author-banner
Panggon Sepatu
Author

Novel-novel oleh Panggon Sepatu

Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya

Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya

Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya Pernikahan yang kujalani bertahun-tahun kupikir dibangun dari kepercayaan dan pengorbanan. Aku istri yang sah, perempuan yang menjaga rumah, nama, dan harga diri suaminya. Hingga suatu hari aku sadar, status sebagai istri tak lagi menjadikanku satu-satunya. Kehadiran perempuan lain memecah hidupku menjadi dua: sebelum aku tahu, dan setelah aku tak bisa lagi berpura-pura. Aku dipaksa berdamai dengan kenyataan bahwa cintaku tak cukup untuk membuatku dipilih. Di antara pengkhianatan yang dibungkus dalih tanggung jawab, aku dan perempuan itu sama-sama menjadi korban dari seorang lelaki yang ingin memiliki segalanya tanpa kehilangan apa pun. Ketika keadilan tak pernah benar-benar berpihak, aku dihadapkan pada pilihan paling kejam: bertahan dan perlahan menghilang, atau pergi dengan membawa luka yang tak pernah sembuh. Dalam pernikahan yang melibatkan tiga hati, tak ada pemenang—hanya perempuan yang dipatahkan, dan cinta yang berubah menjadi sesuatu yang tak lagi bisa disebut rumah.
Baca
Chapter: Bab 11 – Aku yang Tidak Lagi Merasa
Aku mulai terbiasa dengan hari-hari yang tidak meninggalkan jejak.Bangun. Duduk. Minum kopi. Pergi kerja. Pulang. Tidur.Siklus itu berulang tanpa banyak perubahan, seperti jam rusak yang tetap bergerak tapi tidak pernah benar-benar menunjukkan waktu.Orang-orang bilang, waktu menyembuhkan.Tapi tidak ada yang bilang bahwa sebelum sembuh, waktu juga bisa menghapus banyak hal—perlahan, tanpa izin.Aku tidak lagi menangis saat mengingat masa lalu. Bahkan untuk sekadar merindukan, aku harus memaksakan diri. Seolah-olah hatiku telah menutup pintu, bukan hanya untuk rasa sakit, tapi untuk semua kemungkinan rasa.Aku tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi.Mungkin saat aku berhenti menunggu.Mungkin saat aku berhenti bertanya.Atau mungkin saat aku memutuskan bahwa tidak merasakan apa-apa lebih aman daripada merasakan semuanya.Di toko, aku tetap berdiri di balik meja kasir, seperti biasa. Senyumku masih ada. Suaraku masih terdengar normal. Tidak ada yang berubah dari luar.Tapi aku tahu—ak
Terakhir Diperbarui: 2026-04-01
Chapter: Bab 10 - Kota yang Tidak Mengenalku
Aku tidak mati hari itu. Tapi sesuatu dalam diriku memilih untuk tidak hidup lagi. Kota ini tidak pernah bertanya siapa aku. Tidak ada yang mengenalku sebagai istri seseorang. Tidak ada yang tahu aku pernah berdiri di depan cermin sambil bertanya kenapa aku tidak cukup untuk dipilih. Di sini, aku hanya perempuan biasa yang menyewa kamar kecil dengan jendela yang menghadap gang sempit. Dan entah kenapa, itu terasa cukup. Setiap pagi, aku bangun tanpa suara alarm. Bukan karena tubuhku sudah terbiasa, tapi karena tidurku tidak pernah benar-benar dalam. Aku lebih sering terbangun sebelum subuh, menatap langit-langit kamar yang kusam, menghitung retakan kecil yang tak pernah berubah. Aku duduk di tepi ranjang, menunggu beberapa detik sebelum berdiri. Seolah tubuhku butuh waktu untuk mengingat bahwa aku masih harus menjalani hari. Di dapur kecil, aku menyeduh kopi. Tidak manis. Tidak juga pahit berlebihan. Rasanya… biasa. Seperti hidupku sekarang. Aku tidak lagi mencari rasa.
Terakhir Diperbarui: 2026-04-01
Chapter: Bab 9 – Aku Hidup, Tapi Tidak Pernah Kembali
Aku tidak pergi sejauh yang orang-orang bayangkan.Aku hanya pergi cukup jauh untuk tidak lagi menjadi diriku yang lama.Aku tinggal di kota kecil yang tidak mengenalku. Menyewa kamar sempit dengan jendela menghadap gang. Tidak ada pemandangan indah, tapi ada keheningan yang jujur. Di sini, aku tidak perlu menjelaskan siapa aku, dari mana aku datang, atau kenapa mataku sering kosong saat berbicara.Aku bekerja seadanya. Mengisi hari dengan rutinitas yang sederhana. Bangun pagi. Pergi. Pulang. Tidur. Hidupku menjadi garis lurus tanpa belokan emosi.Dan itu tidak membuatku bahagia.Tapi membuatku aman.Aku masih bernapas. Aku masih makan. Aku masih tertawa sesekali—secara mekanis. Orang-orang di sekitarku mengira aku baik-baik saja. Aku pandai memainkan peran itu sekarang.Mereka tidak tahu, di dalam tubuh ini, ada bagian yang tidak pernah ikut pindah.Arga mencariku.Aku tahu dari pesan-pesan yang masuk berbulan-bulan setelah aku pergi. Dari panggi
Terakhir Diperbarui: 2026-01-30
Chapter: Bab 8 – Aku Berpikir Pergi Adalah Satu-satunya Cara Bertahan
Aku tidak bangun dengan air mata hari itu.Aku bangun dengan keheningan yang aneh—tenang, ringan, seperti seseorang yang sudah selesai berperang tapi belum tahu harus pulang ke mana.Untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak merasa marah pada Arga. Tidak juga pada perempuan itu. Rasa sakit itu masih ada, tapi bentuknya berubah. Ia tidak lagi menusuk. Ia menjadi beban yang sudah terlalu lama kupikul, sampai tubuhku berhenti protes.Aku menyeduh kopi dan meminumnya perlahan. Rasanya pahit, tapi tidak menggangguku. Aku duduk di meja makan, sendirian, memperhatikan kursi-kursi kosong.Aku baru sadar—aku sudah lama makan sendirian.Bukan karena tidak ada orang.Tapi karena tidak ada yang benar-benar duduk bersamaku.Arga pulang malam sebelumnya tanpa suara. Aku tidak bertanya ke mana ia pergi. Ia juga tidak menjelaskan. Kami berdua seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi alamat.“Kamu mau ke mana hari ini?” tanyanya pagi itu.Aku menatapnya. “
Terakhir Diperbarui: 2026-01-30
Chapter: Bab 7 – Aku Masih Di Sini, Tapi Tidak Lagi Utuh
Aku tidak pindah ke mana pun setelah hari itu.Aku tetap tinggal di rumah yang sama, memakai nama yang sama, menjalani rutinitas yang sama. Dari luar, hidupku terlihat baik-baik saja. Tapi di dalam, ada bagian diriku yang berhenti bernapas.Arga mulai pulang dengan jam yang teratur. Terlalu teratur. Seolah ia ingin menunjukkan bahwa semuanya masih normal. Ia menyapaku dengan suara datar, menanyakan hal-hal kecil, seperti seseorang yang takut menyentuh luka tapi tetap ingin memastikan lukanya tidak berdarah di hadapannya.“Kamu sudah makan?” tanyanya suatu malam.“Sudah,” jawabku. Padahal aku hanya minum air putih sejak pagi.Ia mengangguk. Tidak memeriksa. Tidak peduli. Jawaban itu cukup baginya.Hari-hari setelah pernikahan itu terasa seperti hidup dalam jeda. Aku bangun pagi, membersihkan rumah, memasak dalam porsi kecil—untuk satu orang. Aku berhenti menunggu. Berhenti berharap.Yang paling aneh adalah tubuhku. Ia mulai menolak segala sesuatu yang dulu
Terakhir Diperbarui: 2026-01-30
Chapter: Bab 6 – Keputusan yang Tidak Pernah Memilihku
Aku tahu hari itu akan datang.Aku hanya tidak menyangka caranya akan sesunyi ini.Arga pulang sore, lebih cepat dari biasanya. Tidak ada pesan. Tidak ada peringatan. Aku sedang melipat pakaian di ruang tengah ketika pintu terbuka. Ia masuk dengan langkah ragu, seolah rumah ini bukan lagi miliknya—atau mungkin, bukan lagi milikku.“Kita perlu bicara,” katanya.Kalimat itu terdengar klise. Tapi dari caranya berdiri—tidak mendekat, tidak duduk—aku tahu pembicaraan ini bukan tentang memperbaiki apa pun.Aku meletakkan pakaian di pangkuanku. “Bicara apa?”Ia menghela napas panjang, lalu duduk di kursi yang berseberangan denganku. Jarak di antara kami seperti jurang yang sengaja dipelihara.“Aku sudah mengambil keputusan,” katanya.Dadaku menegang. Aku menunggu. Anehnya, aku tidak gemetar. Aku sudah terlalu lama hidup dalam ketidakpastian untuk kaget pada kepastian.“Keputusan apa?” tanyaku.Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. “Aku tidak bisa m
Terakhir Diperbarui: 2026-01-29
Anda juga akan menyukai
Istri Pesanan CEO
Istri Pesanan CEO
Rumah Tangga · Zizara Geoveldy
33.5K Dibaca
Membalas Suami dan Sahabatku
Membalas Suami dan Sahabatku
Rumah Tangga · Ade Esriani
33.3K Dibaca
Undangan Pernikahan Suamiku
Undangan Pernikahan Suamiku
Rumah Tangga · Nona_Lyanna
33.3K Dibaca
Perceraian yang Terindah
Perceraian yang Terindah
Rumah Tangga · Dwi Nella Mustika
33.3K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status