Home / Rumah Tangga / Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya / Bab 2 – Hal-Hal yang Tidak Lagi Sama

Share

Bab 2 – Hal-Hal yang Tidak Lagi Sama

Author: Pena ngkap
last update publish date: 2026-01-29 19:33:13

Aku tidak langsung berubah menjadi perempuan yang curiga.

Aku tidak tiba-tiba menjadi istri yang menginterogasi, memeriksa ponsel, atau menghitung menit keterlambatan. Semua itu datang perlahan, seperti retakan halus di kaca—nyaris tak terlihat, tapi terus melebar.

Pagi itu, Arga berangkat kerja tanpa mencium keningku.

Hal kecil. Sangat kecil.

Tapi aku mengingatnya.

Biasanya, sebelum melangkah keluar rumah, ia selalu mencondongkan tubuhnya sedikit, mencium keningku singkat, lalu berkata, “Aku berangkat.” Kebiasaan sederhana yang tak pernah kami bicarakan, tapi selalu ada.

Hari itu, ia hanya mengenakan sepatu, mengambil tas, dan berkata, “Aku berangkat.”

Aku berdiri di dapur, memegang spatula, menatap punggungnya yang menjauh.

Mungkin aku terlalu perasa, pikirku.

Mungkin aku sedang lelah.

Tapi sejak malam ia tidak pulang, pikiranku tidak lagi bisa diam.

Aku mencoba menyibukkan diri. Membersihkan rumah lebih teliti dari biasanya. Mengganti seprai. Merapikan lemari yang sebenarnya sudah rapi. Semua kulakukan agar tidak ada ruang untuk berpikir.

Namun pikiran selalu menemukan jalannya sendiri.

Aku mulai menyadari jam pulang Arga tidak pernah lagi pasti. Kadang ia pulang pukul delapan, kadang sepuluh, kadang lebih. Alasan yang ia berikan selalu terdengar masuk akal—meeting mendadak, klien, rekan kerja. Dunia kerja memang tidak bisa diprediksi.

Aku tahu itu.

Aku memahami itu.

Tapi sejak kapan pemahaman berubah menjadi pembenaran?

Suatu malam, saat Arga mandi, ponselnya bergetar di atas meja. Aku sedang melipat pakaian di kamar, tepat di sampingnya. Layar menyala, menampilkan notifikasi singkat.

Satu nama.

Aku tidak mengenalnya.

Bukan rekan kerja yang pernah ia sebut. Bukan nama keluarga. Nama perempuan yang terasa asing di mataku.

Jantungku berdegup lebih cepat. Tanganku berhenti bergerak. Aku menatap layar itu terlalu lama, seolah berharap namanya akan berubah menjadi sesuatu yang kukenal.

Aku tidak mengambil ponsel itu.

Tidak membukanya.

Tidak membaca pesannya.

Aku hanya menatap.

Dan dalam tatapan itu, ada perasaan yang perlahan tumbuh—perasaan bahwa ada bagian dari hidup Arga yang tidak lagi melibatkanku.

Ketika ia keluar dari kamar mandi, aku sudah kembali melipat pakaian. Ponselnya ia ambil cepat, lalu dimasukkan ke saku celana. Gerakannya refleks. Terlalu refleks.

“Kamu capek?” tanyaku, berusaha terdengar biasa.

“Sedikit,” jawabnya singkat.

Aku mengangguk. Tidak ada lagi yang kami bicarakan malam itu.

Aku mulai mengingat-ingat kapan terakhir kali kami berbincang lama. Bukan sekadar bertukar kalimat seperlunya, tapi benar-benar berbicara. Tentang apa pun. Tentang hidup. Tentang kami.

Aku tidak menemukan jawabannya.

Hari-hari berikutnya, aku mulai hidup dalam pengamatan. Bukan karena ingin, tapi karena tidak bisa berhenti. Aku memperhatikan cara Arga tersenyum pada layar ponselnya. Cara ia menjauh ketika menerima telepon. Cara ia mulai sering keluar rumah di akhir pekan dengan alasan pekerjaan.

Aku bertanya sekali.

“Hari Sabtu kamu kerja lagi?”

“Iya,” katanya. “Ada yang harus diurus.”

Aku ingin bertanya lebih jauh. Tapi sesuatu di matanya membuatku berhenti. Ada jarak yang tak kasatmata, tapi jelas terasa. Seolah setiap pertanyaan adalah langkah menuju pertengkaran yang belum siap kuhadapi.

Aku membiarkannya pergi.

Sabtu itu, aku duduk sendirian di ruang tamu, ditemani suara televisi yang tidak benar-benar kutonton. Aku melihat jam berkali-kali, bukan karena menunggu, tapi karena tidak tahu harus melakukan apa dengan waktu yang tiba-tiba terasa kosong.

Aku mencoba menghubungi sahabatku, tapi membatalkannya sebelum panggilan tersambung. Aku tidak ingin terdengar seperti perempuan yang mengeluh tanpa bukti. Aku masih istri yang percaya, meski kepercayaan itu mulai goyah.

Arga pulang malam itu dengan wajah lelah. Ada sesuatu di pakaiannya—lipatan yang tidak biasa, aroma samar yang kembali mengusik. Aku mencium bau itu lagi. Bukan parfum yang kukenal.

“Kamu ke mana?” tanyaku, akhirnya.

Ia menatapku sebentar, lalu berkata, “Kerja.”

Hanya satu kata. Seolah aku tidak pantas mendapatkan lebih.

Aku tersenyum kecil, senyum yang kupaksakan. “Kamu lapar?”

“Tidak. Aku langsung tidur.”

Ia masuk ke kamar tanpa menunggu jawabanku. Aku berdiri di sana, merasa seperti tamu di rumah sendiri.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku memandangi punggung Arga yang membelakangiku. Jarak di antara kami terasa lebih lebar dari ukuran ranjang. Aku ingin menyentuhnya, ingin memastikan ia masih milikku, tapi tanganku terasa berat.

Aku takut sentuhan itu akan terasa asing.

Pagi berikutnya, aku memutuskan melakukan sesuatu yang selama ini kuhindari: membuka ponsel Arga.

Bukan dengan niat besar. Bukan untuk mencari bukti. Aku hanya ingin menenangkan diri. Membuktikan bahwa pikiranku berlebihan.

Ia meninggalkan ponselnya di meja makan saat ke kamar mandi. Aku menatapnya cukup lama, berdebat dengan diriku sendiri. Ini salah, kataku. Tapi bukankah aku istrinya?

Akhirnya, dengan tangan gemetar, aku mengambil ponsel itu.

Aku tidak menemukan apa pun yang mencolok. Pesan-pesan kerja. Grup kantor. Percakapan singkat yang terlihat biasa. Nama perempuan itu tidak ada di daftar chat.

Aku mengembalikan ponsel itu ke tempat semula, merasa lega sekaligus bodoh. Mungkin aku memang terlalu berprasangka. Mungkin aku sedang diuji.

Namun rasa lega itu tidak bertahan lama.

Beberapa hari kemudian, aku bertemu salah satu rekan kerja Arga secara tidak sengaja di sebuah pusat perbelanjaan. Kami berbincang singkat, menanyakan kabar masing-masing. Lalu, tanpa sengaja, ia menyebut sesuatu.

“Arga sibuk banget akhir-akhir ini, ya. Sering keluar sama tim baru.”

“Tim baru?” ulangku.

“Iya,” katanya. “Ada perempuan juga di tim itu. Kayaknya dekat sama Arga.”

Aku tersenyum, senyum yang kaku. “Oh, begitu.”

Ia tidak melanjutkan, mungkin menyadari perubahan di wajahku. Kami berpisah setelah itu, tapi kata-katanya tertinggal, berputar-putar di kepalaku.

Perempuan. Dekat.

Malam itu, aku menunggu Arga pulang dengan dada berdebar. Ketika ia akhirnya datang, aku tidak langsung menyambutnya. Aku duduk di ruang tamu, menatapnya dengan keberanian yang kukumpulkan seharian.

“Arga,” kataku pelan. “Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.”

Ia menatapku, alisnya sedikit berkerut. “Apa?”

“Ada perempuan lain di hidup kamu?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa persiapan. Sunyi langsung mengisi ruangan. Arga terdiam beberapa detik, terlalu lama untuk sebuah jawaban sederhana.

“Apa maksud kamu?” tanyanya balik.

Aku menelan ludah. “Aku hanya ingin tahu. Kamu berubah. Kamu sering tidak pulang. Aku merasa—”

“Kamu terlalu banyak berpikir,” potongnya. Nada suaranya dingin. “Aku capek. Jangan mulai hal yang tidak perlu.”

Aku terdiam. Kata-katanya seperti tamparan pelan, tapi menyakitkan. Aku ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa perasaanku valid. Tapi aku juga takut.

Takut mendengar kebenaran.

“Aku istrimu,” kataku akhirnya. “Aku berhak tahu.”

Ia menatapku lama. Tatapan yang tidak lagi hangat, tapi penuh peringatan. “Dan aku suamimu. Percaya saja.”

Kalimat itu seharusnya menenangkan. Tapi bagiku, itu terdengar seperti penutup.

Aku mengangguk, meski hatiku menolak. Malam itu, kami tidur dengan jarak yang tak lagi bisa kusebut kebetulan.

Aku menyadari sesuatu: kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Ia tumbuh dari kejujuran, dan mati oleh kebohongan yang dibiarkan.

Hari-hari berikutnya, aku mulai merasakan kehadiran perempuan itu tanpa pernah melihat wajahnya. Ia ada di antara kami—di jeda percakapan, di pesan yang disembunyikan, di jarak yang kian nyata.

Aku masih istrinya.

Masih menyiapkan sarapan.

Masih menunggu di rumah.

Tapi untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diriku sendiri:

apakah menjadi istri berarti harus menerima untuk tidak lagi menjadi satu-satunya?

Dan pertanyaan itu, meski belum terjawab, perlahan mengikis keyakinanku tentang pernikahan yang selama ini kupuja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 16 – Aku Hampir Sembuh

    Ada masa di mana aku percaya bahwa aku sudah melewati semuanya.Bukan karena aku kuat.Bukan juga karena aku benar-benar sembuh.Tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun.Dan anehnya… itu terasa seperti kesembuhan.Sampai Arga muncul lagi.Sejak hari itu, ada sesuatu dalam diriku yang berubah—lagi.Bukan hancur seperti dulu.Lebih seperti retakan lama yang tiba-tiba terbuka kembali, memperlihatkan bagian yang selama ini kupaksa diam.Aku masih datang ke toko. Masih bekerja. Masih tersenyum secukupnya. Dari luar, tidak ada yang berbeda.Tapi di dalam… pikiranku tidak pernah benar-benar tenang.Setiap suara pintu terbuka membuatku refleks menoleh.Setiap langkah kaki yang mendekat membuat dadaku menegang.Aku tidak tahu apakah aku takut dia datang…atau takut dia tidak datang.Dan aku membenci diriku sendiri karena tidak tahu jawabannya.Dimas tetap datang.Tidak setiap hari. Tidak seperti dulu. Tap

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 15 – Masa Lalu Tidak Pernah Pergi

    Aku pikir aku sudah cukup jauh.Bukan dari kota.Bukan dari orang-orang.Tapi dari semua hal yang pernah menghancurkanku.Aku pikir jarak bisa menghapus sesuatu.Atau setidaknya… mengaburkannya.Ternyata tidak.Masa lalu tidak pernah benar-benar pergi.Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali—dalam bentuk yang tidak pernah kita siapkan.Hari itu dimulai seperti biasa.Aku bangun, menyeduh kopi, menatap jendela kecil di kamarku yang tidak pernah menawarkan pemandangan apa pun selain gang sempit dan dinding kusam. Aku sudah terbiasa dengan itu. Tidak ada yang berubah.Dan justru itu yang membuatku tenang.Aku berangkat kerja tanpa banyak pikiran. Jalanan terasa sama. Langkahku ringan dalam cara yang netral—tidak berat, tidak juga bersemangat.Di toko, semuanya berjalan seperti biasa.Pelanggan datang dan pergi. Suara mesin kasir. Plastik yang berdesir. Sapaan singkat yang tidak meninggalkan arti.Aku berdiri di balik meja, menjalani hari seperti garis lurus yang tidak pernah ber

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 14 – Aku Takut Bahagia

    Aku pikir rasa sakit adalah musuh terbesarku.Ternyata bukan.Yang paling menakutkan adalah ketika rasa itu mulai hilang… dan digantikan oleh sesuatu yang tidak bisa kupercaya lagi.Bahagia.Bukan bahagia yang besar.Bukan juga yang meledak-ledak.Hanya… ringan.Seperti udara yang tiba-tiba terasa lebih mudah dihirup.Seperti langkah yang tidak lagi terasa berat tanpa alasan.Dan justru itu yang membuatku ingin lari.Sejak hari aku menjauh dari Dimas, semuanya kembali seperti semula. Atau setidaknya, terlihat seperti semula. Aku kembali diam. Kembali menjaga jarak. Kembali menjadi versi diriku yang aman—yang tidak berharap apa pun.Tapi ada satu masalah kecil.Aku tahu rasanya hampir bahagia.Dan setelah itu, semua jadi berbeda.Aku berdiri di balik kasir seperti biasa, tapi sekarang setiap detik terasa lebih panjang. Aku tidak lagi hanya menjalani waktu—aku menahannya. Seolah jika aku tidak bergerak, sesuatu tidak akan berubah

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 13 – Hampir, Tapi Selalu Gagal

    Ada hal-hal kecil yang tanpa sadar mulai berubah.Aku tidak lagi selalu menunduk saat berbicara.Aku mulai menjawab sedikit lebih panjang.Dan yang paling aneh… aku mulai menunggu.Bukan menunggu seseorang dengan harapan besar.Hanya… menunggu sesuatu yang tidak ingin kuakui.Dimas datang seperti biasa, tapi sekarang kehadirannya tidak lagi terasa seperti gangguan. Ia menjadi bagian dari ritme hariku—tenang, tidak memaksa, tapi selalu ada.Hari itu, ia datang lebih awal. Matahari belum sepenuhnya turun, cahaya sore masih masuk dari kaca depan toko.“Kamu belum tutup,” katanya.“Belum,” jawabku.Ia mengambil minuman, lalu berdiri di depan kasir. Tapi kali ini, ia tidak langsung bicara. Ia hanya berdiri, memperhatikanku seperti sedang membaca sesuatu yang tidak tertulis.“Kamu lagi mikir apa?” tanyanya.Aku menggeleng. “Tidak apa-apa.”Ia tersenyum tipis. “Kamu sering bilang itu.”“Karena memang tidak ada yang perlu dibicarakan.”

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 12 – Dekat, Tapi Tidak Pernah Sampai

    Aku mulai hafal langkah kakinya.Bukan karena aku menunggu.Aku hanya… terbiasa.Setiap sore menjelang tutup toko, ada jeda kecil dalam kesunyian. Seolah waktu sengaja melambat beberapa detik, memberi ruang untuk seseorang datang tanpa harus terburu-buru.Dan hampir selalu, itu dia.Dimas.Hari itu, aku sudah berdiri di belakang kasir ketika pintu terbuka. Suara lonceng kecil di atasnya berbunyi pelan. Aku tidak langsung menoleh, tapi aku tahu.“Kamu kelihatan lebih hidup hari ini,” katanya.Aku mengangkat kepala. “Lebih hidup?”Ia mengangguk. “Matamu tidak terlalu kosong.”Aku tidak tahu harus tersinggung atau berterima kasih.“Aku memang hidup,” jawabku datar.Ia tersenyum tipis. “Iya. Tapi tidak semua yang hidup terlihat benar-benar ada.”Kalimat itu menggantung di antara kami.Aku mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk merapikan sesuatu yang sebenarnya sudah rapi.“Kamu selalu datang di jam yang sama,” kataku, mencoba m

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 11 – Aku yang Tidak Lagi Merasa

    Aku mulai terbiasa dengan hari-hari yang tidak meninggalkan jejak.Bangun. Duduk. Minum kopi. Pergi kerja. Pulang. Tidur.Siklus itu berulang tanpa banyak perubahan, seperti jam rusak yang tetap bergerak tapi tidak pernah benar-benar menunjukkan waktu.Orang-orang bilang, waktu menyembuhkan.Tapi tidak ada yang bilang bahwa sebelum sembuh, waktu juga bisa menghapus banyak hal—perlahan, tanpa izin.Aku tidak lagi menangis saat mengingat masa lalu. Bahkan untuk sekadar merindukan, aku harus memaksakan diri. Seolah-olah hatiku telah menutup pintu, bukan hanya untuk rasa sakit, tapi untuk semua kemungkinan rasa.Aku tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi.Mungkin saat aku berhenti menunggu.Mungkin saat aku berhenti bertanya.Atau mungkin saat aku memutuskan bahwa tidak merasakan apa-apa lebih aman daripada merasakan semuanya.Di toko, aku tetap berdiri di balik meja kasir, seperti biasa. Senyumku masih ada. Suaraku masih terdengar normal. Tidak ada yang berubah dari luar.Tapi aku tahu—ak

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 6 – Keputusan yang Tidak Pernah Memilihku

    Aku tahu hari itu akan datang.Aku hanya tidak menyangka caranya akan sesunyi ini.Arga pulang sore, lebih cepat dari biasanya. Tidak ada pesan. Tidak ada peringatan. Aku sedang melipat pakaian di ruang tengah ketika pintu terbuka. Ia masuk dengan langkah ragu, seolah rumah ini bukan lagi

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 5 – Status yang Menyakitk

    Ada kalimat yang terdengar mulia, tapi bisa melukai lebih dalam dari hinaan mana pun:“Kamu kan istrinya.”Kalimat itu diucapkan dengan nada lembut, seolah memberiku posisi terhormat. Padahal, di baliknya tersembunyi tuntutan yang berat—bertahan, mengalah, dan tetap tersenyum.Aku men

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 4 – Aku Tidak Lagi Dipilih

    Ada fase dalam luka yang tidak lagi terasa perih.Bukan karena sembuh, tapi karena terlalu sering disentuh.Aku berada di fase itu.Setelah malam pengakuan setengah-setengah Arga, rumah kami berubah menjadi tempat yang asing. Tidak ada teriakan. Tidak ada bantingan pintu. Tidak ada dr

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 3 – Perempuan yang Tak Pernah Kuinginkan Ada

    Aku tidak pernah membayangkan akan bertemu dengannya secepat ini.Perempuan yang selama ini hanya hadir sebagai perasaan, sebagai dugaan, sebagai nama tanpa wajah di kepalaku.Hari itu sebenarnya hari biasa. Aku hanya ingin membeli beberapa kebutuhan rumah—sabun, gula, kopi kesukaan Arga.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status