Home / Zaman Kuno / Aku Dan Tuan Duke / 5. Anya dan Apel Bodoh

Share

5. Anya dan Apel Bodoh

Author: cyllachan
last update Last Updated: 2024-03-16 11:00:06

"Haaah ...," erangku berat.

'Kenapa aku beli benda seperti ini sih?'

Aku, Anya Levitski, telah menyetujui lamaran Lord Alexey Korzakov di atas kereta kuda sebulan lalu. Hanya semudah itu, dengan cap keluarga Korzakov, seluruh asetku telah berpindah tangan. Pabrik dan gudang. Aku menolak menjual mansion karena itu satu-satunya yang menjadi milikku. Semua berkas telah dibereskan oleh Vadim.

Lord Korzakov telah membeli gudang dan pabrikku. Sekaligus membayarkan utang paman sebesar lima ribu keping Lyrac. Lalu, menurut kurator, pabrik dan gudangku hanya bisa dihargai dua ribu lima ratus keping Lyrac. Sedangkan Lord Korzakov memutuskan untuk membeli seharga tiga ribu keping Lyrac.

Itu uang yang bisa kupakai selama berbulan-bulan. Aku bisa membeli sepetak tanah, rumah kecil, mungkin beberapa sapi dan domba. Tapi tidak. Dengan konyolnya telah kuhabiskan dalam sehari.

Kini aku tengah memandangi benda itu. Kupegang di tangan.

Sepasang cufflink tersemat di tempatnya, di kotak kecil yang dilapis beludru merah. Cufflink adalah kancing yang disematkan di bagian pergelangan tangan kemeja laki-laki. Bisa dilepas pasang sehingga bisa dipakai sehari-hari.

Sudah menjadi tradisi keluarga bangsawan. Ketika menikah, kedua mempelai akan saling memberikan hadiah pada calon pasangannya. Semakin tinggi status calonnya, maka hadiah yang diberikan harus semakin bagus atau banyak. Itu untuk menjaga martabat dan menghormati status keluarganya.

Menikah tidak gratis.

Biasanya kalau anak perempuan, akan diurus orang tua atau walinya. Tapi ... aku sudah tidak punya siapa-siapa.

Kira-kira, hadiah pernikahan apa yang pantas diberikan untuk seorang Duke? Untuk seorang tangan kanan Tsar?

Dengan berbagai pertimbangan, aku memutuskan untuk memberikan calon suamiku sepasang cufflink sebagai hadiah pernikahan. Aku memesannya khusus, supaya kancingnya dicetak motif kepala harimau, sesuai lambang keluarga Korzakov. Dan dibuat dari orihalcum, logam langka yang mahal berwarna kuning keemasan.

Aku tidak tahu hadiah apa yang lebih pantas untuk keluarga setingkat Duke. Dan ... cuma benda ini yang bisa kubawa sebagai hadiah. Uangku habis. Ini adalah benda termahal yang pernah kubeli dalam hidupku. Bisa dibilang, aku tak punya apa-apa lagi. Uang hasil menjual pabrik dan gudangku sudah ludes.

Meskipun dia tidak pernah menulis atau mengatakan padaku, apa yang ia inginkan sebagai hadiah pernikahan, tapi aku ingat satu pasal dalam kontrak kami.

Yaitu selalu menjaga reputasi dan nama baik keluarga Korzakov.

'Apa pantas ya, membawa ini saja sebagai hadiah pernikahan?' batinku.

Mataku tertuju pada dua kerat apel yang telah kukumpulkan dari pohon apel dekat mansion. Itu adalah jenis 'Apel Ratu'. Rasanya manis dan buahnya besar-besar, airnya banyak juga. Harus menunggu musim semi tiba untuk memanennya.

Satu-satunya yang membuatku ceria dalam setahun adalah saat pohon 'Apel Ratu' di depan mansion kami berbuah. Kalau dijual dipasar bisa cukup mahal. Makanan orang kaya. Tadinya aku berpikir untuk menjadikannya hadiah pernikahan.

'Ahh ... kenapa aku harus miskin sih,' batinku mengerutuk.

Sekarang sudah terlambat untuk mundur. Aku telah menyetujui semua persyaratan dari Lord Korzakov. Dia juga telah memenuhi semua perjanjian kami. Meskipun semua perjanjian sudah tertulis secara rinci, tapi tidak ada bahasan soal harus seperti apa hadiah pernikahan yang kami berikan. Itu membuatku kepikiran berhari-hari.

"Lady Levitski, apa ini juga dibawa?" ia menunjuk pada apel-apel itu.

Suara Sir Sergei membangunkanku dari kebimbangan.

"Iya ... bawa saja," kataku lirih.

'Sudahlah ... aku tidak punya pilihan lain.'

Mataku menyapu pemandangan kediaman Levitski untuk yang terakhir kali. Aku sudah bersiap dengan gaun hijau zamrud dan mengemasi semua barang-barangku.

Aku menggeleng pelan sambil berkata lirih. "Aku pasti sudah gila, ayah."

"Lady Levitski, apa sudah semuanya?" tanya Sir Sergei lagi.

Dia adalah Sir Sergei, ksatria kiriman Lord Korzakov yang akan mengantarku ke Kota Balazmir, tempat istana keluarga Korzakov berada. Dua pelayan dan delapan ksatria lain menjemputku.

"Sudah, ser," kataku.

Dengan barang terakhir yang dimuat di kereta kuda, kami pergi dari desa. Aku tak bisa berhenti memandang mansion Levitski. Ia menyusut dari kejauhan. Aku telah tinggal di sana sendirian. Tanpa pelayan atau apapun. Cuma aku sendiri.

Akhirnya aku pun meninggalkan desa ini. Dulunya wilayah Barony Levitski, tapi semenjak ayah sakit-sakitan, kami harus menjual wilayah kekuasaan kami yang tidak seberapa ini. Barony Levitsky dibeli oleh seorang saudagar kaya dari ibukota. Lalu dia menjual secara sepetak-sepetak kepada siapapun warga desa yang bisa membeli dengan harga yang sudah dia tetapkan.

Yang kupunya saat itu hanya gelar bangsawanku. Aku nyaris berpikir untuk menjualnya. Untung saja kuurungkan niat itu. Karena bisa jadi aku akan kehilangan kesempatanku untuk menikah dengan bangsawan lain.

Apa alasanku menerima lamaran Lord Korzakov?

Putus asa karena utang? Tentu. Sejak pabrik sama sekali tidak beroperasi, aku sudah tidak tahu bagaimana harus membayar. Sekarang calon suamiku adalah pria yang buruk menurut rumor. Aku terus berusaha berpikir positif berhari-hari.

Tenang Anya, setelah ini ... kau tidak perlu lagi harus sembunyi dari rentenir. Kau bisa menikmati harta suamimu sesukamu. Kau tidak perlu bekerja dari subuh hingga petang lagi. Itu yang terus kuulang-ulang di dalam kepala.

Tapi ... hal sebenarnya yang membuatku setuju untuk menikah adalah ... kupikir dia berkata jujur.

Kupikir ... Lord Korzakov adalah 'segalanya' kecuali seorang pembohong.

Ya, dia kasar. Ya, dia tidak sabaran. Ya, dia membunuh orang, itu sudah pasti.

Tapi berbohong?

Sebetulnya ... kebenaran seperti apa yang ada pada Lord Korzakov?

Dua hari lamanya rombongan kami menyusuri jalanan di Dukedom Korzakov. Tak terasa sudah ada di Kota Balazmir. Tanganku meremas kuat kotak cufflink yang sulit kulepaskan selama perjalanan.

Jantungku berdebar begitu kencang saat kami memasuki pelataran istana keluarga Korzakov. Kereta kuda kami langsung berhenti di tangga pualam sebelum pintu utama bangunan istana. Saat aku turun dari kereta kuda, Igor dan beberapa pelayan di belakang telah berdiri menyambutku.

"Selamat datang, Lady Levitski," sambutnya sopan. "Kami sudah menyiapkan kamar untuk Anda. Barang-barang ini biar kami yang mengurusnya."

"Terimakasih, Igor," ucapku sambil tersenyum.

Kemudian para ksatria dan pelayan mulai memindahkan koper-koperku yang jumlahnya sedikit. Mereka juga mengangkut dua kerat 'Apel Ratu' dari kediamanku.

"Sergei!" seru seseorang. Ia melangkah begitu cepat dan jengkel keluar dari istana. "Kau terlambat! Seharusnya sudah sampai dari pagi 'kan?!"

Aku mengenali suaranya. Lord Korzakov.

"Maafkan kami, my lord. Tapi hujan turun lebat saat kami baru berangkat," Sergei membungkuk dalam.

Sebulan telah berlalu. Akhirnya aku melihat lagi wajah pria ini. Masih memasang raut jengkel dan buas setiap waktu. Aku ingat seperti baru kemarin. Aku tak tahu apa dia menyadari kehadiranku atau tidak.

"Dan kenapa kau beli apel sebanyak itu?!" tunjuknya sambil menuruni tangga pualam.

"I-ini ...," Sergei melirikku gugup. Aku bisa melihat ksatria dan pelayan lain yang ikut rombongan menatapku.

"Itu ... saya yang bawa, Your Grace," kataku. Langkah Lord Korzakov terhenti. Kali ini ... ia memandangku. "Itu ... hadiah pernikahan ... untuk Anda," ucapku lirih.

Lord Korzakov mematung. Semua ksatria dan pelayan juga sama. Aku berani bersumpah tidak mendengar apapun setelahnya. Mereka berhenti bicara dan berhenti dari kegiatan apapun yang mereka lakukan. Aku bisa merasakan semua mata menuju padaku. Rasanya tubuhku yang kecil ini semakin menyusut.

Aku tertunduk. Kepalaku menggantung penuh rasa malu. Jantungku mau copot rasanya. Wajahku sudah merah di bawah sini.

'Oh Anya! Seharusnya kau tinggalkan saja ini di rumah!'

Aku yakin ... para pelayan akan menjadikanku bahan olok-olok. Atau ... Lord Korzakov berpikir aku sedang menghinanya. Apel untuk hadiah pernikahan seorang bangsawan?! Aku pasti akan dihabisi setelah ini.

Hanya ada langkah kaki pria itu yang terdengar. Ia lanjut menuruni tangga, dan berdiri di dekat tumpukan buah apel merah. Darahku mendesir semua ke kepala. Kakiku lunak seperti spageti yang dimasak terlalu lama. Ingin menangis rasanya. Aku sudah tidak punya muka!

Mungkin dia akan mengamuk lebih dari kejengkelannya pada Sergei karena kami terlambat.

Aku tidak bernyali untuk menatap. Aku hanya bisa memandangi kaki pria itu. Ia memunggungiku. Agak lama, kemudian aku mendengar sebuah suara.

Kress.

Aku mendongak. Sudah ada sebuah apel dengan bekas gigitan di tangannya. Dia bergeming di sana beberapa detik. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku juga tak bisa menerka wajahnya saat ini.

Tapi aku melihatnya menghela nafas.

'Tamat riwayatmu, Anya.'

Dia pasti tersinggung. Dia pasti akan membuang apel-apel itu. Aku sudah membuatnya malu! Bahkan sebelum hari pernikahan kami.

"Sajikan semua ini di makan malam pernikahanku! Jangan ada yang tersisa!" serunya dengan galak.

Aku terkejut.

"Baik, my lord!" jawab para pelayan kompak.

Dia ... apa dia marah? Apa dia tersinggung? Tapi ... kalau itu membuatnya terhina, dia tidak mungkin meminta para pelayan untuk menyajikan apel-apel itu.

Sejalan kemudian, ia menaiki tangga dengan langkah kaki yang cepat. Para pelayan kembali mengangkuti barang-barangku.

Ketika sampai di puncak tangga pualam, Lord Korzakov berhenti lagi. Dia menoleh, kuyakin mata birunya yang tajam menatapku. Aku menelan ludah.

"Layani calon istriku dengan baik."

"Baik, my lord," jawab Igor.

Kemudian ia berbalik dan melanjutkan langkahnya.

Dengan semua itu, aku lupa kalau aku masih punya sepasang cufflink sebagai hadiah!

"Tu-!"

Dia sudah pergi.

"Hhh," desahku. Tadi itu benar-benar menegangkan. Seharusnya ... jika aku bisa memberinya cufflink ini di depan semua orang, setidaknya bisa sedikit menyelamatkan mukaku.

Aku menatap nyeri pada sekerat apel yang mulai diangkut oleh para pelayan.

'Anya Levitski dan apel bodohnya.'

Sial.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yani Suryani
makin asik,seru ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku Dan Tuan Duke   122. Sidang

    "Maaf? Maksud Anda?""Setelah semuanya kubeli dan kulunasi, apa yang akan kau lakukan?""Sa-saya ... mungkin akan bekerja di desa dan membeli rumah kecil."Aku lengang beberapa saat. Sedikit kekagetan, kekaguman, dan ketidakpercayaan bercampur jadi satu. Perempuan bangsawan begini ... dia mau melakukan itu? Maksudku, ayolah, perempuan bangsawan mana yang mau kerja di desa kecil pelosok di rumah kecil?!"Apa kau sudah menikah? Apa ada laki-laki yang dekat denganmu?"Kini Anya Levitski dengan wajah putih cantiknya yang asing tertunduk.Ia mengulum bibirnya dan melirih. "Tidak, my lord,"Jantungku bertambah debarannya. Mengapa? Mengapa aku malah sesenang ini dengan kemalangannya?Mulutku hendak terbuka. Aku ingin mengatakan sesuatu yang lain, sesuatu yang mengikuti hasratku selama ini. Sesuatu yang mengganjaliku sejak aku pertama bertemu dengannya di pesta debutante dua belas tahun lalu."My lord, Vadim di sini."Igo

  • Aku Dan Tuan Duke   121. Jerat

    Kutarik tali kekang kuda hingga mengikik.Kemudian aku berusaha mati-matian menyembunyikan kegugupan ini. Tapi memang aku dasarnya tolol saja. Tadinya aku ingin berkata, 'Hai apa kabar?'. Namun yang keluar dari mulut adalah sesuatu yang lain."Igor! Siapa ini?!" Igor malah jadi sasaran semburanku pagi-pagi."My lord, beliau adalah Lady Levitski.""Levitski?"Aku memastikan sekali lagi. Kali ini aku betul-betul mengucapkan namanya. Dan ia berada di hadapanku! Jantungku kian tidak beres. Dia tak kunjung tenang. Dadaku berdebar tidak karuan saat sadar bahwa ini semua bukanlah mimpi."Sergei! Ambil alih! Berikan mereka makan dan latihan satu jam lagi!""Baik my lord! Hiya!" Sergei memyahut cekatan. Pasukan berkudaku mengikuti pria itu masuk ke pelataran kastil. Kaki-kaki kuda mereka bergemuruh. Seakan gempa sekecil itu pun bisa membuat wanita kecil nan menggemaskan ini runtuh.Ia terlihat takut pada laju kuda-kuda pasukanku.

  • Aku Dan Tuan Duke   120. Kedatangan

    Malam hari tiba, besok kami akan langsung kembali ke Kota Balazmir. Sebelum tidur, aku dan Sergei memutuskan untuk sedikit minum-minum di kedai lantai bawah."Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kau ingin bertemu dengan wanita itu?"Sergei telah menanggalkan segala formalitasnya. Saat kami cuma berdua, ia berubah menjadi seorang kawan baik. Sahabatku.Aku menyesap bir dingin yang baru disajikan oleh Ela. Kami duduk di meja panjang kedai. Ela kembali mengelapi gelas-gelas."Tidak juga."Sergei mengernyit di bawah rambut hitamnya yang ikal."Apa maksudmu? Bukankah kita jauh-jauh kemari supaya kau bisa bertemu dengannya?"Aku merenung.Aku pun tak yakin mengapa aku melakukan ini semua. Bermil-mil jauhnya dari rumah hanya untuk melihat sekilas sosok itu. Lalu pulang tanpa berbincang dan bahkan menyapanya."Aku sudah mengiriminya surat. Jika dia memang mau menjual asetnya, dia bisa datang ke tempat kita. Tapi ... sepertinya

  • Aku Dan Tuan Duke   119. Wastu Negeri Dongeng

    "My lord, apa benar ini jalannya?" tanya Sergei."Kurasa begitu."Kami menyusuri jalanan desa dengan kuda. Aku dan Sergei bersama dua orang pengawal lagi telah tiba di wilayah Barony Levitski. Ternyata perjalanan cukup melelahkan dan butuh berhari-hari. Kami tidak pernah menjejakkan kaki di wilayah ini. Ini adalah wilayah selatan yang tidak begitu terjamah oleh pembangunan. Namun berbeda dengan wilayah timur yang sulit ditanami pangan, wilayah selatan jauh lebih subur. Tak dapat pembangunan besar pun wilayah ini lebih bisa menghidupi diri mereka sendiri. Industri lokal juga seharusnya berkembang.Berjalan-jalan di desa begini serasa mengarungi waktu. Desa ini terasa kuno. Mungkin terlambat sepuluh tahun dari daerah-daerah di kota."Kita cari penginapan," perintahku.Tak butuh waktu lama bagi kami untuk tiba di salah satu bangunan dua lantai yang seperti penginapan. Ada seorang pria yang sedari tadi bersandar di dekat daun pintu. Sergei segera

  • Aku Dan Tuan Duke   118. Proposal

    Rumah tanggaku telah berakhir. Aku resmi menjadi seorang duda. Tentu agak alot dan sukar, namun aku berhasil meyakinkan pengadilan dan gereja agar bisa mempermudah perceraian kami.Sofia, si perempuan tidak tahu diri itu meminta Kastil Marie sebagai syarat untuk bercerai. Seorang pria bernama Vadim, dia orang yang serba bisa kini menjadi asistenku. Ia begitu piawai membelaku di pengadilan. Hingga aku hanya perlu membayar satu juta keping Lyrac kepada Sofia sebagai kompensasi perceraian. Sofia menuduhku tak menafkahinya. Namun itu terpatahkan oleh semua bukti pengiriman uang dari bank. Dan ia tak bisa meminta Kastil Marie karena itu masih dalam nama Ibu. Segalanya berjalan lancar. Meski sekarang timbul gosip dan isu miring tentangku. Berbagai fitnah bermunculan. Alexey Korzakov si penjagal, Alexey Korzakov si tukang main perempuan, dan lain-lain. Aku tahu siapa yang menyebarkan dan menciptakan fitnah-fitnah keji itu. Mungkin di kalangan bangsawan kelas atas, gosip menyebar tanpa ampun.

  • Aku Dan Tuan Duke   117. Akhir

    Rencana liburan si kembar kuperpendek. Mereka kusuruh pulang lebih awal karena kejadian ini.Untung saja waktu itu Ibu tidur lelap di bawah pengaruh obat. Ia jadi tidak mendengar perseteruan kami. Luka di punggungku kini dibebat dengan perban. Aku terduduk di ranjang kamar. Kedua bocah ini sudah rapi hendak berpergian lagi melewati kota-kota untuk sampai ke wilayah Grand Dukedom Durnovko."Paman ... kapan paman sembuh?" tanya Mikhail begitu polos. Aku tersenyum mengelus kepalanya yang dipenuhi helaian rambut emas khas darah keluarga kami."Secepatnya. Paman sudah sering bertarung. Jadi kalian tidak perlu cemas. Nanti kalau sudah pulang, jangan ceritakan kepada ayah dan ibu kalian ya," pesanku."Kenapa?""Paman tidak ingin orang tua kalian khawatir. Kalau sampai mereka tahu, bisa-bisa Mikhail dan Maria tidak boleh lagi berkunjung ke kastil ini.""Tidak mau!" Maria merengek. "Maria ingin bertemu Paman lagi. Tapi ... Maria takut sama Bibi Jahat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status