LOGIN"Raven! Cepat turun! Kuenya keburu dingin!"
Suara ibuku terdengar dari lantai bawah dan membuatku menutup jendela sistem yang melayang di hadapanku. Aku berjalan keluar kamar. Aroma makanan langsung menyambut begitu aku tiba di ruang makan. Ayah dan ibu sudah menungguku dengan senyum lebar di wajah mereka.
"Selamat ulang tahun yang ketujuh."
Ayah mengacak rambutku.
"Sudah tujuh tahun, ya?"
Ibuku meletakkan kue kecil di atas meja.
"Kamu mau hadiah apa?"
Aku menatap mereka beberapa detik.
Melihat senyum mereka.
"Kenapa diam?" tanya ibu.
Aku menggeleng.
"Nggak apa-apa."
Kemudian aku meniup lilin di atas kue itu.
Tidak ada yang tahu bahwa kedua orang yang sedang tersenyum di depanku ini akan mati.
Dan aku tidak berniat membiarkan hal itu terjadi lagi.
Malam harinya, setelah kedua orang tuaku tertidur, aku kembali duduk di lantai kamar dan membuka jendela sistem.
[Job Creation]
[Template Job Available]
Daftar panjang langsung muncul di hadapanku.
[Warrior]
Survival Rate : 98%
Potential : Normal
[Mage]
Survival Rate : 85%
Potential : Rare
[Sword Saint]
Survival Rate : 63%
Potential : Epic
Aku membaca semuanya hingga selesai lalu menghela napas.
"Sampah."
Mungkin sebagian orang akan menganggap pilihan-pilihan itu luar biasa.
Namun aku telah melihat akhir dunia.
Aku pernah melihat monster yang mampu menghancurkan kota hanya dengan satu serangan.
Job seperti itu tidak akan cukup.
Tatapanku berhenti pada satu pilihan di bagian paling bawah.
[Custom Job Creation]
Aku menekannya.
Jendela baru langsung muncul.
[Warning]
[Custom Job Creation may cause permanent damage.]
[Warning]
[Soul Collapse Possible.]
Aku tidak terkejut.
Jika Title hampir membunuhku, maka Job tentu lebih berbahaya.
Perlahan aku mulai menyusun konsep yang telah kupikirkan selama bertahun-tahun.
Keserakahan.
Pemangsa.
Jiwa.
Pertumbuhan tanpa batas.
Kemampuan merampas milik orang lain.
Setiap konsep yang kutambahkan membuat jendela di depanku berubah.
[Estimated Survival Rate : 42%]
Aku tetap melanjutkan.
[Estimated Survival Rate : 18%]
Tubuhku mulai berkeringat.
[Estimated Survival Rate : 7%]
Jantungku berdetak semakin cepat.
Masih belum cukup.
Aku menambahkan konsep terakhir.
Kemampuan mengambil warisan jiwa target.
Seketika layar di depanku bergetar.
[Estimated Survival Rate : 1.3%]
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Satu koma tiga persen, bahkan lebih kecil daripada kemungkinan seseorang selamat dari kecelakaan pesawat.
Aku menatap angka itu cukup lama, kemudian tertawa pelan.
"DUNIA AKAN TETAP HANCUR KALAU AKU PILIH JALAN AMAN!"
Jariku bergerak.
[Confirm Creation?]
"YA!!"
Detik berikutnya neraka dimulai.
"AAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGGHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!"
Jeritanku menggema ke seluruh rumah. Rasanya seperti ada sesuatu yang merobek jiwaku dari dalam lalu menghancurkannya menjadi ribuan bagian. Aku terjatuh dan menghantam lantai. Tulang-tulangku terasa diremukkan. Organ-organ tubuhku seperti diperas tanpa ampun.
Pintu kamar terbuka.
"Raven!"
Ibuku berlari masuk lebih dulu.
Wajahnya langsung pucat.
Ayah menyusul dari belakang lalu membeku.
Darah mulai mengalir dari hidung, telinga, dan mataku.
"Apa yang terjadi?!"
"Ayah! Cepat panggil ambulans!"
Aku ingin menjawab.
Namun yang keluar hanya jeritan lain yang lebih mengerikan.
Sirene ambulans meraung sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Para perawat berusaha menahan tubuhku yang terus kejang-kejang sementara dokter berteriak memberikan instruksi.
"Detak jantung naik lagi!"
"Tekanan darah tidak stabil!"
"Siapkan oksigen!"
"Kenapa anak ini seperti ini?!"
Tidak ada yang tahu jawabannya.
Aku merasakan sesuatu sedang mencabik seluruh keberadaanku lalu menyusunnya kembali secara paksa.
Samar-samar aku mendengar suara ibuku menangis.
"Dokter... tolong selamatkan anak saya..."
Lalu suara ayahku.
"Kalau perlu operasi, lakukan saja..."
Namun tidak ada yang mampu menghentikannya.
Sampai akhirnya semuanya berubah gelap.
****
Akhirnya aku bisa membuka mataku.
Tubuhku terasa berat.
Sangat berat.
Aku mencoba mengangkat tangan dan nyaris gagal.
Dengan susah payah aku menoleh ke arah kalender yang tergantung di dinding.
Lalu membeku.
Satu bulan… Dua belas hari…
Aku koma selama satu bulan dua belas hari.
"Harga yang pantas..."
Aku tersenyum pahit lalu membuka jendela status.
[Job Successfully Created]
[Spirit Predator (Half Myth)]
Berhasil.
Beberapa notifikasi lain segera muncul.
[Skill Obtained]
[Spirit Search (Heroic)]
[Spirit Eater (Legend)]
Tubuhku masih terasa lemah bahkan setelah berhasil bangun dari koma.
Karena itulah dokter baru mengizinkanku meninggalkan tempat tidur setelah memastikan kondisiku benar-benar stabil, tentu saja dengan pengawasan ketat dari kedua orang tuaku.
"Pelan-pelan, Raven," kata ibu sambil memegang bahuku. "Kata dokter kamu nggak boleh terus di kamar."
Aku mengangguk tanpa banyak protes.
Kami berjalan perlahan menyusuri koridor rumah sakit. Beberapa dokter dan perawat yang pernah menanganiku tersenyum ketika melihatku lewat.
"Itu anak ajaib yang itu, kan?" bisik seorang perawat kepada rekannya.
Ayah dan ibu berjalan di depanku sambil membicarakan sesuatu, sementara aku mengikuti dari belakang dengan langkah pelan. Ketika itulah pandanganku tertuju pada sebuah lorong yang terasa tidak asing.
Kamar jenazah.
Sesuatu yang ada di dekatnya menghentikan langkahku. Sesosok cahaya samar melayang diam.
Lalu kulihat satu lagi.
Kemudian satu lagi.
Untuk sesaat aku hanya bisa menatap mereka tanpa berkedip. Sebagian terlihat kebingungan sementara yang lain hanya melayang kosong seolah tidak memahami apa yang sedang terjadi.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat ketika sebuah sensasi aneh muncul dari dalam diriku.
Naluri yang berasal dari Spirit Predator.
Aku bisa memakan mereka.
"Tunggu sebentar."
Aku melepaskan tangan ibu yang sejak tadi menggenggam bahuku.
"Hm?" Ibu menoleh.
"Mau ke toilet."
"Oh, sana."
Aku mengangguk lalu berjalan perlahan ke arah koridor. Setelah memastikan tidak ada yang memperhatikanku, aku berbelok dan kembali mendekati salah satu jiwa.
[Spirit Detected]
[Compatible Target]
Aku menelan ludah dan mengulurkan tangan.
"Spirit Eater."
Jiwa itu bergetar hebat.
Tubuh transparannya tersedot masuk ke dalam tubuhku. Mataku langsung membelalak ketika sensasi hangat menyebar dari dada ke seluruh tubuhku.
Sebuah jendela baru muncul.
[Choose Inheritance]
[Stat]
[Knowledge]
[Mindset]
Tanpa ragu aku memilih Stat.
Begitu pilihan itu ditetapkan, otot-otot yang sebelumnya terasa lemah perlahan menjadi lebih ringan. Napasku terasa lebih lega. Bahkan tubuh yang beberapa saat lalu masih seperti milik orang sakit kini seolah mendapatkan sedikit kehidupan baru.
Aku mengepalkan tangan perlahan.
Kali ini aku benar-benar bisa merasakannya.
Pertumbuhan.
Dan itu hanya dari satu jiwa.
Tatapanku perlahan bergeser ke arah pintu kamar jenazah. Di balik sana masih ada beberapa jiwa lain yang melayang tanpa tujuan, tidak menyadari keberadaan predator yang baru saja lahir di hadapan mereka.
Senyum tipis muncul di sudut bibirku.
Jika satu jiwa saja bisa memberikan perubahan sebesar ini...
Maka kemampuan yang baru saja kuciptakan mungkin jauh lebih mengerikan daripada yang kubayangkan.
Beberapa hari terakhir, ada hal baru yang selalu kulakukan ketika memasuki kelas. Pandanganku mengarah ke tempat Raven sebelum memikirkan hal lain. Pagi itu Raven sedang di sana dan membuka laptop dengan beberapa lembar dokumen di sampingnya. Entah kenapa, melihatnya membuat langkahku terasa lebih ringan.Aku hampir berjalan melewatinya ketika Raven mengangkat wajah. “Selamat pagi.”“Pagi.” Aku berusaha membuka percakapan, “Kamu datang lebih awal?”“Iya.”Aku melirik tumpukan kertas di mejanya. “Masih proyek dosen yang sama?”“Masih. Entah kenapa yang kukerjakan sangat banyak.”Aku tertawa kecil. “Bukannya kamu sendiri yang selalu nerima kalau diminta?”Raven menutup salah satu dokumen. “Kalau aku tolak, nanti mereka cari korban lain.”“Kasihan ya…”“Bukan kasihan. Aku cuma malas karyaku dirusak.&rdquo
Ruanganku malam itu terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Bukan karena jumlah orang yang memenuhi ruangan, melainkan karena Raven duduk di tepi tempat tidurku dengan wajah penuh luka. Luka kecil di sudut bibirnya, lebam tipis di pipi, dan beberapa bagian wajahnya tampak memerah. Tanganku yang memegang kapas berhenti sesaat di depan bibirnya sebelum akhirnya menyentuh luka itu perlahan.“Jangan bergerak,” kataku pelan.Raven menatapku. “Aku nggak bergerak.”“Mulutmu bergerak.”“Itu namanya ngomong.”Aku menahan napas sebentar, lalu lanjut membersihkan darah di sudut bibirnya. Beberapa penghuni kos sudah berkumpul di sekitar pintu, sementara Nadia dan Selin berdiri tidak jauh dariku dengan tatapan yang sejak tadi sulit kuabaikan. Aku tahu mereka sedang memperhatikan sesuatu, tetapi aku memilih pura-pura tidak tahu.“Aww!” Raven tiba-tiba meringis ketika kapas menyentuh lukanya.Tanganku langsung berhenti. “Ya gimana dong? Namanya juga luka.”Raven mengangkat sudut bibirnya, meskipun g
"Raven...?"Suaraku keluar lebih pelan daripada yang kuinginkan. Sosoknya berdiri di belakang kelima pria itu. Menatap tenang mereka satu-persatu.Raven berjalan mendekat. Begitu jaraknya cukup dekat, dia berhenti tepat di antara kami. Tangannya terangkat ke belakang tanpa menoleh, menyuruhku tetap berada di belakangnya."Pergilah! Dia sudah bilang tidak."Pria paling tinggi di antara mereka mendengus. Dari cara keempat orang lainnya memberi ruang ketika dia bergerak, kutebak dialah yang memimpin kelompok itu."Ini bukan urusanmu."Raven tidak menjawab. Dia justru menoleh kepadaku."Kamu nggak apa-apa?"Aku mengangguk cepat."Sekarang ini urusanku, pergilah!"Tidak ada teriakan atau ancaman dari mulutnya, tetapi Raven berdiri seolah lima orang di depannya bukan ancaman.Pria paling tinggi itu tertawa kecil."Hanya sendirian?"Raven mengangguk."Iya."Mereka tertawa. Salah satunya, pria bertubuh kekar yang berdiri paling dekat dengan pemimpin mereka melangkah maju."Berani juga."Raven
Pagi itu, langkahku melambat begitu melihat sosok yang berdiri di dekat gedung perkuliahan. Raven sedang berbicara dengan beberapa mahasiswa, satu tangannya memegang beberapa lembar kertas sementara tangan lainnya sesekali menunjuk bagian tertentu pada gambar yang mereka bahas. Aku hanya berniat melewatinya, tetapi entah kenapa pandanganku justru berhenti sebelum kuarahkan pada layar ponsel."Vara."Aku mengangkat wajah. Raven sudah berdiri beberapa langkah di depanku."Selamat pagi.""Selamat pagi."Senyumnya muncul sebentar sebelum dia kembali menoleh ke arah teman-temannya. Aku ikut berjalan, tetapi baru beberapa langkah aku sadar sudut bibirku ikut terangkat. Tanganku langsung menyentuh pipi sendiri.Kenapa aku malah senyum?Aku buru-buru menurunkan tangan dan berpura-pura sibuk membuka ponsel.Beberapa menit sebelum kelas dimulai, Raven kembali menghampiriku. Kali ini Nadia dan Selin berada di sebelahku, sehingga
Pagi itu, pertanyaan yang sama kembali muncul bahkan sebelum aku tiba di kampus. Aku sudah beberapa kali mencoba mengabaikan pertanyaan ini sejak turun dari kendaraan. Tetapi setiap kali teringat perjalanan kemarin, wajah Raven kembali muncul begitu saja di kepalaku. Mobilnya berhenti tepat di depan kos, padahal aku tidak pernah memberitahunya alamatku. Bahkan selama perjalanan dia sama sekali tidak bertanya ke mana harus berbelok.Sesampainya di depan gedung perkuliahan, aku mengeluarkan ponsel dan membuka percakapan dengan Raven. Jariku bergerak mengetik sebuah kalimat.‘Kemarin kamu kok bisa tahu aku tinggal di mana?’Aku menatapnya beberapa detik.Kemudian menghapusnya.Nggak penting.Ponsel kembali kumasukkan ke dalam tas, tetapi baru beberapa langkah berjalan aku malah mengambilnya lagi. Nama Raven masih terpampang di daftar kontak. Jariku sempat berhenti di atasnya sebelum akhirnya layar kembali kumatikan."Ke
Jam dinding perpustakaan baru saja menunjukkan pukul satu siang ketika aku mengembalikan buku terakhir ke raknya. Aku melangkah meninggalkan perpustakaan menuju gedung perkuliahan. Akhirnya hari ini aku bisa mengembalikan payung yang telah kupinjam.Ketika memasuki ruang kuliah, sebagian besar kursi sudah terisi. Pandanganku tanpa sadar mencari Raven.Tidak ada…Aku sempat mengerutkan kening.Biasanya dia memang tidak datang terlalu awal, tapi tidak pernah terlambat.Tak lama kemudian dosen memasuki ruangan."Baik, hari ini kita lanjutkan materi."Aku mengambil buku catatan dan mulai menulis.Tok."Maaf, Pak."Raven berdiri di depan pintu dengan kedua tangannya membawa beberapa map tebal dan sebuah laptop. Napasnya terengah-engah.Dosen hanya menatapnya sekilas."Proyeknya selesai?"Tidak ada pertanyaan lain.Raven mengangguk singkat sebelum melangkah masuk. Tatapannya menyapu ruangan,
Tujuh hari.Hanya tujuh hari sejak suara itu pertama kali muncul dan dunia yang kukenal lenyap tanpa sisa. Dalam waktu sesingkat itu, kota-kota berubah menjadi reruntuhan, pemerintahan runtuh, listrik padam, dan manusia yang selama ini hidup berdampingan mulai menunjukkan wajah asli mereka.Aku dud
Api memenuhi cakrawala. Langit yang seharusnya biru kini retak hitam sejauh mata memandang. Gunung runtuh, lautan bergolak, dan kota-kota yang dulu menjadi simbol kejayaan manusia kini berubah menjadi puing-puing. Bau darah dan kematian memenuhi udara, sementara jeritan manusia yang tersisa perlaha
Pesawat baru saja mendarat ketika seorang petugas imigrasi menatap pasporku lalu kembali menatap wajahku beberapa kali. Ekspresinya berubah semakin aneh setiap kali melihat tanggal lahir yang tertulis di dokumen tersebut."Kamu datang sendirian?""Iya."Petugas itu mengangkat alisnya."Orang tuamu
Sudah beberapa bulan sejak mimpi-mimpi itu mulai muncul. Awalnya aku menganggap semuanya hanya bunga tidur biasa, tetapi semakin sering mengalaminya, semakin sulit bagiku mengabaikannya. Rasa takutnya terasa nyata. Kesedihannya terasa nyata. Bahkan terkadang emosinya masih tertinggal hingga berjam-







