LOGINIni sudah empat jam berlalu sejak Arsenio dan Jeff diusir, keduanya masih di sini—duduk di depan ruangan rawat Kirania, tanpa pertengkaran apalagi obrolan. Sesekali Arsenio akan berdiri, dan mengintip ke dalam ruangan, lewat celah kaca persegi di pintu."Tuan?"Suara yang tiba-tiba hadir di tengah keheningan itu, membuat Arsenio dan Jeff menoleh secara bersamaan. "Siska? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arsenio, keningnya mengernyit samar—merasa heran dengan kehadiran tiba-tiba wanita itu. "Saya tadi di telpon Non Kira, Tuan. Katanya dia minta dijemput di sini," jawab Siska, setelah sempat membungkuk singkat kepada Jeff. "Non Kira kenapa, Tuan?"Mendengarnya, Arsenio menghela napas kasar. Sepertinya gadis itu benar-benar akan menghindarinya setelah ini. "Ck." Arsenio berdecak, seraya meraup wajahnya gusar. "Kira di dalam, kau masuk saja.""Baik, Tuan." Selang sepuluh menit kemudian, Siska kembali keluar dari dalam ruangan, dengan Kirania di sampingnya. Mata Arsenio dan Jeff l
"Bagaimana kondisinya, Dok?" "Tidak ada luka yang serius. Tapi mungkin nanti ketika bangun, pasien akan merasa pusing karena efek benturan keras di kepalanya. Setelah infusnya habis, bisa langsung pulang.""Anda yakin? Dia tadi dipukul cukup keras, saya khawatir jika ada retakan di tempurung kepalanya atau di tulang wajahnya."Tinju yang Jeff layangkan tadi diperuntukkan untuknya, jadi ia tahu persis betapa kerasnya pukulan itu. "Agar Anda lebih tenang, saya akan melakukan CT SCAN untuk memastikan apakah ada retakan tulang, atau luka dalam di kepala atau wajah pasien. Jadi Anda tidak perlu khawatir." Arsenio akhirnya bisa bernapas lega. "Terimakasih." "Saya permisi dulu. Nanti akan ada suster yang datang untuk mengompres luka memar di wajah pasien."Setelah kepergian dokter tersebut, Arsenio duduk di kursi samping ranjang. Matanya tak lepas dari wajah Kirania yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Wajah gadis itu yang biasanya mulus tanpa cela, kini ternodai oleh luka lebam di
"Jeff!"Mengabaikan panggilan Helena, Jeff masuk ke dalam ruangannya. Menggeram, dan meraup wajahnya penuh kekalutan. Dadanya bergemuruh naik turun, pikirannya kacau bukan main akan kondisi Kirania—dan Helena datang disaat yang tidak tepat. "Fuck!" umpat Jeff, tanpa dapat ditahan menendang sofa di dekatnya.Tepat saat itu Helena masuk dengan tatapan tajam penuh interogasinya. "Itu tadi Kira, kan?" tanyanya to the point. Jeff tidak menjawab, bahkan masih membelakangi Helena, sambil mengatur napasnya yang memburu. "Jeff, jawab! Itu tadi Kira, kan?" desak Helena, sambil merenggut lengan Jeff dengan kuat hingga berbalik menghadapnya. "Dia ngapain di sini? Dan ini ...." Helena langsung gagal fokus pada luka sobek di sudut bibir Jeff. Ia baru akan menyentuh luka itu, saat Jeff sudah lebih dulu menjauhkan wajahnya. "Kamu ngapain di sini?" tanya Jeff datar. "Kamu bahkan belum jawab pertanyaan aku yang tadi, Jeff." Helena menggeram tertahan, sorot matanya menajam. "Itu tadi Kirania, kan
"Dia ngapain di sini?" tanya Jeff, sembari menatap tajam ke arah orang yang datang bersama Kirania. Ya, siapa lagi kalau bukan Arsenio. Memang hanya pria itu yang selalu mengintili Kirania kemanapun gadis itu pergi. "Kenapa? Ada masalah?" Arsenio menyahut santai, sambil melipat tangannya di dada. "Kau pikir aku akan membiarkan Kirania hanya berdua dengan singa birahi sepertimu, hm?" sambungnya sinis. "Aku sedang tidak ingin ribut denganmu. Jadi lebih baik kau pergi sekarang. Karena kehadiranmu sama sekali tidak dibutuhkan di sini," ucap Jeff, seraya meraih tangan Kirania untuk dibawa masuk. Kaki Arsenio terulur menahan pintu yang hendak ditutup, dan ikut menahan tangan Kirania yang lain. "Bersamaku ... atau tidak sama sekali," serunya dingin. Hening, dan atmosfer sekitar langsung berubah drastis. Suasana tegang memenuhi udara, membuat Kirania yang berada di tengah-tengah keduanya, menahan napas. Andai saja ia punya kantong doraemon, ia pasti sudah mengeluarkan alat yang bisa mem
Arsenio sedang duduk di sofa ruang tengah, saat Kirania baru saja turun dengan piyama tidur lengan pendeknya. Pria itu sempat melirik sekilas, sebelum kembali fokus pada layar laptopnya. Sejak pengusiran Devanka, Helena dan Jeff—Arsenio memang tinggal di penthouse sekarang. Pria itu merasa lebih aman jika Kirania tinggal bersamanya. Berhubung Kirania merasa terganggu dengan label menumpang—meskipun Arsenio tidak pernah beranggapan begitu, jadilah sekarang Arsenio yang tinggal di penthouse, daripada membiarkan gadis itu ngekost. "Om," panggil Kirania, mengambil duduk tepat di sebelah Arsenio, dengan jarak yang cukup dekat. "Hm." Arsenio menyahut, tapi tidak menoleh."Bantuin Kira dong. Kira ada tugas matematika bisnis, terus ada beberapa soal yang Kira gak ngerti." "Kamu gak lihat saya lagi ngapain?" balas Arsenio, dengan nada suara datar. "Emang lagi ngapain?" Kirania balik bertanya.Ia mencondongkan tubuhnya, bermaksud untuk melihat layar laptop Arsenio. Tapi pria itu tiba-tiba
Arsenio berlari kencang memasuki rumah sakit begitu mobil yang ia kendarai berhenti di hall depan. Tak berselang lama, matanya langsung bisa menangkap sosok Kirania yang duduk di salah satu bangku rumah sakit. "Kira! Kamu kenapa, Sayang? Apa yang terjadi? Kamu sakit? Jatuh? Kecelakaan atau apa? Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Arsenio dengan beruntun. Suaranya penuh dengan kekhawatiran.Ia berlutut di depan Kirania, sembari mengecek setiap inci tubuh gadis itu. "Om kenapa gak bilang sih, kalau efek setruman alat kejut listrik ini bakalan bikin orang gak sadarkan diri?" tanya Kirania dengan sesegukan. Alih-alih menjawab kekhawatiran Arsenio. "Hah? Setruman? Kamu disetrum siapa, Sayang?" Mata Arsenio membola dramatis. "Bilang sama saya, siapa yang berani-beraninya nyetrum ka—""OM ...! Bukan Kira yang disetrum, tapi Kira yang nyetrum orang!" sela Kirania, menghentakkan kakinya kesal, sambil terus menangis sesegukan. "Maksudnya gimana, Sayang?" tanya Arsenio lembut, seraya mengusap ai







