Share

chapter 3

Author: Arsy You
last update Huling Na-update: 2023-09-29 15:47:58

"Apa Maksudnya ini?" tanya Arman, dengan tatapan tak sukanya pada Indra.

"Mas..! Kamu kenapa kembali?" tanya Nisa tak nyaman, sambil berdiri disisi suaminya.

"Oh...! Jadi kamu nggak suka, jika aku mengganggu acara lamaran kalian?" tanya Arman ketus.

"Kamu ngomong apa sih, Mas?" tanya Nisa tak nyaman pada suaminya.

"Jadi begini kelakuan kamu di belakangku, Nisa?" tanya Arman lagi.

"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Mas!" jelas Nisa serba salah.

"Lalu, seperti apa yang tidak aku bayangkan, Nisa?" tanya Arman kasar.

Indra yang merasa tak rela Nisa disudutkan, akhirnya tak mampu lagi menahan "Oh...! Jadi seperti ini kelakuan suami, yang kamu pertahankan, Nisa! Berkata kasar tanpa bertanya terlebih dahulu!"

"Apa maksud kamu, hah!" sambar Arman tak terima.

"Udah dong, Jangan ribut!" pinta Nisa sambil berusaha memisahkan.

"Orang kasar seperti ini, gak bisa dipertahankan, Nisa! Lebih baik ceraikan dia dan menikahlah denganku!" ucap Indra tanpa peduli dengan Arman.

"Indra....!" Nisa tak menyangka, jika indra senekat itu, melamar dirinya di depan Arman yang masih sah sebagai suaminya.

"Kamu gila ya? Nisa adalah istriku!" sambar Arman sambil menyembunyikan tubuh Nisa dibelakangnya.

"Hahaha....! Apa kamu pikir kamu pantas berada disisi wanita sebaik dan selembut Nisa, hah!" ucap Indra sambil memandang rendah Arman.

Nisa yang dari tadi hanya melihat perdebatan itu tak mampu berbuat apa-apa.

"Lalu, siapa yang pantas mendampingi Nisa! Kamu?" tantang Arman tak mau kalah.

"Ya..! Aku dan Nisa adalah sepasang kekasih, dan kami..! Akan melanjutkan kisah asmara kami pada sebuah pernikahan!" jawab Indra dengan jelas.

"Cukup...! Kalian berdua apa-apaan sih?" teriak Nisa dari samping Arman.

"Nisa..!"

"Nisa..!"

Serempak dua orang laki-laki dewasa itu menoleh ke arah Nisa.

"Sayang, kamu harus mendengar saran aku, dan kita akan membangun rumahtangga seperti impian kita dulu, ya!" ungkap Indra dengan tatapan memohon.

"Nggak.. nggak, Nisa! Kamu jangan dengerin ucapan laki-laki ini, Nisa!" ujar Arman seketika panik melihat kesungguhan Indra.

"Kamu gak punya hak meminta Nisa, untuk menjadi istri kamu, brengsek!" lanjut Arman emosi.

"Hei, broo! Aku tau bagaimana menderitanya Nisa selama jadi istri kamu!" ungkap Indra mencemooh.

"Nisa, aku mohon Nisa! Ceraikan laki-laki ini, dan aku akan menikahi kamu!"

"Bugh...!" Arman tak mampu lagi menahan kekesalannya.

Seketika Indra mendapatkan pukulan di wajahnya, dan menyebabkan ia terjatuh ke lantai.

"Indra...!" reflek Nisa memanggil nama Indra, dan bergegas menghampirinya.

"Kamu nggak kenapa-kenapa 'kan?" tanya Nisa khawatir, tanpa sadar jika saat ini ia bukanlah siapa-siapa indra.

Arman, yang melihat bagaimana reaksi istrinya pada laki-laki lain, merasa cemburu, dan dia pun kembali melayangkan pukulan kepada Indra.

"Bugh..!"

"Akh...!"

"Hentikan....!!" bentak Nisa sambil menatap Arman tajam.

"Kamu apa-apaan sih Mas, kenapa harus sampai memukul Indra seperti itu?" tutur Nisa yang merasa kesal dengan kelakuan Arman yang kasar.

"Kamu yang apa-apaan, Nisa? Kenapa kamu membela orang, yang udah berniat menghancurkan rumahtangga kita?" tanya balik Arman tak kalah kesal.

Sejenak suasana menjadi hening. Ketiga orang dewasa itu hanya saling pandang dan mulai menyadari posisi masingmasing.

"Maaf...! Aku hanya tidak ingin terjadi kekerasan!" ungkap Nisa sambil beranjak masuk ke dalam rumah.

"Tunggu, Nisa!" panggil Indra seraya bangkit dari lantai.

Arman yang melihat gelagat indra, langsung bergegas menghampiri.

"Stop...! Jangan pernah kamu masuk ke dalam rumah ini!" tegur Arman.

"Oke..! Aku tidak akan masuk ke dalam rumahmu, asal ijinkan Nisa untuk ikut bersamaku!" ungkap Indra tak kalah tegas.

"Apa maksud kamu! Dan jangan pernah berpikir untuk merusak rumahtangga kami!" Arman pun berlalu dan masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.

"Mas..!" panggil Nisa.

Mendengar panggilan istrinya, Arman berhenti dan tanpa menoleh ia berkata "Aku tidak akan melepaskan dirimu untuk dia!" Arman pun melanjutkan langkahnya, meninggalkan dua orang yang hanya saling pandang.

"Nisa..! Kumohon Nisa, jangan bertahan dengan pernikahan yang toxcik seperti ini!" ujar Indra kekeh dengan rencananya.

"Cukup Indra! Kamu tidak berhak untuk menilai rumahtangga kami!" tegas Nisa.

"Nisa...! Aku tau bagaimana situasi rumahtangga yang kamu banggakan ini!"

"Cukup Indra, cukup! Sekalipun rumahtangga kami hancur, bukan hak kamu untuk memberi penilaian buruk, dan berpikir aku mau menikah lagi denganmu!" Bentak Nisa.

"Dengar Nisa! Aku tidak akan menyerah, aku akan buktikan jika aku mencintaimu, dan akan aku perjuangkan sesuatu yang berharga dalam hidupku! Camkan itu!"ungkap Indra sambil berniat pergi.

Nisa yang mendengar kata-kata Indra merasa gelisah "Tunggu Indra!"

Indra yang telah berniat pergi pun menghentikan langkahnya dan tersenyum, ia merasa yakin jika Nisa masih mencintainya.

"Kenapa lagi, Nisa? Apa kamu berubah pikiran, hmm..?" tanya Indra dengan tatapan lembut.

"Aku...!" Nisa tak sempat melanjutkan kata-katanya, saat ia melihat kemunculan suaminya.

,"Mas..!" Hanya itu kata yang terucap dari bibir Nisa.

"Kamu..! Masih betah juga kamu bertahan di rumahku!" ujar Arman sambil memandang tajam Indra.

"Ho..ho..! Ternyata ada orang yang sedang cemburu?" sindir Indra sambil tersenyum mengejek.

"Apa belum cukup aku menghajarmu! Cepat pergi, dan jangan pernah kamu berpikir, untuk merampas Nisa dariku!" sarkas Arman.

"Hei.. broo! Nisa bukan barang, yang bisa kamu pertahankan, meskipun kamu tidak lagi membutuhkannya!" jawab Indra tak kalah tegas.

"Apa urusanmu, meskipun aku menyakitinya, memangnya apa yang bisa kamu lakukan, hm..!" sambil berkata, Arman menarik paksa Nisa ke sisinya.

Melihat perlakuan kasar Arman, indra langsung menarik kerah baju Arman "Jangan pernah menyakiti wanita yang aku cintai, meskipun saat ini statusnya adalah istrimu!"

"Kita lihat saja, apa yang akan kamu lakukan, dan apa yang akan terjadi jika kamu masih mencampuri urusan rumah tanggaku!" jawab Arman santai, sambil melepaskan tangan indra dari bajunya.

Nisa yang melihat bagaimana pedulinya Indra terhadap dirinya.

Dan melihat bagaimana angkuhnya Arman, seakan tak terima jika dirinya dianggap tak penting dan lemah.

"Cukup..! Aku tidak ingin ada perdebatan lagi. Indra, pulanglah dan biarkan aku dengan kehidupanku!"

"Dan Mas Arman, jika memang ingin kembali ke kantor, pergilah!" Tanpa berkata lagi, Nisa langsung masuk ke dalam rumah.

Melihat Nisa pergi begitu saja, Arman langsung tersenyum "Lihatlah, bukankah itu tandanya, jika dia masih memilihku! Dan kamu, silahkan tinggalkan rumah ini, dan jangan pernah kembali ke rumah ini lagi!" ucap Arman sambil berlalu meninggalkan indra yang masih mematung.

"Hei...! Jangan pernah kamu berpikir aku akan mundur untuk mendapatkan wanita yang aku cintai. Dan asal kamu tau, diantara aku dan Nisa, telah lahir buah cinta kami!" teriak Indra.

Mendengar apa yang dikatakan Indra, Arman seketika baru menyadari, jika sosok yang berdebat dengannya, adalah mantan suami dari istrinya.

Arman berhenti dan berbalik arah memandang Indra.

"Jangan pernah kamu berniat, untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan! Dan aku tidak akan tinggal diam!" Arman pun melanjutkan langkahnya ke arah mobil, dan langsung pergi.

Indra memandang pintu yang tertutup rapat di depannya. Ia bertekad untuk tetap memperjuangkan Nisa dan putranya.

Sementara Nisa, yang sejak tadi hanya duduk diam di kursi makan, masih memikirkan pertemuannya dengan Indra.

Sejujurnya, Nisa masih menyimpan rasa pada ayah dari putranya itu. Namun, jika mengingat, bagaimana mantan mertuanya yang begitu tidak menginginkan kehadirannya, membuat Nisa kembali bersedih.

Berbeda dengan Nisa, Arman saat ini masih merasa kesal, dan ada sedikit ketakutan dalam hatinya. Ia seolah takut jika istrinya berpaling pada cinta masa lalunya, dan pergi meninggalkannya.

Lama Arman berkecamuk dengan pikiran dan hatinya. Ingin melepaskan Nisa, tapi ia masih sayang. Namun saat ini, ia juga mempunyai wanita lain, yang juga ia cintai.

"Huft.....! Mengapa aku seakan tak rela melepaskan Nisa? Tapi...! Bagaimana dengan Sherly? Belum lagi laki-laki bajingan itu begitu menginginkan Nisa."

Arman masih berpacu dan berdebat dengan pikirannya.

Tak terasa waktu seminggu berlalu begitu saja, dan masalah yang sempat hadir di dalam rumah tangganya pun seakan dilupakan.

Tak ada yang membahas masalah kedatangan Indra. Baik Nisa yang memang tak ingin berdebat dengan suaminya, dan Arman pun seolah hanya mendiamkan prihal itu.

Disaat Nisa sedang duduk sendiri di taman belakang sendiri, ia kembali teringat dengan setiap kata yang diucapkan mertua dan adik iparnya yang selalu menganggap dirinya adalah benalu di kehidupan Arman.

"Apa yang harus aku lakukan untuk mempunyai penghasilan."

Jika ingin kerja, pasti tidak akan diijinkan! Jika kerja dari rumah? Tapi kerja apa?" ujar Nisa meracau sendiri.

Dalam kebingungannya, Nisa teringat dengan teman akrabnya satu desa yang juga tinggal di kota ini, dan rumahnya juga tidak terlalu jauh dari sini.

"Hm....bukankah? Yes, aku punya jalan keluarnya. Aku akan punya kerja, dan punya penghasilan sendiri. Aku akan keluar dari keadaan yang menyesakkan ini secepatnya!" gumam Nisa dengan segala rencana yang melintas di pikirannya.

"Kita lihat saja Ibu mertua, akan aku buat kalian tak berkutik lagi di depanku." Nisa tersenyum smirk dengan rencananya, untuk membungkam mulut kedua wanita, yang selalu menghinanya selama ini.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Aku Dilamar Di Depan Suamiku    capther 162

    Bu Susy tersadar dari tidurnya kaget, melihat suasana berbeda dengan tempat yang ia tempati beberapa bulan terakhir. Dalam kebingungan, ibu Susy berteriak. Tak berapa lama, seorang perawat yang bertugas melayani para penghuni panti, datang. "Ada apa, Bu?" tanya perawat tersebut. "Hapa... hamu...?" tanya bu Susy heran. "Saya perawat di sini, Bu! Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya perawat yang telah terbiasa berinteraksi dengan orang stroke, membuat ia bisa mengartikan bahasa tak jelas dari ibu Susy."Hana, haman, haku hau haman!" "Maaf Bu, Bapak Arman sendiri, yang mengantarkan Ibu ke sini! Saat ini, Bapak Arman sudah pulang! Ibu bisa tenang, Ibu berada di tempat yang khusus merawat para orangtua, yang tak sempat, di rawat anak-anak mereka!"Betapa kagetnya bu Susy setelah mendengar penjelasan perawat. Ia nampak shock, tak menyangka jika ia akan dibuang oleh anaknya sendiri. Bu Susy menangis, ia menyesal

  • Aku Dilamar Di Depan Suamiku    capther 165

    "Apaan sih, Mas! Aku malah bahagia, jika mereka bisa tetap bersama selamanya! Lagi pula, aku udah punya kamu, ngapain harus menyemburukan suami orang?" jawab Nisa sambil nyelendot di tangan Rasya. Hati Rasya berbunga-bunga, dengan ungkapan perasaan istrinya. "Terimakasih sayang! Aku harap, apapun masalahnya, kita bisa bicarakan baik-baik! Aku tak mau mengalami kegagalan, dalam rumahtangga kita!""Aamiiiin....! Sama-sama, sayang!" jawab Nisa tersenyum manis. Nisa merasa bahagia, dengan selesainya semua permasalahan yang ia rasakan selama ini, Nisa akhirnya bisa merasa lega. "Mas.... aku bahagia banget, masalalu yang dulu aku alami terasa berat, ternyata memberi kebahagiaan bagiku, di masa sekarang!" ucap Nisa memandang jalanan di depan. "Syukurlah, tapi aku akan berusaha, memberikan kebahagiaan bukan cuma saat ini, tapi selamanya!""Aamiiiin...!"Kedua suami istri tak jadi pulang ke rumah, tapi justru mereka

  • Aku Dilamar Di Depan Suamiku    capther 164

    "Terimakasih atas saran lo, Nis! Aku akan lihat, bagaimana Indra menyadari kesalahannya! Jika memang dia pantas untuk dipertahankan, maka aku akan berusaha mempertahankannya!" jawab Dinda santai. "Bagus deh, semoga Allah memberikan kebaikan untuk rumahtangga kalian!""Aamiiin....!" balas Dinda atas do'a Nisa. "Oh iya Nis! Aku mau minta maaf, ya! Nama kamu, ikut digunakan oleh mendiang anakku!' jawab Dinda sedih teringat dengan kematian putri kecilnya. "Gak papa, kok! Lagian, nama itu 'kan belum aku bikinkan lisensinya, jadi siapa aja boleh menggunakannya! Apalagi aku cantik, aku yakin siapapun yang menggunakan nama itu, pasti cantik kayak aku!" jawab Nisa enteng. Dinda melongo dengan kenarsisan sahabatnya, sejak kapan, pikirnya "Lo baik-baik aja, 'kan, Nis?" tanya Dinda sambil menempelkan tangannya di dahi Nisa. "Apaan sih, Din! Orang sehat begini, malah dibilang sakit!" gumam Nisa sewot. "Tunggu.... tunggu! Sejak

  • Aku Dilamar Di Depan Suamiku    capther 163

    "Assalamualaikum....!" ucap salam Nisa yang di depan sebuah rumah minimalis, ditemani suaminya. "Rumahnya, asri ya Mas!" ucap Nisa sambil melihat-lihat lingkungan rumah sahabatnya. "Kamu suka?" tanya Rasya merangkul tubuh istrinya kepelukan. "Banget, aku itu sukanya suasana alam, ya.... seperti taman ini, Mas!""Nanti kita beli satu, rumah yang ada tamannya!" jawab Rasya enteng. "Awh....!" jerit Rasya yang mendapat cubitan dari istrinya. "Apaan sih, sayang! Main cubit aja!" sungut Rasya sambil menggosok perutnya. "Kamu yang apaan, Mas! Beli rumah, kayak beli gado-gado, pemborosan tau!" protes Nisa. "Kan kamu ingin suasana seperti ini, sayang!" jawab Rasya membela diri. "Tapi nggak gitu juga konsepnya, kali...!" jawab Nisa heran dengan pola pikir suaminya. "Waalaikum salam....! Maaf, cari siapa, ya?" tanya wanita paruhbaya yang membukakan pintu. Rasya dan Nisa menoleh ke pintu

  • Aku Dilamar Di Depan Suamiku    capther 161

    "Dasar, adik ipar perhitungan! Baru aja dimintai pertolongan beberapa kali, udah main kabur!" omel Arman di sepanjang jalan. Sampai di rumah, emosi Arman semakin membengkak! Ibunya yang duduk di atas kursi roda, melemparkan perabotan rumah yang tidak seberapa, ke segala arah. "Mama apa-apaan sih, Ma! Udah gak bisa bantu beres-beres, malah berantakin rumah begini!" Melihat kedatangan putranya, bu Susy tambah meradang. Semua barang benda yang dapat terjangkau oleh tangannya, ia lemparkan kepada Arman. "Huh.... huh...!" Sambil melempar, hanya kata gak jelas yang keluar dari bibirnya. "Ma.... jika Mama terus-terusan seperti ini, Arman pastikan Mama akan menyesal!" bentak Arman memandang tajam. "Mama mikir gak, sih! Mama baru aja keluar dari Rumah Sakit, bukannya istirahat malah marah nggak jelas begini!" omel Arman sambil mengumpulkan pecahan beling yang berserakan di lantai."Hamu... hak.. hecus, hurus hibu!" ujar bu

  • Aku Dilamar Di Depan Suamiku    capther 160

    Hati Indra terasa miris, melihat wanita yang biasanya selalu ceria, kini hilang ingatannya. Yang dipikirannya, hanya mengenai anak yang ia lahirkan, yang telah kembali ke pankuan ilahi. "Dinda, kamu udah makan obat?" tanya Indra duduk di bangku, yang ada di kamar mereka. "Udah donk, Mas! Aku kan harus sehat, agar bisa menjaga dede Nisa!" jawab Dinda semangat. "Iya, kamu harus minum obat terus ya, agar dede bayi juga ikutan sehat!" ucap Indra memotivasi istrinya agar tetap semangat untuk minum obat, walau harus mengikuti ke 'halu an' istrinya. "Gitu ya, Mas?" tanya Dinda dengan senyum di bibirnya. "Iya, donk! Jika kamu sehat, nanti kita bisa jalan-jalan!" tambah Indra. "Jalan-jalan...? Sama dede Nisa, Mas?" tanya Dinda dengab mata berbinar. Dinda duduk di pinggir tempat tidur, menghadap suaminya, seperti seorang anak yang ingin mendengar dongeng dari ibunya. "Iya..kita akan jalan-jalan, tapi pastikan

  • Aku Dilamar Di Depan Suamiku    capther 159

    "Siapa istri pemuda itu..? Apakah istrinya, mengenalku? Semoga saja begitu, dengan demikian, aku mempunyai harapan selamat, dari balas dendam bocah itu!" ucap hati Tuan Frass. "Ada apa dengan Tuan! Nampaknya dia begitu bahagia!" Tanda tanya menghantui pikiran Jhon, tapi dia tetap menjalankan perintah Tuannya***Di rumah, Nisa nampak duduk dengan Ahmad,putranya. Ahmad begitu senang mendengar kabar kehamilan ibunya, "Bunda... berapa lama lagi adik Ahmad bisa diajak bermain, Bun?" tanya Ahmad semringah. "Hehe... sabar ya sayang, tunggu adik lahir dulu, terus tunggu adek gede, baru deh main sama kakak Ahmad!" ucap Nisa sambil membelai rambut putranya. "Kok lama banget! Sekarang adik di mana, Bun?" tanya Ahmad polos. Sambil tersenyum, Nisa memindahkan tangan Ahmad, ke perutnya yang masih datar. "Kok di sini, Bun? Apa gak sempit Bun? Terus, tempat adik bermain, dimana?" tanya Ahmad heran. "Nggak sempit don

  • Aku Dilamar Di Depan Suamiku    capther 158

    Air mata Nisa tak dapat ia bendung, air mata bahagia, mengiasi wajah cantiknya. Nisa merasa tak percaya, baru satu bulan ia menikah, ternyata Allah kembali menitip kan karunia terbesar, pada dirinya. Ia benar-benar bersyukur, karena banyak di luar sana, yang telah sekian lama menikah, namun belum dikaruniai seorang anak. "Selamat ya, Bu atas kehamilannya!" ucap dokter wanita yang menanganinya. "Terimakasih, Dok!" ucap Nisa tersenyum haru. "Sudah menjadi tugas kami, Bu! Pesan saya, jaga emosinya agar jangan sampai stres, dan jangan lupa konsumsi makanan bergizi ya, Bu! Jangan lupa, perbanyak istirahat!" nasehat dokter. "Baik, Dok!" jawab Nisa, serius mendengar nasehat dokter. "Satu lagi, di sini saya tulis resep vitamin, juga obat penghilang mualnya, jangan lupa bulan depan datang lagi, kita cek perkembangan janinnya, ya Bu!" "In syaa allah, Dok!"Setelah menebus obat dan vitamin di apotik, Nisa, segera meninggalkan

  • Aku Dilamar Di Depan Suamiku    capther 157

    Nisa baru ingat, jika bulan ini dia belum menstruasi. "Kenapa, nak? Kamu gak berencana menunda kehamilan, 'kan?" "Ee...nggak kok, Yah!" cicit Nisa."Syukurlah, gak baik kamu menunda kehamilan! Walau bagaimanapun, kamu harus menghargai keinginan suamimu! Lagi pula, Ahmad juga sudah besar, sudah sepantasnya punya adik!" nasehat Ayah Faisal. "Iya Yah, dari awal menikah, Nisa gak ada niat untuk menunda kehamilan! Tapi kalau belum hamil, ya sabar aja!" jawab Nisa, tapi dalam hati Nisa berkata lain. "Bagus itu, mumpung kamu masih muda, jadi peluang untuk hamil itu, masih besar! Ayah do'akan agar kamu secepatnya, bisa memberikan Keturunan buat Rasya!""Iya, Yah! Moga aja secepatnya dipercaya Allah!""In syaa allah, aamiiin!" doa ayah Faisal.Ia ingin, dengan kehamilan, dapat mempererat cinta dalam rumahtangga putrinya. Nisa yang masih terngiang pertanyaan ayahnya, dia mulai memikirkan perubahan yang terja

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status