LOGINWarning 21+Pernikahan Citra dan Bayu yang bermula dari perjodohan tanpa cinta awalnya berjalan mulus tanpa banyak masalah. Bayu memperlakukan Citra dengan sangat baik. Tak sulit bagi Citra untuk jatuh cinta.Namun, selang beberapa bulan setelah pernikahan, Bayu mulai bertingkah aneh. Bayu terlihat seperti menyembunyikan sesuatu dan hal itu membuat Citra curiga. Kecurigaan Citra semakin membesar saat ia tak sengaja membaca sederet pesan di ponsel Bayu dari kontak yang dinamai Leon.Citra menduga Bayu selingkuh dan ia pun tak mau tinggal diam. Tanpa sepengetahuan Bayu, Citra mulai menyelidiki dugaan-dugaan yang mengarah pada perselingkuhan suaminya.Akankah Citra berhasil mendapatkan bukti perselingkuhan suaminya?Mampukah Citra mempertahankan pernikahannya?
View More“Ini makanan sisa untukmu, cepat habiskan!”
Marcel melirik piring-piring yang berisi ceceran nasi yang tidak utuh, tulang-belulang ayam yang masih melekat dagingnya sedikit, dan juga sayur sop yang tinggal kuahnya saja.“Makan di lantai, seperti biasa.”Marcel menunduk dan menatap istrinya, Shirley.“Kamu tega suruh aku menghabiskan makanan sisa dari saudara-saudaramu?” tanya Marcel dengan nada protes, sementara wajahnya mengernyit enggan ke arah piring-piring itu.“Memangnya kenapa?” balas Shirley dengan alis terangkat sebelah. “Kemarin-kemarin juga begitu kan? Makan saja, daripada kamu mati—itu akan lebih merepotkan dibandingkan ayah ibu kamu yang lari tanpa tanggung jawab.”Marcel mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia melawan, tapi tidak bisa. Karena orang tuanya yang gagal dalam penelitian, Marcel terjebak dalam ikatan pernikahan dengan Shirley harus menebus seluruh kerugian yang diderita keluarga Delvino dengan mengabdikan seluruh hidupnya.“Aku tidak mau makan hidangan sisa kakak-kakakmu,” kata Marcel datar, lebih baik dia mati kelaparan daripada mati keracunan karena menyantap makanan sisa itu lagi.“Ini masih enak, dan ini makanan baru!” hardik Shirley sambil membanting salah satu piring di atas meja, membuat bunyi gebrakan yang menyakitkan telinga.Juga sekaligus menggores harga diri Marcel sebagai seorang suami.“Sisa makanan baru maksud kamu?” tanya Marcel memperjelas. “Tetap saja aku tidak akan makan.”Shirley melotot dengan mata terarah kepada Marcel.“Sejak kapan kamu boleh bantah aku?” balas Shirley. “Kamu di sini itu untuk menebus kerugian yang sudah ditimbulkan kedua orang tua kamu! Kalau bukan karena mereka, ayah ibu aku tidak akan kehilangan banyak uang gara-gara penelitian bodoh kalian!”Marcel hanya bisa diam karena memang dia sudah dijadikan penebus kesalahan yang dilakukan orang tuanya. Dia ia dilarang melawan apa pun yang menjadi kehendak keluarga Delvino, termasuk anak-anak mereka yang kelakuannya tidak memiliki adab.“Kamu harus makan karena aku tidak mau kamu sakit,” tegas Shirley lagi. “Kalau kamu sakit apalagi mati, maka kami akan menderita kerugian lebih besar lagi.”Belum sempat Marcel menanggapi, beberapa orang laki-laki memasuki dapur dengan langkah-langkah cepat.“Apa ini?”“Kenapa meja makan masih berantakan?”Shirley menoleh ke arah keempat kakak laki-lakinya.“Oh, ternyata si bodoh itu belum makan juga dari tadi ....”“Tunggu dulu, Kak!” cegah Shirley ketika salah satu kakaknya, Ronnie, akan melempar Marcel dengan segayung kuah sop yang penuh lemak. “Aku sedang berusaha membujuknya!”Marcel berdiri membeku ketika Ronnie dan adik-adiknya yang lain maju mendekati titik di mana dirinya berada bersama Shirley.“Makan ini!” perintah Ronnie tegas tanpa bisa dibantah.“Aku tidak mau,” geleng Marcel lirih.“Berani kamu menolak?” tanya Ronnie dengan seringai bengis. “Kami tidak mau kalau kamu sampai sakit! Jadi cepat makan, setelah itu kerja!”Marcel tetap berdiri bergeming.“Kamu itu sudah miskin, ditinggal orang tua, masih bisa-bisanya sombong dan tidak tahu diri!” sembur kakak Shirley yang lain, Ciko. “Ingat kalau kamu harus membayar semua kerugian yang ditimbulkan ayah ibu kamu!”Marcel merasakan telinganya memanas, tapi dia tidak memiliki daya untuk melawan sikap semena-mena saudara iparnya.“Sudah, pegangi saja dia!” suruh Ronnie sambil menoleh ke arah adik-adiknya.“Kak, jangan dikeroyok!” cegah Shirley dengan wajah tegang.“Kamu ngapain bela suami kamu ini? Mulai jatuh hati sama dia, ya?” ejek Ciko yang lebih dulu maju untuk membelenggu Marcel.“Mau apa kalian?” tanya Marcel saat keempat kakak laki-laki Shirley mendekat padanya.“Kan sudah aku bilang tadi, kamu makan saja!” sergah Shirley. Bukan dia mengkhawatirkan kondisi suaminya kalau sampai dikeroyok, tapi lebih kepada risiko yang akan didapatkan mereka semua kalau Marcel sampai kenapa-napa.“Kalian keterlaluan ...!” Marcel belum selesai berucap, tapi Ronnie sudah keburu menempeleng kepalanya dengan keras. “Ciko, ambil sisa nasi di piring itu! Yang lain pegangi dia!” perintah Ronnie.Suasana di dapur milik keluarga Delvino seketika berubah riuh, apalagi ketika Marcel yang berontak dan sukses diredam oleh cengkeraman kakak-kakak iparnya.Ronnie yang merupakan anak tertua segera menyodorkan sesendok nasi ke dekat bibir Marcel yang terkatup rapat.“Makan!” gertak Ronnie dengan nada perintah yang mengintimidasi.“Aku tidak mau, aku tidak lapar!” sahut Marcel menolak.“Ini makanan banyak yang sisa lho, kamu jangan menyia-nyiakan rejeki!” cemooh Ciko sambil mencengkeram rahang Marvel dan memaksanya untuk membuka mulut.“Kak, hentikan itu!” cegah Shirley berulang-ulang. “Aku masih bisa memaksanya dengan caraku sendiri seperti biasanya! Kalau dia lapar, dia pasti akan makan mau tidak mau!”“Ck, berisi kamu!” Ronnie berdecak kepada adik bungsunya. “Kasih dia duduk di kursi.”Ciko dan dua orang lainnya segera menyeret Marcel dan mendudukkannya dengan paksa di salah satu kursi yang ada.Ronnie langsung membanting piring hingga beberapa nasinya terpercik ke permukaan meja. Kali ini tanpa menggunakan sendok, dia berniat memaksa Marvel untuk memakan habis semua sisa hidangan yang tadi disantap keluarganya.“Makan!” Ronnie dengan tega meraup sekepal nasi menggunakan tangannya dan menjejalkan nasi itu ke mulut Marcel yang dipaksa untuk terbuka.“Telan!” suruh Ciko sambil mencengkeram rahang Marcel semakin erat.“Kak, sudah! Nanti dia bisa mati tersedak!” cicit Shirley yang tidak sampai hati melihat suaminya dikerjai kakak-kakaknya sedemikian rupa.“Jangan ikut campur kamu!” gertak Ronnie. “Dia harus dikasih makan, biar ada tenaga untuk kerja!”“Tapi ... ayah sama ibu juga tidak akan setuju dengan perbuatan kalian!” seru Shirley gusar.Marcel harus susah payah menahan napas sementara rongga dadanya mulai terasa sesak.Kalaupun harus mati, dia rela mati sekarang daripada harus menebus utang-utang yang ditinggalkan orang tuanya dengan cara seperti ini.Setelah memastikan Marcel tak berdaya, Ronnie menyodorkan tulang belulang ayam yang masih menempel sedikit dagingnya dan meraupkannya ke mulut adik ipar.“Kak, sudah!” seru Shirley sambil mengentakkan kakinya, sementara Ronnie dan yang lain tertawa menyaksikan Marcel kesulitan menelan semua makanan sisa itu.Di tengah kekacauan itu, Shirley hanya bisa berdiri pasrah karena tidak mampu menghentikan kegilaan kakak-kakaknya.Setelah puas menyiksa Marcel, Ronnie segera meminta adik-adiknya yang lain untuk meninggalkan dapur.“Lain kali suruh suami kamu jangan bertingkah lagi,” kata Ronnie dengan wajah puas.“Minta dia untuk tahu diri sedikit, makan tidur masih numpang saja banyak gaya!” Ciko menimpali.Shirley memajukan bibirnya tapi tidak berkata apa-apa ketika satu per satu kakaknya pergi meninggalkan dapur.“Apa aku bilang?” cecar Shirley ketika Marcel merangkak terbungkuk-bungkuk sambil menahan perasaan ingin muntah. “Makanya kalau disuruh makan itu makan, bandel amat kalau dikasih tahu!”Tanpa belas kasihan dan rasa hormat sedikitpun terhadap suaminya, Shirley memercikkan sisa air teh ke punggung Marcel. Setelah itu dia pergi meninggalkan dapur yang kondisinya sudah tidak keruan.Marcel merasakan perutnya bergolak, piring-piring yang berserakan di atas meja menjadi saksi bisu saat dia muntah di tempat sampah yang terbuka.Bersambung—Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, Mas Bayu sudah tidak menggunakan perban lagi. Walau masih terlihat bekas luka di beberapa bagian, setidaknya dia tidak perlu terikat oleh perban yang mengganggunya lagi.Dia belum pulang kerja, aku sudah menunggunya di depan pintu. Katanya dia sudah di jalan, sebentar lagi mungkin akan tiba.Aku harus bersyukur karena memiliki suami sebaik Mas Bayu. Andaikan aku disuruh menilai, mungkin nilai yang akan aku berikan adalah tanda tidak terhingga. Menurutku, masih ada nilai di atas nilai maksimum.Tidak setara apa yang aku lakukan padanya dibanding dia korbankan padaku.Suara derung mesin mobil membuatku berdiri dan membuka pintu. Mas Bayu berjalan ke arahku dengan wajah yang tersenyum."Nggak usah nungguin di depan, Dek. Di dalem rumah aja nggak apa-apa, kok," katanya.Aku mengambil tas dia, kemudian membuka jas yang Mas Bayu pakai. "Nggak apa-apa, lagian cuma duduk di dalem doang bosen. Jalanan la
Setelah beberapa jam menunggu kehadiran dokter untuk memeriksa Mas Bayu, akhirnya tiba saatnya dia boleh pulang. Luka yang dia dapat lantaran melompat dari mobil tidak terlalu parah, paling-paling hanya luka gores.Aku sudah menyiapkan barang-barang Mas Bayu di dalam tas untuk pulang. Dia sedang duduk saja sambil menonton tayangan televisi."Lu bener nggak butuh bantuan gua, Kak?"Yang sedang berbicara itu Rio. Kami menelepon dari tadi. Dia kukuh ingin meminta datang dan membantu aku. Namun, dia juga memiliki hal yang mendesak di kampus. Jadi, aku larang dia."Bener, Yo. Nanti gue yang bawa mobilnya, santai aja. Sini ke rumah nggak terlalu jauh, kok," jawabku."Ya udah, gua tutup teleponnya. Nanti malam gua ke rumah, mau nitip apaan?' tanya Rio.Aku menoleh ke Mas Bayu. "Nitip perban dan obat merah aja, deh. Buat jaga-jaga kalau nanti perban harus diganti.""Nggak ke dokter lagi aja?" kata Rio."Aduh, nggak usah, deh! Tan
Mas Bayu masih tertidur di dalam ruangannya. Aku sengaja keluar untuk berbicara dengan Leon. Mas Bayu tidak perlu tahu kalau aku sedang menjalankan rencana untuk penyergapan Luna."Jadi, apa rencana lu kali ini, Cit?"Aku sedang berbicara dengan Leon. Dia yang akan membantu aku dalam penangkapan Luna nanti."Gue udah chat Luna untuk ketemuan nanti siang. Tapi, gue yakin dia nggak akan sendirian. Setelah perusahaannya direbut, gue yakin dia bawa anak buahnya untuk nangkep gue nanti."Leon mendengus. "Lu mau bawa pekerja perusahaan itu juga? Lumayan, mereka pasti berguna. Setidaknya ada lawan untuk pengawal si Luna."Aku menjawabnya dengan kikihan. "Tentu aja tidak. Gue akan bawa polisi, Yon!""Lu mau laporin kasus ini ke polisi sekarang?" tanya Leon. "Lo udah punya semua bukti dari kejahatan Luna?""Iya, gue nggak mau ada bakteri yang hidup di sekitar gue dan Mas Bayu. Kalau ada, dia harus dimusnahkan segera. Semuanya udah gue kumpulin semala
Seharusnya aku senang mendengar pernyataan Leon. Namun, entah kenapa hatiku justru makin sakit.Sekarang, pria di hadapanku sudah membuka matanya. Menatapku dengan tatapan yang masih belum bisa aku artikan.Kemarahan? Sepertinya iya, dia sangat marah kepadaku. Kebencian? Pastinya, dia mungkin sudah benci kepadaku."Perusahaan itu milik Luna dan keluarganya, itu perusahaan yang menyediakan pembunuh bayaran, penjaga, dan apa pun yang berkaitan dengan penjagaan seseorang. Lu tahu artinya? Itu artinya Luna bisa kapan aja nyerang lu atau Bayu, Cit!""Kenapa harus gue? Sebelumnya bahkan gue nggak kenal sama Luna, Yon!""Karena lu istrinya Bayu! Lu nggak tahu kalau Luna itu nggak terima Bayu nikah sama lu. Dia benci pernikahan itu, makanya dia bisa mengancam Bayu sesuka hatinya!""Mengancam? Maksudnya?""Bayu ngelindungin selama ini!"Air mataku sukses mengalir ke pipi. Aku alihkan pandangan dari wajahnya. Takut, malu, sed
Pintu toilet terbuka, Mas Bayu langsung keluar. “Dek!” pekik Mas Bayu dari depan pintu toilet. Dia berlari ke arahku dengan wajah cemasnya.Aku tidak peduli. Kejadian hari ini masih membekas di benakku. Bayangkan saja, dia menyeretku dengan paksa, tidak peduli tatapan orang yang iba melihat
Mungkin hari ini akan menjadi hari paling tidak jelas bagiku. Kalau orang lain mengatakan hari terindah atau hari terburuk, aku tidak keduanya. Tidak indah-indah banget, tidak buruk-buruk juga.Memang, sih, Mas Bayu sudah bilang kalau mereka tinggal bersama di sebuah unit apartemen. Namun,
Aku mengangkat selimut yang menutupi badan. Di sebelah, ada Mas Bayu yang
Terhitung sudah hampir empat bulan pernikahanku dengan Mas Bayu berjalan. Aku selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik. Namun, selama beberapa minggu belakangan Mas Bayu tidak pulang ke rumah. Dia bilang urusan pekerjaan sedang rumit. Jadi, Mas Bayu harus tinggal di apartemen untuk menghemat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore