Chapter: Kamu ... Lebih IndahSatu bulan setelah Ibu diperbolehkan pulang dari rumah sakit, sikapnya sudah sedikit membaik. Tidak ada nada ketus saat aku bertanya. Pun Ibu kerap kali mengajakku menonton televisi bersama. Sungguh perubahan yang luar biasa.Ternyata di balik cobaan yang menimpa, Ibu justru mendapat hikmah. Beliau jadi lebih dekat denganku dan Mas Janu, juga bisa dekat dengan calon cucu. Pernah beberapa kali Ibu meminta untuk mengelus perutku. Tentu aku mempersilakan dengan senang hati. Tak hanya itu, kini beliau juga sering bertanya tentang kehamilanku."Mau makan apa?""Perutnya sakit nggak?""Pinggangmu sudah mulai pegal belum?"Sungguh aku sangat senang saat mendapat pertanyaan itu.Hari ini aku, Ibu dan Mas Janu memutuskan untuk berlibur sekaligus merayakan kesembuhan Ibu. Ada rasa gugup saat aku pertama kali menghabiskan liburan bersama beliau. Takut saja kehadiranku membatasi kedekatannya dengan Mas Janu.Akan tetapi, itu hanya pikiranku. Justru Ibu malah terlihat senang berada di tengah-tenga
Última actualización: 2025-09-04
Chapter: Sebuah KesempatanAroma bubur ayam begitu menyeruak saat aku membuka tutup rantang. Kebetulan Ibu pun sudah selesai berganti pakaian. Jadi, aku akan mengajak beliau makan."Rindu tadi buat bubur ayam ini. Ibu makan, ya? Rindu suapi," pintaku.Bukannya menjawab, Ibu yang sedang bersandar di kepala bangsal, malah menoleh pada Bi Sri. "Kamu saja yang suapi saya, Sri. Ambil buburnya."Tangan ini yang semula sudah terangkat, siap menyendok bubur pun seketika turun. Bersamaan dengan pandanganku yang menunduk. Sebegitu tak maukah Ibu denganku?"Ya sud—""Aduh, perut saya tiba-tiba sakit, Bu. Mau ke WC dulu. Ibu disuapi Non Rindu saja, ya." Bi Sri memotong ucapanku.Kutatap wanita yang langsung ngacir menuju pintu ruangan itu. "Lho, mau ke mana, Bi? Di sini, kan, ada kamar mandi," tanyaku heran.Bi Sari yang sudah hendak mencapai pintu pun berbalik. "Bibi mau ke toilet masjid saja, Non. Biar tenang."Sejenak aku mengerutkan kening, heran dengan tingkah Bi Sri. Diberi yang ringan, kenapa malah pilih yang susah?
Última actualización: 2025-09-03
Chapter: Harusnya Senang, kan?Pagi ini aku begitu bersemangat untuk membuat makanan meski di rumah hanya sendirian. Bukan tanpa alasan. Aku senang sebab Ibu sudah setuju untuk tinggal bersamaku dan Mas Janu. Hem, semoga saja dengan begitu, perasaan beliau bisa menerimaku. Aamiin ....Tangan ini bergerak pelan mengaduk bubur yang meletup-letup dalam panci. Kaldu ayam juga bumbu tambahan lain sudah aku masukkan agar rasanya meresap. Sengaja aku membuat ini untuk dibawa ke rumah sakit nantinya.Semalam, Mas Janu aku minta untuk menemani Ibu di rumah sakit. Sedangkan aku memilih untuk pulang karena ada yang harus disiapkan. Seperti kamar untuk Ibu contohnya. Ruangan yang terletak tak jauh dari ruang tengah itu sengaja kami jadikan kamar Ibu agar tidak perlu naik-turun tangga seperti di rumah sebelumnya. Tenang saja, meski kamar kami beda lantai, aku dan Mas Janu pasti akan sering memeriksa ke bawah. Lagipula, akan ada satu asisten rumah tangga yang dipindah ke sini untuk membantuku mengurus Ibu sekaligus mengurus ru
Última actualización: 2025-09-02
Chapter: Syukurlah"Janin Ibu nggak apa-apa. Mungkin cuma nggak nyaman karena perjalanan barusan. Tolong jangan diulang lagi, ya, Bu. Ibu juga harus banyak istirahat."Aku bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan dokter kandungan. Syukurlah semua baik-baik saja."Kalau begitu, saya permisi dulu, ya, Bu Rindu."Aku mengangguk sembari mengulas senyum. "Makasih, ya, Dok."Dokter kandungan yang sudah biasa menanganiku itu berlalu dari ruangan. Tak lama, pintu kembali dibuka dari luar, membuat aku heran.Akan tetapi, rasa lega menyelimuti saat Mas Janu yang muncul dari balik pintu. Pria itu berjalan cepat ke arahku."Sayang ...."Cup, cup, cup!Dia mengecup kepalaku berulang kali. Deru napasnya tersengal hingga bisa kudengar."Kamu buat Mas khawatir, Sayang. Gimana? Apa yang sakit?" Kupegang kedua tangan Mas Janu yang ada di pipiku. Aku beri dia senyuman agar sedikit tenang. "Semua baik-baik saja, Mas. Aku sudah diperiksa dokter barusan," jelasku.Terlihat Mas Janu menarik napas lega. Lalu, dia duduk
Última actualización: 2025-09-01
Chapter: Demi IbuMas Janu berjalan tergopoh memasuki rumah Ibu. Raut cemas tergambar jelas sejak dia mendapat pesan dari ibunya. Aku pun sama cemas, tapi tak bisa melakukan apa-apa selain mengikuti langkah Mas Janu pelan di belakang."Ada apa ini, Bi?" Aku bertanya pada salah satu ART yang baru saja menuruni tangga dari lantai dua."Ini, Bu ... Ibu tadi tiba-tiba sesak napas."Jawaban itu semakin menambah kecemasanku. "Tadi sudah mau kami bawa ke rumah sakit, tapi Ibu nggak mau. Katanya mau dijemput sama Den Janu.""Astagfirullah ...." Aku hanya bisa bergumam sembari menutup mulut menggunakan kedua tangan. Memang 2 bulan terakhir ini Mas Janu sangat sibuk dengan tugasnya hingga belum sempat mengunjungi Ibu lagi. Sedangkan aku memang tak berani menemui Ibu sendiri. Aku masih trauma, takut beliau mencaciku lagi."Ya sudah, Bi. Aku mau lihat Ibu dulu," kataku pada ART yang masih berdiri di depanku.Kubalikkan tubuh ini untuk menaiki tangga. Namun, belum juga satu langkah, Mas Janu sudah muncul sambil m
Última actualización: 2025-08-30
Chapter: POV JanuNasi rasa pelangi? Hei, makanan macan apa itu?Keinginan Rindu benar-benar membuat kepalaku pusing di malam hari begini. Jika saja dia bukan cintaku, sudah pasti aku tidak akan mau."Untung Mas sangat mencintaimu, Sayang."Sejenak aku duduk pada kursi yang ada di dapur. Kepalaku mendongak pada langit-langit ruangan. Siapa tahu di sana ada ide yang bergelantungan.Sejujurnya aku masih bingung, dari mana istriku bisa tahu makanan yang dia sebutkan tadi? Namanya saja aneh sekali. Yang kutahu, selama ini Rindu tidak pernah memesan makanan dari luar jika tidak bersamaku. Apa dia melihat di internet, ya?Ah, sepertinya iya. Dan aku pun memiliki ide sekarang.Gegas kukeluarkan ponsel dari saku kolor motif kotak-kotak yang dikenakan. Sengaja aku membawa benda pipih ini ikut serta untuk berjaga-jaga. Dan benar saja, sekarang aku membutuhkan bantuannya.Jariku bergerak cepat mengetik kata kunci di mesin pencarian hingga muncul beberapa situs yang berkaitan. Dari semua situs yang muncul, sebagi
Última actualización: 2025-08-29
Chapter: Chapter 23"Pasien hanya kelelahan. Cukup istirahat untuk beberapa hari, nanti akan pulih. Hanya saja tetap harus menjaga pola tidur dan jangan terlalu memikirkan hal berat setelah ini," ucap dokter yang baru selesai menangani Ardian.Melan mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih. Setelah dokter tersebut keluar, matanya tertuju pada sang suami yang tengah tertidur karena efek dari obat.Huh, menyusahkan memang! Untung Ardian pingsan ketika di kantor, sehingga Melan bisa meminta bantuan dari staf yang ada di sana untuk mengangkat tubuh laki-laki itu. Jika tidak, maka ia pasti kesusahan sendiri.Melihat Ardian yang belum ada tanda-tanda akan bangun, gegas Melan berdiri. Malas sekali ia harus terus duduk menunggu laki-laki itu membuka matanya. Lebih baik ia pulang atau pergi ke tempat lain."Nyonya mau ke mana?" tanya Siska ketika melihat Melan keluar dari ruang rawat Ardian."Saya mau pulang. Tolong kamu tunggu Mas Ardian di sini, ya. Pekerjaanmu lagi senggang, kan?"Kalimat-kalimat itu begitu e
Última actualización: 2026-04-18
Chapter: Chapter 22"Karena percuma, Mel. Dokumen aslinya memang yang sekarang kamu pegang ini."Begitulah jawaban Ferdi ketika Melan mengajukan pertanyaan tadi. Jujur saja, sampai sekarang Melan masih merasa ada yang janggal. Namun, hanya akan membuang waktu saja jika terus dipikirkan. Lebih baik Melan segera ke ruangan Ardian.Ya, setelah merasa pertemuannya dengan Ferdi sudah cukup, Melan langsung bergegas ke kantor suaminya. Ia tidak ingin lagi menunda untuk mengeksekusi rencana yang sudah ada di kepala. Karena jika terus dibiarkan berlarut-larut, maka akan bahaya untuk dirinya.Bukan hanya soal Lila yang akan terus berusaha menyingkirkannya, tapi juga kedekatannya dengan Ardian. Melan akui, akhir-akhir ini sang suami memperlihatkan sikap yang berbeda, dan itu bisa menjadi penghalang niatnya untuk menggugat cerai. Maka, ia rasa pisah rumah adalah pilihan yang paling tepat."Selamat siang, Nyonya."Sapaan itu Melan dapatkan beberapa kali semenjak masuk ke gedung ini. Tentu semua staf di perusahaan ini
Última actualización: 2026-04-17
Chapter: Chapter 21"Mas Ardian udah berangkat, Bi?" tanya Melan ketika memasuki dapur.Bi Tin yang sedang merapikan meja makan pun terjingkat kaget mendegar suara muncul tiba-tiba. "Ya ampun ... Nyonya buat Bibi kaget aja." Wanita paruh baya itu sampai memegangi dadanya sendiri."Aduh, maaf, Bi. Aku kira Bi Tin tahu aku datang.""Gak apa-apa, Nyonya. Oh ya, Tuan udah berangkat pagi sekali. Katanya, sih, buru-buru sampai gak sempat sarapan.""Hem, pantes Bi Tin gak panggil aku buat sarapan," ucap Melan sembari duduk menghadap meja makan.Perempuan itu mengambil selembar roti yang kemudian diolesi selai kacang. Seperti inilah menu sarapannya setiap pagi. Saking banyaknya masalah hidup, Melan sampai bingung harus menikmati makanan seperti apa lagi selain roti selai itu. Beberapa kali Bi Tin sudah menawarkan menu baru, tapi ia tolak karena tak ada minat."Mas Ardian ada bilang gak, dia mau pulang jam berapa, Bi?"Lagi, gerakan tangan Bi Tin yang kini tengah mengelap vas bunga kembali terjeda karena pertany
Última actualización: 2026-04-17
Chapter: Chapter 20"Ngapain kamu di sini?"Tubuh Melan seketika membeku melihat Ardian kini sudah berdiri di ambang pintu. Laki-laki itu datang di waktu yang sangat tidak tepat. Padahal, sedikit lagi ia pasti berhasil menemukan file perjanjian itu.Lebih dari itu, Melan sebenarnya lebih takut karena sekarang Ardian melihat dengan jelas ia sedang memangku laptop milik laki-laki itu.Tapi ... tunggu! Kenapa Ardian pulang malam ini?"Apa yang kamu cari?"Ardian semakin mendekat, membuat Melan segera menyingkirkan laptop dari atas pangkuannya. Ia berdiri sembari berdeham pelan. "Ga-gak ada," jawabnya."Buat apa buka laptopku?" tanya Ardian lagi."Uhm ... aku ... a-aku cari foto pernikahan kita. Kamu pasti simpan di laptop ini, kan?" Akhirnya Melan berhasil menemukan alasan. Semoga saja Ardian tidak curiga."Foto pernikahan?" ulang Ardian. keningnya terlipat ke dalam sembari terkekeh pelan. Apa Melan mengira ia sebodoh itu? Jelas alasan Ardian pulang karena sudah menduga ini akan terjadi. Meski sang sopir t
Última actualización: 2026-04-16
Chapter: Chapter 19"Apa-apaan ini?!"Ardian mengernyit bingung melihat respons sang klien. "Kenapa, Tuan?" tanyanya heran.Pria berkumis tebal yang menjadi kliennya itu menatap lurus pada Ardian dengan tatapan tajam. Lalu, dengan sekali gerakan ia melempar map ke atas meja dengan kencang.Plak!"Lihat sendiri! Kalau memang Anda tidak serius dengan proyek ini, lebih baik kita tidak usah kerja sama, Tuan Ardian!"Sungguh Ardian bingung kenapa pria itu tiba-tiba murka. Untuk memastikan, ia ambil map berisi dokumen tersebut dan segera membukanya. Namun, matanya seketika membelalak saat baru membuka halaman pertama.Map yang harusnya berisi dokumen penting mengenai proyek barunya, malah berubah jadi dokumen perjanjiannya dengan mendiang sang oma. Pantas kliennya marah besar.'Ini gila!' umpatnya dalam hati."Ma-maaf, Tuan. Sepertinya saya salah mengambil map. Mohon maaf sekali. Saya akan meminta asisten saya untuk mengambil map yang benar setelah—""Tidak perlu! Saya sudah tidak tertarik untuk menjalin kerja
Última actualización: 2026-04-16
Chapter: Chapter 18Grap!Ardian berhasil menangkap tubuh Melan tepat waktu hingga perempuan itu tak jadi terjatuh. Ia bernapas lega, lalu segera membantu istrinya untuk berdiri.Berbeda dengan Ardian yang tampak bersikap biasa, Melan justru terkesima. Hari ini setelah melihat sang suami menjadi monster, ia diperlihatkan dua perhatian sekaligus. Kenapa laki-laki itu bersikap peduli padanya?Melihat Melan yang terus diam, kening Ardian terlipat ke dalam. Ia lambaikan tangannya di depan wajah perempuan itu. "Halo ...."Melan tersentak. Segera ia menormalkan ekspresi. Kemudian, memutar tubuh untuk kembali menaiki tangga. Sayangnya, belum sempat kaki Melan menginjak anak tangga selanjutya, tubuhnya sudah kembali limbung ke belakang yang lagi-lagi ditahan oleh Ardian.Laki-laki itu mendengkus kecil melihat keras kepalanya Melan. Tanpa bicara, ia mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke dalam kamar. Melan yang sedang malas berbicara pun hanya diam mendapat perlakuan seperti itu dari Ardian."Istirahat," u
Última actualización: 2026-04-15
Chapter: Menjadi MilikkuAlaric dan Isadora sama-sama terdiam di dalam mobil. Diselimuti hening sejak mereka keluar dari kafe setelah mendengar pengakuan mengejutkan dari Jessica.Sungguh semuanya terasa seperti mimpi. Semua sakit dan dendam yang dilalui Isadora bertahun lamanya, seolah tiada arti. Karena faktanya ia dan Alaric hanya dua manusia yang dipermainkan oleh tangan nakal."Aku sangat bodoh. Jika saja dulu bisa lebih teliti, mungkin kita tidak akan pernah melalui masa pahit itu, Dora," ucap Alaric lirih.Isadora tak menanggapi. Namun, pikirannya tengah kembali tertarik pada saat dalam kafe tadi."Aku ... aku yang dulu menjebak Tuan Alaric agar tidur dengan Nyonya Grace."Hanya satu kalimat, tapi mampu membuat tubuh Alaric dan Isadora seketika membeku. Keduanya menatap Jessica penuh tanda tanya."Bagaimana kau bisa mengenal Grace?" tanya Alaric. Matanya berubah tajam menatap Jessica."Tahan, Tuan. Biarkan Jessica menjelaskan semuanya lebih dulu agar tidak terjadi kesalahpahaman." Frans berusaha melera
Última actualización: 2025-07-14
Chapter: Memutar OtakIsadora sungguh bingung. Di satu sisi, ia ingin ikut bersama Alaric untuk menemui Frans juga Jessica. Namun di sisi lain, sulit untuknya pergi bersama pria itu.Belum lama, sang suami mengirim ulang pesan yang ia dapat dari Jessica. Dan tentu, rasa penasaran dan bingung pun seketika menyelimuti hati Isadora."Mommy ....""Ada apa?" Rayden yang melihat sang ibu bersikap aneh sejak tadi pun, tak kuat lagi menahan rasa penasaran.Isadora tersadar. Ia lupa jika di sampingnya masih ada Rayden. Wanita itu segera menggelengkan kepalanya. "Ah, tidak apa-apa, Sayang."Sebenarnya Rayden tidak percaya dengan jawaban Isadora. Namun, bocah tampan itu mengangguk saja."Apakah aku sudah terlalu lama di sini, Mommy?" tanya Rayden. Ia coba mengingat berapa lama waktu yang sudah dihabiskan dalam ruangan itu.Isadora menatap jam dinding sejenak sebelum menjawab, "Emh ... 1 jam, Ray. Kamu sudah 1 jam berada di sini. Memangnya kenapa?"Bocah itu tak lantas menjawab. Ia malah menghela napas kasar sembari m
Última actualización: 2025-07-13
Chapter: Dosa Apa?Beberapa hari, tepatnya setelah keluar dari rumah sakit, hobi Isadora hanya menyendiri. Wanita cantik itu akan menghabiskan waktunya di dalam kamar seharian. Duduk di dekat jendela dan menatap langit hingga bosan.Seperti sekarang.Meski telah berjam-jam duduk di atas sofa single yang menghadap langsung ke jendela kamar, rasa bosan itu belum juga datang. Mau tak mau Isadora harus berdiam diri lebih lama.Setelah dunianya direnggut secara paksa, ia benar-benar kehilangan arah. Bahkan melakukan apapun rasanya sudah tak berguna.Memang, sopir truk yang menyebabkan Isadora kecelakaan sedang diproses secara hukum. Namun, itu semua tetap tak bisa mengembalikan statusnya sebagai seorang ibu."Anakku yang malang," gumamnya dengan pandangan menerawang.Tangan wanita yang mengenakan dress sederhana itu mengusap bagian perut. Tempat di mana pernah bersemayam sebuah kehidupan yang akhirnya diambil kembali secara paksa."Apa aku tidak pantas untuk bahagia, Tuhan? Mengapa kau mengambilnya dariku?"
Última actualización: 2025-07-08
Chapter: Sebentar SajaTidak pernah terbesit sedikit pun di hati Alaric jika ia akan benar-benar dipisahkan dari Isadora sejak hari itu. Dunianya kembali hancur. Malah lebih hancur karena kini ia tahu sang istri tidak bersalah.Setelah dipaksa pergi oleh Julian dari rumah sakit, ia langsung pulang ke rumah dan menginterogasi Wienny."Maafkan saya, Tuan. Tapi ... saya terpaksa melakukan itu."Sungguh alasan yang sangat klasik dan tak ingin Alaric dengar sama sekali."Langsung saja. Siapa yang menyuruhmu? Lalu bagaimana kau bisa masuk ke rumahku?" cecar Alaric kala itu.Seketika Wienny tertunduk. Kedua tangannya saling meremas karena gugup. Wajahnya sudah basah oleh air mata sesal karena telah salah memercayai orang.Ya, Grace bilang bahwa ia akan aman. Tidak mungkin semuanya terbongkar. Namun, yang terjadi justru sebaliknya."Jika saya jujur ... apakah Tuan akan melepaskan saya?" tanya wanita itu dengan nada putus asa."Aku tidak memintamu bertanya!" Alaric paling tidak suka dengan orang yang banyak berbicar
Última actualización: 2025-07-08
Chapter: Maafkan Aku ... DoraIsadora dan Frans melerai pelukan. Keduanya kompak menoleh ke arah pintu ruangan. Seketika itu juga, jantung Isadora berdegup kencang. Sementara Frans justru tersenyum senang."Syukurlah Jessica berhasil membuat Alaric bisa masuk ke sini," gumamnya dalam hati. Setelah ini, ia harus mengucapkan banyak terima kasih pada Jessica.Alaric masih berdiri dengan tatapan lurus pada Isadora. Percayalah, kedua lututnya begitu bergetar hingga sulit untuk digerakkan."D-Dora ...."Hanya nama itu yang bisa ia sebut di setiap langkah lemahnya. Melihat Alaric yang kian mendekat, segera Frans berdiri dan pergi. Meninggalkan dua manusia itu di dalam ruangan untuk menyelesaikan kesalahpahaman.Langkah Alaric tiba di samping bangsal Isadora. Ditatapnya wajah sang istri yang basah, dan itu sungguh membuat hatinya sakit tak terkira."D-Dora ....""Al ...."Alaric tak mampu menahan lagi. Ia peluk tubuh wanita tercintanya itu. "M-maafkan aku, Dora. Aku yang salah. Maafkan aku ...."Isadora tak mengeluarka
Última actualización: 2025-07-07
Chapter: MenyesalHancur sehancur-hancurnya. Itulah yang dirasakan Alaric sekarang. Pria yang tampak kacau itu hanya bisa terduduk lemas di lantai setelah mengetahui sebuah fakta mengejutkan."Kau tahu? Saat kau mengusir putriku, dia sedang mengandung anakmu! Anakmu, Alaric! Dan kau lihat akibatnya? Sekarang putriku sudah kehilangan calon anaknya!"Kalimat yang diucapkan Julian ratusan menit lalu, masih terdengar menggelegar di telinga Alaric. Rentetan kata demi kata yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. "Kenapa kau tidak memberitahuku, Dora? Kenapa kau tidak bilang bahwa sedang mengandung calon anak kita?" gumamnya dengan suara lirih.Alaric menyesal. Sangat ... menyesal. Namun, penyesalan itu sungguh tak ada artinya sekarang. Semuanya sudah terlambat."Aku bersumpah, tidak akan pernah membiarkan putriku kembali, bahkan bertemu dengan pria brengsek sepertimu!" Kalimat yang Julian ucapkan dengan penuh amarah tadi, berhasil membuat Alaric menjadi manusia rapuh. Bagaimana tidak? Di tengah kondi
Última actualización: 2025-05-22
Chapter: POV BasJika di dunia ini ada gelar laki-laki paling bahagia, maka aku adalah orangnya. Penantian panjang penuh perjuangan untuk memiliki wanita bernama Ayunina Maharani kini hampir berakhir.Hah, entah aku bermimpi apa semalam, hingga sekarang benar-benar bisa mengenakan pakaian pengantin dan siap menyandang status baru. Suatu kebanggaan dan kebahagiaan yang tak akan pernah bisa diganti oleh apa pun.Kutatap pantulan diriku lewat cermin. Kuletakkan tangan ini tepat di bagian hati. Menikmati rasa cinta yang kian meningkat berkali-kali lipat untuk satu anak manusia.Tuhan ... apa aku sudah gila? Padahal, aku belum resmi menjadi suaminya. Kenapa sekarang aku sudah merasa memiliki dia seutuhnya?"Papa!"Suara bocah yang selalu kurindu masuk pada pendengaran. Kuputar tubuh ini ke belakang hingga terlihat sosok cantik dan manis tengah berlari sembari mengangkat ujung gaunnya tinggi-tinggi."Halo, Princess."Cup!Satu kecupan kudaratkan di pipi calon putri sambungku ini. Sontak saja dia terkekeh lu
Última actualización: 2026-01-21
Chapter: Kamu Membuatku GilaMalam ini begitu mendebarkan. Bukan hanya karena aku akan bertemu dengan keluarga Bas, tapi karena acara ini juga terjadi begitu cepat. Bayangkan saja, siang tadi Ibu tiba-tiba meminta pria itu datang tanpa menerima penolakan. Beruntung Bas yang memang tengah menunggu momen ini pun langsung bersedia untuk memboyong keluarganya."Wah, Mama cantik sekali!" Aiza berseru dari ambang pintu. Aku yang tengah mematut di depan cermin pun menoleh pada putriku. "Sini, Sayang!"Aiza mendekat, disusul oleh Risma yang muncul juga. Aiza mengitari tubuhku sembari memeriksa dress yang kukenakan. Ya, sebuah dress berwarna nude dengan lapisan brukat sederhana. Hah, aku ingin tertawa saat mengingat bagaimana perjuangan untuk mendapat dress ini.Siang tadi, aku bersama Risma langsung menuju butik untuk mencari dress yang akan aku kenakan. Namun, ketika sampai kami justru malah kebingungan. Bayangkan saja, harga dress paling murah di sana begitu jauh di atas budget yang kupunya. Alhasil, aku dan Risma me
Última actualización: 2026-01-21
Chapter: Restu IbuAku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Ibu. Bahkan sudah kejelaskan berkali-kali pun Ibu tetap memandang rendah pada Bas."Pilihanmu itu selalu jelek, Yuni! Lihat pernikahanmu sama Bagus, nggak awet, kan? Itu karena dulu Ibu nggak setuju!" hardik Ibu.Kupejamkan mata ini untuk menahan emosi yang bergejolak. Setelah dirasa tenang, baru kembali kubuka untuk menatap pada Ibu. "Jangan samakan Bas sama Bas Bagus, Bu! Lagipula aku dan Mas Bagus pisah karena sudah nggak cocok lagi, bukan karena hal lain!" Ibu menatapku makin tajam. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan angkuh. "Terus! Bela saja terus! Nanti kalau rumah tanggamu kacau lagi, baru tahu rasa dan percaya omongan ibumu ini!"Aku diam, tak menyahut hingga Ibu keluar dari kamarku. Tuhan ... apa yang harus kulakukan sekarang? Apa yang harus aku katakan pada Bas?Tadi saat Ibu benar-benar tak bisa diajak bicara baik-baik, aku meminta Bas untuk pergi lebih dulu. Biar aku yang mengurus Ibu. Namun, nyatanya hingga ma
Última actualización: 2026-01-14
Chapter: Melepas Rindu"Jangan pergi lagi, Yu. Jangan ...."Ucapan itu terus terngiang di kepalaku sepanjang perjalanan. Lihatlah, sebuah tangan kekar bahkan tak mau melepaskan genggaman sejak mobil ini melaju. "Kenapa lihat aku gitu? Makin ganteng, ya?"Aku hanya terkekeh menghadapi sikap Bas yang sudah berubah seperti semula setelah tadi sempat kacau. Namun, dengan cepat dia bisa mengendalikan perasaan hingga aku pun kembali tenang."Aku mau beli sesuatu untuk Aiza. Tapi, apa ya?" tanyanya."Nggak usah," larangku. "Lihat kamu saja Aiz pasti senang." Bahkan gadis kecil itu selalu menyebut nama Bas ketika hendak tidur. Entahlah apa yang membuat dia begitu jatuh cinta pada sosok Bas."Tapi aku mau kasih Aiz hadiah," tukas Bas. Dia menghentikan laju kendaraan tepat di sebuah toko mainan. Hem, aku tahu apa yang hendak dia beli untuk Aiza."Nggak mau ikut turun?" tanyanya dengan alis yang tertarik. Mungkin bingung karena aku hanya diam tanpa membuka pintu mobil.Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Aku d
Última actualización: 2026-01-14
Chapter: Jangan Seperti Ini ....Rasa panas menjalar di pipiku saat Bas bertanya seperti itu. Gejolak di dalam sana pun semakin kuat terasa. Tapi, tidak! Aku harus sadar jika Bas kali ini sudah berbeda.Kutepis tangan Bas yang masih memegang daguku hingga terlepas. Lalu, kutatap dia dengan tajam. "Jangan kurang ajar, Bas! Aku bukan perempuan yang bisa kamu mainkan!" Aku menekan setiap kata yang terucap. Bukannya apa, aku hanya ingin berhati-hati dan menjaga jarak dari pemuda ini."Sejak kapan aku mempermainkanmu? Kalau mau, dulu aku bisa diam-diam membongkar kamarmu. Aku bisa melakukan hal bodoh sesuka hatiku. Tapi, buktinya aku nggak melakukan itu, Ayu!" Bas membantah penuh penekanan, tapi masih dengan nada rendahnya."Aku nggak peduli! Intinya, mulai sekarang tolong jauhi aku, dan jangan lihatkan wajahmu lagi di depan aku dan putriku! Silakan urus hidup kamu dan kekasihmu, Bas!" Gegas aku beranjak dari atas sofa setelah mengatakan itu. Kubawa kaki ini melangkah menuju pintu. Namun, sial! Pintunya malah tak bisa di
Última actualización: 2026-01-13
Chapter: Kamu Cemburu?Aku terkejut setengah mati. Dadaku bergemuruh hebat. Ada rasa sesak dan senang secara bersamaan saat bisa menatap pria tampan yang kini ada di hadapan.Ini ... bukan mimpi, kan?Laki-laki yang mengenakan setelan jas warna abu itu beranjak dari duduk. Kakinya melangkah perlahan seiring jantungku yang kian berdebar kencang. Semakin dekat langkahnya, maka bertambah beku tubuhku."Apa kabar?" tanyanya yang kini benar-benar ada di depanku dengan jarak yang sangat dekat.Aku sedikit mendongak dengan sudut mata yang mulai terasa panas. Lidah ini kelu. Mulut pun ikut terkunci rapat hingga hanya bisa terdiam sembari menatap wajah tampan yang masih sama.Jika saja tak ingat laki-laki ini sudah memiliki kekasih, bahkan mungkin sekarang sudah menjadi istri, maka aku akan langsung memeluk erat tubuhnya untuk melepas rindu yang tertahan. Namun, aku tak bisa. Ada wanita lain yang lebih berhak atas dirinya.Kubawa pandangan ini menunduk setelah puas menatapnya. Kutarik napas dalam agar sesak di dada
Última actualización: 2026-01-13