로그인Aleya tak bisa menolak saat Harun memaksa ikut mengantarnya ke dokter kandungan. Wajah Harun tampak berseri-seri ketika menatap monitor yang menampilkan bulatan kecil yang kata dokter, itu adalah kantung janin.
Berbeda dengan yang Aleya bayangkan. Ia sempat berpikir Harun tidak akan terlalu antusias, toh ini bukan anak pertamanya, melainkan anak keduanya. Tapi ternyata, ekspresi suaminya itu masih sama seperti ayah muda yang menanti anak pertama. Sepanjang pemeriksaan, Harun terus menggenggam tangannya. Awalnya Aleya sempat berusaha menepis, tapi akhirnya ia membiarkan. Bukan karena luluh, melainkan karena tidak ingin memancing perdebatan di tempat umum. Sepulang dari dokter, Harun mengajaknya singgah ke rumah Mama Rieta. Seperti biasa, perempuan paruh baya itu menyambut kedatangan mereka dengan wajah hangat dan senyum lebar. Apalagi saat mendengar kabar bahwa Aleya tengah mengandung calon cucunya. Perhatian Mama Rieta malam itu terasa berlipat. “Pesan dari Mama, jangan terlalu capek, jangan makan makanan instan, apalagi mentah. Dan yang paling penting, jangan stres,” ujarnya sambil menatap Aleya dengan penuh kasih. Satu per satu nasihat keluar dari bibir Mama Rieta panjang lebar. Tapi bagi Aleya, setiap kata justru terasa seperti pisau yang memotong hatinya pelan-pelan. Bagaimana mungkin, perempuan yang selama ini terlihat begitu baik dan penuh kasih, ternyata menjadi salah satu orang yang menjerumuskannya dalam hubungan yang penuh luka? “Kenapa Mama lakukan ini?” suara Aleya akhirnya pecah pelan, begitu Harun meninggalkan ruangan. Sejak tadi ia menahan diri, menunggu momen di mana mereka berdua bisa berbicara tanpa ada siapa pun. Mama Rieta terdiam sejenak. Ia tahu arah pembicaraan menantunya ini, Harun sudah memberitahukan semuanya semalam. “Kenapa, Mah?” Aleya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa Mama menempatkan aku di posisi seperti ini? Posisi yang membuatku dipandang rendah, dianggap perusak rumah tangga orang.” Mama Rieta tersenyum kecil. “Sayang, kamu hanya perlu mengubah cara pandangmu. Istri kedua tidak selalu berarti rendah. Poligami itu tidak haram. Selama suami mampu berlaku adil, tidak ada yang salah.” Aleya menggeleng cepat. “Tapi ‘mampu’ bukan cuma soal uang, Mah. Adil itu bukan cuma membagi waktu dan nafkah, tapi juga hati.” “Mama yakin Harun bisa berlaku adil untukmu dan Aisyah.” Aleya menunduk, menahan tangis yang mulai menggenang. “Tapi aku gak bisa menerima, Mah. Aku menolak poligami karena hatiku menolak. Aku yakin, nggak ada satu pun wanita di dunia ini yang benar-benar ikhlas dipoligami. Begitu pun dengan Aisyah. Aku tidak mau menjadi penyebab luka di hati perempuan lain.” “Kata siapa?” Mama Rieta tersenyum tenang. “Banyak, kok, perempuan yang hidup bahagia dalam poligami. Beberapa kiai, bahkan laki-laki terpandang pun melakukannya. Dan mereka semua baik-baik saja.” “Bukan baik-baik saja, Mah,” jawab Aleya lirih. “Tapi terlihat baik-baik saja. Kita tidak tahu isi hati mereka. Mungkin di balik senyum itu, ada luka yang disembunyikan rapat-rapat. Mama juga perempuan… masa Mama gak bisa membayangkan rasanya berbagi suami?” Alih-alih tersinggung, Mama Rieta justru tersenyum samar. “Waktu Mama menikah dengan almarhum papanya Harun, Mama sudah menyiapkan hati jika suatu saat akan dipoligami. Kamu mungkin belum tahu, tapi neneknya Harun dulu juga istri kedua. Kakeknya punya dua istri, dan alasannya sama, istri pertama tak bisa memberi keturunan laki-laki. Poligami sudah menjadi hal biasa di keluarga kami.” Aleya tersenyum getir. Ia hampir tak percaya mendengarnya. Seolah keluarga itu hidup di zaman lain, di mana luka dianggap kewajaran dan air mata hanya bagian dari pengorbanan. “Wanita yang ikhlas dipoligami, ganjarannya surga,” lanjut Mama Rieta dengan suara lembut. “Surga?” Aleya tersenyum pahit. “Menjadi istri satu-satunya yang setia dan taat juga bisa masuk surga, Mah. Kalau ada jalan lain menuju surga, kenapa harus lewat jalan penuh luka seperti ini?” Ia menghela napas berat. “Ikhlas itu bukan ucapan, tapi perasaan. Mengatakan ‘aku ikhlas’ itu mudah, tapi benar-benar ikhlas dari hati? Itu hampir mustahil. Melihat suami melirik wanita lain saja rasanya pedih, apalagi harus berbagi ranjang?” Mama Rieta tak langsung membalas. Hanya menatap menantunya dengan tatapan lembut tapi dalam. “Lalu apa maumu, Aleya? Bercerai?” Aleya mengangguk pelan. Ia tahu perceraian bukan hal yang disukai Allah, tapi juga tahu bahwa Tuhan tidak mengharamkannya. Dan untuk kondisi seperti ini, ia yakin itulah jalan terbaik. Namun alih-alih marah, Mama Rieta justru menggenggam tangan Aleya dengan lembut. “Kehidupan seperti apa yang kamu bayangkan setelah bercerai, sayang?” tanyanya pelan. Aleya menunduk. Pertanyaan itu menghantamnya seperti petir. Ia belum tahu jawabannya, meski sudah memikirkannya semalaman. “Hidup ini keras, Aleya. Mama yakin kamu tahu itu. Coba pikirkan, apa yang bisa dilakukan seorang wanita hamil tanpa suami? Mencari kerja bermodalkan ijazah SMA tidak mustahil, tapi pekerjaan seperti apa yang akan kamu dapat? Dan kamu tahu sendiri, kamu tidak punya siapa-siapa lagi.” Air mata kembali jatuh di pipi Aleya. Ia tidak bisa membantah. Setelah kedua orang tuanya meninggal, dunianya memang terasa kosong. Kakak perempuannya sudah lama menikah dan tinggal di Batam. Saat Aleya ingin menumpang tinggal di sana, sang kakak menolak dengan alasan takut suaminya tergoda. Sejak itu, Aleya kembali ke Jakarta ke tempat di mana semua kenangan masa kecilnya tertinggal. Dengan bantuan Mita, teman lamanya, ia mencari pekerjaan bermodalkan ijazah SMA. Ia akhirnya diterima sebagai SPG di sebuah toko furniture di mall. Di sanalah ia bertemu Mama Rieta kembali tetangganya dulu, sebelum keluarganya pindah ke Batam. Saat mendengar kisah hidup Aleya yang pahit, Mama Rieta tampak iba. Ia tahu Aleya kehilangan orang tuanya dalam kecelakaan, tahu juga tentang kebangkrutan ayahnya yang membuat Aleya gagal melanjutkan kuliah. Dan tak lama kemudian, Mama Rieta mempertemukan kembali Aleya dengan Harun, mantan kekasih masa SMA-nya. Dua bulan setelah pertemuan itu, Harun melamarnya. Kini, semua potongan itu menyatu di kepala Aleya. Dan hatinya semakin sesak. “Bertahanlah, Aleya,” kata Mama Rieta lembut. “Berikan Harun anak laki-laki. Jangan salah sangka, Mama tidak menjadikanmu menantu hanya demi keturunan, tapi karena Mama ingin pernikahan ini abadi. Kamu dan Aisyah, kalian berdua sama-sama menantu Mama.” “T-tapi Aleya tetap gak bisa, Mah. Pernikahan ini melukai hati Aisyah.” “Kalau kamu tidak mau Aisyah terluka, kamu harus dengar dan patuh sama mama, jadikan ini rahasia. Jangan sampai dia tahu,” ucap Mama Rieta tegas tapi halus. “Ingat, Aleya, hidup ini tidak seperti cerita di novel atau film. Di dunia nyata, wanita yang pergi dalam keadaan hamil tidak akan tiba-tiba sukses. Hidup ini keras, sayang. Sangat keras. Pikirkan bayi di dalam kandunganmu. Hanya rumah ini tempatmu pulang. Dan hanya Harun yang bisa melindungimu.” Mama Rieta menggenggam tangan Aleya lebih erat. “Hanya Harun yang kamu punya, Aleya. Hanya Harun.” Aleya menatap mata mertuanya dan untuk pertama kalinya, ia melihat ketulusan dan manipulasi berjalan beriringan di satu wajah yang sama. Membuatnya terdiam. Antara pasrah dan hancur.Keriwehan terjadi di bengkel Bian sejak pagi. Hari ini, grand opening Bengkel Mobil Arjuna. Mungkin untuk sebagian orang, nama itu kurang keren, tapi tidak bagi Bian. Itu adalah nama yang dipilih ayahnya dengan menggunakan namanya. Dan dia yakin, ayahnya tidak tiba-tiba saja menggunakan nama itu.Bu Diah dan Ayu, jadi orang paling sibuk, bahkan mereka sudah bangun jam 2 dini untuk membuat tumpeng. Mama Aisyah memesan banyak sekali kue, sedang Tante Aleya mempersiapkan jamuan makanannya. Mereka bertiga memang sengaja berbagi tugas untuk acara ini.Selain keluarga, syukuran tersebut mengundang beberapa orang terdekat dan tetangga sekitaran bengkel baru.Ada banyak sekali papan bunga ucapan selamat di depan bengkel. Mulai dari Sasena Grup, Papa Harun sekeluarga, toko burung Om Darren, JM Corp milik Pak Bagas, sampai dari Dave dan Keyla yang berada di NTT. Adik iparnya itu tak ingin ketinggalan ambil bagian di hari bahagia sang kakak meski mereka tak bisa hadir."Cantik sekali, kayak yang
Bian berdiri di depan bengkel barunya dengan perasaan campur aduk. Senang, terharu, tak percaya, semua rasa itu bercampur menjadi satu. Ya, rasanya masih tak percaya kalau akhirnya dia bisa memiliki bengkel sendiri, meskipun modal terbanyaknya dari Aqilah.Bengkel di hadapannya itu tampak sangat berkelas. Selain besar dan mewah, alat-alatnya juga lengkap, begitupun dengan sparepart yang dijual.Mungkin inilah yang dinamakan musibah membawa berkah. Ganti rugi dari Pak Bagas, membuat bengkelnya bisa melebihi ekspektasi.Di dalam bengkel, ada Putra, Reza dan tentunya Jimmy yang sejak kemarin sibuk untuk mempersiapkan pembukaan besok. Dan hari ini, semua sudah terlihat begitu rapi setelah kemarin dan tadi pagi mereka sibuk menata sedemikian rupa."Gila Bos, ini sih bukan keren lagi, tapi keren banget," ujar Putra saat Bian masuk. "Bengkel sebesar ini, kayaknya butuh pegawai tambahan deh.""Tuh," Bian menunjuk dagu ke arah Jimmy yang sedang bermalas-malasan di sebuah kursi panjang."Heh, g
Ayu memperhatikan setiap sudut rumah. Mungkin sedikit kurang sopan, tapi semua itu karena dia sangat kagum dengan rumah ini, sangat mewah.“Biasa aja kali lihatnya.”Ayu seketika menunduk. Padahal Rangga ada di depannya, bagaimana pria itu bisa tahu kalau dia sedang memperhatikan rumahnya.“Katanya tadi setia, gak bisa ditikung dengan wajah ganteng dan materi. Eh.... ”“Eh... Apa?” potong Ayu.“Lihat rumah bagus kepincut.”Ayu terkekeh pelan, membuat Rangga yang berjalan di depannya berhenti dan langsung menoleh.“Cakep banget rumahnya. Besar, mewah, tapi..... ”“Tapi apa?”“Tapi kayaknya Om Harun gak ada niat mau nikung aku deh.”Rangga mengerutkan dahi. Kok jadi papanya? Hubungannya apa?“Gak usah bangga dengan milik orang tua.” Ayu bersedekap sambil tersenyum mengejek.Sialan! Rangga mengumpat dalam hati.Sepertinya dia salah target. Ayu mahasiswi kedokteran, yang bisa dipastikan otaknya encer.“Ayu.”Ayu melihat kearah sumber suara mendengar suara Aqilah memanggilnya.“Bye,” Ayu b
Rangga langsung meluncur ke rumah sakit yang disebutkan H. Imam. Sesampainya disana, dia mendapati Bian yang sedang diobati oleh seorang dokter. Wajahnya babak belur. Dan mungkin, bagian tubuh lainnya juga."Astaga, Bang!" Rangga mendekati Bian. "Siapa yang ngelakuin ini?""Aku gak tahu," sahutnya sambil meringis menahan perih diwajah saat dokter memberi obat.Rangga sebenarnya masih ingin banyak bertanya, tapi dia malah dimarahi dokter, disuruh menunggu di luar. Dengan berat hati, dia akhirnya keluar. Di luar, dia bertemu dengan H. Imam. Pria itu langsung menyodorkan ponsel Bian padanya."Aqillah beberapa kali telepon, Bapak gak berani angkat. Tadi kata Bian, jangan dulu dikasih tahu, takut dia panik."Rangga meraih ponsel yang disodorkan H. Imam. Dia paham kenapa Bian tak mau memberitahu Aqillah terlebih dahulu, dia tak mau membuat wanita yang sedang hamil itu khawatir. Ponsel Bian kembali berdering. Takut kakaknya kepikiran, Rangga mengangkat panggilan tersebut."Hallo, Kak.""Ini.
Tepukan tangan menggema di ruang meeting. Hari ini, secara resmi, Harun menyerahkan tampu kepemimpinan tertinggi pada Aqilah. Dia sudah merasa tak mampu lagi menjalankan tugas setelah penglihatannya terganggu. Tak ada satupun yang protes, karena semua tahu seperti apa kinerja seorang Aqilah Sasena.Diusianya yang baru menginjak 28 tahun, Aqilah sudah berada di puncak karier. Air matanya menetes, teringat kerja kerasnya selama ini. Jangankan senang-senang, hang out bareng teman, buka sosial media saja, dia jarang, bisa dibilang tak ada waktu. Seluruh waktunya untuk kerja dan kerja, tak pernah sekalipun pacaran yang menurutnya hanya buang-buang waktu."Selamat, Bu Aqilah." Harun mengulurkan tangan kearah Aqilah, tapi karena terbawa perasaan, Aqilah tak menjabat tangan itu, melainkan memeluk papanya. Sejenak mengabaikan etika di tempat kerja, dimana Harun selalu meminta pada anak-anaknya untuk bersikap profesional ketika ada orang lain.Bahkan Aqilah dan Rangga harus memanggilnya Pak Har
Mulut Aqilah menganga lebar, demikian pun dengan Bian. Keduanya saling bertatapan dengan rasa yang sama, tak percaya. Apa tidak salah yang dikatakan dokter, Aqilah hamil anak kembar. Dan yang lebih mengejutkan, ada 3 kantung janin, yang artinya, kembar tiga alias triplet."Dok, tapi bulan kemarin...""Bulan kemarin masih belum kelihatan kantung janinnya. Dan sekarang sudah jelas. Bu Aqilah, hamil kembar tiga." Dokter tersebut memotong kalimat Bian. Ini memang sudah kedua kalinya mereka periksa kandungan. Dan sekarang, usia kehamilan Aqilah sudah masuk 12w."Mas, tiga." Aqilah menatap Bian sambil mengangkat 3 jarinya.Bian jadi teringat celetuknya dulu pada Dave. Dia akan punya anak kembar 3. Dan ternyata benar, kata-kata adalah doa. Sekarang, Tuhan mengijabah doanya, dia akan segera memiliki 3 anak."Dijaga baik-baik ya kandungan. Orang hamil kembar itu, lebih berat daripada hamil yang hanya ada satu janin. Apalagi ini kembar tiga. Nutrisinya butuh lebih banyak, dan pastinya, saat ham
"Lho, Papa lagi disini? "Seru Aqilah kaget Papa Harun ada di rumah Mamanya. Bahkan sampai membukakan pintu untuknya.Bukannya menjawab, atensi Aisyah dan Harun langsung tertuju pada kaki Bian. Keningnya mengkerut melihat cowok itu tidak pakai alas kaki. Tahu kemana arah pandang mamanya, Aqilah lang
Mereka berjalan beriringan menuju warung. Namun Aqilah tak bisa jalan cepat karena kakinya sakit."Kenapa, kesleo lagi?" Bian menyadari jika Aqilah seperti mengalami kesulitan jalan.Cewek itu menggeleng. "Kakiku sakit. Kayaknya lecet."Bian melihat kebawah lalu membuang nafas kasar. Heran sama mak
"100 juta, uang apaan?" Keyla langsung menatap Dave tajam. Sementara Dave, gelagapan karena udah keceplosan. Keyla memang tahu rencana Dave mendekatkan Bian dengan Aqilah. Tapi soal taruhan, dia tidak tahu menahu. Hari itu, dia mau membantu Bian karena desakan Dave. Dengan alasan, ingin menarikan
Pagi-pagi, Bian sudah didatangi Keyla. Cewek itu tampak bersungut-sungut. Menatap tajam Bian yang sedang memperbaiki mobil. Meski belum keluar sepatah katapun, sudah terlihat jika gadis itu marah."Jelasin sama aku.""Apaan?" Bian pura-pura bodoh.Ada Farid dan Nino, dua karyawan Bian yang ikut mem







