Share

Azalea?

Author: Mumtaza wafa
last update publish date: 2026-06-15 17:42:10

“Siapa sebenarnya kamu, Mas? Lima tahun kita menikah, tapi aku sama sekali nggak kenal kamu.”

Zalina duduk di salah satu sofa kosong, memperhatikan ketegangan yang perlahan memenuhi ruangan. Baru sekarang ia menyadari betapa banyak bagian dari kehidupan Naradhiya yang tidak pernah ia ketahui.

Selama lima tahun menikah, ia hanya mengenal Naradhiya sebagai suami yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Jika ada acara keluarga, ia akan membawanya ke rumah keluarga besar.

Keluarga Naradhiya memang selalu menyambutnya dengan baik, meskipun Zalina tahu tidak semua orang benar-benar menyukainya. Ia masih ingat suatu kali tanpa sengaja mendengar obrolan salah satu sepupu Naradhiya.

“Aku nggak nyangka Nara bakal terima perjodohan itu. Zalina bukan tipe dia.”

Dulu, Zalina hanya bisa berpura-pura tidak mendengarnya. Namun, kalimat itu kembali terngiang sekarang, terlebih setelah ia mendengar hal serupa langsung dari teman-teman suaminya.

“Jadi ini alasan kamu nggak pernah ajak aku kalau lagi kumpul dengan teman-temanmu, Mas?”

Tatapan Zalina beralih kepada Naradhiya. Perasaan asing itu semakin kuat ketika matanya menangkap Nesya yang tadi menyentuh bahu suaminya dengan begitu akrab.

Senyum tipis muncul di bibir Zalina, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. Ia menundukkan wajah, menatap kedua telapak tangannya yang kini bahkan sudah tidak bisa menyentuh apa pun.

“Jadi ini alasan Tuhan kasih aku kesempatan seperti ini?” bisiknya lirih. “Sebelum aku mati, aku malah bisa melihat dunia kamu di luar rumah yang selama ini nggak pernah aku tahu.”

Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

Entah kenapa, sebagian kecil dirinya masih berharap Naradhiya akan menoleh. Menjelaskan siapa mereka. Menjelaskan siapa Azalea. Menjelaskan kenapa selama ini ia selalu merasa seperti orang asing dalam kehidupan suaminya sendiri.

Namun, Naradhiya tetap diam.

Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Suara itu seketika membuat semua orang menghentikan percakapan.

Naradhiya berdiri dan berjalan menjauh untuk menerima panggilan. Zalina masih memperhatikannya dari sofa. Wajah pria itu sempat terlihat tegang, tetapi beberapa saat kemudian ekspresinya perlahan berubah lega.

Setelah panggilan berakhir, Naradhiya kembali menghampiri mereka.

“Keadaan Zalina sudah mulai stabil.”

Zalina mengangkat kepala.

Naradhiya menarik napas sebelum melanjutkan, “Aku sudah membatalkan perceraian kami. Zalina masih istriku dan akan selalu begitu.”

Zalina langsung berdiri. Entah dari mana datangnya keberanian itu, ia berlari menghampiri Naradhiya dan berhenti tepat di hadapannya.

“Egois kamu, Mas!”

Tangannya terangkat, berusaha mendorong dada pria itu, tetapi telapak tangannya hanya menembus tubuh Naradhiya tanpa menyentuh apa pun.

“Kamu mau bikin aku sakit hati terus dengan sikap kamu yang kayak gini?” Suara Zalina bergetar. “Aku capek, Mas. Capek!”

Zalina kembali mencoba menyentuhnya, tetapi tetap sia-sia.

“Kenapa kamu seegois ini? Kamu bahkan baru mau mempertahankan pernikahan kita setelah aku hampir mati!”

Naradhiya tetap tidak bisa mendengarnya.

“Kalau dari awal kamu memang nggak pernah menginginkan pernikahan ini, untuk apa kamu membatalkan perceraian kita sekarang?” Air mata Zalina jatuh semakin deras. “Aku nggak ngerti kamu. Aku benar-benar nggak ngerti.”

Kemarahan itu perlahan berubah menjadi tangis yang membuat suaranya semakin kecil.

“Sialnya, nggak ada satu pun dari kalian yang bisa melihat aku.”

Zalina menundukkan kepala. Untuk sesaat, ia hanya berdiri di tengah ruangan dengan perasaan yang semakin tidak jelas. Ia sendiri tidak tahu apakah dirinya benar-benar sudah mati atau masih memiliki kesempatan untuk kembali hidup dan menyelesaikan perceraian yang sejak awal ia perjuangkan.

“Kamu mau ke rumah sakit lagi?” tanya Nesya.

Pertanyaan itu membuat Zalina kembali mengangkat kepala.

Naradhiya tidak langsung menjawab. Ia justru menunduk, lalu mengembuskan napas panjang.

“Nanti.”

Satu kata itu cukup membuat dada Zalina kembali terasa nyeri. Ia tertawa kecil, meski air matanya masih mengalir.

“Ya, kamu memang begitu, Mas.” Zalina menatap pria itu untuk terakhir kalinya sebelum memalingkan wajah. “Nggak pernah benar-benar peduli sama aku.”

Zalina mengusap pipinya sendiri, meski air mata itu tidak juga berhenti. “Bodohnya aku sempat berharap kamu berubah. Sekarang kamu malah pura-pura membatalkan perceraian kita.”

Tanpa menunggu lebih lama, Zalina berbalik dan berlari menembus pintu apartemen.

Namun, langkahnya terhenti beberapa saat kemudian. Suara Naradhiya terdengar dari dalam ruangan.

“Aku takut kehilangan Zalina.” Suara Naradhiya terdengar jauh lebih pelan dibanding sebelumnya. “Karena gara-gara aku, Zalina jadi seperti ini.”

Zalina perlahan menoleh, tubuhnya membeku di tempat.

Sementara itu, teman-teman Naradhiya hanya saling berpandangan. Ryan mendengkus pelan, sedangkan Nesya tampak membeku mendengar pengakuan tersebut.

Salah satu dari mereka akhirnya bersuara.

“Na, sampai kapan kamu mau terus berpura-pura?”

Naradhiya mengangkat wajah. “Apa maksudmu?”

Devan terkekeh kecil. “Kamu serius membatalkan perceraian hanya karena Zalina kecelakaan?”

“Ya.” Jawaban Naradhiya terdengar singkat dan tegas. “Nggak ada yang salah dengan keputusanku.”

Zalina yang sejak tadi menyimak percakapan itu semakin bingung, terutama setelah mendengar nama Azalea dan semua yang dikatakan Devan. Namun, sebelum sempat memahami apa pun, Naradhiya sudah mengambil kunci mobil dan keluar dari apartemen.

Zalina pun langsung mengikutinya. Ia masih ingin kembali ke rumah sakit dan mencari tahu keadaan dirinya sendiri.

Begitu pintu lift tertutup, Naradhiya bersandar pada dinding kaca dengan napas berat. Kedua tangannya menggenggam kunci mobil begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Begitu sampai di lantai dasar, ia langsung menuju mobil.

“Kamu nggak tahu apa-apa, Dev,” gumamnya parau. “Kalian semua nggak tahu apa-apa.”

Zalina menoleh. Kalimat itu kembali membuat rasa penasarannya terusik.

“Kalau mereka nggak tahu, jelasin ke aku, Mas!” serunya meski tahu Naradhiya tak mungkin mendengar. “Kasih tahu aku kenapa selama lima tahun ini kamu bikin aku merasa seperti orang asing di rumah kita sendiri!”

Naradhiya memukul setir. Air mata mengalir di pipinya.

Zalina semakin tidak mengerti. Kalau memang ada sesuatu yang tidak diketahui teman-temannya, lalu apa sebenarnya yang selama ini disembunyikan Naradhiya darinya?

Mobil itu kemudian berbelok tajam memasuki pelataran rumah sakit. Naradhiya bahkan tidak memedulikan posisi parkirnya. Begitu mesin dimatikan, ia langsung berlari menuju lobi dan memilih tangga darurat daripada menunggu lift.

“Nara!”

Suara ibunya membuat langkah Naradhiya terhenti tepat di depan pintu kaca ICU.

Wajah pria itu seketika pucat ketika pandangannya menembus kaca.

Di dalam ruangan, tubuh Zalina sedang dipompa secara manual oleh tim medis. Para dokter dan perawat bergerak tergesa-gesa, sementara monitor di samping ranjang mengeluarkan bunyi panjang yang membuat jantung Naradhiya seakan ikut berhenti.

“Bukannya Ibu bilang Zalina sudah mulai stabil?”

Suara Naradhiya nyaris pecah. Tatapannya terpaku pada tubuh istrinya yang kembali dikelilingi para dokter.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Novi Susanti
masih teka teki
goodnovel comment avatar
Celine Alo08
berikan kesempatan kedua bagi Nara, bisa jadi dia sudah menyerah dengan seseorang itu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Panik

    “Kalian ngapain?” tanya Zalina pada Nakara, Teguh dan Praja yang duduk di depan ruang tengah, ditambah ada Sartika dan Widya sedang mengacak dapurnya.Zalina menoleh pada Naradhiya, melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia menghela napas panjang, sejak mengadu kalau sering kontraksi, ia memang seperti mendapatkan teror dari mereka.“Loh, kami mau jadi kakek siaga, Za. Pokoknya kami nggak mau melewatkan launchingnya cucu pertama kami,” sahut Praja semangat. “Betul kan, Pak Teguh.“Betul sekali, Pak Praja!” sahut Teguh tak kalah bersemangat seraya menyesap teh hangatnya. “Pokoknya malam ini kita begadang. Kunci mobil saya sudah di kantong, siap tancap gas kalau sewaktu-waktu ketubannya pecah.”Zalina menepuk jidatnya pelan, rasanya ingin tertawa tapi pinggangnya yang ngilu menahan gelak tawanya. Ia melirik Naradhiya yang berdiri di sampingnya sambil membawa segelas susu hamil hangat. Suaminya itu hanya tersenyum pasrah, mengangkat bahu tanda bahwa ia sendiri sudah angk

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Prioritas

    “Janinnya sangat sehat, Pak. Sepertinya kalian menjaga dengan baik,” kata dokter Sarah ketika mereka memeriksa kandungan Zalina yang sudah masuk ke bulan delapan.“Istri saya sudah mulai merasa kontraksi katanya, dok. Apa aman?” Naradhiya melirik istrinya yang sedang mengelus perutnya yang mulai membuncit.Dokter Sarah tersenyum maklum seraya meletakkan kembali alat USG ke dudukannya. Pandangannya beralih menatap Naradhiya yang duduk di samping ranjang periksa dengan raut wajah yang selalu sama di setiap jadwal kontrol bulanan, tegang, waspada, dan penuh kehati-hatian.“Itu namanya kontraksi palsu, Pak Naradhiya,” jelas Dokter Sarah dengan nada menenangkan. “Istilah medisnya Braxton Hicks. Wajar sekali dialami ibu hamil yang kandungannya sudah masuk trimester akhir. Rahim Bu Zalina sedang latihan mempersiapkan persalinan nanti.”Dokter Sarah menoleh ke arah Zalina, lalu membantu menyeka sisa gel di perut buncit wanita itu dengan selembar tisu kering. “Rasanya seperti perut mengencang

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Tumbuh Sehat

    Kehamilan Zalina tidak menunjukkan ngidam yang terlalu berat, meski masih merasakan mual, tapi tidak parah dan untungnya masih bisa makan. Naradhiya bersiap menjadi suami siaga, begitu juga dengan kedua orang tua mereka yang bergantian menginap.Mereka sama-sama menantikan cucu pertama, baik orang tua Zalina, maupun Naradhiya.“Na, jangan lupa vitamin Zalina harus diminum,” pesan Sartika. “Oh iya, kalau nggak mau makan, jangan dipaksakan. Makan nggak selalu harus nasi, kamu jangan lupa tanya Zalina pengen makan apa ya.”“Iya, Ma. Nara catat semuanya di meja makan,” jawab Naradhiya seraya membetulkan tali tas kerja di pundaknya.Pria itu melirik ke arah dapur, tempat ibunya sibuk menyusun wadah-wadah kaca berisi potongan buah apel dan melon yang sudah dikupas rapi ke dalam kulkas. Perubahan sikap Sartika yang kini begitu perhatian pada Zalina selalu menghangatkan dadanya. Tidak ada lagi sindiran dingin atau tuntutan keluarga, hanya seorang calon nenek yang ingin memastikan menantu dan

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Jaga Sama-Sama

    “Gimana kondisinya, Dok? Kantungnya menempel kuat, kan?”Pertanyaan Naradhiya meluncur cepat bahkan sebelum Dokter Sarah selesai menyeka gel bening dari permukaan kulit perut Zalina. Tangan pria itu mencengkeram erat jemari istrinya, berdiri membungkuk di samping ranjang periksa dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan luar biasa. Trauma dua tahun lalu saat melihat darah mengalir di tempat ini masih terlalu nyata di ingatannya.Dokter Sarah menoleh, tersenyum hangat melihat raut tegang yang terpatri kaku di wajah sang suami. Ia merapikan kembali selimut tipis yang menutupi bagian bawah tubuh Zalina, lalu mengarahkan layar monitor USG sedikit condong ke arah mereka berdua.“Tarik napas dulu, Pak Naradhiya. Jangan tegang begitu mukanya,” gurau Dokter Sarah santai, mencoba mencairkan suasana bilik periksa yang mendadak beku. Dokter Sarah menunjuk titik kecil menyerupai lingkaran hitam sempurna di layar monitor. “Lihat ini. Kantung kehamilannya sudah terbentuk sangat bagus di dalam rahim

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Hadiah Sabar

    “Ya Allah.”Zalina membekap mulutnya sendiri setelah melihat hasil tespack-nya pagi ini. Dua garis merah setelah dua tahun perjuangan mereka pasca keguguran. Akhirnya Tuhan kembali menitipkan amanahnya.Tangisnya tidak bisa lagi ditahan, Naradhiya yang menunggu di depan pintu sontak membuka karena tidak sabar. Sudah hampir setengah jam Zalina di dalam dan tidak ada tanda-tanda akan keluar.“Nggak apa-apa, Sayang. Kita coba lagi, ya? Mas masih punya banyak tenaga untuk membuat anak,” ucap Naradhiya berusaha menghibur.Selama dua tahun ini, hasilnya sama satu garis merah dan Zalina akan terlihat kecewa. Dan seharusnya, pagi ini Naradhiya tidak mengizinkan istrinya melakukan tes kembali kalau ujungnya akan menangis lagi.“Mas ….”Naradhiya langsung memeluk istrinya. “Kita coba lagi ya, Sayang.”Zalina tidak langsung membalas pelukan suaminya. Tangannya yang masih gemetar terangkat pelan, menyodorkan benda putih bergaris itu tepat di depan dada Naradhiya. Isak tangisnya makin menjadi-jadi

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Ketahuan

    “Za ….”Desahan panjang lolos dari mulut Naradhiya di tengah percintaan mereka. Untuk kesekian kalinya ia melakukan pelepasan. Zalina benar-benar candu, bahkan ketika ia menyentuhnya dengan sangat hati-hati.Ia membalikkan tubuhnya Zalina, mendekap dari belakang lalu kembali menghujam tubuh istrinya. Zalina menjerit tertahan, Naradhiya tidak kehabisan tenaga padahal sudah melakukan kesekian kalinya.“Mas.”Zalina mencengkram lengan Naradhiya yang melingkar di perutnya, dan satu tangan menopang kepalanya. Hanya deru napas berat yang keluar dari mulut Naradhiya ditambah dengan peluh yang membanjiri tubuh mereka.Pakaian berserakan, selimut sudah teronggok di lantai, begitu juga dengan bantal yang entah kemana. Naradhiya benar-benar menguasai dirinya siang itu, melupakan kalau kompor di dapur masih menyala kecil.“Za, aku cinta kamu, Za.” Naradhiya akhirnya ambruk di atas tubuhnya setelah melakukan pelepasan lagi. Napasnya memburu, ia mencium punggung istrinya yang terbuka dengan lembut.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status