Share

Empat

last update publish date: 2025-11-12 10:36:37

Selasai keramas Aleya baru membuka ponselnya malam itu, yang seharian ini memang dibiarkan tergeletak di meja rias. Puluhan pesan dari Mita memenuhi layar. Sebagian besar menanyakan di mana keberadaannya sekarang. Tapi di antara banyak pesan itu, satu kalimat berhasil membuatnya tersenyum getir.

 [Kamu gak bunuh diri kan, Al?]

Tangannya langsung menari di atas keypad, menuliskan balasan dengan cepat. Andai saja bunuh diri tidak termasuk dosa besar, mungkin itu bisa jadi jalan keluar dari penderitaannya sekarang.

[Aku di rumah mertua. Bunuh diri? Aku sudah diracun, tapi tidak mati, mau bunuh diri seperti apa lagi?]

Apakah kalimat itu terdengar putus asa? Entahlah. Aleya tidak peduli lagi. Ia tekan tombol kirim, lalu menatap layar hingga tanda centang dua abu-abu muncul.

Perlahan, pandangannya teralihkan ke langit-langit kamar. Pikirannya kembali pada masa tiga bulan lalu, saat ia merasa jadi perempuan paling beruntung di dunia. Hidup sendirian di Jakarta, hanya lulusan SMA, lalu dipersunting pria mapan dan tampan seperti Harun, cinta pertamanya yang terpisah tujuh tahun lamanya.

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Nyatanya, dia hanya dijadikan madu untuk wanita lain.

Aleya tersenyum kecut. Madu, pikirnya lirih. Kata itu terlalu manis. Seharusnya istilahnya bukan dimadu, tapi diracun. Karena dalam poligami, tak ada yang semanis madu. Semuanya terasa getir, seperti racun yang pelan-pelan membunuh.

Kling.

Suara notifikasi terdengar, tapi saat ia hendak meraih ponsel, pintu kamar terbuka. Harun masuk. Aleya buru-buru naik kekasur dan berbaring membelakanginya.

Tanpa sepatah kata, Harun naik ke ranjang. Beberapa detik kemudian, Aleya merasakan lengannya melingkar di pinggangnya. Ia hendak menepis, tapi genggaman Harun justru makin erat.

“Aku merindukanmu, Al,” bisiknya pelan di telinga Aleya, membuat tubuhnya menegang.

Biasanya, setiap Harun pulang setelah beberapa hari pergi, malam itu akan jadi ajang pelampiasan rindu, menyalakan lagi ranjang yang sempat dingin. Tapi malam ini, Aleya tidak ingin. Ia muak dengan rasa bersalah yang muncul setiap kali mengingat Aisyah, istri pertama Harun.

“Ceraikan aku, Mas,” katanya datar. “Jatuhkan talakmu sekarang.”

Harun menghela napas kasar. “Cukup, Al. Jangan bahas cerai lagi. Mustahil aku akan melakukannya.”

“Mustahil?” Aleya menoleh dengan mata basah. “Kamu sendiri yang bilang akan menceraikanku kalau aku memberimu anak laki-laki.”

Harun terdiam sejenak. “Aku harap kamu tidak akan pernah memberiku anak laki-laki.”

“Jahat kamu, Mas.”

“Lalu kamu? Apa kamu nggak jahat padaku?” Harun melepaskan pelukannya, menatap langit-langit. “Kau masih ingat tujuh tahun lalu, kan? Saat kamu tiba-tiba memutuskanku tanpa alasan jelas.”

Air mata Aleya mulai turun. Isak kecilnya memenuhi ruang sunyi.

“Kamu nggak salah, Mas,” ucapnya parau. “Aku yang salah. Aku merasa nggak pantas. Waktu itu, orang tuaku bangkrut, semua harta disita, Ayah sakit, aku berhenti kuliah dan kerja apa saja buat hidup. Aku takut nyusahin kamu.”

Harun memejamkan mata, menahan getir di dada. “Aku nekat ke Batam waktu itu, Al. Aku mau kasih kejutan. Tapi kamu hilang. Alamatmu kosong, nomor teleponmu gak bisa dihubungi. Aku nyaris gila mencarimu.”

Ia menarik napas panjang. “Sejak hari itu, hidupku kosong. Semua yang aku impikan lenyap. Tujuan hidupku cuma satu bisa hidup dan menua bersamamu.”

“Jangan buat aku merasa bersalah, Mas. Nyatanya, setelah itu kamu menikah juga, dengan Aisyah.”

Harun tersenyum miris. “Aisyah temanku. Dia yang temani aku waktu hancur. Aku pikir dengan menikahinya, aku bisa sembuh. Tapi ternyata tidak. Sudah lima tahun kami menikah dan punya anak, tapi, posisimu tidak pernah tergantikan.”

“Dan kamu menyebut itu takdir?” Aleya tersenyum getir. “Kamu dan ibumu membohongiku, Mas. Kalian tidak pernah bilang kalau kamu sudah menikah dan punya anak.”

“Aku minta, sebelum Aisyah tahu semuanya, ceraikan aku.”

Harun mendecak pelan. “Berapa kali aku harus bilang, aku gak akan menceraikanmu, Al. Semua dokumen penting ada padaku, kamu juga tahu.”

Dia kemudian menarik Aleya ke dalam pelukannya lagi. “Ayo tidur. Wanita hamil tidak boleh begadang.”

“Lepas, Mas.”

“Diam,” bisiknya tajam. “Kamu masih istriku, Aleya.”

Aleya tak lagi melawan. Ia hanya menutup mata, mencoba tidur, meski hatinya perih tak karuan.

****

Suara pelan dari balkon membangunkannya di tengah malam. Ia mengenali suara Harun, yang sedang menelepon seseorang.

“Lusa aku pulang. Apa kau mau aku belikan sesuatu?”

“Selamat malam. Bilang pada anak-anak, papanya rindu.”

Aleya menggenggam sprei kuat-kuat. Kalimat itu menusuk seperti duri. Kenapa hatinya sakit? Apakah ia sedang cemburu pada wanita yang justru lebih berhak?

Saat Harun masuk, ia tak tahan lagi. “Aisyah yang telepon?”

Harun terkejut. “Astaga, kamu bikin jantungku hampir copot.” Ia mengembuskan napas pelan sambil menutup pintu. “Kenapa kamu bangun? Mau ke toilet?”

“Pulanglah,” ucap Aleya lirih.

“Aku akan pulang, tapi lusa. Aku harus adil pada kedua istriku, kan?”

Aleya tersenyum hambar. “Kamu gak akan pernah bisa adil.”

“Bagaimana kalau aku bisa?”

“Tidak akan pernah,” jawabnya tegas. “Adil versi kamu tetap tidak akan terasa adil bagi kami.”

“Lalu bagaimana supaya adil, menurutmu?” Harun menatapnya dalam. “Apa aku harus umumkan pada semua orang kalau kamu juga istriku?”

Aleya terpaku. Apa itu solusi? Tidak. Itu hanya akan menambah satu hati lagi yang tersakiti.

“Aku serius, Al. Ikutlah denganku besok. Kita jelaskan pada Aisyah semuanya.”

Kepalanya langsung menggeleng cepat. “Tidak, Mas. Aku gak mau menambah hati yang terluka. Cukup aku saja. Setelah aku melahirkan anak laki-laki, kita berpisah. Sampai saat itu tiba, biar aku yang menanggung semuanya.”

Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar tapi tegas.

“Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya, Mas. Aku tidak mau menghancurkan cinta dan mimpi mereka. Biarlah aku yang sakit, jangan mereka.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Neiza U R
kasihan aleeya maupun aisyah egois skali suaminya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   season 2

    Sepulang kuliah, Ayu langsung menuju bengkel milik abangnya. Bukan tanpa sebab, tapi karena disuruh Bian. Pria itu tadi pergi dengan tergesa-gesa menuju rumah sakit, meninggalkan meja kasir begitu saja beserta sejumlah uang disana."Yu, tadi kenapa? Bos kok kayak tergesa-gesa banget gitu perginya?" tanya Putra."Kak Aqelah masuk rumah sakit.""Innalillahil. Tapi gak apa-apa kan, Yu?" Putra terlihat cemas."Kata Abang sih udah ditangani. Tapi aku belum dapat kabar terbaru. Rencana setelah bengkel tutup, mau langsung kesana."Tadi Ayu mendapatkan kabar dari Bian, jika Aqelah pingsan di kantor dan dilarikan ke rumah sakit.Melihat cewek incarannya datang, Jimmy tak mau melepaskan kesempatan. Tapi baru beranjak dari tempat, lengan bajunya sudah ditarik Reza."Mau kemana? Kerja dulu." Reza melemparkan tatapan tajam."Bentar doang, mau nyamperin Ayu.""Nanti. Bantuin gue dulu. Customer nungguin tuh," Reza menunjuk dagu ke seorang customer yang sedang bermain ponsel di kursi tunggu. Saat ini

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   season 2

    Keriwehan terjadi di bengkel Bian sejak pagi. Hari ini, grand opening Bengkel Mobil Arjuna. Mungkin untuk sebagian orang, nama itu kurang keren, tapi tidak bagi Bian. Itu adalah nama yang dipilih ayahnya dengan menggunakan namanya. Dan dia yakin, ayahnya tidak tiba-tiba saja menggunakan nama itu.Bu Diah dan Ayu, jadi orang paling sibuk, bahkan mereka sudah bangun jam 2 dini untuk membuat tumpeng. Mama Aisyah memesan banyak sekali kue, sedang Tante Aleya mempersiapkan jamuan makanannya. Mereka bertiga memang sengaja berbagi tugas untuk acara ini.Selain keluarga, syukuran tersebut mengundang beberapa orang terdekat dan tetangga sekitaran bengkel baru.Ada banyak sekali papan bunga ucapan selamat di depan bengkel. Mulai dari Sasena Grup, Papa Harun sekeluarga, toko burung Om Darren, JM Corp milik Pak Bagas, sampai dari Dave dan Keyla yang berada di NTT. Adik iparnya itu tak ingin ketinggalan ambil bagian di hari bahagia sang kakak meski mereka tak bisa hadir."Cantik sekali, kayak yang

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   season 2

    Bian berdiri di depan bengkel barunya dengan perasaan campur aduk. Senang, terharu, tak percaya, semua rasa itu bercampur menjadi satu. Ya, rasanya masih tak percaya kalau akhirnya dia bisa memiliki bengkel sendiri, meskipun modal terbanyaknya dari Aqilah.Bengkel di hadapannya itu tampak sangat berkelas. Selain besar dan mewah, alat-alatnya juga lengkap, begitupun dengan sparepart yang dijual.Mungkin inilah yang dinamakan musibah membawa berkah. Ganti rugi dari Pak Bagas, membuat bengkelnya bisa melebihi ekspektasi.Di dalam bengkel, ada Putra, Reza dan tentunya Jimmy yang sejak kemarin sibuk untuk mempersiapkan pembukaan besok. Dan hari ini, semua sudah terlihat begitu rapi setelah kemarin dan tadi pagi mereka sibuk menata sedemikian rupa."Gila Bos, ini sih bukan keren lagi, tapi keren banget," ujar Putra saat Bian masuk. "Bengkel sebesar ini, kayaknya butuh pegawai tambahan deh.""Tuh," Bian menunjuk dagu ke arah Jimmy yang sedang bermalas-malasan di sebuah kursi panjang."Heh, g

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   season 2

    Ayu memperhatikan setiap sudut rumah. Mungkin sedikit kurang sopan, tapi semua itu karena dia sangat kagum dengan rumah ini, sangat mewah.“Biasa aja kali lihatnya.”Ayu seketika menunduk. Padahal Rangga ada di depannya, bagaimana pria itu bisa tahu kalau dia sedang memperhatikan rumahnya.“Katanya tadi setia, gak bisa ditikung dengan wajah ganteng dan materi. Eh.... ”“Eh... Apa?” potong Ayu.“Lihat rumah bagus kepincut.”Ayu terkekeh pelan, membuat Rangga yang berjalan di depannya berhenti dan langsung menoleh.“Cakep banget rumahnya. Besar, mewah, tapi..... ”“Tapi apa?”“Tapi kayaknya Om Harun gak ada niat mau nikung aku deh.”Rangga mengerutkan dahi. Kok jadi papanya? Hubungannya apa?“Gak usah bangga dengan milik orang tua.” Ayu bersedekap sambil tersenyum mengejek.Sialan! Rangga mengumpat dalam hati.Sepertinya dia salah target. Ayu mahasiswi kedokteran, yang bisa dipastikan otaknya encer.“Ayu.”Ayu melihat kearah sumber suara mendengar suara Aqilah memanggilnya.“Bye,” Ayu b

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   season 2

    Rangga langsung meluncur ke rumah sakit yang disebutkan H. Imam. Sesampainya disana, dia mendapati Bian yang sedang diobati oleh seorang dokter. Wajahnya babak belur. Dan mungkin, bagian tubuh lainnya juga."Astaga, Bang!" Rangga mendekati Bian. "Siapa yang ngelakuin ini?""Aku gak tahu," sahutnya sambil meringis menahan perih diwajah saat dokter memberi obat.Rangga sebenarnya masih ingin banyak bertanya, tapi dia malah dimarahi dokter, disuruh menunggu di luar. Dengan berat hati, dia akhirnya keluar. Di luar, dia bertemu dengan H. Imam. Pria itu langsung menyodorkan ponsel Bian padanya."Aqillah beberapa kali telepon, Bapak gak berani angkat. Tadi kata Bian, jangan dulu dikasih tahu, takut dia panik."Rangga meraih ponsel yang disodorkan H. Imam. Dia paham kenapa Bian tak mau memberitahu Aqillah terlebih dahulu, dia tak mau membuat wanita yang sedang hamil itu khawatir. Ponsel Bian kembali berdering. Takut kakaknya kepikiran, Rangga mengangkat panggilan tersebut."Hallo, Kak.""Ini.

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   seasons 2

    Tepukan tangan menggema di ruang meeting. Hari ini, secara resmi, Harun menyerahkan tampu kepemimpinan tertinggi pada Aqilah. Dia sudah merasa tak mampu lagi menjalankan tugas setelah penglihatannya terganggu. Tak ada satupun yang protes, karena semua tahu seperti apa kinerja seorang Aqilah Sasena.Diusianya yang baru menginjak 28 tahun, Aqilah sudah berada di puncak karier. Air matanya menetes, teringat kerja kerasnya selama ini. Jangankan senang-senang, hang out bareng teman, buka sosial media saja, dia jarang, bisa dibilang tak ada waktu. Seluruh waktunya untuk kerja dan kerja, tak pernah sekalipun pacaran yang menurutnya hanya buang-buang waktu."Selamat, Bu Aqilah." Harun mengulurkan tangan kearah Aqilah, tapi karena terbawa perasaan, Aqilah tak menjabat tangan itu, melainkan memeluk papanya. Sejenak mengabaikan etika di tempat kerja, dimana Harun selalu meminta pada anak-anaknya untuk bersikap profesional ketika ada orang lain.Bahkan Aqilah dan Rangga harus memanggilnya Pak Har

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   Tiga

    Aleya tak bisa menolak saat Harun memaksa ikut mengantarnya ke dokter kandungan. Wajah Harun tampak berseri-seri ketika menatap monitor yang menampilkan bulatan kecil yang kata dokter, itu adalah kantung janin. Berbeda dengan yang Aleya bayangkan. Ia sempat berpikir Harun tidak akan terlalu antusi

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   Dua

    Aleya terduduk di atas ranjang dengan pikiran yang berantakan. Tatapannya kosong menatap foto pernikahannya dengan Harun yang tergantung di dinding kamar. Tiga bulan. Baru tiga bulan mereka menikah, tapi kebahagiaan itu kini seperti hancur dalam sekejap.Sejak kejadian di mal siang tadi, Aleya belu

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   Satu

    Tangan Aleya bergetar saat melihat dua garis merah di test pack yang baru saja ia gunakan. Air matanya menetes perlahan, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan bahagia. Ia tersenyum, menatap hasil itu tidak percaya. Tuhan benar-benar baik. Di bulan ketiga pernikahannya dengan Harun, ia sudah p

  • Aku Di Antara Pernikahan Pertama   Limaa

    Setelah adonan selesai di-mixer, Aleya memindahkannya ke dalam cetakan bolu bundar yang bagian tengahnya bolong. Ia membuka oven, lalu memasukkan adonan berwarna hijau itu ke sana. Seharian ini, untuk mengurangi bosan, ia membuat kue bersama Bi Atum, pembantu di rumah mertuanya. Mama Rieta melaran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status