LOGIN"Brengsek! Berani-beraninya kau menyentuh Nona Kira! Biadab!" maki Arsenio yang tengah memukuli Jeff dengan membabi buta. Serangan telak yang tidak terelakkan oleh Jeff yang berada di bawah kukungan tubuh besar Arsenio.
“Aku sudah curiga sedari tadi ketika melihatmu masuk ke dalam kamar Nona Kira, tapi aku menahan diriku untuk tidak menerobos masuk.” Arsenio baru menghentikan pukulannya setelah wajah Jeff babak belur. Ia bangkit dari atas tubuh Jeff yang terkapar tidak berdaya, napasnya memburu hebat. Ia lantas berbalik ke arah Kirania yang menangis sesegukan di atas ranjang, menarik selimut dan menutupi tubuh Kirania yang sudah setengah telanjang itu. "Om ...." isak Kirania, seakan mengadu pada pria berusia 40 tahunan itu. "Tenanglah, Non. Semua akan baik-baik saja." Arsenio melepaskan ikatan pada tangan Kirania dengan lembut, agar tidak menyakiti gadis itu. Setelah ikatan pada tangan Kirania terlepas, Arsenio kemudian melilitkan selimut di tubuh gadis itu. Saat ia hendak menggendong Kirania—bermaksud membawanya pergi dari kamar tersebut, ia justru merasakan sesuatu menyentuh kepala bagian belakangnya. Arsenio menegang, kontan berhenti bergerak. Ia tahu benda apa yang kini tengah menekan kepalanya. Tanpa berbalik, ia bersuara dengan tenang. "Saya sangat menghormati Anda selama ini, Tuan. Tapi apa yang Anda lakukan malam ini sudah kelewat batas. Selama ini saya hanya diam, karena saya tahu bahwa saya tidak berhak untuk ikut campur. Tapi sekarang, Tuan Pradipta sudah tidak ada, saya lah yang akan mengambil alih tanggungjawab untuk menjaga Nona Kira." Suaranya dingin, tidak se-emosional tadi. "Keluar!" titah Jeff tak kalah dinginnya. Arsenio perlahan berbalik—mulut pistol langsung menyambutnya, ia menatap Jeff datar. "Saya akan keluar, tapi begitu juga dengan Anda, Tuan. Biarkan Nona Kira istirahat dengan tenang." Jeff melangkah maju, suaranya semakin penuh dengan penekanan. "Keluar sekarang, sebelum pistolku yang akan mengantarmu keluar dengan paksa." Arsenio bergeming, masih tampak tenang, tak sedikitpun terpengaruh. "Saya tidak ingin bertengkar dengan Anda, Tuan." "Sejak kau menerobos masuk dan mengganggu kesenanganku, kau sudah mengibarkan bendera perang denganku, brengsek!" Kesabaran Jeff benar-benar terkikis. Kirania hampir saja menjerit ketika Jeff dengan gerakan cepat dan tidak terduga, menyerang Arsenio dengan pukulan keras. Tapi Arsenio berhasil menghindar, dan membalas dengan tendangan, hingga tubuh Jeff mundur beberapa langkah. Detik berikutnya, keduanya saling serang dengan kecepatan dan kekuatan yang nyaris sama. Serangan Jeff terlihat lebih menggebu-gebu, sementara Arsenio tampak lebih tenang. Pukulan dan tendangan mereka membelah udara dengan intens, menciptakan suara keras yang menyeramkan. Pistol di tangan Jeff tadi telah terlempar jatuh ke lantai, disela-sela pertarungan mereka. "Om Arsen!" Kirania menutup mulutnya, matanya melebar melihat bagaimana Arsenio dengan begitu beringas menghujami wajah Jeff dengan pukulan-pukulan mematikan, setelah berhasil memojokkan Jeff ke dinding dan mengunci pergerakan pria itu. "Dia itu adik iparmu. Jika kau tidak bisa menjaganya, paling tidak jangan merusaknya," gertak Arsenio tertahan, lantas mendorong Jeff hingga tersungkur di lantai. Tanpa menunggu lama, Arsenio berbalik dan membawa Kirania keluar dari kamar tersebut. Ia bisa merasakan ketakutan gadis itu lewat getaran kuat jemari Kirania yang meremas bajunya. Rahang Arsenio tanpa sadar mengetat dengan sendirinya. Arsenio membawa Kirania ke kamarnya, mendudukkan gadis itu dengan lembut di atas ranjang. "Akan saya panggilkan Maid untuk membantu Nona berpakaian." Kaki Arsenio baru akan melangkah pergi, sesaat lengannya ditahan. Ia berbalik, menatap mata Kirania yang berkaca-kaca dan seolah tidak ingin ditinggalkan. "Jangan tinggalin Kira, Om. Kira takut sendirian di sini ...," pinta Kirania, suaranya bergetar, air matanya kembali mengalir. Memohon agar Arsenio tetap tinggal. Arsenio terpaku, matanya tidak putus memandang Kirania yang kini memeluk kedua kakinya. Ia bisa melihat bagaimana sepasang mata indah itu tampak linglung, dan memancarkan ketakutan yang mendalam. Air mata gadis itu jatuh tidak terbendung, meski tanpa suara isakan. Tangan Arsenio naik dengan ragu, mengusap kepala Kirania pelan. Ia bermaksud ingin menenangkan, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Isak tangis Kirania pecah, dan Arsenio tidak bisa untuk tidak membungkus tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya. Kirania mengubur wajahnya dalam-dalam di dada bidang Arsenio. Ia menumpahkan segala tangisnya di sana. Hatinya luar biasa sakit sekarang mengingat perlakuan Jeff tadi, sehingga menimbulkan sesak yang begitu menyiksa. "Papa ...." Kirania meraung memanggil Papanya. Arsenio bergeming, wajahnya mengeras mendengar suara tangis Kirania yang begitu sarat akan kepedihan. Rahangnya mengetat menahan emosi. "Non Kira aman sekarang. Saya di sini, saya tidak akan kemana-mana," bisik Arsenio menenangkan, mengusap punggung Kirania naik turun. Ia biarkan gadis itu terus menangis hingga lelah, dan berakhir tertidur di pelukannya. Pagi harinya, Kirania terbangun dalam keadaan sudah berpakaian lengkap. Ia mendapati ada Arsenio yang tidur dalam posisi duduk bersandar di kepala ranjang. Pandangannya lalu jatuh pada tangannya yang berada dalam genggaman tangan besar Arsenio. Pagi ini adalah pagi yang berat untuk Kirania, selain karena ini adalah pagi pertamanya tanpa sosok sang Papa. Pagi ini juga, ia bangun dalam bayang-bayang menakutkan kejadian semalam. Bukan hanya itu, ke depannya Jeff mungkin akan terus mengikutinya seperti layaknya bayangan menyeramkan. Kirania dengan perlahan beranjak dari ranjang. Dengan tenaga seadanya, ia melangkah memasuki bilik kamar mandi. Tidak lupa, ia mengunci pintu kamar mandi. Di dalam kamar mandi, ia memandangi refleksi dirinya yang tampak seperti mayat hidup karena wajahnya yang pucat pasi, dan mata yang sembab. Detik berikutnya, matanya jatuh pada vas bunga hias di sudut wastafel. "Membayangkan hidup tanpa Papa saja itu sudah menakutkan untuk Kira, Pa. Apalagi sekarang, di sini Kira tidak punya perlindungan lagi. Lebih baik Kira ikut Mama dan Papa, bukan?" PRANG! Cermin besar tersebut pecah setelah Kirania menghantamnya dengan vas bunga. Dipungutnya salah satu pecahan kaca di lantai, lantas menggenggamnya dengan kuat hingga darah menetes mengotori lantai. Tak ada ringisan, yang ada hanyalah kedukaan pada hatinya. Kirania tidak sekuat itu untuk bisa menerima takdir ini. Tangannya yang menggenggam beling terangkat, mengarahkan bagian runcing pecahan itu ke arah lehernya dengan gerakan cepat tanpa sedikitpun ada keraguan di dalamnya. “Jika aku tidak bisa membawa kembali orang tuaku, biar aku yang menyusul mereka!” "Apa yang kau lakukan?!" Bentakan itu menggema keras, tepat setelah pintu kamar mandi terbuka kasar.Ini sudah empat jam berlalu sejak Arsenio dan Jeff diusir, keduanya masih di sini—duduk di depan ruangan rawat Kirania, tanpa pertengkaran apalagi obrolan. Sesekali Arsenio akan berdiri, dan mengintip ke dalam ruangan, lewat celah kaca persegi di pintu."Tuan?"Suara yang tiba-tiba hadir di tengah keheningan itu, membuat Arsenio dan Jeff menoleh secara bersamaan. "Siska? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arsenio, keningnya mengernyit samar—merasa heran dengan kehadiran tiba-tiba wanita itu. "Saya tadi di telpon Non Kira, Tuan. Katanya dia minta dijemput di sini," jawab Siska, setelah sempat membungkuk singkat kepada Jeff. "Non Kira kenapa, Tuan?"Mendengarnya, Arsenio menghela napas kasar. Sepertinya gadis itu benar-benar akan menghindarinya setelah ini. "Ck." Arsenio berdecak, seraya meraup wajahnya gusar. "Kira di dalam, kau masuk saja.""Baik, Tuan." Selang sepuluh menit kemudian, Siska kembali keluar dari dalam ruangan, dengan Kirania di sampingnya. Mata Arsenio dan Jeff l
"Bagaimana kondisinya, Dok?" "Tidak ada luka yang serius. Tapi mungkin nanti ketika bangun, pasien akan merasa pusing karena efek benturan keras di kepalanya. Setelah infusnya habis, bisa langsung pulang.""Anda yakin? Dia tadi dipukul cukup keras, saya khawatir jika ada retakan di tempurung kepalanya atau di tulang wajahnya."Tinju yang Jeff layangkan tadi diperuntukkan untuknya, jadi ia tahu persis betapa kerasnya pukulan itu. "Agar Anda lebih tenang, saya akan melakukan CT SCAN untuk memastikan apakah ada retakan tulang, atau luka dalam di kepala atau wajah pasien. Jadi Anda tidak perlu khawatir." Arsenio akhirnya bisa bernapas lega. "Terimakasih." "Saya permisi dulu. Nanti akan ada suster yang datang untuk mengompres luka memar di wajah pasien."Setelah kepergian dokter tersebut, Arsenio duduk di kursi samping ranjang. Matanya tak lepas dari wajah Kirania yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Wajah gadis itu yang biasanya mulus tanpa cela, kini ternodai oleh luka lebam di
"Jeff!"Mengabaikan panggilan Helena, Jeff masuk ke dalam ruangannya. Menggeram, dan meraup wajahnya penuh kekalutan. Dadanya bergemuruh naik turun, pikirannya kacau bukan main akan kondisi Kirania—dan Helena datang disaat yang tidak tepat. "Fuck!" umpat Jeff, tanpa dapat ditahan menendang sofa di dekatnya.Tepat saat itu Helena masuk dengan tatapan tajam penuh interogasinya. "Itu tadi Kira, kan?" tanyanya to the point. Jeff tidak menjawab, bahkan masih membelakangi Helena, sambil mengatur napasnya yang memburu. "Jeff, jawab! Itu tadi Kira, kan?" desak Helena, sambil merenggut lengan Jeff dengan kuat hingga berbalik menghadapnya. "Dia ngapain di sini? Dan ini ...." Helena langsung gagal fokus pada luka sobek di sudut bibir Jeff. Ia baru akan menyentuh luka itu, saat Jeff sudah lebih dulu menjauhkan wajahnya. "Kamu ngapain di sini?" tanya Jeff datar. "Kamu bahkan belum jawab pertanyaan aku yang tadi, Jeff." Helena menggeram tertahan, sorot matanya menajam. "Itu tadi Kirania, kan
"Dia ngapain di sini?" tanya Jeff, sembari menatap tajam ke arah orang yang datang bersama Kirania. Ya, siapa lagi kalau bukan Arsenio. Memang hanya pria itu yang selalu mengintili Kirania kemanapun gadis itu pergi. "Kenapa? Ada masalah?" Arsenio menyahut santai, sambil melipat tangannya di dada. "Kau pikir aku akan membiarkan Kirania hanya berdua dengan singa birahi sepertimu, hm?" sambungnya sinis. "Aku sedang tidak ingin ribut denganmu. Jadi lebih baik kau pergi sekarang. Karena kehadiranmu sama sekali tidak dibutuhkan di sini," ucap Jeff, seraya meraih tangan Kirania untuk dibawa masuk. Kaki Arsenio terulur menahan pintu yang hendak ditutup, dan ikut menahan tangan Kirania yang lain. "Bersamaku ... atau tidak sama sekali," serunya dingin. Hening, dan atmosfer sekitar langsung berubah drastis. Suasana tegang memenuhi udara, membuat Kirania yang berada di tengah-tengah keduanya, menahan napas. Andai saja ia punya kantong doraemon, ia pasti sudah mengeluarkan alat yang bisa mem
Arsenio sedang duduk di sofa ruang tengah, saat Kirania baru saja turun dengan piyama tidur lengan pendeknya. Pria itu sempat melirik sekilas, sebelum kembali fokus pada layar laptopnya. Sejak pengusiran Devanka, Helena dan Jeff—Arsenio memang tinggal di penthouse sekarang. Pria itu merasa lebih aman jika Kirania tinggal bersamanya. Berhubung Kirania merasa terganggu dengan label menumpang—meskipun Arsenio tidak pernah beranggapan begitu, jadilah sekarang Arsenio yang tinggal di penthouse, daripada membiarkan gadis itu ngekost. "Om," panggil Kirania, mengambil duduk tepat di sebelah Arsenio, dengan jarak yang cukup dekat. "Hm." Arsenio menyahut, tapi tidak menoleh."Bantuin Kira dong. Kira ada tugas matematika bisnis, terus ada beberapa soal yang Kira gak ngerti." "Kamu gak lihat saya lagi ngapain?" balas Arsenio, dengan nada suara datar. "Emang lagi ngapain?" Kirania balik bertanya.Ia mencondongkan tubuhnya, bermaksud untuk melihat layar laptop Arsenio. Tapi pria itu tiba-tiba
Arsenio berlari kencang memasuki rumah sakit begitu mobil yang ia kendarai berhenti di hall depan. Tak berselang lama, matanya langsung bisa menangkap sosok Kirania yang duduk di salah satu bangku rumah sakit. "Kira! Kamu kenapa, Sayang? Apa yang terjadi? Kamu sakit? Jatuh? Kecelakaan atau apa? Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Arsenio dengan beruntun. Suaranya penuh dengan kekhawatiran.Ia berlutut di depan Kirania, sembari mengecek setiap inci tubuh gadis itu. "Om kenapa gak bilang sih, kalau efek setruman alat kejut listrik ini bakalan bikin orang gak sadarkan diri?" tanya Kirania dengan sesegukan. Alih-alih menjawab kekhawatiran Arsenio. "Hah? Setruman? Kamu disetrum siapa, Sayang?" Mata Arsenio membola dramatis. "Bilang sama saya, siapa yang berani-beraninya nyetrum ka—""OM ...! Bukan Kira yang disetrum, tapi Kira yang nyetrum orang!" sela Kirania, menghentakkan kakinya kesal, sambil terus menangis sesegukan. "Maksudnya gimana, Sayang?" tanya Arsenio lembut, seraya mengusap ai







