Home / Romansa / Aku Kembali Sebelum Bercerai / Janji yang Terlambat?

Share

Janji yang Terlambat?

Author: Mumtaza wafa
last update publish date: 2026-06-17 18:39:10

“Duduklah. Sejak Zalina masuk ruang operasi kamu sama sekali belum duduk.”

Widya—Ibu Zalina menatap menantunya sendu. Sedangkan Zalina masih kebingungan di sana, di sebelah ibunya sembari memainkan ujung kukunya yang hanya dirinya yang bisa memegangnya.

Semua orang panik tentang keadaannya, kondisinya juga naik turun di ambang kematian, tapi Zalina sendiri bingung apa yang akan dia lakukan. Malaikat maut belum juga mendatanginya dan dokter sedang berusaha untuk tetap mempertahankan hidupnya.

‘Aku ingin percaya, Mas. Tapi selama lima tahun aku terlalu sering salah mengartikan sikapnya.’

Ia belum bisa menerima semua yang terjadi, tentang sisi Naradhiya yang tidak ia ketahui sebelumnya.

“Bu, sebaiknya Ibu dan bapak pulang saja. Biar saya yang berjaga di sini,” katanya menatap Widya dan Teguh–ayah Zalina. “Papa dan mama saya akan datang sebentar lagi.”

Kedua orang tua Zalina saling berpandangan, lalu akhirnya mengangguk. Lagipula, masih ada adiknya Zalina di rumah yang menunggu kabar dari mereka berdua.

Setelah kepergian kedua orang tua Zalina, Naradhiya duduk di bangku dengan punggung membungkuk, sesekali mengusap wajahnya kasar. Zalina menatapnya dalam diam.

Bohong kalau bilang ia sudah tidak cinta. Ditambah lagi ia mulai goyah dengan sikap Naradhiya yang terlihat berbeda sekarang.

Namun, apa gunanya kalau mungkin sebentar lagi dirinya akan mati?

“Za, aku mohon bertahan,” gumam Naradhiya lirih.

Zalina yang berada di sebelahnya berdecak kesal. “Biar apa, Mas? Biar kamu seenaknya cuekin aku? Kamu tinggalin aku lagi buat kumpul sama temanmu, iya?”

Sayangnya, lagi-lagi omelan Zalina hanya menjadi angin lalu. 

“Nara!”

Bukan hanya lelaki itu, tapi Zalina juga ikut menoleh ketika kedua mertuanya datang. Zalina jadi sedih, mertuanya begitu baik, bahkan ketika ia mengatakan bahwa mereka akan bercerai, mertuanya yang paling menentang.

Namun, keputusan Zalina tidak bisa diganggu gugat. Demi mental dan kebahagiaannya sendiri, ia memilih bercerai meski Tuhan punya cara lain untuk mengubah takdirnya. 

Ibu Naradhiya—Sartika, hampir berlari kecil begitu melewati pintu lobi ICU. Wajahnya pucat, tas tangannya sampai terjatuh sebelum sempat ditangkap suaminya sendiri.

"Nara, gimana keadaan Zalina?" tanya Sartika, suaranya bergetar menahan tangis.

Naradhiya berdiri, tubuhnya limbung sesaat sebelum akhirnya menstabilkan diri. "Dokter masih di dalam, Ma. Belum ada kabar."

Zalina memperhatikan dari tempatnya duduk, menyaksikan bagaimana mertuanya memeluk lengan Naradhiya erat-erat, seolah pelukan itu bisa menyalurkan sedikit kekuatan untuk anaknya. Ada rasa hangat yang menjalar di dada Zalina. Keluarga suaminya selalu memperlakukannya seperti anak sendiri, bukan sekadar menantu yang kebetulan lewat.

“Ya Tuhan.” Sartika tampak lemas, lalu kembali memerhatikan anaknya. “Kamu sudah makan?”

“Belum sempat.”

“Setidaknya minum dulu, jangan keras kepala. Biar mama dan papa yang jaga di sini,” kata Sartika mengelus pundak Naradhiya.

Lelaki itu hanya menggeleng pelan, rasa laparnya sudah menguap dengan bersama rasa khawatir pada istrinya. Sebelum ada kabar baik tentang kondisi Zalina ia tidak akan ke mana-mana.

“Aku nggak akan pergi sebelum tau keadaan Zalina. Aku yang salah. Kalau saja aku lebih terbuka sama Zalina, mungkin dia nggak akan sampai merasa bahwa perceraian adalah satu-satunya jalan.”

Praja menepuk bahu putranya. “Nggak ada yang perlu disalahkan, Nara. Apa yang menimpa istrimu bukan salahmu, tapi papa harap ini menjadi teguran untuk rumah tangga kalian.”

“Aku sudah membiarkan dia sendirian selama lima tahun ini,” balas Naradhiya pelan, lalu melanjutkan, “dan aku sudah membatalkan proses perceraian kami.”

Sartika dan Praja saling berpandangan. 

“Kamu yakin?”

Naradhiya mengangguk. “Dari awal aku nggak mau cerai. Setelah Zalina bangun nanti, aku akan memperbaiki semuanya, Ma.”

Sartika terdiam. Ia menatap anaknya selama beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas berat.

Zalina memerhatikan mereka. Ada rasa hangat menjalar dalam dadanya sekaligus rasa sesak.

Naradhiya mengusap wajahnya kasar. “Aku pikir, selama aku memenuhi kebutuhannya, memastikan dia aman dan nggak membuat dia kekurangan apa pun itu sudah cukup.”

Sartika menatap putranya dengan mata  berkaca-kaca. “Perempuan nggak butuh dengan itu, Nara. Dan sekarang kamu tau, kan? Tolong jangan diulangi lagi.”

Zalina memalingkan wajahnya. “Jangan berjanji kalau nantinya kamu bikin aku sakit hati lagi, Mas.”

Tidak lama berselang, pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar dengan wajah serius, semua orang langsung berdiri, termasuk Zalina.

“Nara.” Sartika menggenggam tangan anaknya kuat-kuat seolah sedang memberikan kekuatan.

Naradhiya maju beberapa langkah. “Bagaimana keadaan istri saya, Dok?”

Dokter melepas masker yang menutupi wajahnya, kemudian menghela napas berat. “Operasinya sudah selesai dan untuk sementara kami sudah membuat kondisinya stabil.”

Naradhiya dan kedua orang tuanya bernapas lega. 

“Tapi … kondisinya masih kritis.”

Naradhiya tersentak, ekspresi yang sempat mengendur tadi kembali menegang. “Maksud Dokter apa?”

“Benturan akibat kecelakaan menyebabkan beberapa komplikasi. Kami harus memantau kondisinya secara ketat. Beberapa jam kedepan akan sangat menentukan.”

Wajah Naradhiya kembali pucat. ia menelan ludahnya susah payah. “Kalau dia kembali kritis, apa yang akan terjadi pada istri saya?”

Dokter terdiam sesaat sebelum melanjutkan, “Kami akan melakukan tindakan yang diperlukan. Tapi saya harus meminta keluarga bersiap dengan segala kemungkinan.”

Zalina yang berdiri di belakang dokter menunduk dalam, lalu menoleh ke ruang operasi di mana tubuhnya masih terbaring di dalam sana. Entah apa mau Tuhan sampai membuat statusnya tidak jelas.

Ia belum mati, tapi arwahnya gentayangan.

Naradhiya memejamkan matanya. “Kalau begitu saya akan tetap di sini.”

“Nara ….” Sartika mencoba menenangkan.

“Aku nggak akan pergi lagi, Ma,” kata Naradhiya dengan rahang mengeras. “Selama Zalina masih berjuang, aku juga akan tetap di sini.”

Zalina menatap punggung suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ia ingat dulu pernah meminta Naradhiya menemaninya di rumah untuk sekedar menonton film, tapi lelaki itu memilih pergi untuk memenuhi undangan temannya.

Tanpa dirinya.

“Kenapa harus sekarang, Mas? Kenapa harus nunggu aku kritis dulu baru kamu melakukan semua ini?”

Zalina menunduk, menatap kakinya yang telanjang. Ia bahkan belum tahu apakah ia akan mendapatkan kesempatan untuk mendengar janji itu langsung dari mulut Naradhiya ketika dirinya sadar?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Dia Lagi

    “Za, jujur saja Ibu nggak begitu kenal sama dia. Waktu itu dia cuma datang ke lorong ICU, tiba-tiba nyodorin permen kapas, katanya itu dari kamu,” kata Widya sambil menggenggam tangan Zalina.“Sejak itu dia jadi sering datang, katanya kamu masih ingin hidup, kamu sedang mencari cara buat kembali. Bahkan … dia bilang kamu selalu berdiri di samping Naradhiya,” lanjut Widya membuat Zalina semakin tidak paham.“Dia waras, Bu?”Widya menggeleng pelan. “Ibu nggak tau, Za. Tapi dia seperti nggak sedang berbohong, Za.”Zalina terdiam, mencoba mencerna kalimat ibunya yang justru membuat kepalanya semakin dipenuhi tanya. Ada rasa geli yang aneh menyelinap di dadanya. Bukan karena lucu, tapi seperti ketika seseorang menyentuh luka yang belum sempat sembuh, tanpa tahu di mana letak pastinya.“Maksud Ibu apa? Kalau dia bilang jujur, berarti dia beneran bisa lihat aku waktu koma?” tanya Zalina ragu, antara tidak percaya dan takut kalau-kalau itu benar. “Itu nggak masuk akal, Bu.”“Ibu tau, Za. Ibu

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Mimpi

    “Ayo bercerai.”“Cinta seperti apa yang kamu inginkan, Zalina! Apa yang kulakukan selama ini nggak cukup membuktikan semuanya?”Zalina tercekat, bayangan itu muncul dengan samar-samar dalam kepalanya setiap kali ia memejamkan mata. Kamarnya dan Naradhiya, dalam keadaan lampu temaram, dan keadaan mereka yang baru saja melakukan hubungan suami istri.“Za.”Ia mendengar suara familiar, Naradhiya.“Mbak, kalau kamu bangun nanti, aku bakal tagih utangku, ya.”Zalina membuka matanya dengan cepat, napasnya memburu, keringat membanjiri dari dahi hingga lehernya. Matanya membeliak, menatap langit-langit kamar rumah sakit.“Za?”Ia menoleh, bukan Naradhiya, melainkan ibunya yang duduk di sebelah ranjangnya. Widya tampak khawatir melihat kondisi Zalina, lalu mengambil air mineral dari atas nakas.“Minum dulu,” katanya membantu Zalina duduk. Setelah anaknya sudah terlihat lebih tenang, Widya duduk kembali dan menatap Zalina prihatin. “Za? IBu panggilkan dokter, ya?”Zalina menggeleng pelan, ia ha

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Yang Tertunda

    “Sayang.”Naradhiya menggenggam erat tangan Zalina yang tertidur efek obat yang disuntikkan oleh dokter beberapa jam yang lalu. Ia menghela napas berat, lalu menatap wajah Zalina yang tampak damai dalam tidurnya.Ia memikirkan ucapan Widya. Benar, seharusnya Naradhiya tidak berbohong terlalu jauh hanya karena ingin hubungan mereka kembali seperti semula. Hanya saja, ia terlalu takut Zalina akan meninggalkannya lagi.“Kalau bohongku malah malah membuat kamu tersiksa, aku minta maaf. Tapi tolong jangan tinggalkan aku,” tutur Naradhiya pelan.Ia mengusap dahi Zalina, rambutnya sedikit menutup dahinya. Baru saja hubungan mereka kembali baik-baik saja setelah Zalina koma. Naradhiya pikir ini akan menjadi kesempatannya untuk memperbaiki semuanya.Namun benar kata Widya, sesuatu yang dibangun di atas kebohongan demi menutupi kesalahan di masa lalu, tidak akan membuat hubungan yang lebih baik. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, mungkin hubungan mereka kelak akan baik-baik saja, tapi jika

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Jujur Saja

    “Nara, tadi ibu dengar kalian bertengkar, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Widya sembari mengelus punggung menantunya yang membungkuk dengan kepala bersandar pada tembok rumah sakit. Ya, setelah Zalina berteriak kesakitan, Naradhiya langsung membawa istrinya ke rumah sakit karena panik. Ia tidak mau terjadi sesuatu lagi pada istrinya, apalagi sampai membuat kondisi Zalina semakin buruk. “Zalina menemukan berkas perceraian kami, Bu,” jawab Naradhiya dengan suara parau. “Dia minta penjelasan, dan aku belum sanggup.” Widya terdiam, ia turut sedih dengan apa yang menimpa rumah tangga anak dan menantunya tersebut. Ia juga tidak akan menyalahkan Naradhiya sepenuhnya karena tahu kalau menantunya sudah banyak berusaha dan berjuang untuk Zalina. “Bukannya kamu sudah membatalkan prosesnya, Na?” tannya Widya yang sempat terkejut. “Berkas itu salinan milik Zalina, Bu.” Hanya helaan napas berat yang lolos dari Widya setelah mendengar penjelasan Naradhiya. “Apa … nggak sebaiknya kamu jujur

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Meminta Penjelasan

    “Za ….” Zalina hanya tersenyum. Ia sudah bertekad, sampai suaminya benar-benar jujur padanya, baru ia akan menunaikan kewajibannya sebagai istri. Ia ingin tahu, sampai mana Naradhiya akan menutupi kebenaran darinya. Juga tentang gugatan cerai di lemari mereka. Naradhiya mengangguk, masih dengan senyum yang terpatri di bibirnya sampai akhirnya lelaki itu beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Zalina masih menunggu, ia memilin jari-jarinya sendiri. Ia menghitung detik demi detik yang terus berjalan seolah terasa sangat lama baginya, juga suara keran yang terdengar dari arah kamar mandi terasa begitu lambat. Tak lama, suara keran air berhenti. Ia mulai menegakkan punggungnya, bersiap mendengar penjelasan suaminya yang sempat tertunda, setidaknya begitu yang rasakan setelah bangun dari komanya. Pintu kamar mandi terbuka, Naradhiya keluar dengan rambut basah dan handuk yang melilit pinggangnya. Zalina berusaha memalingkan wajahnya yang memerah mel

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Ceritakan Dulu

    “Apa itu?”Naradhiya yang Zalina melonjak kaget bersamaan. Lelaki itu bangun dari duduknya, berjalan ke arah sumber suara. Jendela yang terbuka menjadi perantara ia melihat Arash yang menendang pot bunga di halaman samping, tepat di dekat kamar tidur mereka.“Arash? Apa yang dia lakukan di sana?” gumam Naradhiya bertanya-tanya.Naradhiya baru akan keluar dari kamar, tapi Zalina menahan tangannya.“Mas,” panggilnya lalu menggeleng pelan seolah memberi kode kalau ia lelah dengan keributan yang terjadi akhir-akhir ini.“Sayang ….”“Temenin aku di sini.” Zalina menepuk sisi ranjangnya yang kosong.Naradhiya mendesah berat, mau tak mau ia menuruti kemauan istrinya meski masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Ia menoleh ke arah jendela, siluet Arash sudah tidak lagi di sana hingga beberapa menit kemudian terdengar suara kendaraan yang menjauh.“Dia pergi.” Zalina menyentuh tangannya.Naradhiya hanya menganggukkan kepalanya. Zalina tahu, suaminya masih ingin mendatangi Arash. Setiap kali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status