kali ini. Dengan memegang tangan Nirmala, Zaki berkata, "Aku tunggu kamu pulang, Sayang. Anak kita sangat tampan dan dia sehat. Ayo pulang, Yang!" Setelah Zaki bicara seperti itu, mata Nirmala terbuka dan melotot. Tapi, setelah itu bunyi alat yang terpasang di tubuh Nirmala menjadi datar. Zaki terkejut dan melihat ke arah dokter dan perawat. Mereka semua menggelengkan kepala. Air mata Zaki sudah tak bisa dibendung lagi. "Gak! Gak mungkin! Bangun, Sayang! Ayo kamu bangun! Anak kita sudah menunggu, La. Kamu harus lihat wajah anak kita. Aku mohon, Sayang!"Suasana ICU menjadi haru. Nirmala menghembuskan nafas terakhir dengan didampingi oleh Zaki. Wajah Nirmala tampak cantik dan bibirnya tersenyum. Seolah-olah mengisya
Air mata Zaki terus saja mengalir kala melihat sang istri terbaring dengan berbagai macam alat yang menempel di tubuh Nirmala. Saat ini Nirmala ada di ruang ICU. Pendarahan Nirmala memang sudah bisa diatasi. Tapi, kondisi Nirmala tak lantas membaik. Dia koma. Lengkap sudah kesedihan Zaki saat ini. Istri dan anaknya tengah berjuang di ruangan yang sangat ditakuti itu. "Ya Allah, tolong izinkan aku untuk bisa membahagiakan istriku! Tolong!" rintihnya dalam hati. "Ki ... jangan patah semangat dan terus berdoa, ya. Mama akan selalu mendoakan untuk kesembuhan Nirmala dan cucu mama. Mama ingin kita berkumpul lagi bersama-sama." Mama Zoya menguatkan. Zaki mengangguk walaupun ragu. "Mas, Fano bawa mama pulang dulu, ya. Nanti Fano akan kembali lagi ke sini. Mas Zaki mau nitip apa?"Hari memang sudah terlalu larut. Mama Zoya terlihat kelelahan dan memang seharusnya istirahat di rumah. Fano tak mau jika nantinya Mama Zoya ikut sakit. "Iya. Mama memang harus istirahat. Tolong bawakan saja p
Mama Zoya yang tertidur dengan kepala berbaring ke ranjang Nirmala pun terkejut mendengar suara Nirmala. Spontan Mama Zoya langsung bangun dan memastikan Nirmala sudah sadar. Lalu, Mama Zoya lari keluar untuk memanggil perawat jaga. Setelah perawat jaga memeriksa Nirmala, Mama Zoya baru lah lega kar
Dalam kotak itu ada sebuah foto yang sudah tampak usang. Foto yang berisi sepasang muda-mudi yang tengah dimabuk asmara. Yap! Itu adalah foto Ibu Ratih bersama kekasihnya dulu. Mama Zoya sama sekali tidak mengenali laki-laki yang menjadi pacar adiknya itu. Tapi, saat Mama Zoya membalik fotonya, ada
"Baik. Nanti saya akan ke sana. Terima kasih." Mama Zoya meletakkan kembali ponselnya dan kembali melanjutkan makan. Sebenarnya jika bukan dari rumah sakit jiwa, Mama Zoya enggan mengangkatnya. Rasanya tak elok jika sedang makan tapi malah menjawab telepon. "Dari siapa, Ma?" tanya Zaki. Dia baru saj
Suasana rumah Mama Zoya sangat sepi. Duka masih menyelimuti rumah itu. Semenjak pemakaman Ibu Ratih selesai kemarin, baik Mama Zoya maupun Zaki tidak ada yang mau keluar kamar. Bahkan hanya untuk sekedar makan ataupun minum. Berulang kali Nirmala membujuk keduanya untuk makan, tapi selalu ditolak. "












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.