MasukAleya terduduk di atas ranjang dengan pikiran yang berantakan. Tatapannya kosong menatap foto pernikahannya dengan Harun yang tergantung di dinding kamar. Tiga bulan. Baru tiga bulan mereka menikah, tapi kebahagiaan itu kini seperti hancur dalam sekejap.
Sejak kejadian di mal siang tadi, Aleya belum niat menghubungi Harun. Ia menunggu, berharap suaminya yang akan lebih dulu memberi penjelasan. Tapi hingga jarum jam hampir menyentuh angka dua belas malam, ponselnya tetap sepi. Tidak ada satu pun pesan, tidak ada panggilan masuk. Hingga akhirnya, suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Harun pulang. Biasanya, Aleya akan berlari menyambut kedatangan suaminya dengan senyum dan pelukan. Namun malam ini, tubuhnya seakan kehilangan tenaga. Jangankan membukakan pintu, bangkit dari tempat tidur pun rasanya berat. “Belum tidur?” tanya Harun pelan setelah melangkah masuk ke kamar. Ia tampak lelah, dasinya belum terlepas. Tapi Aleya tidak menjawab. Ia tetap duduk di sisi ranjang, menatap lurus ke depan. Harun menghela napas panjang, kemudian duduk di sebelahnya. Hening menggantung di antara mereka sebelum akhirnya pria itu bersuara. “Wanita yang kamu lihat di mal tadi…” Harun berhenti sejenak. “Dia istriku.” Jantung Aleya seperti berhenti berdetak. Meski ia sudah menebak arah pembicaraan ini, tetap saja rasanya seperti perih seperti disayat dari dalam. Ia meremas bantal di pangkuannya, air mata mulai menggenang. “Dan anak kecil tadi itu...anakku.” Isakan pertama Aleya pecah begitu saja. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. Harun hanya bisa menatap, tidak berani menyentuhnya. Ia tahu pelukannya tidak akan bisa menenangkan luka sebesar itu. Sunyi. Hanya suara tangis yang terdengar di kamar malam itu. “Kenapa kamu menikahiku kalau kamu sudah punya istri, Mas?” akhirnya Aleya bersuara lirih di sela tangisnya. Harun menatapnya. “Karena aku mencintaimu.” Aleya tertawa getir di antara isak. “Cinta? Cinta yang menyakiti seperti ini?” Harun menunduk. Tidak sanggup menatap mata Aleya. “Tolong jawab jujur,” ucap Aleya dengan suara bergetar. “Selain karena cinta,” kata Harun pelan, “aku… juga butuh keturunan laki-laki.” Tangis Aleya kembali pecah, kali ini lebih keras. Jadi alasannya bukan karena cinta, tapi karena kebutuhan. Ia hanya dijadikan alat. Harun adalah anak tunggal keluarga Wijaksana. Yang mana di keluarganya, garis keturunan laki-laki adalah segalanya. Hanya laki-laki yang berhak mewarisi dan memimpin perusahaan keluarga. Mereka takut jika kelak kepemimpinan jatuh ke tangan menantu, orang luar bagi mereka. “Kenapa harus menikah lagi?” Aleya menatapnya dengan mata sembab. “Kenapa tidak dengan istrimu? Bukankah dia juga bisa memberimu anak laki-laki?” “Tidak bisa,” jawab Harun lirih. “Setelah melahirkan anak pertama kami, Aisyah mengalami pendarahan hebat. Ternyata ada tumor di rahimnya. Ia harus menjalani operasi pengangkatan rahim.” Aleya memejamkan mata, air matanya kembali jatuh. Jadi itulah alasannya. Ia dipilih hanya karena tubuhnya masih bisa melahirkan. “Jadi aku ini cuma mesin pencetak keturunan, begitu?” “Tidak, Sayang. Itu tidak benar,” sanggah Harun cepat. “Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu.” “Apa Aisyah tahu soal pernikahan kita?” Harun menggeleng pelan. “Sama sepertimu, dia juga tidak tahu.” Aleya menatap tajam. “Kamu egois, Mas. Demi ambisi punya anak laki-laki, kamu mempermainkan perasaan dua perempuan sekaligus.” Ia memukul dada Harun dengan tangan gemetar. “Tega kamu mas.” “Maaf. Maafkan aku, Aleya. Aku berjanji akan berusaha adil untuk kalian berdua.” “Tidak!” Aleya menjerit pelan. “Kamu tidak akan pernah bisa adil. Yang ada, setiap hari kamu akan melukai hatiku dan hatinya. Tidak ada perempuan di dunia ini yang benar-benar rela dimadu.” Harun mencoba meraih tangannya, tapi Aleya menepis kasar. “Ceraikan aku, Mas. Sekarang.” Harun menggeleng cepat. “Aku tidak bisa.” “Kenapa tidak? Karena aku belum memberimu anak laki-laki?” Harun terdiam. Diamnya adalah jawaban yang paling menyakitkan. “Kalau begitu cari saja wanita lain. Tapi jangan aku. Aku gak mau jadi perusak rumah tangga orang, Mas. Aku gak mau menyakiti perempuan lain seperti aku disakiti sekarang.” Suaranya bergetar. “Ceraikan aku, sekarang.” “Tidak, Aleya. Aku tidak akan menceraikanmu,” ucap Harun mantap. “Kenapa harus aku, Mas? Kenapa bukan wanita lain? Kenapa harus aku yang kamu permainkan perasaannya?” “Karena aku mencintaimu.” Aleya menatapnya dengan tatapan kosong. “Cinta? Cinta yang dibalut kebohongan?” Harun menunduk lagi. “Setahun terakhir, Mama memaksaku menikah lagi. Aku selalu menolak. Tapi saat tahu wanita itu kamu, aku tak bisa menolak lagi. Karena cinta kita… belum benar-benar selesai dulu.” Aleya tertegun. Ia dan Harun memang pernah bersama di masa lalu, sebelum akhirnya berpisah karena keluarganya pindah ke Batam. Dan kini, mereka dipertemukan kembali, tapi dalam takdir yang pahit. “Lalu Aisyah?” tanya Aleya pelan. Harun menghela napas berat. “Aku juga mencintainya. Dia ibu dari anakku.” Kata-kata itu membuat dada Aleya seperti diremas. Ia ingin marah, tapi hanya air mata yang keluar. “Kenapa laki-laki selalu egois, Mas? Selalu merasa punya hak untuk melukai atas nama cinta dan alasan agama? Poligami memang boleh, tapi menyakiti bukan bagian dari cinta. Jangan bilang kamu mencintaiku, karena cinta seharusnya tidak seperti ini.” Harun diam. Ia tahu Aleya benar. Tapi ia juga tahu, tidak ada jalan mundur lagi. “Kalau benar kamu tidak mau menyakitiku,” ujar Aleya akhirnya, “lepaskan aku.” “Tidak,” ucap Harun tegas. “Aku tidak akan menceraikanmu, sampai kapan pun.” Harun bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. “Aku tidur di luar.” Aleya menatap punggungnya dengan mata berlinang. “Kalau begitu, aku yang akan menggugat cerai.” Harun berhenti sejenak, tapi tak menoleh. Lalu keluar dan menutup pintu. Malam itu, untuk pertama kalinya, Aleya menangis sampai matanya bengkak. *** Pagi menjelang. Suara muntah-muntah dari kamar mandi membangunkan Harun yang tidur di sofa ruang tamu. Ia langsung berlari ke kamar. “Al?” Harun panik melihat Aleya di depan wastafel, tubuhnya gemetar. Ia cepat-cepat memijit tengkuk istrinya agar sedikit tenang. “Kamu kenapa? Sakit?” Aleya menegakkan tubuh dengan wajah pucat. “Cuma masuk angin,” jawabnya pelan. Harun menatapnya lekat. “Kamu hamil?” Aleya terdiam. Ia tak menyangka Harun akan langsung menebak. “Jangan bohong, Aleya. Aku tahu kamu.” Harun menatap mata istrinya dalam-dalam. “Kamu gak pandai berbohong.” Aleya menarik napas berat, lalu berkata lirih, “Kehamilan ini… tidak akan mengubah keputusanku. Aku tetap ingin bercerai.” Harun menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. Kalimat itu saja sudah cukup membuktikan bahwa dugaannya benar, istrinya memang sedang mengandung. “Baiklah,” katanya tenang. “Kalau kau ingin bercerai, aku akan menyetujuinya, setelah anak ini lahir.” Aleya menatap tak percaya. “Bertahanlah sampai anak ini lahir, Aleya. Idah wanita hamil adalah sampai melahirkan. Hidup sendirian dalam keadaan hamil itu berat. Aku hanya ingin memastikan kamu dan bayi ini aman.” Aleya terdiam lama. “Tapi bagaimana kalau anak ini perempuan?” tanyanya lirih. Harun menatapnya tenang. “Kita bicarakan lagi nanti setelah tahu jenis kelaminnya.” Dan dalam hati kecilnya, Harun tahu apa pun yang terjadi nanti, ia tidak akan pernah benar-benar melepaskan Aleya.Rangga langsung meluncur ke rumah sakit yang disebutkan H. Imam. Sesampainya disana, dia mendapati Bian yang sedang diobati oleh seorang dokter. Wajahnya babak belur. Dan mungkin, bagian tubuh lainnya juga."Astaga, Bang!" Rangga mendekati Bian. "Siapa yang ngelakuin ini?""Aku gak tahu," sahutnya sambil meringis menahan perih diwajah saat dokter memberi obat.Rangga sebenarnya masih ingin banyak bertanya, tapi dia malah dimarahi dokter, disuruh menunggu di luar. Dengan berat hati, dia akhirnya keluar. Di luar, dia bertemu dengan H. Imam. Pria itu langsung menyodorkan ponsel Bian padanya."Aqillah beberapa kali telepon, Bapak gak berani angkat. Tadi kata Bian, jangan dulu dikasih tahu, takut dia panik."Rangga meraih ponsel yang disodorkan H. Imam. Dia paham kenapa Bian tak mau memberitahu Aqillah terlebih dahulu, dia tak mau membuat wanita yang sedang hamil itu khawatir. Ponsel Bian kembali berdering. Takut kakaknya kepikiran, Rangga mengangkat panggilan tersebut."Hallo, Kak.""Ini.
Tepukan tangan menggema di ruang meeting. Hari ini, secara resmi, Harun menyerahkan tampu kepemimpinan tertinggi pada Aqilah. Dia sudah merasa tak mampu lagi menjalankan tugas setelah penglihatannya terganggu. Tak ada satupun yang protes, karena semua tahu seperti apa kinerja seorang Aqilah Sasena.Diusianya yang baru menginjak 28 tahun, Aqilah sudah berada di puncak karier. Air matanya menetes, teringat kerja kerasnya selama ini. Jangankan senang-senang, hang out bareng teman, buka sosial media saja, dia jarang, bisa dibilang tak ada waktu. Seluruh waktunya untuk kerja dan kerja, tak pernah sekalipun pacaran yang menurutnya hanya buang-buang waktu."Selamat, Bu Aqilah." Harun mengulurkan tangan kearah Aqilah, tapi karena terbawa perasaan, Aqilah tak menjabat tangan itu, melainkan memeluk papanya. Sejenak mengabaikan etika di tempat kerja, dimana Harun selalu meminta pada anak-anaknya untuk bersikap profesional ketika ada orang lain.Bahkan Aqilah dan Rangga harus memanggilnya Pak Har
Mulut Aqilah menganga lebar, demikian pun dengan Bian. Keduanya saling bertatapan dengan rasa yang sama, tak percaya. Apa tidak salah yang dikatakan dokter, Aqilah hamil anak kembar. Dan yang lebih mengejutkan, ada 3 kantung janin, yang artinya, kembar tiga alias triplet."Dok, tapi bulan kemarin...""Bulan kemarin masih belum kelihatan kantung janinnya. Dan sekarang sudah jelas. Bu Aqilah, hamil kembar tiga." Dokter tersebut memotong kalimat Bian. Ini memang sudah kedua kalinya mereka periksa kandungan. Dan sekarang, usia kehamilan Aqilah sudah masuk 12w."Mas, tiga." Aqilah menatap Bian sambil mengangkat 3 jarinya.Bian jadi teringat celetuknya dulu pada Dave. Dia akan punya anak kembar 3. Dan ternyata benar, kata-kata adalah doa. Sekarang, Tuhan mengijabah doanya, dia akan segera memiliki 3 anak."Dijaga baik-baik ya kandungan. Orang hamil kembar itu, lebih berat daripada hamil yang hanya ada satu janin. Apalagi ini kembar tiga. Nutrisinya butuh lebih banyak, dan pastinya, saat ham
Keyla penempuh penerbangan menuju Kupang dengan perasaan tak karuan. Perkataan Aqilah sukses meracuni otaknya. Tahu Keyla sedang tidak baik-baik saja, Aisyah yang duduk di sebelahnya jadi khawatir. Dia menggenggam tangan Keyla yang terasa dingin."Overthinking itu gak boleh," ujarnya untuk menenangkan hati Keyla. "Kamu tahu sendiri, seperti apa Aqilah. Kakak kamu itu sejak dulu selalu negatif thinking kalau untuk urusan laki-laki, urusan percintaan. Kamu gonta ganti pacar berkali-kali, gak ada kan, satupun yang bisa sreg dihati kakak kamu? Karena dia memang setidak percaya itu dengan laki-laki, dengan cinta. Tapi kamu, kamu kenal Dave sudah lama, kamu pasti tahu seperti apa dia. Jangan terlalu difikirkan perkataan aqilah."Keyla mengangguk meski hatinya masih belum seratus persen tenang. Dia menyandarkan kepala di sandaran kursi."Tante itu bersyukur banget, Aqilah bisa dapat suami kayak Brian, bisa jatuh cinta sama Bian. Dulu tante sempat kepikiran kalau Aqilah gak bakalan mau nikah
Aqilah dan Bian duduk bersebelahan di sofa panjang, sementara Bu Diah duduk sendiri, menatap keduanya sambil menunggu penjelasan. Tadinya Aqilah fikir, setelah menyampaikan kabar tentang kehamilannya, dia akan langsung diangkat oleh Bian seperti di film-film. Dibawa berputar-putar sambil tertawa bahagia. Atau kalau tidakpun, akan dihadiahi pelukan dan ciuman.Tapi yang terjadi, sungguh di luar ekspektasi, dia dan Bian malah disidang. Kabar kehamilannya, tak langsung membuat mertuanya bahagia, melainkan bingung.Sementara Rangga, cowok itu malah gak peduli, asyik mengedarkan pandangan mencari sosok gadis cantik bernama Ayu. Tadi dia sudah ke dapur, tapi tak ada Ayu disana. Kemungkinan hanya satu, dia di dalam kamar, tapi tak mungkinkan, mau mengecek. Cuma bisa berharap, gadis cantik itu segera keluar."Kalian gak berbuat dosakan?" Bu Diah masih kepikiran kesana."Astaghfirullah, Bu. Ya enggaklah," sahut Bian. Mungkin benar jika nafsuu laki-laki itu besar, tapi tak mungkin dia menjamah
"Makasih buat bunganya." Ucap Aqilah setelah dia dan Bian selesai menunaikan ibadah suami istri. Dia yang sedang berada dalam dekapan Bian, makin meringsek, membenamkan kepala di dada bidang suaminya."Kamu suka?" Bian mengecup puncak kepala Aqilah sambil mengusap punggung polosnya."Banget.""Kayaknya mas harus menanam bunga mawar di depan bengkel.""Kenapa gitu?""Biar bisa sering-sering ngasih kamu bunga. Sayang kalau beli terus, mahal banget."Aqilah tak bisa menahan tawa mendengar kejujuran suaminya."Pelit.""Bukan pelit, tapi ngirit.""Beda kata doang, intinya sama," Aqilah terkekeh pelan. Mendongakkan wajah, menatap Bian. Menyebalkan, kenapa dia bisa jatuh cinta sejatuh jatuhnya pada pemuda ngirit alias pelit ini. Yang sebentar saja tak melihat, rasanya rindu berat. Bahkan tak bisa tidur tanpa pelukannya. Dan yang setiap sentuhannya terasa memabukkan."Tapi beneran loh, Qill. Mas kaget saat tahu harganya buket bunga mawar. Sumpah, mahal, diluar ekspektasi. Seumur hidup, ini pe
Tak tega ibunya pulang naik angkot, Bian mengantarkannya sampai rumah. Sepanjang jalan, banyak sekali petuah yang diberikan, salah satunya, harus bisa menekan ego, karena menyatukan dua pemikiran menjadi satu itu tidak mudah. Rumah tangga itu saling melengkapi, bukan saling menunjukkan siapa yang l
Honeymoon? Aqilah tersenyum kecut. Kondisi rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja, mana mungkin dia pergi honeymoon."Kenapa? Apa tebakanku tadi benar, Kak Aqilah ada masalah dengan bang Bian? bang Bian selingkuh?"Aqilah hanya diam saja ditanya seperti itu. Dan diam, tentu saja langsung diart
Hati Aqilah terenyuh melihat Bian tertidur di sofa. Ingin rasanya tak peduli, tapi kakinya seperti tak mau diajak kerjasama. Bukannya melangkah menuju pintu untuk berangkat kerja, dia malah menghampiri Bian. Menatap wajah lelah pria itu.Rasa bersalah menggerogoti hatinya. Apa tadi dia sudah sangat
Dada Aqilah makin sesak saat Bian malah membentaknya di depan wanita itu. Wanita cantik yang kira-kira seumuran dengannya. Memakai celana jeans yang dipadukan dengan crop top dan jaket kulit. Postur tubuhnya sangat sempurna, dengan perut terbuka dan belahan dada yang terlihat, pasti akan membuat pr







