Home / Romansa / Aku Ingin Kau Jadi Milikku / Bab 130 - Ajakan Mendadak

Share

Bab 130 - Ajakan Mendadak

Author: Faw faw
last update Last Updated: 2025-11-22 23:42:44

Hari Minggu berganti menjadi Senin. Kesibukan di kantor kembali menyita waktu dan pikiran. Namun sejak selesai makan es krim bersama Viola kemarin, benak Felisha masih terbayang-bayang oleh sosok Ace dan Selena. Keresahan itu ia simpan rapat-rapat hanya untuk dirinya sendiri. Ia tidak ingin Viola ikut cemas, dan ia masih berusaha mempercayai kekasihnya—meski apa yang dilihat kemarin terasa seperti sembilu yang menusuk jantungnya tanpa ampun.

Kenapa mereka masih bertemu? Apa yang mereka lakukan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 185 - Janji Yang Dilanggar

    Felisha tersentak saat jemari Ace mulai menggelitik kulit perutnya. Sentuhan itu tak berhenti—perlahan naik, menyusup ke dalam bra, hingga akhirnya menemukan payudaranya.Ciuman mereka terputus. Felisha melenguh pelan, napasnya bergetar.“Ace…” bisiknya lirih, sementara tangannya refleks menahan pergelangan tangan pria itu, berusaha menghentikan gerakan yang mulai membuatnya kehilangan kendali.Ace menatapnya cukup lama, seolah tak rela dihentikan. Ada kekecewaan samar di matanya. Namun alih-alih menjauh, ia kembali mendekat dan mencium bibir Felisha.Felisha sadar, ciuman itu sudah berbeda. Tak lagi lembut—melainkan dipenuhi gairah yang sulit dibendung. Namun, entah mengapa, ia tetap tidak mampu menolak. Dadanya berdebar semakin cepat saat tanpa sadar ia membalas ciuman itu.Dan di saat itulah, Ace kembali menyelipkan tangannya—lebih berani dari sebelumnya. Ia meremas dada Felisha, sesekali memelintir putingnya di balik bra.Felisha kembali menghentikan ciuman itu. Kali ini tatapanny

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 184

    Sebuah gaun pengantin akhirnya telah dipilih oleh Felisha. Bukan perkara mudah baginya menentukan pilihan di antara begitu banyak gaun indah yang terpajang di butik tersebut. Hampir semuanya tampak memukau dan sempurna di matanya. Namun, karena tak ingin membuat Ace menunggu terlalu lama, ia akhirnya menjatuhkan pilihan pada satu gaun yang paling sesuai dengan selera dan perasaannya. Gaun itu kini diletakkan di kursi belakang mobil. Tidak boleh dilipat agar tidak kusut, sehingga ukurannya yang besar hampir memenuhi seluruh ruang di bagian belakang. Saat hendak pulang, Felisha melirik gaun itu dengan perasaan gelisah. Tatapannya tak lepas dari kain putih yang menjuntai anggun itu. Ace, yang baru saja hendak menyalakan mobil, menangkap kegelisahan di wajahnya. “Ada apa?” tanya pria itu dengan nada lembut. “Tidakkah gaun ini terlalu besar?” gumam Felisha pelan, penuh keraguan. “Seharusnya tadi aku memilih yang lebih sederhana saja. Lihat… saking besarnya, gaun ini bahkan tidak akan

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 183 - Di Batas Aman

    Sebuah gaun pengantin akhirnya telah dipilih oleh Felisha. Bukan perkara mudah baginya menentukan pilihan di antara begitu banyak gaun indah yang terpajang di butik tersebut. Hampir semuanya tampak memukau dan sempurna di matanya. Namun, karena tak ingin membuat Ace menunggu terlalu lama, ia akhirnya menjatuhkan pilihan pada satu gaun yang paling sesuai dengan selera dan perasaannya. Gaun itu kini diletakkan di kursi belakang mobil. Tidak boleh dilipat agar tidak kusut, sehingga ukurannya yang besar hampir memenuhi seluruh ruang di bagian belakang. Saat hendak pulang, Felisha melirik gaun itu dengan perasaan gelisah. Tatapannya tak lepas dari kain putih yang menjuntai anggun itu. Ace, yang baru saja hendak menyalakan mobil, menangkap kegelisahan di wajahnya. “Ada apa?” tanya pria itu dengan nada lembut. “Tidakkah gaun ini terlalu besar?” gumam Felisha pelan, penuh keraguan. “Seharusnya tadi aku memilih yang lebih sederhana saja. Lihat… saking besarnya, gaun ini bahkan tidak akan m

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 182 - Menuju Hari Besar

    “Berengsek!”Guan mengumpat kasar sambil melempar batu ke arah padang ilalang di pinggir jalan. Batu itu melayang jauh, menghilang di antara rumput liar yang bergoyang diterpa angin.Setelah menerima peringatan keras dari Rashed, ia dan Yuki menepikan mobil dan berhenti sejenak. Kini, Guan berdiri sambil menghisap rokok dengan kasar, seolah setiap tarikan napasnya adalah pelampiasan amarah.Luka di sudut bibirnya masih terasa perih—pengingat yang menyakitkan atas kelemahannya. Dan rasa itu hanya membuat kebenciannya terhadap Felisha semakin membara.“Kau tidak apa-apa?” tanya Yuki hati-hati. Ia masih bersandar di pintu van, memperhatikan Guan dengan ragu.“Tidak apa-apa bagaimana?!” bentak Guan, emosinya meledak tanpa kendali.Yuki sudah menduga reaksi itu. Ia hanya menghela napas panjang, mencoba tetap tenang.“Sekarang kau sudah tahu, kan, seberapa berbahayanya Tuan Rashed? Aku saja tidak berani menatap matanya,” ucapnya pelan, nyaris seperti berbisik.“Dia seperti psikopat,” balas

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 181 - Pria Yang Akan Menikah

    Hari itu Ace tiba di kantor agak siang. Namun ia tidak langsung menuju ruangannya. Langkahnya justru berbelok ke tempat yang sangat jarang—bahkan hampir tak pernah—ia datangi: ruang kerja Edward.Resepsionis yang berjaga di samping pintu tampak terkejut melihat kedatangannya. Ia buru-buru berdiri dari kursinya, seolah memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah kesalahan.“Tuan Newton ada di dalam?” tanya Ace singkat, tanpa menoleh. Wajahnya datar, tatapannya lurus pada pintu besar dan kokoh di hadapannya—seperti seseorang yang hendak menghadapi musuh lamanya.Resepsionis itu mengangguk kaku, matanya masih membelalak.“I-iya, Tuan. Tapi beliau sedang bersama Tuan Matthew,” jawabnya gugup.Ace mendengus pelan tanpa mengubah ekspresinya.“Bagus. Sekalian lengkap.”Tanpa menunggu izin lebih lanjut, ia melangkah maju dan langsung memutar gagang pintu.“Tapi, Tuan—”Belum sempat resepsionis itu menyelesaikan kalimatnya, Ace sudah masuk begitu saja.Di dalam, Edward yang semula berbicara

  • Aku Ingin Kau Jadi Milikku   Bab 180 - Prioritas

    Usai meluapkan gairah di pagi hari, Ace kembali mengenakan pakaian yang ia pakai semalam. Begitu pula dengan Felisha, yang bersiap mengenakan pakaian untuk pergi ke kantor. "Mulai hari ini, tidak usah kerja dulu," kata Ace, mencegah Felisha yang baru hendak mengancingkan kemejanya. Ia melangkah mendekat, lalu memeluk gadis itu mesra dari belakang. "Kau pasti lelah. Istirahat saja." Namun, Felisha merasa itu bukan keputusan yang tepat. "Aku memang tidak ingin menunda untuk menikah denganmu," ucapnya ragu. "Tapi bukan dengan menghilang tanpa kabar. Setidaknya aku harus meminta izin kepada Tuan Vin untuk resign." "Apa gunanya aku kalau kau masih harus repot seperti itu? Biar aku saja yang bilang padanya." "Tapi Tuan Vin itu atasanku." "Tidak boleh. Hari ini kau istirahat dulu," ujar Ace bersikeras, meskipun senyumannya tetap lembut dan menawan. Felisha tak bisa berkata apa-apa lagi. Bibirnya manyun, menggerutu dalam diam. "Ini," kata Ace kemudian, menyerahkan sebuah kartu debit ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status