Share

Terapi Hormon

Author: Mumtaza wafa
last update publish date: 2026-10-01 23:57:00

“Kalau kamu kesakitan, kita berhenti saja, Za.”

Zalina menggeleng pelan, ia menahan tangan Naradhiya yang hendak menahan suntikan itu masuk ke dalam tubuhnya.

“Nggak, Mas. Aku kuat,” jawab Zalina yakin meski jarum suntik di tangan perawat sudah berjarak beberapa senti dari kulitnya. “Lagian Mas di sini nemenin aku, kan?”

Naradhiya mengangguk pelan, meski masih jelas raut khawatir di wajahnya. Ia menggenggam tangan Zalina yang bebas, membiarkan istrinya meremas tangannya erat-erat saat jarum
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Mulai Diserang

    “Proyek kita dibatalkan, Na.”Naradhiya menatap Nesya dengan kening berkerut. “Apa maksudmu?”“Beberapa klien mundur. Mereka bilang menemukan vendor lain yang lebih baik dari kita,” balas wanita itu tampak frustasi. “Aku nggak tau kenapa tiba-tiba begini, padahal dua hari lalu mereka sudah deal, tapi perwakilan mereka mengabari kalau kerjasama batal.”Naradhiya memejamkan matanya erat. Ia jadi teringat dengan ucapan Pak Yusi yang menyuruhnya hati-hati agar tidak terlalu frontal dalam mencari tahu tentang keluarga Hadi Raharjo. Bukan menuduh, tapi entah kenapa kejadian ini sangat bersinggungan dengan dirinya yang sedang mengorek kasus kecelakaan itu.“Pak Nara, sebaiknya kita sudahi saja. Kevin sudah di penjara, soal pelakunya ….”“Anda takut?”“Saya hanya mengkhawatirkan Anda, Pak. Mereka orang petinggi, bisa melakukan apa saja jika merasa terganggu, bahkan nggak mengenal belas kasih, nyawa pun akan mereka cabut kalau sudah tersinggung.”Ah, jadi begitu.Naradhiya ingat nasehat Pak Yu

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Dua Bersaudara

    Bukan Arash yang membuat keduanya merasa heran, melainkan dua orang yang bersamanya. Lelaki itu memang jarang sekali muncul di layar kaca, tapi sebagai seorang pengusaha, Naradhiya cukup mengenalnya.Ya, ia tidak salah lihat. Bahkan jasanya pernah dipakai untuk merenovasi ruang pria paruh baya itu. adi Raharjo, pria yang pernah pengacaranya sebutkan ketika mereka bertemu. Dan anak dari pria itu yang menabrak Zalina sampai istrinya hampir merenggang nyawa.“Jadi dia?” gumam Naradhiya membuat Zalina menoleh.“Mas,” panggil Zalina pelan sembari menyentuh lengan suaminya lembut. “Ada apa?”Naradhiya menoleh, lalu menggeleng pelan. "Nggak apa-apa," jawabnya. Matanya masih terpaku pada tiga sosok yang berjalan menuju pintu masuk rumah sakit yang sama dengan yang baru saja mereka tinggalkan. Ia tidak mau menduga-duga, tapi ia harus mencari tahu sendiri.“Mas, dari tadi liatin apa sih?” Zalina mencondongkan tubuh, mencoba mengikuti arah pandang suaminya. “Itu Arash kan yang jalan paling bel

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Terapi Hormon

    “Kalau kamu kesakitan, kita berhenti saja, Za.” Zalina menggeleng pelan, ia menahan tangan Naradhiya yang hendak menahan suntikan itu masuk ke dalam tubuhnya. “Nggak, Mas. Aku kuat,” jawab Zalina yakin meski jarum suntik di tangan perawat sudah berjarak beberapa senti dari kulitnya. “Lagian Mas di sini nemenin aku, kan?”Naradhiya mengangguk pelan, meski masih jelas raut khawatir di wajahnya. Ia menggenggam tangan Zalina yang bebas, membiarkan istrinya meremas tangannya erat-erat saat jarum itu akhirnya menembus kulit lengan atasnya.“Ini suntikan gonadotropin, Bu Zalina,” jelas perawat sambil mendorong cairan perlahan. “Fungsinya buat merangsang ovarium memproduksi lebih banyak sel telur. Nanti setiap pagi, sama kayak gini, sampai dokter bilang cukup.”Zalina meringis kecil, bukan karena sakitnya yang luar biasa, tapi karena bayangan harus mengulang ini setiap hari selama beberapa minggu ke depan membuat nyalinya sedikit ciut. Ia menarik napas, mencoba fokus pada genggaman tangan

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Tuntutan Mertua

    “Mbak Za, dari tadi bibi liat ada mobil di depan sana, nggak pergi-pergi. Waktu bibi samperin malah langsung ngacir,” kata Bi Sumi pada Zalina yang sedang menyiram tanaman. Ia mengerutkan keningnya. “Mobil?”“Iya, Mbak. Bibi jadi curiga, takut orang jahat mau macam-macam,” imbuh Bi Sumi mewanti-wanti.Zalina menggeleng pelan sambil tertawa. “Kita tinggal di perumahan loh, Bi. Nggak bakal ada orang macam-macam. Kan ada satpam di depan gerbang. Ada-ada saja.”Meski Zalina terlihat tenang, Bi Sumi tetap khawatir. Wanita paruh baya itu bertekad akan mengadukan pada Naradhiya ketika lelaki itu pulang nanti. Bukan apa, pasalnya Zalina juga masih dalam kondisi yang kadang melakukan sesuatu yang di luar kendali.“Tapi tetap saja, Mbak. Bibi mah takut.”“Mungkin mobil tetangga yang sedang numpang parkir, Bi. Atau orang cari alamat,” balas Zalina tenang. “Udah ah. Bentar lagi Mas Nara pulang, bisa bantu aku bikin sup ayam nggak, Bi? Kemarin Mas Nara kayak kurang sehat gitu.”Bi Sumi mengangguk

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Intimidasi Naradhiya

    “Kebetulan sekali ketemu kamu di sini, Arash.”Naradhiya berdiri di ambang pintu, jas kerja masih melekat rapi di tubuhnya, tapi ia sama sekali tidak berniat basa-basi dengan pemuda di depannya. Tatapannya menyapu ruangan sempit itu, dari Kevin yang membeku di kursinya, sampai Arash yang tangannya masih setengah terangkat di dekat kaca pembatas.Arash buru-buru menurunkan tangan, seperti anak kecil ketahuan mencuri kue. “Mas Nara? Ngapain ….”“Harusnya aku yang tanya gitu.” Naradhiya melangkah masuk, petugas di belakangnya menutup pintu pelan-pelan, memberi mereka privasi yang terasa jauh lebih mencekam daripada menenangkan. “Kamu ngapain jenguk Kevin? Kalian kenal?”Kevin melirik cepat ke arah Arash, menatap penuh tanya meski memilih untuk diam. Arash menelan ludah, mencoba menunjukkan wajah setenang mungkin meski jantungnya berdegup seperti mau copot.“Kevin teman satu kampus, Mas. Kasian aja, jadi aku jenguk,” jawab Arash, suaranya terlalu cepat untuk terdengar wajar.“Teman satu k

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Keluhan Kevin

    “Arash?”Kevin menelan ludahnya susah payah menatap lelaki di depannya. Arash memakai hoodie dan kacamata hitam. Ia duduk di seberang Kevin bersekat dinding kaca tebal.“Gimana kabar kamu?” tanya Arash membuat Kevin terdiam.Badannya lebih kurus dari beberapa bulan lalu ketika mereka masih sama-sama hangout bersama dan beberapa bulan terakhir ketika pada akhirnya Kevin menjadi orang yang harus bertanggung atas apa yang sebenarnya tidak ia lakukan sendiri.Rahang Kevin mengeras, Arash bertanya seolah apa yang Kevin alami sekarang hal sepele.“Kamu ngapain?” tanya Kevin dengan suara meninggi.“Jenguk kamu,” jawab Arash singkat, lalu mengangkat sebuah kantong berisi beberapa makanan. “Dari mama.”Kevin berdecih, memalingkan wajahnya dari tatapan tidak bersalah Arash. Meskipun ia mendapatkan fasilitas berbeda di dalam lapas sebagai bentuk kompensasi, tapi tetap saja ia merasa kalau ini tidak adil.“Nggak usah pura-pura peduli, Rash.” Kevin masih menolak menatap, matanya terpaku ke ujung m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status