Share

Chapter 37

last update publish date: 2026-04-27 18:44:36

Darah Ferdi langsung mendidih ketika mendengar cerita Melan tentang Lila yang tengah mengandung anak Ardian. Ia ingin sekali membalik meja kafe saat itu juga, tapi tidak ingin membuat keributan di luar. Terlebih, Melan sudah lebih dulu memintanya untuk tidak terpancingg emosi.

Beberapa jam Ferdi bisa diam dan mengubur amarahnya dalam-dalam. Namun, tidak ketika sudah tak ada Melan di sisinya. Setelah mengantar peerempua itu pulang, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ardian tanpa pikir p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 37

    Darah Ferdi langsung mendidih ketika mendengar cerita Melan tentang Lila yang tengah mengandung anak Ardian. Ia ingin sekali membalik meja kafe saat itu juga, tapi tidak ingin membuat keributan di luar. Terlebih, Melan sudah lebih dulu memintanya untuk tidak terpancingg emosi.Beberapa jam Ferdi bisa diam dan mengubur amarahnya dalam-dalam. Namun, tidak ketika sudah tak ada Melan di sisinya. Setelah mengantar peerempua itu pulang, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ardian tanpa pikir panjang.Ferdi tidak mau tahu. Pokoknya Ardian harus membayar rasa sakit hati Melan malam ini juga.Laju mobil yang dikemudikan Ferdi makin menggila. Beberapa pengendara yang dilewati, sampai mengumpat karena ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saking tingginya, untuk tiba di depan rumah Ardian saja hanya memerlukan waktu 30 menit. Padahal normalnya bisa menghabiskan waktu hingga 1 jam perjalanan.Ferdi gegas turun dari mobil dan melangkah tegas menuju teras. Begitu pintu utama dibuka

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 36

    "Opa ...." Lila berbisik lirih. Hatinya hancur melihat sang opa terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Pria yang satu-satunyan ia miliki itu bahkan belum membuka mata semenjak tak sadarkan diri di restoran."Ke-kenapa bisa sampai begini, Mas?" tanyanya pada Ardian, sebab laki-laki itu yang mengabarinya dan membawa Opa Hendra ke rumah sakit.Ardian lebih dulu mendekat pada sang kekasih dan mengusap pundaknya pelan. "Tadi aku datang ke restoran buat makan siang. Begitu keluar, Opa tiba-tiba tampar aku dan dia pingsan. Mungkin ... Opa masih belum terima kalau kita punya hubungan, La."Lila terdiam. Memang semalam ia sempat beradu mulut dengan sang opa ketika mengatakann hubungannya dengan Ardian. Apalagi ketika ia bilang tengah meengandung anak dari laki-laki itu.Opa Hendra benar-benar marah besar. Bahkan tangannya hampir saja mendarat di pipi Lila kalau tidak segera tersadar. Pria itu tidak terima bahwa selama ini ia menjadi simpanan Ardian.Tangis Lila makin pecah mengingat kejadian

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 35

    "Aku lagi meengandung anak Mas Ardian."Dunia Melan seketika runtuh mendengar pengkuan Lila yang tidak dibantah oleh Ardian. Laki-laki itu hanya diam, tanpa menjelaskan apa-apa.Meski hatinya hancur, Melan tetap tersenyum di depan mereka. Ia tidak ingin terlihat lemah, apalagi di depan Lila."Selamat, ya," ucapnya tanpa melunturkan senyuman. Ia kemudian beralih menatap suaminya. "Aku pulang, Mas."Ardian ingin menahan, tapi rasanya percuma karena Melan pasti akan tetap pergi sekarang. Akhirnya ia hanya diam, menatap punggung sang istri hingga hilang dari pandangan.Sementara itu, Melan langsung memasuki taksi setelah memberhentikannya. Ia memejamkan mata sembari menahan sesak yang terus menghantam dada.Tuhan ... baru kali ini Melan merasakan sakit yang amat sangat atas pengkhianatan suaminya.'Ini yang kamu bilang terpaksa, Mas?' batin perempuan itu melirih.Sungguh tidak masuk logika. Mana mungkin Ardian terpaksa jika sampai bisa menghamili Lila?'Kalian berdua memang bajingan!'Per

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 34

    "Kenapa kamu bawa dia, Mel?" Ardian bertanya sembari menatap tajam pada laki-laki yang berdiri di belakang Melan."Aku mau membersihkan namaku. Jadi Ferdi harus ikut," jawab Melan.Ia mempersilakan Ferdi untuk masuk ke ruangan Ardian meski laki-laki itu tampak masih menatap tajam."Aku ke sini cuma buaat bantu Melan," cetus Ferdi. "Jadi, kapan konferensi persnya dimulai?" tanyanya yang ditujukan pada Ardian.Laki-laki itu tak menjawab. Ia malah menghampiri Melan dan meminta perempuan itu duduk di sofa bersamanya. "Siska masih siapkan tempatnya."Sontak saja kening Melan mengerut. Ferdi yang bertanya, tapi Ardian malah berkata padanya. Namun, ia memilih diam dan menunggu Siska datang.Melihat sikap Ardian yang seolah sengaja mendekati Melan, Ferdi jelas geram. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa selain memantau dari jarak setengah meter.Ya, ia lebih memilih duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Ardian."Berapa lama lagi, Mas?" tanya Melan yang sudah mulai bosan.Sudah 15 men

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 33

    Pagi-pagi sekali Melan sudah termenung sembari duduk di atas sofa yang menghadap jendela. Ia masih mengingat jelas bagaimana semalam Ardian memohon-mohon padanya.Yang lebih mengejutkan lagi, semua pengakuan laki-laki itu. Memang, entah benar atau hanya dusta belaka. Hanya saja, semua itu benar-benar mengejutkan bagi Melan.Semalam ..."Dengarkan dulu, Mel. Tolong ...."Melan hanya diam dengan air mata yang makin membanjiri kedua pipinya. Matanya menatap tajam pada Ardian yang tampak putus asa.Tanpa disangka, laki-laki itu menjatuhkan kedua lututnya ke lantai, bersimpuh di depan Melan."Aku minta maaf atas semua perlakuanku yang keterlaluan, Mel. Aku memang bukan suami yang baik. Aku terlalu bodoh dan naif untuk mengungkapkan perasaanku sendiri," ucapnya sembari terisak. Sementara Melan masih diam mendengarkan."Aku mencintaimu, Mel ... aku sangat mencintaimu."Ardian mengangkat wajahnya hingga bisa menatap Melan dengan jelas. Mata mereka sama-sama merah karena terus dihajar cairan b

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 32

    'Opa?' batin Melan bingung.Ia terdiam sembari menunduk hingga Lila pergi.Ya, Lila. Perempuan itu yang baru saja menanyakan keberadaan opanya yang tak lain adalah Opa Hendra.Tuhan ... apa-apaan ini? Kenapa bisa ia terjebak lagi?"Mel! Mely!"Seruan serta guncangan pada bahunya, membuat Melan tersadar dari lamunan. Ia menoleh cepat sambil minta maaf."Gak apa-apa. Tapi lain kali jangan ngelamun. Tuh, ada pelanggan yang mau pesan. Kamu layani dulu sendiri bisa, kan? Aku mau ke toilet sebentar."Mau tak mau Melan mengangguk saja. Ia tersenyum ramah menyambut pelanggan pertama yang ia layani sendirian.Kegiatan itu terus berlanjut hingga malam hari dan Melan rasa tidak sulit untuk menjadi kasir. Dalam waktu kurang dari 24 jam ia sudah cukup paham apa saja tugasnya."Ya udah. Besok kamu coba sendirian, ya. Biar bener-bener bisa setelah aku resign nanti."Melan mengangguk, lalu membiarkan teman barunya yang bernama Sinta itu meninggalkan restoran lebih dulu. Sementara ia masih berdiri di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status