Share

Bab 4

Author: Anonim
Sissy tertegun sejenak, lalu amarah yang tertahan langsung meledak, "Kalian ini nggak ada habisnya, ya? Sudah kubilang, Dwayne sudah meninggal. Dia mati. Apa kalian nggak mengerti?"

Mendengar ucapannya, ayah dan ibuku yang tadinya sama-sama naik pitam mendadak jadi agak kebingungan. Nada bicara Sissy terlalu serius, sama sekali tidak terdengar seperti bercanda. Apalagi ponselku memang terus tidak bisa dihubungi, itu jelas bukan hal yang normal.

Keduanya saling berpandangan dan sama-sama melihat secercah kepanikan di mata masing-masing. Namun mereka tetap berpura-pura tenang dan berkata, "Dasar anak ini, bertengkar juga nggak boleh sampai mengutuk orang mati. Di mana dia? Cepat suruh dia balik ke sini."

"Dia itu cuma takut kami marah soal transplantasi ginjal. Kamu bilang saja sama dia, asal dia bawa uang pulang dengan patuh sekarang, kami nggak akan mempermasalahkan hal ini lagi."

Mendengar ucapan ayah dan ibuku yang semakin tidak tahu malu, Sissy sampai tertawa sinis. Aku berdiri di samping mendengarnya, hatiku terasa begitu perih. Awalnya aku pikir, bagaimanapun juga mereka tetap menyayangiku. Bagaimanapun aku adalah darah daging mereka sendiri. Namun sampai detik ini, barulah aku benar-benar mengerti.

Mereka tidak pernah mencintaiku. Yang mereka cintai hanyalah uang dan sumber daya yang bisa kuberikan. Air mata mengalir deras dari mataku, aku terdiam tanpa bisa berkata apa-apa.

Dwight mendengar suara Sissy dari telepon, lalu buru-buru memasang ekspresi penuh penderitaan dan berkata, "Kak Sissy, semua ini salahku. Aku nggak seharusnya sakit dan membebani kakakku. Jangan salahkan ayah dan ibuku ...."

Sissy sampai menggertakkan gigi karena marah dan berkata dengan keras, "Keluarga kalian ini benar-benar luar biasa. Waktu orangnya masih hidup, kalian peras sampai habis-habisan. Sekarang orangnya sudah meninggal pun, kalian masih juga nggak mau melepaskannya. Benar-benar benalu!"

Tak disangka, begitu mendengar Sissy memaki mereka sebagai benalu, ayah dan ibuku langsung murka karena malu dan berteriak, "Ini urusan keluarga kami, apa urusannya dengan kamu yang orang luar? Suruh dia angkat telepon. Cepat."

"Jangan kira dia bisa bersembunyi lalu kami nggak bisa berbuat apa-apa. Kami ini keluarganya. Jangan harap dia bisa lepas dari kami seumur hidup."

Sissy tiba-tiba terdiam. Keheningan yang aneh membuat tiga orang di seberang telepon kebingungan. Tadi masih seperti ingin menelan mereka hidup-hidup, kenapa sekarang mendadak tidak bicara?

Hanya aku yang tahu, Sissy benar-benar kehabisan kata-kata menghadapi keluarga aneh seperti ini. Aku melihatnya menghela napas panjang dengan putus asa. Karena kematianku, dia seolah menua belasan tahun dalam semalam. Mataku memerah karena sakit hati. Dalam hati, aku terus menyalahkan keluargaku sendiri karena telah menyeret dan membebani Sissy.

Beberapa detik kemudian, dia mengusap pelipisnya dan berkata dengan suara lelah, "Aku nggak perlu berbohong soal hal seperti ini. Kalian 'kan punya nomor dokter yang menangani Dwayne. Tinggal telepon saja, semuanya akan jelas."

Setelah itu, dia menutup telepon dengan tegas, seolah tidak ingin lagi berurusan sedikit pun dengan keluarga ini.

Suara panggilan yang terputus terdengar sangat jelas di ruangan itu. Ibuku ragu-ragu dan berkata, "Atau ... kita telepon saja?"

Ayahku mendengus marah, "Telepon ya telepon. Siapa takut. Awalnya aku masih kasihan, takut kalau kebohongannya terbongkar Dwayne jadi malu. Nggak kusangka dia malah makin kurang ajar. Kalau begitu, nggak perlu ada sungkan lagi."

Usai bicara, dia dengan cepat menemukan nomor dokter dan meneleponnya, "Halo, saya mau tanya. Pasien di rumah sakit sebelumnya yang bernama Dwayne itu bagaimana keadaannya? Kapan dia keluar dari rumah sakit?"

Setelah berkata demikian, dia bahkan melirik ibuku dengan penuh rasa puas, seolah bangga karena sebentar lagi akan membongkar kebohonganku.

Dokter terdiam beberapa detik, tampaknya sedang mengingat nama Dwayne. Barulah kemudian dia berkata dengan nada heran, "Dwayne? Bukankah dia meninggal di hari operasi, tepat setelah ginjalnya diangkat? Kalian ini siapa? Jenazahnya bukankah sudah lama dibawa pulang sama keluarganya?"

Kalimat selanjutnya sudah tidak terdengar jelas bagi mereka berdua. Di kepala mereka sekarang hanya tersisa satu kalimat itu saja. "Meninggal di tempat."

Prang!

Gelas kaca di tangan ibuku terlepas dan jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku   Bab 9

    Setelahnya, melalui bukti yang dikumpulkan oleh Sissy, Dwight dijatuhi hukuman karena pembunuhan berencana dan perdagangan organ manusia. Karena beberapa kejahatan digabungkan, dia langsung divonis penjara seumur hidup.Sementara itu, ayah dan ibuku memang berhasil diselamatkan tepat waktu. Namun karena usia mereka sudah lanjut dan mereka mengalami syok yang terlalu besar, meski nyawa mereka tertolong, mereka tetap mengalami strok otak dan menjadi lumpuh. Selain masih memiliki kesadaran secara samar-samar, pada dasarnya mereka tidak berbeda dengan orang yang telah meninggal.Kerabat dan teman-teman sudah mengetahui perbuatan menjijikkan yang mereka lakukan, tidak ada satu pun yang mau mengurus mereka. Setelah dipulangkan dari rumah sakit karena menunggak biaya, petugas komunitas hanya sesekali datang melihat dan menyuapi beberapa sendok makanan untuk memastikan mereka masih memiliki tanda-tanda kehidupan.Pada hari putusan pengadilan Dwight, Sissy datang ke rumah untuk menjenguk mereka

  • Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku   Bab 8

    Begitu melihat polisi, Dwight langsung berusaha kabur ke arah pintu. Sayangnya, tubuhnya yang kurus jelas bukan tandingan polisi yang terlatih.Dalam hitungan detik dia sudah ditangkap dan dikendalikan. Dengan mata memerah, dia menatap Sissy sambil berteriak, "Perempuan jalang. Memangnya kamu siapa, berani-beraninya menangkapku? Lepaskan aku."Sissy melangkah maju tanpa ragu dan langsung menamparnya dua kali. Tamparan itu membuatnya pusing sampai tidak sanggup berkata apa-apa.Menatap ayah dan ibu yang terpaku di tempat, Sissy hampir muntah menahan jijik saat berbicara pada mereka, "Dwight sudah lama tahu Dwayne akan mati. Dia bahkan menghubungi sindikat perdagangan organ dan menunggu di rumah duka. Kalau aku nggak datang tepat waktu, mungkin Dwayne bahkan nggak akan tersisa utuh."Ayahku menatap Dwight dengan ekspresi kosong, hanya mampu mengulang satu kalimat, "Ini nggak mungkin ... ini nggak mungkin .... Dwight anak penurut, mana mungkin dia melakukan hal sekeji ini."Menyadari bahw

  • Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku   Bab 7

    Begitu berkas di tangannya dibanting keras ke atas meja, wakil direktur rumah sakit menunjuk mereka sambil menahan amarah dan berkata, "Ini adalah rekam medis lengkap putra kalian. Setelah membacanya, kalian akan tahu kenapa operasi pengangkatan satu ginjal saja bisa merenggut nyawanya."Ayahku mengambil berkas itu dari meja dengan sikap meremehkan, membukanya sekilas lalu berkata dengan sinis, "Rumah sakit kalian pasti sudah mengutak-atik rekam medisnya. Kalian kira kami nggak paham, ya?"Sambil berkata demikian, dia menyipitkan mata dan membaca isinya dengan lebih teliti. Saat matanya menangkap satu baris bertuliskan "Pasien hanya memiliki satu ginjal. Jika operasi tetap dipaksakan, akan ada risiko kematian", wajah ayahku langsung berseri seolah menemukan bukti besar."Kalian memang licik. Dia nggak mungkin cuma punya satu ginjal. Bohong saja kalian juga nggak becus."Usai bicara, dia menoleh dengan penuh percaya diri ke arah ibuku. Keduanya seolah sudah melihat uang ganti rugi dalam

  • Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku   Bab 6

    Rumah sakit tetap sibuk seperti biasa. Setiap hari begitu banyak orang datang berobat, dirawat, lalu keluar masuk rumah sakit. Dokter dan perawat sama sekali tidak mungkin mengingat mereka. Karena itu, ketika tiga orang itu masuk ke rumah sakit, tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka.Melihat kerumunan orang yang lalu-lalang di depan mata, ayahku mengeluarkan sesuatu dari dalam tas dan menggenggamnya erat. Lalu dia memberi isyarat pada ibuku. Ibuku langsung paham dan mengangguk pelan, kemudian menjatuhkan diri untuk duduk di lantai dan mulai memukul-mukul lantai sambil menangis keras."Aduh. Rumah sakit busuk, kejam, dan nggak berperikemanusiaan. Anakku cuma datang untuk operasi kecil, kenapa malah mati! Pasti karena kemampuan medis kalian buruk, sampai-sampai anakku dibunuh hidup-hidup! Kembalikan anakku. Kalau nggak, aku mati saja di rumah sakit ini. Aku nggak akan pergi."Sambil berkata demimkian, dia kembali berteriak-teriak dengan suara melengking.Barulah saat itu ayahku

  • Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku   Bab 5

    "Kenapa jadi begini? Mana mungkin meninggal di tempat? Bukankah ini cuma operasi kecil yang nggak berbahaya?"Ibuku mencengkeram kerah baju ayah dan mengguncangnya dengan keras. Air mata bercampur ingus langsung memenuhi seluruh wajahnya, tetapi di hatiku sama sekali tidak ada perasaan. Dia tidak menangis untukku. Dia menangis karena kehilangan sumber penghasilan jangka panjang, menangis karena tidak ada lagi orang yang bisa memberi mereka kehidupan yang begitu stabil.Dari beberapa hari menyaksikan mereka, aku sudah benar-benar melihat wajah asli mereka.Ayahku juga tampak kehilangan arah. Dia buru-buru berkata "maaf" ke arah telepon lalu menutupnya. Setelah itu dia terduduk lemas di kursi sambil bergumam, "Mati? Kenapa bisa mati?"Suara di telepon tadi terdengar jelas oleh Dwight. Kepalanya langsung terasa pusing. Kalau aku mati, lalu siapa yang akan terus memberinya uang? Padahal akhir tahun ini dia sudah berencana mengganti mobil.Sekarang semua rencana itu runtuh. Dia menatap ayah

  • Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku   Bab 4

    Sissy tertegun sejenak, lalu amarah yang tertahan langsung meledak, "Kalian ini nggak ada habisnya, ya? Sudah kubilang, Dwayne sudah meninggal. Dia mati. Apa kalian nggak mengerti?"Mendengar ucapannya, ayah dan ibuku yang tadinya sama-sama naik pitam mendadak jadi agak kebingungan. Nada bicara Sissy terlalu serius, sama sekali tidak terdengar seperti bercanda. Apalagi ponselku memang terus tidak bisa dihubungi, itu jelas bukan hal yang normal.Keduanya saling berpandangan dan sama-sama melihat secercah kepanikan di mata masing-masing. Namun mereka tetap berpura-pura tenang dan berkata, "Dasar anak ini, bertengkar juga nggak boleh sampai mengutuk orang mati. Di mana dia? Cepat suruh dia balik ke sini.""Dia itu cuma takut kami marah soal transplantasi ginjal. Kamu bilang saja sama dia, asal dia bawa uang pulang dengan patuh sekarang, kami nggak akan mempermasalahkan hal ini lagi."Mendengar ucapan ayah dan ibuku yang semakin tidak tahu malu, Sissy sampai tertawa sinis. Aku berdiri di s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status