Short
Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku

Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku

By:  AnonimCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Adikku menderita kanker ginjal stadium akhir, dan ayah serta ibu menuntutku untuk mendonorkan ginjalku padanya. Aku bilang aku hanya punya satu ginjal, kalau diambil aku akan mati. Namun, mereka bukan hanya tidak percaya, mereka malah langsung mengikatku di meja operasi "Cuma ambil satu ginjalmu saja, kenapa kamu egois sekali?" Mereka tidak tahu, aku tidak berbohong. Saat ayah mengalami kecelakaan mobil dulu, aku sudah mendonorkan satu ginjalku.

View More

Chapter 1

Bab 1

Aku sudah meninggal, mati di tangan orang tua kandungku sendiri. Saat aku membuka mata lagi, rohku sudah berada di luar ruang operasi.

Ayah dan ibu tampak mondar-mandir dengan gelisah, berkali-kali mengangkat kepala dengan cemas menatap papan bertuliskan "Operasi Sedang Berlangsung". Begitu pintu ruang perawatan terbuka, mereka berdua segera bergegas maju.

"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?"

"Tenang saja, operasinya dilakukan tepat waktu. Ginjal yang ditransplantasikan juga tidak menunjukkan reaksi penolakan. Kondisi pasien sangat baik."

Ketika melihat wajah dokter yang asing itu, aku sadar bahwa ternyata ayah dan ibu tidak sedang menungguku. Aku tersenyum getir. Kupikir-pikir lagi, memang masuk akal. Sejak kecil sampai sekarang, mereka tidak pernah begitu mengkhawatirkanku. Akulah yang selalu dibuang. Akulah yang selalu menjadi pilihan terakhir.

Pasien di ranjang, Dwight, perlahan didorong keluar. Ayah dan ibu langsung menerjang ke sisinya. Air mata mereka mengalir deras.

"Nak, gimana perasaanmu? Ada yang nggak nyaman?" Dwight menggeleng lemah dan berkata, "Ayah, Ibu, aku sudah merasa jauh lebih baik. Tapi bagaimana dengan Kakak .... Kalian jangan cuma menemaniku di sini, pergilah lihat dia juga. Nanti dia marah lagi ...."

Begitu mendengar namaku disebut, raut wajah ayah dan ibu yang semula penuh suka cita langsung berubah muram. Dengan nada kesal mereka berkata, "Ngapain sebut-sebut dia? Cuma satu ginjal saja dia nggak mau kasih. Kamu itu adik kandungnya!"

"Kondisimu sudah separah ini, tapi dia masih bertele-tele, malah berbohong untuk menipu kami! Kenapa sih kita bisa melahirkan anak nggak punya perasaan begini? Mulai sekarang kami anggap nggak pernah punya anak seperti dia."

Semakin mereka bicara, hati mereka semakin marah, seolah-olah aku telah melakukan dosa besar hanya karena tidak menyerahkan ginjalku.

Mendengar kata-kata mereka yang dingin dan kejam itu, jantungku yang sudah lama berhenti berdetak terasa seperti sedang disayat pisau, perihnya luar biasa.

Selama bertahun-tahun ini, tidak peduli seberapa banyak yang telah kulakukan untuk keluarga ini, di mata mereka semua itu sudah sepantasnya. Kalau tidak, aku hanyalah binatang yang tidak setia dan tidak berbakti.

Seluruh tubuhku gemetar tak terkendali. Bibirku bergetar beberapa kali, tetapi pada akhirnya aku tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Mendengar perkataan itu, Dwight tersenyum tipis. Dia kemudian memasang ekspresi khawatir dan berkata, "Kalau kakakku diikat ke meja operasi, dia nggak akan dendam sama kalian, 'kan ...."

Ibuku mendengus dingin dan berkata dengan nada meremehkan, "Memangnya dia berani? Aku dan ayahmu sudah membesarkannya, memberinya makan dan pakaian. Cuma satu ginjal saja, memangnya dia bisa ngapain?"

Mendengar kata-kata ibuku yang sarat dengan kejahatan dan rasa jijik tanpa disembunyikan sedikit pun, pikiranku melayang kembali ke satu jam sebelum Dwight menjalani operasi.

Awalnya, orang tuaku bilang akan membawaku menjenguknya. Namun begitu masuk rumah sakit, raut wajah mereka langsung berubah. "Kamu cepat bersiap-siap untuk mendonorkan ginjalmu ke adikmu. Ginjal kalian cocok!"

Aku tidak menyangka kalimat seperti itu keluar dari mulut orang tuaku sendiri. Dengan tubuh gemetar, aku menolak mereka, "Nggak. Aku cuma punya satu ginjal. Kalau operasi dilakukan, aku akan mati."

Tak kusangka, ayahku langsung memukulku dari belakang hingga aku pingsan, lalu mengikatku ke meja operasi dengan tali. Dalam kesadaranku yang mulai buyar, aku mendengar dengan jelas dia berkata dengan dingin, "Cuma ambil satu ginjalmu saja. Apa kamu nggak bisa berhenti bersikap egois?"

"Itu adik kandungmu sendiri. Apa yang lebih penting dari hubungan darah? Ayah sudah tahu kamu pasti menolak, untungnya Ayah sudah bersiap. Kamu benar-benar terlalu egois. Percuma membesarkanmu!"

Aku sangat ingin bertanya pada mereka, adik adalah anak mereka, tapi apakah aku bukan anak mereka juga? Kalau hubungan darah itu penting, lalu kenapa mereka memperlakukanku seperti ini?

Namun, kelopak mataku terasa terlalu berat. Lenganku terkulai lemas, aku membiarkan mereka memperlakukanku sesuka hati. Tak kusangka, saat cahaya kembali menyapaku, aku sudah menjadi arwah kesepian yang bergentayangan.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status