Share

Bab 2

Author: Anonim
"Sakit ...."

Di dalam bangsal, Dwight tiba-tiba menggeliat sedikit dengan wajah kesakitan. Gerakan kecil itu langsung membuat dua orang yang duduk di kursi tegang dan berdiri bersamaan. "Ada apa, Dwight? Bagian mana yang nggak nyaman?"

Dwight menggeleng pelan dengan wajah pucat, lalu berkata, "Aku nggak apa-apa, Ayah, Ibu. Kalian juga pergi jenguk Kakak. Bagaimanapun, dia sering bilang kalian nggak peduli sama dia ...."

Baru saja sembuh dari penyakit berat, Dwight sudah terus-menerus membicarakanku. Ayah dan ibu semakin tidak senang, terutama ayahku yang maju menuangkan segelas air untuknya sambil berkata, "Dwight, kamu ini terlalu pengertian. Karena itulah, kakakmu jadi makin keterlaluan dan membuatmu terus menerima penderitaan."

Ibuku juga ikut menimpali, "Iya, Ayah dan Ibu masih hidup sekarang. Tapi kalau suatu hari nanti kami berdua sudah nggak ada, bagaimana nasibmu?"

Selesai berkata demikian, dia meneteskan beberapa tetes air mata karena iba.

Ucapan Dwight itu memang sejak awal bertujuan memancing kebencian orang tua terhadapku. Sekarang tujuannya tercapai, tentu saja hatinya senang. Namun, dia menahan diri agar tidak terlihat, lalu berkata, "Ayah, Ibu, jangan marah sama Kakak. Ini semua salahku karena tubuhku nggak berguna, makanya Kakak jadi membenciku ...."

Melihat sikap munafiknya itu, jiwaku yang melayang di udara benar-benar merasa mual. Saat aku masih hidup, dia berkali-kali memprovokasiku. Tak kusangka setelah aku mati, dia masih saja merusak nama baikku.

Kapan aku pernah membencinya? Walaupun sejak kecil sampai dewasa dia terus memfitnahku di mana-mana, aku tetap menjalankan kewajiban sebagai kakak yang baik dan tidak pernah memperlakukannya dengan buruk.

Hanya saja aku juga paham, tidak peduli bagaimana pun aku menjelaskan, ayah dan ibu tidak akan pernah memercayaiku. Seiring waktu, aku pun belajar untuk diam.

Begitu mendengar Dwight kembali menyalahkan diri sendiri, ayah dan ibu buru-buru menghiburnya. "Dwight, kenapa kamu berpikir begitu? Tubuhmu lemah, wajar kalau Ayah dan Ibu lebih memperhatikanmu. Kakakmu itu memang mentalnya terlalu gelap."

"Kalau bukan karena Ayah dan Ibu sudah bersiap sejak awal, ginjal itu pasti nggak akan dia berikan. Sama adik kandung sendiri saja bisa setega itu, apa lagi yang bisa diharapkan darinya soal berbakti pada orang tua?"

Mendengar kata-kata itu, hatiku terasa hampa dan dingin. Dalam kehidupan sehari-hari, aku selalu mengurus semua keperluanku sendiri. Aku merasa meski tidak berjasa besar, setidaknya aku sudah bersusah payah. Tak kusangka, di mata mereka aku tetap dianggap sebagai anak yang tidak berbakti.

Dalam sekejap, aku merasa diriku hanyalah sebuah lelucon besar.

Saat ketiganya sedang menampilkan adegan keluarga yang tampak rukun, pintu bangsal tiba-tiba terbuka. Yang masuk adalah pacarku, Sissy. Kami sudah berpacaran bertahun-tahun dan dia melihat sendiri bagaimana keluargaku memperlakukanku. Karena itu, dia sangat tidak puas dengan orang tuaku, bahkan beberapa kali bertengkar hebat dengan mereka lewat telepon.

Tanpa banyak bicara, dia langsung mencengkeram Dwight yang terbaring di ranjang dan meraung marah, "Bajingan. Jelas-jelas ada donor ginjal yang jauh lebih cocok, kenapa harus pakai ginjal Dwayne? Kamu yang membunuhnya. Kamu pembunuh!"

Melihat Sissy yang tiba-tiba menerobos masuk ke bangsal sambil mengamuk, ayah dan ibuku sempat tidak bereaksi. Mereka terpaku di tempat.

Setelah Sissy meluapkan amarahnya, barulah mereka berdua tergopoh-gopoh menarik Sissy menjauh dari Dwight. Ibuku bahkan mengangkat tangan hendak menampar Sissy. "Wanita murahan, ngomong apa soal mati segala? Dwayne masih baik-baik saja."

"Kalaupun benar mati, itu juga bukan salah siapa-siapa. Salahnya sendiri, biasanya pemalas dan rakus makan, fisiknya lemah. Baru nyumbang satu ginjal saja, itu bukan masalah besar. Ngapain berpura-pura."

Sissy gemetar karena marah. Dia mencengkeram pergelangan tangan ibuku yang hampir menampar wajahnya, lalu berkata dengan tatapan penuh kebencian, "Aku ulangi sekali lagi. Anak kalian, Dwayne, sudah mati di meja operasi. Mati karena kalian bersikeras memaksanya mendonorkan ginjal untuk Dwight."

Tak disangka, orang tuaku sama sekali tidak menganggap serius ucapannya. Mereka berkata dengan marah, "Menurutku malah kamu yang benar-benar ingin dia mati. Kamu nggak lihat Dwight baru selesai operasi? Ngapain kamu ke sini bikin ribut?"

"Kalian berdua memang pasangan serasi, sama-sama egois, nggak peduli sama perasaan orang lain, mulut juga kotor."

Mendengar ejekan itu, Sissy gemetar dari ujung kepala sampai kaki. Dia memandangi ketiganya yang tampak begitu harmonis, lalu menyeringai dingin, mengangguk, dan berkata, "Baik. Kalian ingin menginjak mayat Dwayne demi menjalani hidup bahagia, aku nggak akan membiarkannya. Aku akan membuat kalian menerima ganjarannya."

Setelah itu, dia membanting pintu dan pergi. Ayah dan ibuku meludah ke arah punggungnya sambil memaki, "Cih, pembawa sial."

Dari langit, aku hanya bisa menyaksikan pacarku diperlakukan dengan tidak adil, sementara aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku hanya bisa terus meraung, tapi sayangnya, tidak seorang pun bisa mendengar suaraku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku   Bab 9

    Setelahnya, melalui bukti yang dikumpulkan oleh Sissy, Dwight dijatuhi hukuman karena pembunuhan berencana dan perdagangan organ manusia. Karena beberapa kejahatan digabungkan, dia langsung divonis penjara seumur hidup.Sementara itu, ayah dan ibuku memang berhasil diselamatkan tepat waktu. Namun karena usia mereka sudah lanjut dan mereka mengalami syok yang terlalu besar, meski nyawa mereka tertolong, mereka tetap mengalami strok otak dan menjadi lumpuh. Selain masih memiliki kesadaran secara samar-samar, pada dasarnya mereka tidak berbeda dengan orang yang telah meninggal.Kerabat dan teman-teman sudah mengetahui perbuatan menjijikkan yang mereka lakukan, tidak ada satu pun yang mau mengurus mereka. Setelah dipulangkan dari rumah sakit karena menunggak biaya, petugas komunitas hanya sesekali datang melihat dan menyuapi beberapa sendok makanan untuk memastikan mereka masih memiliki tanda-tanda kehidupan.Pada hari putusan pengadilan Dwight, Sissy datang ke rumah untuk menjenguk mereka

  • Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku   Bab 8

    Begitu melihat polisi, Dwight langsung berusaha kabur ke arah pintu. Sayangnya, tubuhnya yang kurus jelas bukan tandingan polisi yang terlatih.Dalam hitungan detik dia sudah ditangkap dan dikendalikan. Dengan mata memerah, dia menatap Sissy sambil berteriak, "Perempuan jalang. Memangnya kamu siapa, berani-beraninya menangkapku? Lepaskan aku."Sissy melangkah maju tanpa ragu dan langsung menamparnya dua kali. Tamparan itu membuatnya pusing sampai tidak sanggup berkata apa-apa.Menatap ayah dan ibu yang terpaku di tempat, Sissy hampir muntah menahan jijik saat berbicara pada mereka, "Dwight sudah lama tahu Dwayne akan mati. Dia bahkan menghubungi sindikat perdagangan organ dan menunggu di rumah duka. Kalau aku nggak datang tepat waktu, mungkin Dwayne bahkan nggak akan tersisa utuh."Ayahku menatap Dwight dengan ekspresi kosong, hanya mampu mengulang satu kalimat, "Ini nggak mungkin ... ini nggak mungkin .... Dwight anak penurut, mana mungkin dia melakukan hal sekeji ini."Menyadari bahw

  • Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku   Bab 7

    Begitu berkas di tangannya dibanting keras ke atas meja, wakil direktur rumah sakit menunjuk mereka sambil menahan amarah dan berkata, "Ini adalah rekam medis lengkap putra kalian. Setelah membacanya, kalian akan tahu kenapa operasi pengangkatan satu ginjal saja bisa merenggut nyawanya."Ayahku mengambil berkas itu dari meja dengan sikap meremehkan, membukanya sekilas lalu berkata dengan sinis, "Rumah sakit kalian pasti sudah mengutak-atik rekam medisnya. Kalian kira kami nggak paham, ya?"Sambil berkata demikian, dia menyipitkan mata dan membaca isinya dengan lebih teliti. Saat matanya menangkap satu baris bertuliskan "Pasien hanya memiliki satu ginjal. Jika operasi tetap dipaksakan, akan ada risiko kematian", wajah ayahku langsung berseri seolah menemukan bukti besar."Kalian memang licik. Dia nggak mungkin cuma punya satu ginjal. Bohong saja kalian juga nggak becus."Usai bicara, dia menoleh dengan penuh percaya diri ke arah ibuku. Keduanya seolah sudah melihat uang ganti rugi dalam

  • Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku   Bab 6

    Rumah sakit tetap sibuk seperti biasa. Setiap hari begitu banyak orang datang berobat, dirawat, lalu keluar masuk rumah sakit. Dokter dan perawat sama sekali tidak mungkin mengingat mereka. Karena itu, ketika tiga orang itu masuk ke rumah sakit, tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka.Melihat kerumunan orang yang lalu-lalang di depan mata, ayahku mengeluarkan sesuatu dari dalam tas dan menggenggamnya erat. Lalu dia memberi isyarat pada ibuku. Ibuku langsung paham dan mengangguk pelan, kemudian menjatuhkan diri untuk duduk di lantai dan mulai memukul-mukul lantai sambil menangis keras."Aduh. Rumah sakit busuk, kejam, dan nggak berperikemanusiaan. Anakku cuma datang untuk operasi kecil, kenapa malah mati! Pasti karena kemampuan medis kalian buruk, sampai-sampai anakku dibunuh hidup-hidup! Kembalikan anakku. Kalau nggak, aku mati saja di rumah sakit ini. Aku nggak akan pergi."Sambil berkata demimkian, dia kembali berteriak-teriak dengan suara melengking.Barulah saat itu ayahku

  • Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku   Bab 5

    "Kenapa jadi begini? Mana mungkin meninggal di tempat? Bukankah ini cuma operasi kecil yang nggak berbahaya?"Ibuku mencengkeram kerah baju ayah dan mengguncangnya dengan keras. Air mata bercampur ingus langsung memenuhi seluruh wajahnya, tetapi di hatiku sama sekali tidak ada perasaan. Dia tidak menangis untukku. Dia menangis karena kehilangan sumber penghasilan jangka panjang, menangis karena tidak ada lagi orang yang bisa memberi mereka kehidupan yang begitu stabil.Dari beberapa hari menyaksikan mereka, aku sudah benar-benar melihat wajah asli mereka.Ayahku juga tampak kehilangan arah. Dia buru-buru berkata "maaf" ke arah telepon lalu menutupnya. Setelah itu dia terduduk lemas di kursi sambil bergumam, "Mati? Kenapa bisa mati?"Suara di telepon tadi terdengar jelas oleh Dwight. Kepalanya langsung terasa pusing. Kalau aku mati, lalu siapa yang akan terus memberinya uang? Padahal akhir tahun ini dia sudah berencana mengganti mobil.Sekarang semua rencana itu runtuh. Dia menatap ayah

  • Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku   Bab 4

    Sissy tertegun sejenak, lalu amarah yang tertahan langsung meledak, "Kalian ini nggak ada habisnya, ya? Sudah kubilang, Dwayne sudah meninggal. Dia mati. Apa kalian nggak mengerti?"Mendengar ucapannya, ayah dan ibuku yang tadinya sama-sama naik pitam mendadak jadi agak kebingungan. Nada bicara Sissy terlalu serius, sama sekali tidak terdengar seperti bercanda. Apalagi ponselku memang terus tidak bisa dihubungi, itu jelas bukan hal yang normal.Keduanya saling berpandangan dan sama-sama melihat secercah kepanikan di mata masing-masing. Namun mereka tetap berpura-pura tenang dan berkata, "Dasar anak ini, bertengkar juga nggak boleh sampai mengutuk orang mati. Di mana dia? Cepat suruh dia balik ke sini.""Dia itu cuma takut kami marah soal transplantasi ginjal. Kamu bilang saja sama dia, asal dia bawa uang pulang dengan patuh sekarang, kami nggak akan mempermasalahkan hal ini lagi."Mendengar ucapan ayah dan ibuku yang semakin tidak tahu malu, Sissy sampai tertawa sinis. Aku berdiri di s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status