LOGINSetelah adonan selesai di-mixer, Aleya memindahkannya ke dalam cetakan bolu bundar yang bagian tengahnya bolong. Ia membuka oven, lalu memasukkan adonan berwarna hijau itu ke sana. Seharian ini, untuk mengurangi bosan, ia membuat kue bersama Bi Atum, pembantu di rumah mertuanya.
Mama Rieta melarangnya pulang dengan alasan khawatir akan kondisinya. "Hamil muda itu masih rentan, terutama trimester pertama. Jadi ambil amannya, kamu tinggal di sini sama Mama." Kurang lebih seperti itu perkataan Mama Rieta. Tidak enak menolak, Aleya pun menyetujui, meski sebenarnya, dia bosan di sini. Tidak bisa nobar dan ngerumpi dengan Mita seperti biasanya. Sebab, di rumah mertua, tidak sebebas di rumahnya sendiri. "Mbak Aleya pinter banget bikin kue," puji Bi Atum. Aleya terkekeh, "Bisa aja, Bi. Belum juga ngerasain enak enggaknya, udah dipuji aja." "Udah pasti enak, Bibi yakin. Dilihat dari step by step Mbak Aleya aja udah ketebak hasilnya pasti enak. Soalnya mbak Aleya terampil, kayak chef di TV." Bi Ana memberikan dua jempolnya. Lagi-lagi Aleya terkekeh mendengar penuturan bi atum. "Bisa aja Bibi ini mujinya." Aleya tergelak mendengar gaya bicara Bi Ana yang tampak meyakinkan. "Gimana Mas Harun gak tambah cinta coba, istrinya pinter banget bikin kue kesukaannya. Sayang dia lagi gak ada di sini. Kalau ada, beuh, saya pasti gak boleh ngincip, dihabisin semua sama dia." Mendengar nama Harun, Aleya tersenyum getir. Sedang apakah pria itu sekarang? Mungkinkah sedang bersama Aisyah dan anak mereka? Sejak kemarin, Harun pulang ke rumah Aisyah. Semalam, pria itu sempat mengirim pesan, tapi hanya ia balas singkat. Setelah itu, tidak lagi dibalas. Meski sejujurnya, Aleya sangat merindukan pria itu. Bi Atum mulai nyerocos, bercerita panjang lebar tentang Harun dan semua kesukaan pria itu. Dan hal itu justru membuat Aleya makin merindukannya. "Nenek, Nenek!" Dari dapur, Aleya bisa mendengar suara anak kecil memanggil nenek. "Itu kayak suara Aqilah," ucap Bi Atum. "Aqilah siapa?" Bukannya menjawab, Bi Atum malah menunduk dengan wajah gelisah. "Siapa sih, Bi? Saudaranya Mama ya? Atau tetangga?"Aleya makin penasaran. "Emmm... anaknya Mas Harun." Tubuh Aleya langsung oleng. Ia berpegangan pada meja dapur dengan wajah pucat. Jantungnya berdegup tak karuan. Jika ada anak Harun, mungkinkah datang bersama Aisyah? Atau mungkin, ada Harun juga? Bagaimana ia harus bersikap nantinya? Dan apa yang akan dikatakannya pada Aisyah tentang keberadaannya di rumah ini? Terdengar percakapan antara Mama Rina dan anak bernama Aqilah itu. Dan samar-samar, ia mendengar suara wanita dewasa, itu pasti Aisyah. "Mbak Aleya baik-baik saja?" tanya Bi Atum khawatir melihat wajah pucat Aleya. Aleya tersenyum getir, "Mana mungkin aku baik-baik saja, Bi." gumam Aleya dalam hati dengan jemari meremas ujung dasternya. Bi Atum menatap Aleya dengan kasihan. Pasti serba salah berada di posisi Aleya saat ini. Jantung Aleya makin berdetak cepat saat mendengar suara langkah kaki mendekati dapur. Saat ini, yang ia rasakan seperti seorang pencuri yang akan dipergoki. "Siapa dia, Ma?" tanya Aisyah sambil menatap Aleya. Dia seperti pernah bertemu, tapi lupa di mana. Aisyah masuk ke dapur bersama Mama Rina yang sedang menggandeng Aqilah. Tidak ada Harun, sepertinya Aisyah hanya datang bersama anaknya. Aleya hanya diam, tak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa berdoa agar Aisyah tidak mengingat pertemuan mereka di mall waktu itu. "Dia Aleya, anak teman Mama. Dulu kami tetangga waktu masih tinggal di rumah lama. Al, kenalin, ini Aisyah, istrinya Harun." Mama Rieta tampak biasa saja. Tidak ada raut cemas. Sepertinya ia sudah memikirkan skenario ini matang-matang, karena kemungkinan Aleya dan Aisyah bertemu memang besar. Aisyah meletakkan tote bag yang dibawanya ke atas meja. Dengan senyum lebar, ia menghampiri Aleya yang hanya diam bersandar di meja dapur. "Hai. Kenalin, aku Aisyah, istrinya Harun." Aisyah mengulurkan tangannya. Selain cantik, aura keibuan Aisyah juga sangat kuat. Cara berpakaiannya sopan namun tetap berkelas. "A-Aleya." Aleya yang gugup, menjabat tangan Aisyah. Andai saja wanita di hadapannya tahu bahwa dia adalah istri kedua suaminya, mungkin bukan lagi uluran tangan yang diberikan melainkan tamparan. "Astaga, tangan kamu dingin sekali. Kamu sakit, yah? Wajah kamu pucat." "Aleya sedang hamil," ujar Mama Rieta lagi. "Oh..." Aisyah manggut-manggut. "Selamat, ya." "Terima kasih." "Berapa bulan? Kok belum kelihatan?" tanya Aisyah. "Baru enam minggu," jawab Mama Rina lagi dan lagi. "Suami Aleya ada di luar negeri. Karena hamil muda, dia dititip di sini. Orang tuanya sudah meninggal." "Innalillahi..." ucap Aisyah spontan, menutup mulutnya. "Mah, wanginya enak sekali," ujar Aqilah yang mencium aroma bolu pandan yang sepertinya sudah matang di dalam oven. Pandangan Aleya teralih ke Aqilah, gadis kecil yang ternyata tidak sekecil saat pertama kali ia bertemu di mal. Saat itu, gadis kecil itu berada di stroller, sebelum berpindah ke gendong Harun. Aleya tidak terlalu jelas melihat Aqilah karna sudah terbakar emosi kalau itu. "Kayaknya udah mateng kuenya." Bi Atum membuka oven untuk mengecek bolu pandan itu. Benar saja, sudah matang rupanya. Ia segera mengeluarkan dan meletakkannya di atas meja. "Aqilah mau kuenya!" seru bocah kecil itu, mendekati kue yang masih panas. "Awas!" Aleya reflek menepis tangan Aqilah yang hendak menyentuh cetakan. "Aww!" Alhasil, justru punggung tangan Aleya yang terkena cetakan panas. Ia buru-buru berlari ke wastafel untuk menyiram tangannya dengan air dingin. "Astaga, Al! Kamu gak papa kan?" Aisyah langsung mendekat. "Maafin Aqilah ya." Aisyah merasa tak enak hati. Aleya terluka demi melindungi anaknya. "Gak papa, Mbak. Namanya juga anak kecil. Tapi Aqilah gak papa kan?" Aleya menatap gadis kecil itu yang tampak masih kaget. "Aqilah gak papa," sahut Mama Rieta setelah mengecek tangan cucunya. "lain kali jangan begitu, sayang. Lihat tuh, tangan tante Aleya jadi luka. " "iya nenek, " jawab Aqilah patuh. Aisyah berlalu pergi meninggalkan dapur, sesaat kemudian ia kembali membawa obat luka bakar, mengoleskannya di punggung tangan Aleya yang memerah. Sementara itu, Mama Rieta melepaskan bolu dari cetakan, memotongnya, dan menata di piring. Bolu pandan itu tampak lezat. Aqilah yang sudah tak sabar langsung mengambil sepotong dan memakannya. Melihat putrinya makan dengan lahap, Aisyah yakin rasanya pasti enak. "Enak gak?" tanya Aisyah. "Em... enak, Mah," sahut Aqilah dengan mulut penuh kue. "Bilang apa sama Tante Aleya?" "Makasih Tante Aleya." "Sama-sama, cantik." Aleya menyentuh rambut panjang Aqilah. Bocah berusia lima tahun itu punya wajah yang sangat mirip dengan Harun. Apakah anaknya nanti juga akan semirip itu dengan Harun? Atau justru mirip dirinya? Mama Rieta dan Aisyah ikut mencicipi bolu, begitu juga Aleya. Meski sebenarnya ia tak berselera, tapi rasanya tak sopan jika menolak. "Ini sih beneran enak. Kayaknya aku harus belajar dari kamu deh, Al." ujar Aisyah. "Biasa aja kok, Mbak." "Enggak, ini beneran enak. Kapan-kapan ajarin aku yah. Aku pengen bisa bikin. Ini kue kesukaan Mas Harun. Kalau aku bisa buat seenak ini, dia pasti makin cinta." Aleya langsung tertunduk, meremas ujung dasternya. Hatinya perih mendengar madunya membahas cinta. Mama Rieta yang menyadari perubahan ekspresi Aleya segera mengalihkan pembicaraan. "Kamu tadi bawa apa, Sya?" tanya Mama Rieta sambil membuka tote bag yang dibawa Aisyah. "Astaga, sampai lupa." Aisyah menepuk dahinya. "Kemarin Ibu datang dari Garut, bawain dodol buat Mama. Nitip salam juga, minta maaf gak bisa mampir, soalnya cuma sehari, ada kondangan di tempat temannya." "Bilangin makasih yah sama Ibu kamu. Tahu aja kalau Mama suka dodol." "Mas Harun sering ke sini gak, Mah?" tanya Aisyah. "Udah lama gak ke sini." Jawab mama Rieta cepat Aleya tersenyum kecut. Padahal jelas-jelas baru kemarin Harun pulang setelah dua malam menginap di rumah ini. "Bener-bener yah, Mas Harun. Padahal aku udah ingetin buat sering jengukin Mama, tapi masih aja jarang. Yang ada di pikirannya cuma kerja dan kerja. Sekarang makin sibuk dia, seminggu dua kali keluar kota." Aleya langsung tersedak kue bolu. Bagaimana kalau Aisyah tahu, bahwa dua kali itu sebenarnya Harun pulang ke rumahnya?Keriwehan terjadi di bengkel Bian sejak pagi. Hari ini, grand opening Bengkel Mobil Arjuna. Mungkin untuk sebagian orang, nama itu kurang keren, tapi tidak bagi Bian. Itu adalah nama yang dipilih ayahnya dengan menggunakan namanya. Dan dia yakin, ayahnya tidak tiba-tiba saja menggunakan nama itu.Bu Diah dan Ayu, jadi orang paling sibuk, bahkan mereka sudah bangun jam 2 dini untuk membuat tumpeng. Mama Aisyah memesan banyak sekali kue, sedang Tante Aleya mempersiapkan jamuan makanannya. Mereka bertiga memang sengaja berbagi tugas untuk acara ini.Selain keluarga, syukuran tersebut mengundang beberapa orang terdekat dan tetangga sekitaran bengkel baru.Ada banyak sekali papan bunga ucapan selamat di depan bengkel. Mulai dari Sasena Grup, Papa Harun sekeluarga, toko burung Om Darren, JM Corp milik Pak Bagas, sampai dari Dave dan Keyla yang berada di NTT. Adik iparnya itu tak ingin ketinggalan ambil bagian di hari bahagia sang kakak meski mereka tak bisa hadir."Cantik sekali, kayak yang
Bian berdiri di depan bengkel barunya dengan perasaan campur aduk. Senang, terharu, tak percaya, semua rasa itu bercampur menjadi satu. Ya, rasanya masih tak percaya kalau akhirnya dia bisa memiliki bengkel sendiri, meskipun modal terbanyaknya dari Aqilah.Bengkel di hadapannya itu tampak sangat berkelas. Selain besar dan mewah, alat-alatnya juga lengkap, begitupun dengan sparepart yang dijual.Mungkin inilah yang dinamakan musibah membawa berkah. Ganti rugi dari Pak Bagas, membuat bengkelnya bisa melebihi ekspektasi.Di dalam bengkel, ada Putra, Reza dan tentunya Jimmy yang sejak kemarin sibuk untuk mempersiapkan pembukaan besok. Dan hari ini, semua sudah terlihat begitu rapi setelah kemarin dan tadi pagi mereka sibuk menata sedemikian rupa."Gila Bos, ini sih bukan keren lagi, tapi keren banget," ujar Putra saat Bian masuk. "Bengkel sebesar ini, kayaknya butuh pegawai tambahan deh.""Tuh," Bian menunjuk dagu ke arah Jimmy yang sedang bermalas-malasan di sebuah kursi panjang."Heh, g
Ayu memperhatikan setiap sudut rumah. Mungkin sedikit kurang sopan, tapi semua itu karena dia sangat kagum dengan rumah ini, sangat mewah.“Biasa aja kali lihatnya.”Ayu seketika menunduk. Padahal Rangga ada di depannya, bagaimana pria itu bisa tahu kalau dia sedang memperhatikan rumahnya.“Katanya tadi setia, gak bisa ditikung dengan wajah ganteng dan materi. Eh.... ”“Eh... Apa?” potong Ayu.“Lihat rumah bagus kepincut.”Ayu terkekeh pelan, membuat Rangga yang berjalan di depannya berhenti dan langsung menoleh.“Cakep banget rumahnya. Besar, mewah, tapi..... ”“Tapi apa?”“Tapi kayaknya Om Harun gak ada niat mau nikung aku deh.”Rangga mengerutkan dahi. Kok jadi papanya? Hubungannya apa?“Gak usah bangga dengan milik orang tua.” Ayu bersedekap sambil tersenyum mengejek.Sialan! Rangga mengumpat dalam hati.Sepertinya dia salah target. Ayu mahasiswi kedokteran, yang bisa dipastikan otaknya encer.“Ayu.”Ayu melihat kearah sumber suara mendengar suara Aqilah memanggilnya.“Bye,” Ayu b
Rangga langsung meluncur ke rumah sakit yang disebutkan H. Imam. Sesampainya disana, dia mendapati Bian yang sedang diobati oleh seorang dokter. Wajahnya babak belur. Dan mungkin, bagian tubuh lainnya juga."Astaga, Bang!" Rangga mendekati Bian. "Siapa yang ngelakuin ini?""Aku gak tahu," sahutnya sambil meringis menahan perih diwajah saat dokter memberi obat.Rangga sebenarnya masih ingin banyak bertanya, tapi dia malah dimarahi dokter, disuruh menunggu di luar. Dengan berat hati, dia akhirnya keluar. Di luar, dia bertemu dengan H. Imam. Pria itu langsung menyodorkan ponsel Bian padanya."Aqillah beberapa kali telepon, Bapak gak berani angkat. Tadi kata Bian, jangan dulu dikasih tahu, takut dia panik."Rangga meraih ponsel yang disodorkan H. Imam. Dia paham kenapa Bian tak mau memberitahu Aqillah terlebih dahulu, dia tak mau membuat wanita yang sedang hamil itu khawatir. Ponsel Bian kembali berdering. Takut kakaknya kepikiran, Rangga mengangkat panggilan tersebut."Hallo, Kak.""Ini.
Tepukan tangan menggema di ruang meeting. Hari ini, secara resmi, Harun menyerahkan tampu kepemimpinan tertinggi pada Aqilah. Dia sudah merasa tak mampu lagi menjalankan tugas setelah penglihatannya terganggu. Tak ada satupun yang protes, karena semua tahu seperti apa kinerja seorang Aqilah Sasena.Diusianya yang baru menginjak 28 tahun, Aqilah sudah berada di puncak karier. Air matanya menetes, teringat kerja kerasnya selama ini. Jangankan senang-senang, hang out bareng teman, buka sosial media saja, dia jarang, bisa dibilang tak ada waktu. Seluruh waktunya untuk kerja dan kerja, tak pernah sekalipun pacaran yang menurutnya hanya buang-buang waktu."Selamat, Bu Aqilah." Harun mengulurkan tangan kearah Aqilah, tapi karena terbawa perasaan, Aqilah tak menjabat tangan itu, melainkan memeluk papanya. Sejenak mengabaikan etika di tempat kerja, dimana Harun selalu meminta pada anak-anaknya untuk bersikap profesional ketika ada orang lain.Bahkan Aqilah dan Rangga harus memanggilnya Pak Har
Mulut Aqilah menganga lebar, demikian pun dengan Bian. Keduanya saling bertatapan dengan rasa yang sama, tak percaya. Apa tidak salah yang dikatakan dokter, Aqilah hamil anak kembar. Dan yang lebih mengejutkan, ada 3 kantung janin, yang artinya, kembar tiga alias triplet."Dok, tapi bulan kemarin...""Bulan kemarin masih belum kelihatan kantung janinnya. Dan sekarang sudah jelas. Bu Aqilah, hamil kembar tiga." Dokter tersebut memotong kalimat Bian. Ini memang sudah kedua kalinya mereka periksa kandungan. Dan sekarang, usia kehamilan Aqilah sudah masuk 12w."Mas, tiga." Aqilah menatap Bian sambil mengangkat 3 jarinya.Bian jadi teringat celetuknya dulu pada Dave. Dia akan punya anak kembar 3. Dan ternyata benar, kata-kata adalah doa. Sekarang, Tuhan mengijabah doanya, dia akan segera memiliki 3 anak."Dijaga baik-baik ya kandungan. Orang hamil kembar itu, lebih berat daripada hamil yang hanya ada satu janin. Apalagi ini kembar tiga. Nutrisinya butuh lebih banyak, dan pastinya, saat ham
Mereka berjalan beriringan menuju warung. Namun Aqilah tak bisa jalan cepat karena kakinya sakit."Kenapa, kesleo lagi?" Bian menyadari jika Aqilah seperti mengalami kesulitan jalan.Cewek itu menggeleng. "Kakiku sakit. Kayaknya lecet."Bian melihat kebawah lalu membuang nafas kasar. Heran sama mak
"100 juta, uang apaan?" Keyla langsung menatap Dave tajam. Sementara Dave, gelagapan karena udah keceplosan. Keyla memang tahu rencana Dave mendekatkan Bian dengan Aqilah. Tapi soal taruhan, dia tidak tahu menahu. Hari itu, dia mau membantu Bian karena desakan Dave. Dengan alasan, ingin menarikan
Pagi-pagi, Bian sudah didatangi Keyla. Cewek itu tampak bersungut-sungut. Menatap tajam Bian yang sedang memperbaiki mobil. Meski belum keluar sepatah katapun, sudah terlihat jika gadis itu marah."Jelasin sama aku.""Apaan?" Bian pura-pura bodoh.Ada Farid dan Nino, dua karyawan Bian yang ikut mem
Harun bernapas lega saat melihat Keyla sudah tertidur. Anak itu sudah dibuatkan kamar sendiri dengan desain sesuai kemauannya. Tapi tetap saja, dia tak mau tidur di sana, tetap kekeh mau tidur bersama mama papanya. Selama ini, saat menginap di rumah, dia dan Keyla memang terbiasa tidur bersama."Ak







