LOGINArsenio menangkap tangan Kirania dan menahannya kuat. "Lepas! Saya mohon jangan nekad, Non."
Alih-alih melepaskannya, Kirania justru menggenggam beling itu lebih kuat sehingga semakin melukai tangan gadis itu. "Saya mohon jangan seperti ini, Non. Lepaskan belingnya, ini akan melukaimu." Sorot mata Arsenio yang sarat akan kekhawatiran juga permohonan, bertemu dengan sorot mata Kirania yang memancarkan kesedihan, rasa lelah, maupun keputusasaan yang mendalam. Air mata gadis itu berurai deras. "Semua keluarga Kira udah gak ada, Om. Semuanya ninggalin, Kira. Mama, lalu Papa. Gak ada lagi yang tersisa bagi Kira di dunia ini. Jadi untuk apa lagi Kira hidup? Lebih baik Kira pergi bersama mereka. Kira mau ketemu Papa," bisik Kirania parau, suaranya hampir tidak terdengar, tenggelam dalam tangisnya. Arsenio menggeleng tegas. "Tidak. Tuan Pradipta pasti tidak akan suka jika Non Kira menemuinya dengan cara seperti ini." "Biarkan Kira mati! Kira gak mau hidup kayak gini, Om. Gak mau ...." lirih Kirania, mulai meraung. "Bertahan lah, Non. Bertahan lah, saya mohon," pinta Arsenio, memohon dengan sangat kepada Kirania. "Gak bisa, Om. Gak bisa ...." Kirania mulai terisak. "Bisa, Non. Pasti bisa. Percayalah pada saya, semua akan baik-baik saja." Arsenio berusaha untuk meyakinkan Kirania. "OM ARSEN GAK NGERTI!" jerit Kirania dengan suaranya yang bergetar. "Setiap hari sekarang rasanya seperti neraka untuk Kira, Om! Kira selalu dihantui rasa takut! Kak Jeff ... dia gak akan berhenti sampai tadi malam aja, selamanya dia akan terus jadi bayang-bayang menakutkan dalam hidup Kira. Dan Kira gak bisa hidup kayak gini, Om! Kira gak bisa ...! Kira gak sanggup ...! Kira ...." Teredam. Arsenio tidak bisa untuk tidak memeluk Kirania. Ini terlalu menyakitkan untuk ia lihat dan dengar. "Kenapa ini semua terjadi sama Kira, Om? Kenapa? Apa salah Kira? Kenapa Tuhan jahat sama Kira? Kira selalu jadi anak baik, tapi kenapa Tuhan mengambil semuanya dari Kira. Kira gak kuat, Om ... Kira gak kuat ...." Arsenio menelan ludahnya getir. Ratapan Kirania seperti sebuah belati yang menusuk sampai ke ulu hatinya, membuatnya ikut merasa sakit dan tidak berdaya. Semenderita itukah yang Kirania rasakan sekarang? Sampai-sampai suara isak tangis gadis itu tidak keluar, tapi tubuh gadis itu bergetar hebat, ia juga bisa merasakan kaos bagian dadanya basah—tanda bahwa air mata Kirania tidak berhenti mengalir. Arsenio memeluk Kirania lebih erat lagi. Seperti semalam, ia hanya ingin membuat Kirania merasa lebih tenang, merasa punya tempat untuk pulang, dan merasa aman. "Bukannya saya tidak mengerti dengan penderitaan dan rasa takut, Non Kira. Justru karena saya sangat mengerti, saya ingin Non Kira bertahan." Arsenio bergumam di atas kepala Kirania. Ia mengurai pelukannya, menangkup wajah Kirania yang banjir air mata, lalu menghapusnya dengan ibu jarinya. "Saya tidak bisa janji bahwa semuanya akan baik-baik saja ke depannya. Tapi saya bisa janji, bahwa saya tidak akan pernah membuat Non Kira merasa sendirian dalam melewatinya." Hening. Kirania diam, tapi matanya yang memerah tidak putus menatap Arsenio. Air matanya terus jatuh, meski Arsenio terus menghapusnya. "Saya akan terus nemenin Non Kira, kemana pun dan selama yang Non Kira mau," sambung Arsenio, tak pernah lelah menghapus air mata Kirania yang terus bercucuran. Kirania terkekeh sinis, sebagai balasan. "Jangan buat janji, kalau Om sendiri gak bisa menepatinya. Papa juga pernah ngomong kayak gitu sama Kira, Om. Dia gak akan ninggalin Kira, akan nemenin Kira terus. Tapi buktinya apa? Dia tetap pergi, kan?" Suara Kirania tercekat, bibirnya bergetar menahan tangis. Arsenio terpaku, matanya tak sedikitpun putus menatap mata Kirania yang memancarkan luka serta duka yang terlalu dalam, sehingga sulit untuk dijelaskan. Bahkan ia tak lagi melihat ada gairah hidup di dalamnya, seolah keceriaan dan harapan disedot habis dari kedua belah mata indah itu. "Hidup Kira udah gak ada artinya lagi, Om. Gak peduli Kira mau jalan sejauh apapun, semuanya hanya akan berakhir sia-sia. Kira udah gak punya tujuan hidup lagi," isak Kirania, benar-benar berada di titik terendah hidupnya. "Bagi kamu mungkin hidupmu sudah tidak ada artinya lagi. Tapi pernah gak kamu mikir, mungkin aja hidup kamu berarti untuk orang lain?" Kirania menggeleng pedih. "Gak ada orang kayak gitu dalam hidup Kira, Om." "Ada." "Gak ada, Om." "Ada, Non." "KALAU ADA, SIAPA?!" "SAYA!" Arsenio menjawab dengan lantang. Hening Kirania terpaku, matanya tidak berkedip menatap Arsenio—terkejut akan bentakan pria itu. Arsenio meraup wajahnya gusar, lalu menarik Kirania ke dalam pelukannya. Gadis itu mematung—tidak menolak, tapi juga tidak membalas. "Maaf, saya tidak bermaksud membentak Non Kira," bisik Arsenio penuh penyesalan, sesekali mengecup puncak kepala Kirania dengan sayang. "Saya hanya ingin Non Kira tahu, jika ada orang yang menginginkan Non Kira hidup lebih lama di dunia ini, maka orang itu adalah saya." "Kira tahu, itu adalah amanat dari Papa." Kirania mengurai pelukan Arsenio, lantas mendongak menatap pria itu. Netra mereka bertemu. "Papa udah gak ada, Om. Jadi, Om Arsen gak perlu merasa terbebani akan amanat itu. Kira juga gak mau jadi beban dalam hidup—" Arsenio membungkam bibir Kirania dengan bibirnya, guna menekan ucapan yang akan keluar. Ia bisa merasakan tubuh Kirania menegang, tapi tidak memberontak, sehingga ia semakin berani menggerakkan bibirnya—melumat bibir mungil itu lembut. Jemarinya menyusuri lengan gadis itu, turun ke pinggang, lalu menarik tubuh mungil itu agar lebih rapat padanya. Sementara tangannya yang lain naik, menghidupkan shower. Air mulai mengalir mengguyur tubuh mereka, menciptakan suasana intim. Ciuman Arsenio lembut tapi begitu dalam, seolah Kirania adalah sesuatu yang rapuh, yang akan hancur apabila diperlakukan dengan kasar. Arsenio baru melepaskan ciumannya ketika merasa Kirania kehabisan napas. Bibir mereka terpisah, tapi wajah mereka masih sangat dekat dengan kening yang saling menyatu. Napas mereka sama-sama terengah di bawah guyuran air shower. Netra mata mereka saling menatap satu sama lain. Tangan Arsenio membingkai sebelah pipi Kirania, mengusapnya lembut menggunakan ibu jarinya. "Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi. Saya gak suka." Arsenio berbisik, kembali mendaratkan kecupan-kecupan ringan di bibir Kirania yang membengkak karena ulahnya. "Bagi saya, kamu bukan hanya sebatas amanat, melainkan lebih berharga dari itu. Kamu ... layak mendapatkan semua hal terbaik di dunia ini. Dan saya ... yang akan memastikan itu untukmu." Kirania termangu, seakan terhipnotis oleh tatapan Arsenio, membuatnya tidak bisa melepaskan diri dari mata yang menatapnya begitu dalam. Sedetik kemudian, Arsenio kembali menciumnya. Kirania memejamkan matanya, jemarinya meremas baju Arsenio—seolah mencari pegangan. Bukankah seharusnya sekarang Kirania memberontak? Tapi kenapa justru tubuhnya seakan menerima begitu saja? Ciuman lembut Arsenio, membuat Kirania merasa hidup dan seperti benar-benar diinginkan. "Mulai hari ini, kamu adalah tujuan baru dalam hidup saya."Ini sudah empat jam berlalu sejak Arsenio dan Jeff diusir, keduanya masih di sini—duduk di depan ruangan rawat Kirania, tanpa pertengkaran apalagi obrolan. Sesekali Arsenio akan berdiri, dan mengintip ke dalam ruangan, lewat celah kaca persegi di pintu."Tuan?"Suara yang tiba-tiba hadir di tengah keheningan itu, membuat Arsenio dan Jeff menoleh secara bersamaan. "Siska? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arsenio, keningnya mengernyit samar—merasa heran dengan kehadiran tiba-tiba wanita itu. "Saya tadi di telpon Non Kira, Tuan. Katanya dia minta dijemput di sini," jawab Siska, setelah sempat membungkuk singkat kepada Jeff. "Non Kira kenapa, Tuan?"Mendengarnya, Arsenio menghela napas kasar. Sepertinya gadis itu benar-benar akan menghindarinya setelah ini. "Ck." Arsenio berdecak, seraya meraup wajahnya gusar. "Kira di dalam, kau masuk saja.""Baik, Tuan." Selang sepuluh menit kemudian, Siska kembali keluar dari dalam ruangan, dengan Kirania di sampingnya. Mata Arsenio dan Jeff l
"Bagaimana kondisinya, Dok?" "Tidak ada luka yang serius. Tapi mungkin nanti ketika bangun, pasien akan merasa pusing karena efek benturan keras di kepalanya. Setelah infusnya habis, bisa langsung pulang.""Anda yakin? Dia tadi dipukul cukup keras, saya khawatir jika ada retakan di tempurung kepalanya atau di tulang wajahnya."Tinju yang Jeff layangkan tadi diperuntukkan untuknya, jadi ia tahu persis betapa kerasnya pukulan itu. "Agar Anda lebih tenang, saya akan melakukan CT SCAN untuk memastikan apakah ada retakan tulang, atau luka dalam di kepala atau wajah pasien. Jadi Anda tidak perlu khawatir." Arsenio akhirnya bisa bernapas lega. "Terimakasih." "Saya permisi dulu. Nanti akan ada suster yang datang untuk mengompres luka memar di wajah pasien."Setelah kepergian dokter tersebut, Arsenio duduk di kursi samping ranjang. Matanya tak lepas dari wajah Kirania yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Wajah gadis itu yang biasanya mulus tanpa cela, kini ternodai oleh luka lebam di
"Jeff!"Mengabaikan panggilan Helena, Jeff masuk ke dalam ruangannya. Menggeram, dan meraup wajahnya penuh kekalutan. Dadanya bergemuruh naik turun, pikirannya kacau bukan main akan kondisi Kirania—dan Helena datang disaat yang tidak tepat. "Fuck!" umpat Jeff, tanpa dapat ditahan menendang sofa di dekatnya.Tepat saat itu Helena masuk dengan tatapan tajam penuh interogasinya. "Itu tadi Kira, kan?" tanyanya to the point. Jeff tidak menjawab, bahkan masih membelakangi Helena, sambil mengatur napasnya yang memburu. "Jeff, jawab! Itu tadi Kira, kan?" desak Helena, sambil merenggut lengan Jeff dengan kuat hingga berbalik menghadapnya. "Dia ngapain di sini? Dan ini ...." Helena langsung gagal fokus pada luka sobek di sudut bibir Jeff. Ia baru akan menyentuh luka itu, saat Jeff sudah lebih dulu menjauhkan wajahnya. "Kamu ngapain di sini?" tanya Jeff datar. "Kamu bahkan belum jawab pertanyaan aku yang tadi, Jeff." Helena menggeram tertahan, sorot matanya menajam. "Itu tadi Kirania, kan
"Dia ngapain di sini?" tanya Jeff, sembari menatap tajam ke arah orang yang datang bersama Kirania. Ya, siapa lagi kalau bukan Arsenio. Memang hanya pria itu yang selalu mengintili Kirania kemanapun gadis itu pergi. "Kenapa? Ada masalah?" Arsenio menyahut santai, sambil melipat tangannya di dada. "Kau pikir aku akan membiarkan Kirania hanya berdua dengan singa birahi sepertimu, hm?" sambungnya sinis. "Aku sedang tidak ingin ribut denganmu. Jadi lebih baik kau pergi sekarang. Karena kehadiranmu sama sekali tidak dibutuhkan di sini," ucap Jeff, seraya meraih tangan Kirania untuk dibawa masuk. Kaki Arsenio terulur menahan pintu yang hendak ditutup, dan ikut menahan tangan Kirania yang lain. "Bersamaku ... atau tidak sama sekali," serunya dingin. Hening, dan atmosfer sekitar langsung berubah drastis. Suasana tegang memenuhi udara, membuat Kirania yang berada di tengah-tengah keduanya, menahan napas. Andai saja ia punya kantong doraemon, ia pasti sudah mengeluarkan alat yang bisa mem
Arsenio sedang duduk di sofa ruang tengah, saat Kirania baru saja turun dengan piyama tidur lengan pendeknya. Pria itu sempat melirik sekilas, sebelum kembali fokus pada layar laptopnya. Sejak pengusiran Devanka, Helena dan Jeff—Arsenio memang tinggal di penthouse sekarang. Pria itu merasa lebih aman jika Kirania tinggal bersamanya. Berhubung Kirania merasa terganggu dengan label menumpang—meskipun Arsenio tidak pernah beranggapan begitu, jadilah sekarang Arsenio yang tinggal di penthouse, daripada membiarkan gadis itu ngekost. "Om," panggil Kirania, mengambil duduk tepat di sebelah Arsenio, dengan jarak yang cukup dekat. "Hm." Arsenio menyahut, tapi tidak menoleh."Bantuin Kira dong. Kira ada tugas matematika bisnis, terus ada beberapa soal yang Kira gak ngerti." "Kamu gak lihat saya lagi ngapain?" balas Arsenio, dengan nada suara datar. "Emang lagi ngapain?" Kirania balik bertanya.Ia mencondongkan tubuhnya, bermaksud untuk melihat layar laptop Arsenio. Tapi pria itu tiba-tiba
Arsenio berlari kencang memasuki rumah sakit begitu mobil yang ia kendarai berhenti di hall depan. Tak berselang lama, matanya langsung bisa menangkap sosok Kirania yang duduk di salah satu bangku rumah sakit. "Kira! Kamu kenapa, Sayang? Apa yang terjadi? Kamu sakit? Jatuh? Kecelakaan atau apa? Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Arsenio dengan beruntun. Suaranya penuh dengan kekhawatiran.Ia berlutut di depan Kirania, sembari mengecek setiap inci tubuh gadis itu. "Om kenapa gak bilang sih, kalau efek setruman alat kejut listrik ini bakalan bikin orang gak sadarkan diri?" tanya Kirania dengan sesegukan. Alih-alih menjawab kekhawatiran Arsenio. "Hah? Setruman? Kamu disetrum siapa, Sayang?" Mata Arsenio membola dramatis. "Bilang sama saya, siapa yang berani-beraninya nyetrum ka—""OM ...! Bukan Kira yang disetrum, tapi Kira yang nyetrum orang!" sela Kirania, menghentakkan kakinya kesal, sambil terus menangis sesegukan. "Maksudnya gimana, Sayang?" tanya Arsenio lembut, seraya mengusap ai







